
Thrisca membaringkan tubuhnya di ranjang kamar Ron yang luas setelah gadis itu kembali menapakkan kaki di istana suaminya.
Tepat sebelum tengah malam, Thrisca dan Genta kembali dari acara liburan mereka yang menyenangkan. Gadis itu tidak bisa berhenti tersenyum saat ia mengingat pemandangan indah pantai yang masih terngiang di pikirannya.
"Genta baik sekali padaku. Aku jadi merasa tidak enak harus terus berbohong padanya mengenai penampilanku. Aku juga tidak bisa bergerak bebas di depan Genta dengan kain tebal ini," gumam Thrisca.
"Apa Genta benar-benar akan mengaturkan kencan buta untukku? Bagaimana kalau Ron tahu aku mengikuti kencan buta?" ujar Thrisca berbicara pada dirinya sendiri.
Gadis itu mulai cemas dengan rencana kencan buta yang akan diatur oleh Gen untuknya. Tadinya Thrisca melakukan hal itu karena kesal pada Ron yang membawa wanita lain masuk ke ruangannya. Gadis itu semakin jengkel saat Ron memarahinya dan menyebutnya gadis menyebalkan.
Namun bagaimanapun juga Thrisca masih tetap istri seseorang. Thrisca merasa tidak sepantasnya gadis itu pergi berkencan dengan pria lain tanpa sepengetahuan sang suami.
"Biarkan saja! Memangnya kenapa kalau Ron tahu! Dia sendiri boleh memiliki banyak wanita, kenapa aku tidak boleh memiliki satu pria lain?!" gumam gadis yang masih terjebak dalam kesalahpahaman pada suaminya itu.
Gadis itu segera melepas kain tebalnya dan berbaring di ranjang seraya memainkan ponsel.
"Maaf, ponselku mati seharian. Aku tidak tahu kalau baterainya habis." tulis Thrisca pada pesan singkat yang hendak ia kirim pada Ron.
Beberapa detik kemudian setelah pesan terkirim, gadis itu mendapat panggilan video dari sang suami.
"Kau belum tidur? Jam berapa sekarang disana?" sapa Thrisca begitu ia melihat sang suami masih memakai kemeja rapi.
"Kemana saja kau pergi seharian ini?" tanya Ron dengan ketus.
"Apa maksudmu? Aku tidur seharian di kamar. Aku tidak melihat ponsel, maaf." Thrisca masih mencoba membuat-buat alasan.
"Sial, kenapa Ron bisa tahu? Apa pelayan disini yang memberitahu Ron?" batin Thrisca mulai panik.
"Aku tahu kau pergi bersama Gen! Sudah kubilang kau tidak boleh pergi kemanapun! Jangan terlalu dekat dengan Gen! Dia hanya akan memberi pengaruh buruk padamu!" omel Ron pada sang istri.
"Kenapa aku tidak boleh dekat dengan Genta? Dia sepupumu, berarti dia juga sudah menjadi keluargaku. Mas Gen sangat baik padaku, tidak seperti seseorang yang hanya bisa mengomel setiap hari!" protes Thrisca.
"Kau ingin bilang kalau pengungsi itu lebih baik dari suamimu?!" bentak Ron pada istri cantiknya itu.
"Aku hanya mencoba akrab dengan keluargamu. Apa itu salah?"
"Mulai besok jangan keluar kamar! Kalau kau tetap membantah, aku akan memindahkanmu ke tempat yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya!" ancam Ron.
"Ron, aku tahu kehadiranku hanya membuatmu malu! Tapi aku tidak pernah memberitahu orang-orang kalau aku istri dari cucu keluarga kaya! Tidak ada yang mengenaliku di luar sana, aku bukan siapapun baik di dalam maupun di luar rumahmu! Kenapa kau selalu saja mengurungku dengan alasan yang tidak jelas?!" ujar Thrisca dengan nada tinggi pada sang suami.
"Aku tidak suka bunga milikku dilihat orang lain, kenapa kau tidak bisa mengerti?! Aku juga tidak tahu ada apa dengan diriku, tapi aku tidak mau menunjukkan kulitmu pada orang-orang di luar sana! Kau sudah terbiasa menjadi gadis rumahan, seharusnya tetap berada di rumah tidak akan sulit bagimu kan?"
"Ron, kau terlalu berlebihan!"
Thrisca memutuskan sambungan telepon dari sang suami dan kembali mematikan benda kecil itu.
Gadis itu memukul-mukul bantal yang biasa digunakan oleh Ron untuk tidur. Thrisca juga mengacak-acak barang Ron di laci untuk melampiaskan kekesalannya.
Sementara Ron, kembali uring-uringan dan mengamuk sendirian di dalam kamar hotelnya. Entah sejak kapan pria itu menjadi posesif pada sang istri, tapi Ron hanya tidak ingin Thrisca berubah menjadi wanita seperti Lilian jika gadis itu berkeliaran di dunia luar.
Ron masih mengingat dengan jelas bagaimana kandasnya hubungan dirinya bersama sang mantan kekasih, Lilian. Wanita itu bahkan berani mengkhianati Ron hingga memiliki buah hati hasil dari pria lain dan tega membunuh calon bayinya sendiri.
Ron hanya khawatir istri polosnya itu diterjang arus dunia yang kejam dan merusak dirinya sendiri karena dibodohi oleh orang-orang culas di luar sana.
Pria itu tidak menyadari bahwa sikap mengekangnya itu sangat mengganggu sang istri dan hanya membuat gadis kesayangannya itu merasa tidak nyaman.
***
Thrisca mengetuk pintu kamar Genta dengan semangat. Gadis itu semakin mantap untuk pergi ke kencan buta setelah pertengkarannya dengan sang suami yang semakin memburuk.
"Kenapa, gendut?"
Genta membuka pintu kamar seraya mengucek kedua matanya.
"Mas Gen, kapan aku bisa pergi ke kencan buta? Apa aku bisa pergi malam ini juga?"
"Gendut, yang benar saja?! Aku tidak akan membiarkan sembarang pria berkencan denganmu! Aku juga harus memilah-milah mana pria yang baik untukmu." ujar Genta.
"Tidak apa-apa, aku bisa belajar mengenalinya sendiri. Yang jelas aku ingin pergi kencan buta secepatnya!"
"Kau diomeli lagi oleh Ron?" selidik Genta.
"Dimarahi atau tidak, aku dan Ron juga tetap akan bercerai. Apa salahnya jika aku mencari calon suami baru mulai dari sekarang?" ujar Thrisca mantap.
"Gendut, jangan mengambil keputusan saat kau sedang marah. Kau akan menyesal nantinya," nasihat Genta.
"Aku tidak akan menyesal! Tolong buatkan janji untukku malam ini. Aku akan bersiap,"
Thrisca kembali masuk ke kamar Ron dan bersiap-siap.
Sementara Genta nampak bingung bagaimana harus memenuhi permintaan Thrisca. Pria itu tidak mungkin mencari pria secara acak untuk dibiarkan berkencan dengan saudari iparnya yang berharga.
"Kalau begitu aku temani dia makan malam saja hari ini. Anggap saja sebagai latihan untuk si gendut,"
Genta segera bersiap mencari tempat kencan untuknya bersama dengan sang saudari ipar.
Genta mengetuk pintu kamar Ron untuk mencari Thrisca dan memberikan informasi mengenai kencan yang diminta oleh gadis itu.
"Gendut, nanti orangnya akan datang ke tempat ini. Restoran ini tidak jauh dari sini. Kau bisa berangkat sendiri kan?"
Genta berbicara seolah ia benar-benar sudah menemukan seseorang untuk Thrisca. Sebenarnya orang yang dimaksud oleh Genta adalah dirinya sendiri.
Pria itu hanya tidak ingin membuat Thrisca kecewa jika ia gagal mencarikan partner kencan untuk gadis itu malam ini. Hanya sekedar untuk menyenangkan istri sepupunya, pria itu sampai membuat kebohongan untuk gadis berkain tebal yang berdiri di hadapannya.
"Boleh aku melihat foto orang itu? Apa aku akan mendapatkan nomor telepon orang itu?" tanya Thrisca.
Keringat dingin langsung mengucur deras di tubuh Genta saat Thrisca meminta foto hingga nomor telepon partner kencan yang sebenarnya belum ada.
"I-itu orangnya hanya memberitahuku dia akan datang dengan memakai kemeja berwarna hitam. Kau cari saja pria dengan kemeja hitam nanti," ujar Genta dengan tergagap.
"Hanya dengan warna kemeja saja bagaimana aku bisa menemukan orangnya? Kalau begitu temani aku nanti malam," ajak Thrisca.
"Si gendut ini benar-benar! Memang aku yang akan datang nanti malam, kenapa dia harus repot-repot memintaku untuk menemaninya?!" batin Genta.
"Aku ada acara nanti malam! Aku akan memberikan fotonya nanti,"
Pria itu bahkan kabur dari rumah agar tidak terus dikejar permintaan kencan oleh Thrisca.
Gen segera memesan restoran untuk makan malam bersama Thrisca . Pria itu bahkan memesankan banyak makanan untuk meredakan amarah Thrisca jika gadis itu mengamuk karena sudah dibohongi.
"Mana mungkin aku bisa menemukan pria yang ingin berkencan si gendut hanya dalam waktu beberapa jam?! Memangnya aku biro jodoh?!" gerutu Genta.
"Gendut pasti tidak akan marah lagi setelah melihat banyak makanan tersaji di meja ini.." gumam Genta disertai tawa kecil.
***
Thrisca duduk di depan cermin seraya menatap wajahnya sendiri. Wanita itu belum juga bersiap meskipun matahari sudah hampir tenggelam.
Genta hanya mengirimkan pesan pada Thrisca mengenai ciri-ciri orang yang harus dicarinya nanti, yang sebenarnya tidak lain adalah dirinya sendiri. Thrisca benar-benar tidak sadar dirinya sedang dibodohi oleh Genta dan menanggapi dengan serius informasi kencan yang diberikan oleh Genta.
"Haruskah aku memakai baju tebal? Atau tampil apa adanya saja? Aku tidak ingin berpura-pura lagi di hadapan siapapun. Jika ini berhasil, aku mungkin mempunyai kesempatan untuk berkencan dengan seorang pria." ujar Thrisca berbicara pada dirinya sendiri melalui cermin.
"Aku tampil apa adanya saja."
Thrisca melupakan kain tebalnya dan mencoba mencari pakaian layak yang bisa ia pakai untuk berkencan.
Wanita itu mencoba gaun berwarna gelap yang menggantung di lemari Ron. Sang suami menyiapkan banyak pakaian baru untuk istrinya saat Ron pertama kali datang mengajak Thrisca untuk tinggal di rumahnya.
"Banyak sekali gaunnya! Aku hanya meminjam satu. Seharusnya tidak masalah, kan?" gumam Thrisca agak cemas mengambil gaun yang sebenarnya memang dibelikan oleh Ron untuk sang istri.
Namun Thrisca merasa Ron membelikan pakaian itu bukan untuk dirinya melainkan untuk wanita lain yang akan menjadi istri Ron yang sebenarnya kelak.
Gadis itu nampak tidak percaya diri mengenakan gaun pendek yang memperlihatkan punggung mulusnya itu. Thrisca merasa pakaian apapun tidak akan bisa membuat dirinya terlihat cantik dan menarik.
"Bagaimana kalau aku langsung ditolak?" gumam Thrisca kembali diliputi kecemasan.
"Masalah itu pikirkan nanti saja! Yang terpenting sekarang adalah aku harus membuat kesan sebaik mungkin pada pertemuan pertama." ujar Thrisca mencoba menyemangati diri sendiri.
Gadis itu menyapukan riasan tipis ke wajahnya dan membiarkan rambut panjangnya tergerai. Thrisca hanya mengenakan jepitan kecil untuk rambutnya karena gadis itu tidak pandai menata rambut.
Bersama dengan flat shoes dan tas kecil, Thrisca bersiap datang ke kencan buta pertamanya.
"Nyonya, mau pergi kemana?" sapa Bi Inah sebelum Thrisca keluar dari rumah.
"I-itu, ada janji dengan teman. Hanya sebentar saja," jawab Thrisca tergagap.
"Hanya janji dengan teman tapi Nyonya sampai berias secantik ini? Nyonya tidak mungkin berani macam-macam selama Tuan tidak ada kan?" batin Bi Inah cemas.
"Nyonya pergi sendiri? Tidak bersama Tuan Gen?"
"Mas Gen tidak ada di rumah. Aku tidak akan pergi jauh,"
Thrisca segera pergi meninggalkan pengurus rumah itu dengan tergesa-gesa sebelum wanita paruh baya itu bertanya lebih banyak.
Tak lupa gadis itu juga meninggalkan ponsel kecilnya di rumah agar Ron tidak mengganggu acara kencannya.
Gadis itu berjalan kaki menuju restoran tempatnya berkencan karena Genta memang sengaja memilih tempat yang paling dekat dengan rumah.
Pria itu khawatir dengan Thrisca jika harus membiarkan gadis itu berangkat sendirian menuju restoran yang jauh, jadi ia pun memutuskan untuk memilih tempat terdekat dari rumah Ron.
Thrisca berdiri sejenak di luar restoran sebelum masuk. Gadis itu celingukan dari luar mencoba mencari seseorang yang akan menjadi teman kencannya malam itu.
"Tenang, Icha! Ini hanya sekedar makan bersama seorang pria. Tidak perlu khawatir. Jika pria itu menolakmu, kau masih bisa mencari pria lain!"
Thrisca mencoba menenangkan diri sebelum memasuki medan perang.
Gadis itu melangkah masuk ke dalam restoran dengan kegugupan luar biasa. Saat memasuki tempat yang ramai itu, Thrisca kembali mendapat tatapan dari orang-orang. Namun kali ini bukan tatapan benci seperti yang diterima oleh Thrisca gendut, melainkan tatapan terpesona karena kecantikan gadis itu.
"Kenapa orang-orang selalu saja menatapku? Aku sudah bercermin berkali-kali dan aku yakin dandananku tidak aneh! Kenapa mereka masih saja menatapku dan membicarakanku dari belakang?!" batin Thrisca kesal.
Thrisca mencoba mengabaikan tatapan dari orang-orang dan fokus mencari partner kencannya.
"Mas Gen bilang pria itu memakai kemeja hitam dan memakai topi. Dandanan macam apa itu kemeja dan topi?!" batin Thrisca seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling bangunan restoran.
Gadis itu segera berjalan mendekati salah satu meja saat ia melihat orang tengah dicarinya.
Seorang pria tengah duduk di salah satu meja restoran itu seraya menyembunyikan wajahnya menggunakan topi.
"Aneh, perawakan badannya mirip sekali dengan Gen? Pria itu tidak mungkin mengerjaiku, kan?" batin Thrisca mulai curiga dengan teman kencan yang dicarikan oleh Genta yang memang sebenarnya adalah Genta sendiri.
"Permisi.. apa benar ini Tuan Sam?"
Thrisca memberanikan diri mengajak bicara pria yang sibuk menundukkan kepala itu.
Genta tidak bisa menahan tawa saat ia mendengar suara Thrisca.
"Si gendut ini masih tidak bisa mengenaliku?" batin Genta disertai tawa dalam hati.
Genta hanya mengangguk sebagai jawaban. Pria itu sudah bersiap akan membuka topi dan meledek Thrisca gendut yang sudah berhasil ditipu olehnya.
Thrisca duduk berhadapan dengan Genta dan menunggu pria itu mengatakan sesuatu untuk memecah keheningan antara mereka.
"Canggung sekali! Apa pria ini bisu?" batin Thrisca seraya menatap Genta dengan intens.
"Gendut, kau benar-benar bod--"
Genta membuka topinya dan bersiap melontarkan ejekan untuk Thrisca gendut.
Namun pria itu terkejut bukan main begitu melihat sosok gadis yang duduk di hadapannya bukanlah Thrisca gendut yang biasa ia lihat.
Pria itu menatap Thrisca dengan wajah kaget hingga ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Siapa wanita ini? Kemana si gendut? Suaranya benar suara si gendut, tapi kenapa wujudnya seperti ini?!" jerit Genta dalam hati seraya celingukan mencari sosok Thrisca gendut yang ia kenal.
***
Bersambung..