
Hari masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Thrisca sudah membuka mata di dalam tenda kecilnya, namun ia tidak mendapati sosok sang suami di sampingnya.
Wanita itu merayap keluar dari tenda untuk mencari di mana sang suami merebahkan diri.
Ternyata sosok yang tengah di cari-cari oleh wanita itu tengah duduk di taman belakang seorang diri ditemani oleh kepulan asap rokok di tangan.
"Ron," panggil Thrisca pada sang suami yang tengah melamun.
Ron gelagapan menoleh ke arah Thrisca dan segera membuang puntung rokoknya jauh-jauh.
"Sayang, kau terbangun? Kembalilah beristirahat. Di sini dingin,"
Ron berdiri dan mendorong tubuh kurus sang istri kembali ke dalam.
"Sejak kapan kau merokok?" tanya Thrisca dengan wajah muram.
"S-sudah lama. Aku hanya tidak pernah merokok di depanmu,"
"Jadi, kau selalu merokok dengan sembunyi-sembunyi dariku?" selidik Thrisca.
"Maaf, Sayang. Aku akan ganti baju. Asap rokoknya menempel di bajuku,"
Ron berlalu meninggalkan sang istri dan berjalan pelan menuju kamar.
"Ron, kau masih memikirkan soal tadi?" tanya Thrisca.
Ron menghentikan langkahnya dan membuka suara tanpa menoleh ke arah sang istri.
"Istirahatlah, aku akan segera menyusul.."
"Kenapa kau tidak tidur? Kenapa duduk di luar?" tanya Thrisca lagi.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak bisa tidur," jawab Ron tanpa menoleh sedikitpun ke arah Thrisca.
"Ron, katakan padaku kalau ada sesuatu yang mengganjal. Jangan dipendam sendiri!"
"Aku tidak apa-apa,"
Ron berbalik dan menampilkan senyum paksa pada sang istri.
"Tidak apa-apa apanya?! Jangan tersenyum seperti itu padaku! Senyummu sangat jelek!" omel Thrisca dengan mata berkaca-kaca.
Wanita itu berbalik badan seraya mengusap pipinya yang sudah basah. Thrisca meninggalkan sang suami dengan raut wajah kesal pada pria itu.
Ron yang menyadari istrinya tengah berlinang air mata segera mengejar Thrisca yang tergesa-gesa masuk ke dalam tenda hasil karyanya.
"Sayang, aku tidak bermaksud begi--"
Suami Thrisca itu tak melanjutkan kalimatnya begitu ia melihat sang istri yang menangis sesenggukan.
Entah kenapa ibu hamil itu menjadi sangat sensitif dan mudah menangis selama masa kehamilannya.
Ron semakin merasa bersalah sudah membuatnya wanita tercintanya bercucuran air mata karena sikapnya.
"Aku akan mengantarmu ke rumah ibu nanti. Siapkan barang-barangmu," ujar Ron seraya mengusap pipi sang istri.
"Mengantar apa, Ron?"
"Lebih baik ibu yang mengurusmu. Ibu lebih tahu bagaimana cara merawat wanita hamil. Ibu juga lebih tahu bagaimana menyenangkan hati wanita hamil,"
"Ron, kau ingin membuangku? Kau sudah lelah mengurusku? Aku membuatmu kerepotan?!" cecar Thrisca dengan air mata mengalir semakin deras.
"Bukan begitu, Sayang. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Lihat! Aku hanya bisa membuatmu menangis,"
Ron mengusap-usap lembut pipi wanita cantik itu.
"Kau sudah menjagaku dengan baik, Ron! Aku tidak mau pergi kemanapun! Aku tidak mau jauh darimu!"
Thrisca mengalungkan tangannya ke leher sang suami dan memeluk erat pria kesayangannya itu.
"Aku hanya pria bodoh yang tidak bisa mengurusmu. Aku takut aku hanya akan memperburuk keadaan. Tolong ikut saja dengan ibu. Aku akan mengunjungimu setiap hari,"
"Ron, jangan lari dari tanggungjawabmu! Kita baik-baik saja selama beberapa minggu kehamilanku ini. Kau masih memikirkan soal sakit perutku semalam? Itu salahku, Ron. Lagipula itu hanya sakit perut biasa. Maaf sudah membuatmu khawatir, Ron.."
Thrisca menangis semakin heboh dan memeluk sang suami makin erat. Wanita itu terus mengoceh, memohon agar Ron tidak mengirimnya ke rumah sang ibu mertua.
Ron hanya diam mendengarkan semua perkataan sang istri tanpa membalas. Pria itu juga tidak sanggup jika harus jauh dari istrinya, tapi ia lebih cemas jika dirinya tidak bisa menjaga sang istri dengan baik.
Pria itu semakin diliputi rasa bersalah dan ketakutan berlebihan mengenai keadaan sang istri yang tengah berbadan dua.
"Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu, Sayang. Aku tidak ingin kehilanganmu dan bayi kita.."
"Ron, pernahkah kau sedikit saja memikirkan perasaanku? Kenapa kau selalu berpikir semua keputusanmu adalah pilihan yang terbaik? Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkan pendapatku?!"
Thrisca melepas pelukannya pada suaminya.
Tangis sendu wanita itu kini berubah menjadi kemarahan yang tersulut karena rasa kecewanya pada sang suami.
"Lakukan saja apapun yang kau mau!"
Thrisca mengusap pipinya dengan kasar serta membuang muka pada Ron.
Wanita itu merebahkan diri seraya menarik selimut tebalnya untuk mengerubuti seluruh tubuh rampingnya.
Tangis wanita itu kembali pecah di dalam selimut tempatnya menyembunyikan diri dari sang suami.
Ron ikut merebahkan diri di samping sang istri dan mendekap erat tubuh wanita kesayangannya itu. Pria itu melayangkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala istrinya dan mengusap lembut rambut panjang nan harum wanita tercintanya itu.
***
Ron dan Thrisca menikmati sarapan pagi bersama dalam suasana hening. Pasangan suami-istri itu saling diam satu sama lain setelah keributan kecil dini hari tadi.
Ron dan Thrisca fokus pada makanan masing-masing tanpa berani bersuara. Sesekali pasangan yang tengah dilanda kegalauan itu saling curi pandang satu sama lain.
"Kenapa Ron diam saja sejak tadi? Dia benar-benar ingin mengirimku ke rumah ibunya?!" batin Thrisca kesal.
"Kenapa Icha diam saja sejak tadi? Dia masih marah padaku?" batin Ron gelisah.
Thrisca beranjak dari meja makan dengan wajah cemberut, diikuti Ron yang terus mengekor di belakangnya.
Thrisca yang mulai risih terus dipepet sang suami, menyudahi aksi diam mereka dengan membuka suara terlebih dahulu.
"Ron,"
Thrisca berbalik dan menatap lurus-lurus pria yang berdiri tepat di belakangnya.
"Kenapa, Sayang? Perutmu sakit lagi? Atau kau mual? Kau butuh sesuatu?"
Ron langsung mendekati sang istri dengan panik dan mengusap-usap perut ibu hamil itu.
"Ayo main batu, kertas, gunting!" ajak Thrisca.
"Kalau aku menang, aku akan lakukan apapun yang aku mau! Kau tidak boleh melarang ini-itu padaku! Kalau kau yang menang, kau bisa lakukan apapun semaumu. Aku tidak akan membantah," imbuhnya.
"Em, soal itu--"
"Tiga kali! Kau tidak boleh curang!"
Thrisca tidak mendengar ocehan sang suami dan segera memulai permainan.
Batu, kertas, gunting!
Permainan pertama dimenangkan oleh Ron.
Pria itu nampak merasa bersalah melihat wajah kecewa sang istri yang kalah. Ingin sekali ia mengalah dan membiarkan istrinya yang memenangkan permainan kecil itu.
Batu, kertas, gunting!"
Ronde kedua, Thrisca yang memenangkan permainan itu dengan mengeluarkan batu.
Wanita itu tersenyum sumringah hanya karena permainan kecil yang ia mainkan bersama sang suami. Ron tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya saat ia melihat wajah berseri dari sang istri.
"Kau pasti menang.." ujar Ron seraya mengacak-acak rambut sang istri.
"Kau meremehkanku?!" protes Thrisca tak terima sang suami terlihat mengalah padanya.
Ron mencubit pipi istrinya gemas dan tersenyum kecil memanggil ocehan sang istri.
Batu, kertas, gunting!
Ronde final, permainan pun dimenangkan oleh Ron lagi.
"Sial!" umpat Thrisca pelan.
Wanita itu berjalan pelan menuju kamar untuk mengemasi barang-barang. Sesuai aturan permainan, Ron yang memenangkan permainan ini berhak melakukan apapun dan Thrisca tidak boleh membantah.
"Kau mau kemana, Sayang?"
"Menuruti kemauanmu," ujar Thrisca tak semangat.
"Aku belum mengatakan apapun!" cegah Ron seraya menarik tangan sang istri.
"Thrisca.."
Nyonya Daisy datang di waktu yang tepat setelah pasangan suami-istri itu menyelesaikan permainan.
"Ibu,"
Thrisca melepas tangan Ron darinya dan berlari kecil menghampiri ibu mertuanya.
"Apa yang kalian lakukan pada rumah kalian?" ujar Nyonya Daisy terkejut bukan main saat melihat lampu-lampu hias yang dipasang oleh Ron masih bertengger di dalam rumah beserta tenda kecil yang masih berdiri kokoh.
"Itu, kami hanya ingin mengubah suasana saja.." jawab Thrisca diiringi cengiran kuda.
"Ibu, untuk apa kemari setiap hari?! Ibu sengaja ingin menggangguku?!" omel Ron.
"Itu masalahmu jika kau terganggu," cibir Nyonya Daisy.
"Aku permisi sebentar, Bu." pamit Thrisca menuju kamar.
"Bersiap-siaplah ke kelas yoga, Thrisca." ujar Nyonya Daisy.
Thrisca bergegas mengambil koper dan memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam wadah besar itu.
Ron menghampiri sang istri dan merebut koper besar milik wanita hamil yang tengah sibuk mengemas barang itu.
"Ron, jangan menggangguku! Ini yang kau mau, kan? Ibu sudah menjemputku. Aku akan pulang ke rumah ibu setelah selesai mengikuti kelas yoga. Itu yang kau mau, kan?" sindir Thrisca.
Suami Thrisca itu menunduk malu mengingat ucapannya dini hari tadi.
"Kau bilang aku boleh melakukan apapun dan kau tidak akan membantah!"
"Aku sedang memenuhi keinginanmu!" ujar Thrisca sinis.
"Kau belum mendengar apapun dariku! Dengarkan dulu perkataanku!" omel Ron tak kalah sewot.
"Kenapa kau jadi mengomel padaku?! Aku sudah tidak membantah lagi! Aku sedang menuruti kemauanmu! Kau masih belum puas juga?!"
"Bukan ini yang aku mau.." ujar Ron lirih.
Pria itu melingkarkan tangan di pinggang sang istri dan menarik tubuh kurus itu ke dalam dekapannya.
"Aku akan menjagamu! Aku tidak akan membiarkan hal seperti kemarin terulang lagi! Tolong beri aku kesempatan.."
***
Bersambung...
...Terima kasih atas dukungan teman-teman pembaca dan teman-teman sesama author semua yang sudah berkenan hadir membaca tulisan receh ini....
...Mohon maaf kalau alurnya lambat, bertele-tele dan ngga ada banyak konflik menegangkan ✌🏻...
...Tidak terasa sebentar lagi tulisan author remahan rengginang ini akan mencapai 100 bab....
...Author akan menamatkan series ini kalau udah mencapai 300.000 kata. Sekarang ini baru ngumpul 130.000 kata. Semoga ngga bosen bacanya karena author bakal bikin cerita ini agak panjang, sepanjang jalan kenangan ✌🏻...