DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 142



"Cherry? Kenapa kau di sini?" tanya Thrisca sedikit berbisik. Wanita itu melepaskan diri dari pelukan Ron dan menghampiri sang sahabat yang datang bersama Genta.


"Em, itu.."


"Nenek, kenalkan ini calon istriku." ujar Genta mengenalkan Cherry pada Nyonya Aswinda.


"C-calon istri? Kau bilang kau hanya berpura-pura dengan Mas Gen!" selidik Thrisca seraya berbisik.


"Aku.. tidak punya pilihan lain. Nanti akan ku ceritakan semuanya padamu." bisik Cherry.


Melihat kedatangan Gen, Ron langsung menarik tangan sang istri dan berpamitan pada Nyonya Aswinda. Suami Thrisca itu tak ingin berlama-lama membiarkan Thrisca berada di tempat yang sama bersama Gen, mengingat sepupunya itu pernah lancang mencium istrinya.


"Nenek, aku pulang!" pamit Ron singkat.


"Nenek, aku akan berkunjung lagi." pamit Thrisca seraya berjalan menjauh dari Nyonya Aswinda.


"Cherry, Mas Gen.. aku--"


"Tidak perlu menyapa pria brengsekk itu!" potong Ron sebelum sang istri menyelesaikan kalimatnya.


Thrisca langsung mengatupkan bibirnya dan berlalu meninggalkan kediaman Nyonya Aswinda bersama sang suami.


"Ron, kau marah padaku?" tanya Thrisca menatap wajah cemberut sang suami.


"Jangan pernah dekat-dekat dengan Gen lagi! Tidak perlu lagi menyapanya! Tidak perlu melihat wajahnya! Jangan lagi tersenyum padanya!" omel Ron.


"Aku mengerti."


***


Thrisca berjalan-jalan di taman belakang rumah Ron seraya menikmati angin sore yang berhembus lembut menyapu bunga-bunga indah di taman kecil itu.



Wanita hamil itu memandangi bunga-bunga yang bermekaran di hadapannya dengan tatapan kosong.


"Sayang.."


Ron melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan mendekap lembut wanita itu dari belakang.


"Kenapa kau memakai pakaian terbuka seperti ini di luar?" omel Ron seraya menarik gaun tipis yang tengah dikenakan oleh sang istri.


"Aku masih berada di area rumah, Ron. Tidak ada siapapun di sini selain kita."


"Pakailah pakaian hangat di luar. Hari sudah hampir sore. Kau bisa kedinginan di luar dengan pakaian tipis ini,"


"Baiklah." jawab Thrisca seraya menoleh ke arah sang suami dan melempar senyum tipis.


"Bungamu banyak yang mekar, Ron. Cantik sekali." ujar Thrisca kembali memandangi bunga-bunga indah di depan matanya.


"Iya. Cantik." jawab Ron sembari menatap lekat wajah cantik sang istri yang ada dalam dekapannya.


"Ron.. kau tidak marah padaku, kan?" tanya Thrisca dengan wajah muram.


"Marah? Memangnya apa yang kau lakukan?"


"Aku tidak bisa membantumu. Tapi aku justru menghambat pekerjaanmu. Maafkan aku, Ron. Tolong temani aku untuk hari ini saja. Besok kau boleh pergi mengurus pekerjaanmu. Aku bisa menjaga diri--"


"Istri dan anakku ingin ditemani olehku. Kenapa aku harus marah padamu? Kenapa kau harus meminta maaf?" potong Ron cepat.


"Maaf, aku tidak bisa membantu apapun." ujar Thrisca makin murung.


"Membantu apa, Sayang? Ini sudah tugasku untuk mencari nafkah bagimu. Kau tidak perlu memikirkan hal yang tidak perlu. Fokus saja menjaga kesehatanmu dan bayi kita,"


Ron mengusap lembut perut sang istri yang masih rata.


"Ayolah, jangan memasang wajah masam seperti itu! Wajahmu benar-benar jelek," cibir Ron seraya mencapit pelan hidung sang istri dengan jemarinya.


Pria itu tak bisa sembarangan lagi menoyor kepala Thrisca maupun mencubit istrinya itu mengingat wanita kesayangannya itu tengah berbadan dua.


Ron melepas pelukannya pada sang istri dan berlari masuk ke dalam rumah. Pria itu muncul kembali di taman belakang diiringi lantunan musik lembut yang menambah suasana romantis di taman kecil penuh bunga itu.


"Ron, kau menghidupkan musik?"


Pria tampan yang hanya memakai sandal jepit dan kaos polos itu berjalan menghampiri sang istri seraya mengulurkan tangan pada Thrisca.


"Apa, Ron?"


"Dance?"


"Dance? Aku tidak bisa berdansa.." ujar Thrisca tersenyum malu.


"Ayolah! Kau hanya perlu mengikuti gerakanku," ujar Ron menarik lembut tangan sang istri dan mendekap erat wanita hamil itu.


Thrisca terus tertawa tanpa bisa mengikuti langkah lihai Ron yang nampak luwes menggerakkan badan mengikuti alunan musik.


Wanita itu berputar pelan dan bergerak kaku di depan Ron. Thrisca dan Ron tak henti-hentinya tertawa melihat dansa mereka yang gagal dan nampak berantakan.


"Ron, aku tidak bisa.." ujar Thrisca disertai cengiran kuda.


"Gayamu seperti robot!" ejek Ron seraya mengacak lembut rambut sang istri.


"Ron, kau pasti sudah sering berdansa dengan banyak wanita.."


"Kenapa?"


"Kau terlihat mahir."


"Sejak sekolah aku sudah diwajibkan ikut kelas dansa. Beberapa acara formal yang kuhadiri juga terkadang menambahkan sesi dansa. Aku tentu tidak boleh membuat malu keluarga Diez," ungkap Ron cuek.


"Lalu siapa yang kau ajak berdansa di acara-acara seperti itu, Ron?"


"Hanya.. wanita-wanita asing." jawab Ron singkat.


"Lilian? Kau pernah mengajak Lilian ke acara seperti itu?" tanya Thrisca dengan wajah cemberut.


"Tidak pernah, Sayang. Aku hanya berdansa dengan tamu undangan yang tidak kukenal di sana. Lain kali kalau aku mendapat undangan, aku akan mengajakmu."


"Untuk apa mengajakku? Aku tidak bisa berdansa."


"Aku bisa mengajarimu--"


Thrisca mendengus kesal dan berlari meninggalkan sang suami.


"Sayang, jangan berlarian seperti itu!" teriak Ron pada sang istri yang kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah manyun.


"Suasana hati wanita hamil benar-benar menyeramkan.." gumam Ron lemas.


***


Malam hari, Ron masih duduk di ruangan kerjanya sembari mengurus tumpukan berkas menggunung yang ada di mejanya.


Pria itu memijat kepalanya yang pening seraya membolak-balikkan kertas di hadapannya dengan malas.


"Icha seharusnya sudah tidur, kan?" gumam Ron mulai berjalan menuju kamar untuk melihat sang istri.


Pria itu langsung berlari menuju kamar mandi begitu ia mendengar suara sang istri yang tengah memuntahkan isi perut di dalam kamar kecil.


"Sayang, kau tidak apa-apa?"


Ron mengusap-usap punggung sang istri dan segera membopong tubuh lemas wanita hamil itu.


Ron kalang kabut berlarian kesana-kemari menyiapkan minuman hangat dan menyelimuti tubuh sang istri rapat-rapat.


Pria itu berbaring di samping Thrisca sembari mengusap-usap perut sang istri.


"Ron, kau kemana?" tanya Thrisca dengan suara parau.


"Maaf, Sayang. Kupikir kau sudah tidur. Seharusnya aku menemanimu di sini,"


"Apa yang kau lakukan di luar kamar?"


"Aku.. em, aku hanya membuat kopi di dapur." jawab Ron asal.


"Benarkah? Kenapa tidak bilang? Aku bisa buatkan kopi untukmu."


"Tidak perlu, Sayang. Aku bisa membuatnya sendiri. Istirahat saja, Sayang. Aku tidak akan pergi kemanapun." ujar Ron mendekap erat sang istri.


"Jangan pergi, Ron. Aku tidak mau tidur sendiri.."


Thrisca membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Ron semakin kesulitan menyelesaikan pekerjaannya karena sang istri yang tengah hamil muda dan mulai sering bermanja padanya.


Dini hari, Ron terbangun dan mengendap-endap keluar kamar setelah sang istri benar-benar terlelap.


Pria itu menguap lebar-lebar seraya mengaduk cangkir kopi dan membawanya menuju ruang kerja.


Suami Thrisca itu kembali menyibukkan diri mengurus pekerjaan sang kakek yang makin terbengkalai. Pria itu ingin sekali membantu kakeknya, namun ia juga tak ingin meninggalkan sang istri yang tengah mengandung buah hatinya.


Sementara, Thrisca yang terlelap di dalam kamar, ikut terbangun dan meraba-raba ranjang besarnya mencari sang suami.


Wanita itu membuka mata perlahan dan mendapati ranjangnya yang kosong tanpa sosok Ron.


"Kemana lagi Ron pergi?" gumam Thrisca.


Wanita itu keluar dari kamar dan berjalan dengan mata mengantuk, mencari keberadaan sang suami.


Manik mata Thrisca mulai tertuju pada ruangan dengan lampu yang menyala terang diantara ruangan-ruangan gelap di sekelilingnya.


"Itu ruang kerja Ron, kan?" gumam Thrisca mulai memahami apa yang tengah dilakukan sang suami.


"Jadi, Ron masih banyak pekerjaan? Tapi aku justru menyita waktunya dan bermanja-manja padanya?" gumam Thrisca nampak merasa bersalah karena sikapnya sendiri.


Wanita itu mengusap kasar pipinya yang sudah terbasahi air mata, tanpa tahu apa yang harus ia lakukan untuk meringankan beban Ron.


"Icha, andai saja kau wanita karir yang sukses, kau pasti bisa membantu pekerjaan suamimu!" gerutu Thrisca kesal seraya menangis sesenggukan di dapur yang gelap.


Ron yang hendak kembali mengisi cangkir kopinya, mulai bergidik ngeri saat mendengar suara tangisan wanita di dapur yang gelap.


"Suara apa itu?" gumam Ron merinding.


Pria itu segera menyalakan lampu dan bersiap untuk menyergap wanita yang tengah menangis di kegelapan.


"Sayang? Apa yang kau lakukan di sini?"


Ron langsung mendekap erat tubuh mungil sang istri begitu ia melihat sosok wanitanya yang tengah berjongkok di lantai dengan wajah sembab.


"Kau menangis? Hari masih gelap, kenapa kau berada di sini?"


"A-aku hanya mengantuk saja, Ron. Aku terlalu banyak menguap." ujar Thrisca gelagapan menghapus air matanya.


"Kau mencariku? Maaf, Sayang. Aku akan menemanimu tidur lagi. Maaf, aku sudah meninggalkanmu di kamar sendirian. Aku hanya.. em, aku haus dan ingin mengambil minum. Maaf, ya? Ayo, kita tidur lagi." ajak Ron seraya mengangkat tubuh sang istri dan membopong wanita itu kembali ke kamar.


"Ron.. kenapa kau berbohong padaku?" tanya Thrisca dengan wajah murung.


"Berbohong apa? Aku tidak membohongi--"


"Kau masih ada banyak pekerjaan, kan? Istirahatlah, Ron. Kau bisa melanjutkannya besok pagi. Aku janji, besok aku tidak akan mengganggumu." ujar Thrisca seraya melayangkan kecupan ke pipi sang suami.


"P-pekerjaan apa? Satu-satunya kesibukanku sekarang hanyalah mengurusmu dan bayi kita. Aku tidak--"


"Aku istri yang tidak pengertian. Iya, kan?" potong Thrisca.


"Apa yang kau bicarakan, Sayang?"


"Bantulah kakek, Ron. Aku janji, aku tidak akan membuatmu khawatir. Aku memang bukan wanita mandiri, tapi aku sudah sering ditinggal di rumah sendiri, Ron. Aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik. Aku tidak akan keluar rumah. Aku--"


Ron langsung membungkam mulut sang istri dengan kecupan lembut untuk menghentikan ocehan wanita hamil itu.


Tak hanya melayangkan kecupan, ciuman mereka pun berganti menjadi pagutan dan cumbuan yang panjang.


Ron menyesap bibir sang istri semakin dalam dan melumatt habis benda lembut milik wanita berbadan dua itu.


"Aku akan mencari cara untuk menyelesaikan pekerjaan kakek tanpa meninggalkanmu. Kalau kau tidak sedang mengandung, aku bisa saja membawamu. Tapi saat ini ada bayi kita di perutmu. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan mengajakmu melakukan perjalanan jauh." ungkap Ron.


"Kau tidak perlu cemas memikirkan pekerjaanku, Sayang." imbuh Ron seraya mengecup perut sang istri bertubi-tubi.


***


Bersambung...