
Thrisca duduk melamun di dalam kamar seorang diri saat matahari mulai terbenam. Wanita itu menatap keluar jendela kamarnya dengan pandangan kosong, menatap langit jingga sore yang cerah.
Setelah Cherry pulang, Thrisca hanya berdiam diri di kamar tanpa berani mengangkat puluhan panggilan telepon dari Ron.
"Tidak terjadi sesuatu di rumah, kan?" gumam Ron cemas.
Begitu tiba di kediamannya, Ron segera berlari menuju kamar untuk menghampiri sang istri. Pria itu kalang kabut membuka pintu kamar dan mulai bernafas lega begitu ia melihat sosok istrinya yang baik-baik saja.
Fiuh!
"Kupikir terjadi sesuatu padanya.." batin Ron lega.
Pria itu tersenyum tipis memandangi sang istri yang masih sibuk melamun di dekat jendela kamar.
"Sayang, apa yang kau lamunkan?"
Ron melingkarkan tangan di pinggang sang istri dan membenamkan wajah di tengkuk wanita kesayangannya itu.
"Ron, kau sudah pulang? Kenapa aku tidak dengar suara pintu?" ujar Thrisca tersentak kaget begitu ia mendapat pelukan dari belakang.
"Apa yang kau pikirkan? Jangan terlalu banyak melamun! Kau bisa kerasukan setann!" omel Ron seraya menyentil dahi sang istri.
"Me-melamun apa? Aku tidak melamun," ujar Thrisca tergagap.
"Gen tadi kemari?" tanya Ron.
Jantung Thrisca langsung berdegup kencang begitu ia mendengar nama Genta. Entah apa yang akan dilakukan oleh Ron jika dia tahu sepupunya itu sudah berani mencium istrinya.
"M-mas Gen hanya mampir sebentar.." jawab Thrisca gugup.
"Kenapa tidak menjawab teleponku? Kupikir terjadi sesuatu padamu! Tolong periksa selalu ponselmu kalau aku tidak bersamamu!" ujar Ron dengan suara kencang hingga membuat telinga Thrisca berdengung.
"Maaf, Ron." ucap Thrisca lirih.
"Maaf apanya--"
Thrisca langsung membungkam mulut Ron dengan ciuman yang menyesakkan sebelum pria itu mengoceh lebih banyak.
Wanita itu mengalungkan tangannya erat ke leher Ron dan mencumbuu penuh gairah suami tercintanya itu.
"Icha, aku belum mandi. Badanku berkeringat," ujar Ron seraya melepas tautan bibir sang istri darinya.
"Aku tidak meminta lebih, hanya ciuman saja Ron.." ujar Thrisca kembali melumatt bibir lembut suaminya. Ingin sekali wanita itu menghilangkan bekas ciuman Gen yang masih tertempel di bibirnya.
Thrisca menyesap dalam mulut sang suami dan menelisik ke seluruh rongga mulut pria tampan itu.
Ron menyambut hangat kecupan liar sang istri dan membalas cumbuan wanita kesayangannya itu.
"Kau ini kenapa? Tidak biasanya kau seagresif ini," bisik Ron di telinga Thrisca.
"Kenapa? Kau tidak suka ciumanku?" tanya Thrisca dengan wajah memerah.
"Mana mungkin aku tidak suka?"
Ron mengangkat tubuh sang istri seraya mengecupi leher jenjang wanita cantik itu.
Suami Thrisca itu membaringkan tubuh Thrisca di ranjang dan kembali bercumbuu mesra dengan sang istri.
"Ron, kau percaya kalau aku bilang hanya kau satu-satunya pria yang pernah menyentuh bibirku?" ujar Thrisca.
"Kenapa? Kau tidak melakukan hal yang macam-macam dengan pria lain selama aku tidak ada, kan?" selidik Ron.
Pria itu membuka gaun tipis sang istri dan memeriksa dengan teliti leher dan dada Thrisca.
"Kau mencari apa, Ron? Tidak ada bekas apapun." tukas Thrisca.
"Gen tidak melakukan apapun padamu, kan?" selidik Ron.
"Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Tapi aku tidak pernah berkhianat darimu, Ron."
"Apa yang dilakukan Gen padamu?!"
"Maaf, Ron. Aku tidak sempat menghindar, Mas Gen--"
Ron melucuti seluruh pakaian sang istri dengan gusar dan mengusap-usap tubuh polos istrinya lembut.
"Gen tidak menyentuhmu, kan?" tanya Ron dengan sorot mata tajam.
"Mas Gen.. Mas Gen hanya menciumku, Ron. Hanya ciuman tidak berbekas." ujar Thrisca dengan mata tertutup.
Ron segera bangkit dari ranjang dengan sorot mata penuh amarah.
"Gen, sialan!" umpat Ron kesal seraya meraih jaket yang tergantung di lemarinya.
"Kau mau kemana, Ron?" tanya Thrisca seraya memeluk erat sang suami dari belakang.
"Membunuh selingkuhanmu! Kenapa?! Kau ingin mencegahku?!" omel Ron geram.
"Ron, kalau aku berniat selingkuh, apa aku akan memberitahukan sendiri hal ini padamu?! Maaf aku sudah membuat hubunganmu dan Mas Gen renggang."
"Pria perebut istri seperti Gen harus diberi pelajaran!"
"Ron, aku tidak akan menemui Mas Gen lagi tanpamu. Cherry juga sudah memukul Mas Gen untukku. Aku juga tidak ingin mendengar namanya lagi, Ron. Kita sudahi saja semuanya sampai di sini." pinta Thrisca.
"Aku mengatakan hal ini sendiri karena aku takut kau akan mengetahuinya kelak dari orang lain. Aku hanya tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. Aku tidak menaruh hati sedikitpun pada Mas Gen. Aku tidak pernah melihatnya sebagai pria." imbuh Thrisca menjelaskan panjang lebar.
"Jadi, kau sudah tahu?"
Ron berbalik badan dan menatap sang istri lekat-lekat.
"Apa maksudmu, Ron? Kau juga tahu kalau Mas Gen menaruh hati padaku?" tanya Thrisca.
"Aku tidak mengijinkan Gen tinggal di sini lagi karena hal itu. Aku tidak tahu kalau bocah tengil itu masih berani mengunjungimu." ujar Ron kesal.
"Mas Gen tidak seburuk itu, Ron. Mungkin tadi dia hanya terbawa perasaan saja karena aku hanya berdua dengannya di dalam rumah. Aku akan menjaga jarak dengan benar mulai sekarang." ungkap Thrisca tegas.
"Aku selalu percaya padamu, Sayang. Tapi aku tidak akan pernah percaya pada pria perayu wanita seperti Gen!"
"Mas Gen juga akan menikah sebentar lagi, kan? Dia pasti bisa melupakanku secepatnya, Ron. Tolong jangan perburuk hubunganmu dengan Mas Gen hanya karena aku." bujuk Thrisca seraya memeluk manja sang suami masih dengan tubuh polos tak berbusana.
Ron menghela nafas sejenak, mencoba meredam amarahnya yang masih bergelora. Manik mata pria itu beralih memandangi wajah cantik sang istri yang tengah melempar senyum menggoda padanya.
"Dimana Gen menciummu?"
Thrisca memegangi bibirnya dengan takut-takut tanpa berani melirik ke arah Ron.
Pria itu langsung menyambar bibir merah sang istri dan melumatt habis bibir Thrisca untuk menghilangkan bekas ciuman Gen.
"Pria brengsekk itu tidak menyentuh tubuhmu, kan?" tanya Ron lagi.
"Kau masih menjadi pemilik hati dan tubuhku.." ujar Thrisca seraya mengecup pipi sang suami.
***
Thrisca terbangun di tengah malam dengan badan pegal. Wanita itu melirik ke arah sang suami yang sudah tertidur pulas.
Istri Ron itu segera keluar dari selimut dan berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi. Wanita itu mengambil handuk untuk menutup tubuh polosnya, kemudian bergegas keluar kamarnya seraya membawa ponsel.
"Icha mau kemana?" gumam Ron mulai membuka mata dan melihat sang istri yang keluar dari kamar.
Pria itu menyambar handuk dan segera mengikuti langkah sang istri yang nampak mencurigakan.
Ron berdiri secara sembunyi-sembunyi di balik tembok untuk mencuri dengar percakapan sang istri dengan seseorang di telepon.
"Halo? Bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Thrisca pada seseorang melalui telepon.
"Nona, target kini sudah berpindah tempat. Kami kehilangan jejak."
"Kemana perginya Susan? Kalian yakin kalau rumah yang ditempati oleh Susan adalah rumah milik ayah suamiku?"
"Benar, Nona. Rumah ini atas nama Tuan Derry."
"Apa Ron sudah menemukan Susan lebih dulu?!" gumam Thrisca kesal.
"Ya sudah kalau begitu. Mungkin suamiku sudah menemukan Susan. Em, soal bayaran.. apa bisa dicicil?" tanya Thrisca takut-takut.
"Ci-cicil?!" pekik detektif suruhan Thrisca itu di telepon.
"K-kenapa? Kalian tidak terima?! Kalian sudah gagal menemukan Susan, lalu kau masih berharap aku akan membayar kontan dengan cepat?!" sergah Thrisca dengan gugup.
"Nona, kalau tidak punya uang, tidak usah membayar jasa detektif! Kau pikir mudah mencari orang di kota sebesar ini?!" omel detektif itu.
"Aku akan membayarnya! Memangnya aku bilang kalau aku tidak punya uang?!"
"Lima puluh juta dua kali bayar."
Thrisca membelalakkan mata begitu ia mendengar nominal uang yang cukup besar disebutkan oleh orang suruhannya itu.
"Li-lima puluh juta?! Yang benar saja! Aku mana punya uang segitu banyak!" jerit Thrisca dalam hati.
"B-bolehkah dibayar 12 kali?" tanya Thrisca lirih.
Ron yang mendengar percakapan Thrisca, tidak bisa menahan tawa melihat tingkah konyol sang istri yang berlagak menyewa orang untuk mencari Susan.
"Kau pikir ini tempat kredit motor?!" sentak detektif itu pada Thrisca.
Ron langsung menghampiri sang istri dan merebut ponsel Thrisca.
"Aku bisa mengubah tempatmu menjadi tempat kredit motor sekarang juga jika kau masih berani membentak istriku!" sanggah Ron pada detektif sewaan sang istri melalui telepon.
Thrisca terkejut bukan main melihat suaminya tiba-tiba muncul dan mengambil-alih pembicaraannya dengan orang suruhannya.
"Asistenku akan menghubungimu besok pagi." pungkas Ron kemudian mematikan sambungan telepon.
Thrisca berbalik badan dan menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan wajah malunya dari Ron.
"Ehem.."
Ron berdehem di belakang Thrisca seraya melirik wanita cantik yang tengah berdiri mematung tanpa suara itu.
"Aku tidak bermaksud menghabiskan uangmu, Ron.." rengek Thrisca pelan.
"Sayang, kau bilang kau tidak ingin menyembunyikan apapun dariku." sindir Ron berkacak pinggang di depan sang istri.
"Aku akan mengembalikan uangmu, Ron. Aku janji!"
"Aku ingin uangku kembali sekarang!" ujar Ron seraya memanggul tubuh sang istri kembali ke kamar dan memulai ronde baru malam panas mereka.
***
Bersambung...