
Tok.. tok.
Nadine dan Cherry menyambangi ruangan Han secara bersamaan tepat setelah Ron berangkat menuju bandara.
Han yang akan mengurus Thrisca selama Ron pergi, dibantu oleh kedua teman dari istri bosnya itu.
"Masuk,"
Nadine dan Cherry berdiri di depan Han dengan wajah tegang. Kedua wanita itu mencoba menerka-nerka dalam hati mengenai alasan Han memanggil mereka ke dalam ruangannya.
"Bawa tas kalian ke parkiran!" perintah Han.
"B-baik, Pak." jawab Nadine dan Cherry bersamaan dengan tergagap.
"Cherry, apa kita akan dipecat?" keluh Nadine.
"Entahlah.." balas Cherry lemas.
Kedua wanita itu berjalan gontai menuju tempat parkir. Terlihat Han sudah menunggu kedatangan Nadine dan Cherry dengan wajah kesal.
"Tidak bisakah kalian berjalan lebih cepat?!" bentak Han.
"M-maaf, Pak." Nadine dan Cherry segera berlari kecil menghampiri Han yang terlihat tidak sabaran.
Han mengendarai mobil Ron untuk mengantar Nadine dan Cherry menuju ke kediaman Ron.
Pria itu terpaksa harus kembali menjadi supir untuk Nadine dan Cherry meskipun ia memiliki posisi lebih tinggi dari kedua wanita itu di dalam perusahaan.
"Kita akan dibawa kemana?" bisik Nadine pada Cherry dengan wajah cemas.
"Tidak tahu,"
"Ehem.."
Han berdehem untuk menghentikan bisikan wanita-wanita yang berbicara di kursi penumpang.
"Aku tidak membawa kalian untuk berlibur dari tugas." ujar Han mulai membuka suara.
"Ada tugas baru untuk kalian. Ini permintaan langsung dari Presdir." imbuh Ron.
Wajah Nadine dan Cherry semakin menegang saat Han menyebut-nyebut Bos perusahaan mereka. Keringat dingin mulai mengucur deras di dahi dua teman dari Thrisca itu.
"Ka-kalau boleh tahu, tugas apa yang harus kita lakukan?" tanya Nadine takut-takut.
"Kalian harus menjaga istri Presdir yang tengah hamil. Hanya untuk tiga hari."
"I-istri Presdir? Ta-tapi kami bukan perawat--"
"Ikuti saja perintah Bos." potong Han cepat.
Nadine dan Cherry saling diam tanpa berani lagi bercicit di depan Han. Tak berselang lama, kendaraan mahal mereka mulai memasuki gerbang besar rumah mewah kediaman dari Presdir perusahaan tempat mereka bekerja.
"I-ini rumah Presdir?" bisik Nadine pada Cherry.
"Sepertinya begitu.."
"Turun!" perintah Han pada dua pegawai yang ia antar.
"Selama tiga hari kalian akan bertugas di sini. Kalian harus menjaga istri Presdir selama dua puluh empat jam. Setelah tiga hari, kalian akan mendapat libur tugas dari kantor." terang Han.
"Apa saja yang harus kami lakukan?" tanya Cherry.
"Kalian hanya perlu membantu memenuhi kebutuhan Nyonya dan memastikan Nyonya baik-baik saja." jawab Han.
Han keluar dari mobil dan mengajak kedua wanita itu menyambangi rumah sang bos.
Nadine dan Cherry berdiri mematung di depan pintu, menunggu kedatangan Nyonya rumah yang mereka sambangi.
"Nona.."
Han mendekati Thrisca yang sibuk membuat minuman hangat di dapur.
"Mas Han? Duduk, Mas. Kebetulan sekali aku sedang membuat minuman. Mas Han ingin minum apa?" tawar Thrisca.
"Tidak perlu repot, Nona." tolak Han halus.
"Apa Mas Han ke sini membawa Nadine dan Cherry?" tanya Thrisca ragu-ragu.
"Teman-teman Nona sudah menunggu di depan." ujar Han seraya tersenyum manis pada Thrisca.
"Terima kasih, Mas Han."
"Perlukah saya bantu menjelaskan?" tawar Han.
"Tidak apa-apa. Aku akan mengatakannya sendiri pada mereka. Duduklah, Mas Han."
Thrisca menyodorkan satu cangkir teh hangat pada Han dan mendudukkan pria itu di meja makan.
Thrisca berjalan perlahan menuju ruang tamu untuk menemui teman-temannya. Wanita itu cukup penasaran dengan reaksi teman-temannya jika mereka tahu kalau perusahaan tempat mereka bekerja adalah perusahaan yang dipimpin oleh suaminya.
Nadine dan Cherry menundukkan kepala dalam-dalam begitu ia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.
"Selamat siang, Nyonya." sapa Nadine dan Cherry pada istri bos mereka tanpa melihat siapa orang yang mereka sapa.
Thrisca tertawa kecil melihat teman-temannya yang gugup dan bersikap sopan padanya.
"Nadine, Cherry.." sapa Thrisca diselingi gelak tawa.
Begitu mendengar suara yang nampak tidak asing, Nadine dan Cherry segera mendongakkan kepala dengan kompak untuk melihat sosok wanita yang mereka sapa.
"Icha?!" pekik Nadine dan Cherry bersamaan.
"Ada apa ini? Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Nadine bingung.
Han ikut muncul, mendekat ke kumpulan wanita yang tengah berbincang itu.
"Inilah Nyonya, istri Presdir yang harus kalian jaga." ujar Han.
Nadine dan Cherry membulatkan mata lebar-lebar begitu mereka mendengar titah Han.
"Ma-maksudmu.. istri Presdir yang sedang hamil itu kau?" tanya Cherry.
"Ron suamimu adalah Ron yang sama dengan Presdir di Diez Group?" tanya Nadine.
Thrisca hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepala pada dua temannya itu.
"Dasar kau ini! Kenapa kau tidak bilang kalau kau sedang hamil? Kenapa kau tidak bilang kalau suamimu adalah bos di tempatku bekerja?!" omel Nadine dan Cherry pada Thrisca seraya mencubiti pipi wanita hamil itu.
"Jaga perilaku kalian!" bentak Han saat melihat kedua pegawai itu bersikap seenaknya pada istri Bos.
Nyali Nadine dan Cherry menciut seketika setelah mendapat bentakan dari asisten Ron tersebut.
Kedua wanita itu segera menjauh dari Thrisca dan kembali menundukkan kepala penuh hormat pada istri Bos mereka itu.
"Mas Han, tidak perlu seperti itu." tegur Thrisca.
"Ayo, aku akan buatkan teh untuk kalian.." ajak Thrisca seraya menggandeng lengan kedua temannya.
"Te-terima kasih, Nyonya." ujar Nadine takut-takut.
Meskipun Thrisca adalah teman mereka, namun tetap saja dalam hal pekerjaan, wanita itu adalah istri dari atasan mereka.
Nadine dan Cherry nampak canggung berbicara dengan Thrisca karena Han yang terus mengawasi gerak-gerik mereka dari jauh.
"Mas Han sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawar Thrisca pada Han.
"Terima kasih, Nona."
Han berjalan mendekati Thrisca dan siap membantu Nyonya rumah itu memasak makan siang untuk mereka.
"Aku sudah beberapa minggu tidak memasak. Mungkin rasanya akan sedikit aneh." ujar Thrisca seraya tertawa kecil.
Hanya Han yang berani menanggapi Nyonya rumah itu. Nadine dan Cherry berdiri mematung dengan bawang di tangan mereka tanpa berani menimpali ucapan Thrisca.
"Mas Han, tidak perlu terlalu formal. Kita sekarang di rumah, bukan di kantor." protes Thrisca seraya menepuk pelan pundak Han.
Han tersenyum manis tanpa membalas perkataan istri bosnya. Nadine melirik ke arah Han dan menatap intens pria tampan yang tengah bersikap ramah itu.
"Dasar penjilat!" batin Nadine kesal.
"Nadine, Han benar-benar tampan saat tersenyum." bisik Cherry.
"Tampan apanya? Wajahnya semakin menyeramkan," ejek Nadine.
Setelah beberapa menit disibukkan dengan bahan makanan di dapur, akhirnya makan siang mereka siap untuk disantap bersama.
Suasana canggung kembali meliputi meja makan besar di kediaman Ron. Nadine dan Cherry masih diam tak bersuara pada Nyonya rumah yang merupakan sahabat mereka sejak lama.
Thrisca semakin merasa bersalah pada teman-temannya karena sudah menempatkan kedua wanita itu dalam situasi canggung.
"Mas Han, boleh aku meminta tolong?" tanya Thrisca.
"Silahkan, Nona."
"Aku.. ingin camilan. Bisakah tolong belikan aku beberapa makanan ringan?"
"Tentu."
Selesai menyantap makan siang, Han segera berlalu meninggalkan rumah sang bos untuk memenuhi tugas dari istri bos yang ia layani itu.
Begitu Han pergi, wajah tegang Nadine dan Cherry berangsur-angsur berubah menjadi lebih santai. Namun kedua wanita itu masih bersikap formal dan sopan pada sang Nyonya rumah.
"Mas Han sudah pergi," ujar Thrisca seraya menepuk pelan bahu kedua temannya itu.
"Maaf, Nyonya. Kami sudah bersikap tidak sopan," ujar Nadine.
"Nadine! Kau ini apa-apaan?! Nyonya apanya?! Kita tidak sedang di kantor dan aku juga tidak memiliki jabatan apapun di kantor. Tidak perlu bersikap sekaku itu padaku," protes Thrisca.
"Mana bisa kami bersikap seenaknya pada istri Presdir?" ujar Cherry merendah.
"Berhentilah berakting!"
Thrisca menarik daun telinga kedua temannya yang masih memasang wajah manyun itu.
Nadine dan Cherry memeluk Thrisca bersamaan dengan wajah berseri. Wajah tegang mereka kini sudah benar-benar menghilang berganti dengan senyum cerah ramah.
"Kau benar-benar hamil? Aku ikut senang mendengarnya.." ujar Nadine.
"Baru satu bulan.." jawab Thrisca diiringi senyum lebar.
"Kau bukan teman Han, kan? Tapi dia asisten suamimu? Kenapa kau tidak bilang?!" omel Cherry.
Thrisca hanya bisa menunjukkan cengiran kuda, menanggapi ocehan temannya itu.
Kumpulan wanita itu menghabiskan waktu bersama di dalam kamar untuk menghindari tatapan menyeramkan dari Han yang terus mengawasi Nadine dan Cherry.
***
Bersambung...