
Tuan Derry berkeliling rumah sakit mencari-cari Lilian. Ayah dari Ron itu menelusuri rumah sakit, namun ia tak juga menjumpai batang hidung Lilian dimanapun.
"Kemana perginya wanita itu?!"
Tuan Derry berdecak kesal karena tidak berhasil menemukan Lilian.
Pria paruh baya itu berbalik mengunjungi putranya tanpa repot-repot lagi mengurus Lilian yang sudah menghilang.
Genta yang mengekori sang paman, ikut mencari-cari keberadaan Lilian yang tiba-tiba menghilang dari rumah sakit.
"Kenapa paman sibuk mencari Lian? Itu artinya paman juga tidak tahu kemana Lian pergi?" gumam Genta bingung.
Pria itu makin penasaran dengan kepergian Lilian yang mendadak. Genta bahkan belum sempat membongkar hubungan gelap Tuan Derry dengan Lian, namun sang wanita sudah terlebih dulu menghilang entah kemana.
Tuan Derry masuk ke ruangan sang menantu dan mendapati putranya beserta istri tengah asyik bermain kartu dengan heboh.
"Ron, kau kalah!!"
Thrisca segera mengambil bedak dan lipstik untuk mencoret-coret wajah sang suami.
Wajah tampan Ron kini sudah berubah menjadi tampang badut menyeramkan dengan lipstik berwarna merah menyala menghiasi bibirnya.
Thrisca tak bisa berhenti tertawa melihat tampilan Ron yang nampak berantakan penuh bedak dan lipstik di wajah.
"Kau senang, hah?! Apa aku terlihat cantik?!" sindir Ron kesal.
"Apa yang kalian lakukan?" tegur Tuan Derry begitu beliau memasuki ruangan pasien sang menantu.
"A-ayah.."
Thrisca segera menutup mulutnya yang tertawa lebar dan membereskan kumpulan kartu yang berceceran di ranjang.
"Ayah, jangan menakuti istriku! Pulang sana!" usir Ron makin kesal melihat kedatangan ayahnya yang membuat sang istri kalang kabut membersihkan ranjang.
"Ron, kau tega sekali pada pria tua ini.." ujar Tuan Derry memelas.
"Ayah kan punya banyak istri yang bisa dikunjungi! Pergi saja kunjungi simpanan ayah!" sindir Ron.
"Ron, jangan begitu.." tegur Thrisca mencubit lengan sang suami.
Tuan Derry hanya bisa menghela nafas tanpa membalas ucapan pedas sang putra. Pria paruh baya itu sudah terbiasa dengan perangai kasar dari putranya yang sudah hampir berusia tiga puluh tahun itu.
"Bagaimana keadaanmu, Thrisca?" tanya Tuan Derry mengabaikan usiran dari anak semata wayangnya.
"Aku sudah lebih baik, ayah. Dokter bilang, lusa aku sudah bisa pulang.." ujar Thrisca sesopan mungkin.
"Pulang apanya?! Kau masih harus dirawat di sini! Tubuhmu masih lemah! Kau masih membutuhkan banyak perawatan!" sanggah Ron.
"Ron, berhentilah bersikap berlebihan!" protes Thrisca.
"Berlebihan apanya?! Aku hanya ingin merawat istriku dengan baik! Seharusnya kau bersyukur memiliki suami yang perhatian seperti aku! Dimana lagi kau akan menemukan pria setampan dan sesempurna diriku di muka bumi ini?!" ujar Ron penuh percaya diri.
Thrisca benar-benar ingin memukul kepala sang suami yang sudah berbicara dengan narsis itu.
"Astaga, dapat kepercayaan diri dari mana pria galak ini?!" batin Thrisca.
"Ron, kau bukan dokter! Kalau dokter sudah bilang Thrisca boleh pulang, berarti istrimu sudah baik-baik saja." ujar Tuan Derry.
"Ayah tidak perlu ikut campur! Urus saja istri ayah sendiri!" balas Ron sewot.
"Kemana Ron yang bersikap manis beberapa minggu ini? Semenjak aku hamil, Ron tidak pernah mengomel. Kenapa dia kembali meledak-ledak seperti ini?!" batin Thrisca frustasi.
"Gendut, kau mau jalan-jalan keluar? Aku bisa mengambilkan kursi roda.." tawar Ron.
"Gendut? Kau tidak memanggilku sayang lagi? Mana panggilan sayang yang biasa kau berikan padaku?!" protes Thrisca manja.
"Untuk apa aku memberi panggilan sayang pada istri bandel sepertimu!" omel Ron seraya menoyor kepala istrinya pelan.
"Kalau begitu ayah pamit sekarang. Ayah akan berkunjung lagi besok," pamit Tuan Derry.
"Secepat ini? Ayah bisa minum dulu. Aku akan memesan--"
Belum sempat Thrisca melanjutkan kalimatnya, Ron sudah menyambar dan memotong perkataan sang istri.
"Besok tidak perlu ke sini lagi!" ujar Ron sinis.
"Astaga, kenapa aku bisa memiliki putra kurang ajar sepertimu?!" gumam Tuan Derry memelas.
Pria tua itu keluar ruangan, meninggalkan sang putra bersama menantunya kembali menikmati waktu berdua.
***
Susan duduk termenung di sebuah bar mewah yang terletak di pusat kota. Wanita itu terpaksa kembali ke pekerjaan yang dulu pernah digelutinya demi mencari mangsa baru yang bisa ia gerogoti dompetnya.
Meskipun sudah hampir gila karena kehilangan uang serta putrinya, Susan tak bisa terus-terusan berdiam diri tanpa melakukan sesuatu.
"Susan! Antarkan minuman ke ruangan ini.."
Ibu satu anak yang berpakaian minim itu segera merapikan rambutnya dan berjalan gemulai menuju ruangan yang berisi kumpulan pria tua kaya di kota itu.
"Dapatkan satu dari mereka! Kau akan mendapat banyak uang jajan," bisik seorang teman Susan pada wanita itu.
"Apa mereka pejabat?" tanya Susan.
"Beberapa dari mereka adalah pengusaha besar. Coba saja ajak bermain semalam," bisik teman Susan itu lagi.
Susan memasuki pintu yang dipenuhi dengan pria tua hidung belang untuk mengantarkan minuman. Wanita itu melempar senyuman tipis pada para tamu seraya memamerkan belahan dadanya saat menuangkan minuman.
Di antara salah satu tamu ruangan itu, terlihat Tuan Derry yang menatap Susan tanpa berkedip. Pria paruh baya berdompet tebal yang selalu kekurangan wanita itu, terus saja berulah dengan mencari wanita-wanita baru untuk memuaskan hasratnya.
"Kemarilah!" panggil Tuan Derry pada Susan.
Wanita itu berjalan dengan berlenggak-lenggok memperlihatkan lekuk tubuhnya yang nampak jelas dalam balutan pakaian minim nan ketat.
Tuan Derry menyelipkan beberapa lembar uang di belahan dada Susan seraya memberikan kunci kamar yang tersedia di bar pada wanita itu.
"Datanglah kalau kau mau tips tambahan.." bisik Tuan Derry seraya menggigit telinga Susan.
"T-tentu, Tuan. Terima kasih.."
Susan berlalu dari ruangan itu dan bersorak girang menghitung lembaran uang yang diberikan oleh Tuan Derry.
"Tidak apa-apalah, pria itu tidak terlalu tua. Wajahnya tidak setua kakek-kakek," gumam Susan.
***
"Halo? Nadine kau dimana?" tanya Cherry menelepon Nadine. Teman Nadine itu sudah berdiri di depan pintu kamar yang disewa oleh Nadine, namun wanita itu tak kunjung membukakan pintu.
"Kenapa? Aku sedang membeli kecap.." jawab Nadine mengangkat telepon dengan malas.
"Cepatlah kembali! Aku sudah berdiri di depan pintu kamarmu selama satu jam! Kemana sebenarnya kau membeli kecap?!" omel Cherry mulai tak sabaran.
"Dasar tamu kurang ajar! Aku juga tidak menyuruhmu untuk berkunjung!" balas Nadine.
"Cepat kembali sebelum aku merusak pintu kamarmu!" pekik Cherry kemudian menutup telepon dengan kasar.
"Ada apa dengan anak ini?!" gumam Nadine heran.
Wanita itu bergegas kembali sebelum Cherry menerornya dengan banyak pesan dan panggilan berisi ancaman.
"Nadine! Kecap apa sebenarnya yang kau beli?!" omel Cherry seraya memukul bekalang kepala Nadine dengan kencang.
"Apa kau memiliki dendam denganku?" tanya Nadine dengan wajah frustasi.
"Sudahlah! Kita bicara di dalam saja! Cepat buka pintunya!" titah Cherry.
Nadine hanya pasrah menurut dan segera mempersilahkan temannya masuk. Wanita itu bahkan berbaik hati membuatkan minuman dan menyiapkan camilan untuk Cherry, meskipun ia masih kesal dengan sikap semena-mena sang teman.
"Nadine, Genta melamarku." ujar Cherry lirih.
BRUAAKK!!
Nadine langsung menggebrak meja dan melotot pada Cherry begitu ia mendengar kabar mengejutkan dari pria idamannya.
"Bisakah kau tidak menggebrak meja di depan mataku?! Aku terkejut bodoh! Jantungku hampir saja copot!" omel Cherry.
"Kau bilang kau tidak kenal Genta! Kau bilang kau tidak memiliki hubungan apapun dengannya!" sentak Nadine.
"Kau menyukai Genta, kan?" sergah Cherry.
"A-apanya?!"
"Apanya apanya apa? Akui saja!" cibir Cherry.
"A-aku hanya terkejut wanita sepertimu mendapat lamaran dari seorang pria! Bukankah kau masih mengikuti kencan buta?!" kilah Nadine.
"Kalau kau menyukai Genta, bilang saja. Aku akan membantumu." tawar Cherry.
"Me-membantu apa? Aku tidak menyukainya!"
"Ya sudah kalau kau tidak mau mengaku. Kalau begitu tidak apa-apa kan kalau aku menerima lamaran dari Genta?" ijin Cherry.
"Kenapa kau butuh ijin dariku?! Terserah kau ingin menerima lamarannya atau tidak." ujar Nadine sok tak peduli.
"Baiklah, sepertinya kau harus menikmati hari-hari jomblomu seorang diri karena sebentar lagi aku akan memiliki suami.." pamer Cherry sengaja memanas-manasi Nadine.
Cherry benar-benar ingin membantu Nadine mendapatkan Genta jika temannya itu benar menyukai sepupu dari bos mereka. Namun sayangnya, Nadine terus saja berkilah dan tidak mau mengakui perasaannya di depan Cherry.
***
Bersambung...