DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 100



Thrisca dan Ron berbaring di ranjang dengan saling membelakangi. Hari sudah mulai larut, namun pasangan suami-istri itu masih terbangun dan sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa menghiraukan satu sama lain.


"Ron pasti sudah tidur, kan? Tapi beberapa jam lagi ulang tahunnya. Sepertinya pria itu tidak tidur," batin Thrisca seraya melirik sang suami yang berbaring memunggunginya.


"Icha sudah tidur belum, ya? Sebentar lagi tengah malam. Bagaimana kalau wanita itu tidak tidur?" batin Ron.


Pasangan suami-istri itu sibuk memikirkan bagaimana mereka harus memberikan kejutan ulang tahun yang sudah mereka siapkan untuk pasangan tercinta.


"Aku siapkan sekarang aja," batin Thrisca seraya beranjak dari ranjang.


"Sayang, kau belum tidur?"


Ron ikut bangkit dari ranjang dan menoleh ke arah istrinya yang hendak keluar kamar.


"Ron, kau juga belum tidur?" tanya Thrisca agak panik.


"Kau mau kemana?"


"A-aku? Aku haus. Aku hanya ingin mengambil minum,"


"A-aku saja yang ambilkan!" cegah Ron.


"Tidak perlu. Aku sendiri saja," tolak Thrisca.


"Em, baiklah.."


Fiuh!


Ron dan Thrisca mulai bisa bernafas lega karena berhasil memiliki waktu sendiri untuk menyiapkan kejutan mereka.


Thrisca segera berlari menuju kamar tamu untuk mengambil hadiah yang ia sembunyikan di sana.


Begitu pula dengan Ron, pria itu segera mengambil koper yang ia sembunyikan di bawah ranjang tempat tidur dan mengambil berbagai hadiah yang ia simpan di wadah tersebut.


"Hadiahku payah sekali.." gumam Thrisca agak kecewa.


"Hadiahku sepertinya terlalu biasa,"


Ron ikut berbicara sendiri seraya menatap bungkusan yang sudah ia siapkan.


Thrisca keluar dari kamar tamu dan melihat-lihat situasi sebelum ia keluar membawa kue dan bungkusan hadiah.


Saat tengah berkeliling di ruang tengah istana megah sang suami, wanita itu mendengar sayup-sayup suara merdu nyanyian seorang pria.


...All I hear is raindrops...


...Falling on the rooftop...


...Oh baby, tell me why'd you have to go...


...'Cause this pain I feel...


...It won't go away...


...And today I'm officially missing you...


...I thought that from this heartache...


...I could escape...


...But I fronted long enough to know...


...There ain't no way...


...And today...


...I'm officially missing you...


...Oh, can't nobody do it like you...


...Said every little thing you do...


...Hey, baby say it stays on my mind...


...And I...


...I'm officially...


...Missing you ~...


...(Tamia)...


Thrisca memandangi Genta yang tengah memetik gitar seraya bernyanyi merdu di tengah malam yang dingin. Pria itu duduk di bangku taman belakang rumah Ron seraya memeluk gitar kesayangannya.


"Mas Gen.."


Thrisca menghampiri Genta dengan senyum sumringah.


Genta terperanjat kaget ketika mendengar suara wanita yang mendekat. Pria itu menoleh ke arah wanita yang sudah berdiri di belakangnya dengan senyuman manis tersungging di bibir merah sang wanita.


"Kau belum tidur?"


"Mas Gen juga belum tidur?" tanya Thrisca balik.


Pria itu menyambar ponsel yang tergeletak di bangkunya untuk melihat jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 malam.


"Selamat ulang tahun, Thrisca.."


Genta mengusap pipi halus istri sepupunya sembari tersenyum manis menatap wajah cantik Thrisca.


"Mas Gen tahu dari mana?"


Thrisca cukup terkejut mendapat ucapan selamat dari Genta.


"Memangnya apa yang tidak aku tahu tentangmu? Aku tahu semuanya.."


"Jadi, Ron juga tahu?"


"Tentu saja, bodoh!"


Genta mengacak-acak rambut Thrisca gemas.


"Mas Gen!"


Thrisca menyingkirkan tangan Genta yang membuat rambutnya berantakan.


"Kau ingin hadiah apa?"


"Mas Gen belum memenuhi janji. Kau sudah janji akan menggendongku keliling taman hiburan dan menaiki semua wahana, kan?" tagih Thrisca.


"Kapan aku bilang begitu?!" elak Genta pura-pura lupa.


"Jangan berpura-pura lupa! Mas Gen kalah bertaruh denganku saat kita menonton film horor. Kau berteriak heboh--"


"Baiklah, baiklah! Aku sudah ingat!"


Genta menutup mulut Thrisca agar wanita itu tak lagi membahas kejadian memalukan saat mereka menonton film horor bersama.


"Tapi kau sedang hamil--"


"Aku tidak bilang aku akan naik wahana.." potong Thrisca cepat.


"Maksudmu?"


"Mas Gen harus mewakiliku menaiki semua wahana permainan!" paksa Thrisca.


"Yang benar saja?! Aku bahkan takut ketinggian!!" batin Genta cemas.


"Thrisca, nanti saja kalau anakmu sudah lahir. Aku akan mengajakmu keliling taman hiburan. Kalau aku hanya sendirian menaiki semua wahana, tentu saja tidak seru.." tolak Genta halus.


"Mas Gen, aku ingin ke taman hiburan! Kau harus menggendongku keliling taman sesuai janjimu!" rengek Thrisca.


Waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Ron yang sudah bersiap di dalam kamar dengan kumpulan balon, berdiri tepat di depan pintu dengan senyum sumringah hendak menyambut sang istri.


"Kenapa Icha lama sekali?" gumam Ron.


Pria itu membuka pintu dan celingukan mencari sosok istrinya di sekitar kamar. Ron berjalan berkeliling rumah mencari istrinya yang sudah lama keluar kamar dan tak kunjung kembali.


Sorot mata pria itu berubah muram seketika saat ia mendapati sang istri yang tengah bercanda ria dengan akrab bersama sang sepupu, Genta.


Thrisca dan Genta tertawa bersama di taman rumah Ron di malam yang dingin. Nampak wajah cantik sang istri tengah melempar senyum sumringah pada sepupu pria yang tinggal satu atap bersama Ron itu.


"Sial! Apa yang dilakukan Genta?!" umpat Ron kesal.


Suami Thrisca itu kembali ke kamar dengan wajah murung dan tidak bersemangat. Hatinya yang sudah tertutup rasa cemburu, membuatnya tak lagi merasakan antusias untuk merayakan ulang tahun bersama sang istri.


"Mas Gen, aku harus pergi! Aku sedang menyiapkan kejutan untuk Ron,"


Thrisca pamit undur diri dan segera berlari mengambil kue serta hadiah yang sudah ia siapkan.


"Kejutan?"


"Hari ini juga hari ulang tahun Ron, kan? Mas Gen lupa?"


Thrisca berlalu meninggalkan Genta, kembali menuju kamarnya untuk memberikan hadiah kejutan pada sang suami.


Genta menatap Thrisca dengan wajah sendu nan pilu. Rasa kesal, iri dengki bercampur cemburu teraduk menjadi satu dalam relung hati pria lajang itu.


"Kapan aku bisa mendapatkan kejutan ulang tahun dari seorang gadis?" gumam Genta seraya menatap istri sepupunya itu.


***


Thrisca membuka pintu kamar suaminya dengan wajah girang. Wanita yang hendak mengejutkan sang suami itu justru merasa terkejut terlebih dulu saat melihat banyak hiasan balon dan bunga yang memenuhi kamar.


"Apa ini?"


Thrisca melihat kumpulan balon dan bunga berwarna-warni itu dengan wajah penuh haru.


Sementara, orang yang mengadakan kejutan justru terbaring lemas di ranjang dengan tubuh terbungkus rapat oleh selimut.


"Ron.." panggil Thrisca pada sang suami yang masih merajuk karena melihat Thrisca dan Genta berbincang bersama.


"Kau yang menyiapkan semua ini?!" tanya Thrisca pada sang suami yang tertutup kain selimut.


"Ron.."


Thrisca mengguncang-guncangkan tubuh suaminya kencang, namun Ron masih juga tak bereaksi.


"Selamat ulang tahun, Sayang.."


Thrisca memeluk erat sang suami yang masih terbaring berkerubut kain di atas ranjang.


Ron membuka kain selimutnya dan menatap sang istri yang sudah terbaring di sampingnya seraya memeluk tubuhnya.


"Kau tahu hari ini ulang tahunku?" tanya Ron pada Thrisca.


"Apa yang tidak aku tahu tentangmu?" ujar Thrisca masih memeluk erat sang suami dengan mata terpejam.


"Selamat ulang tahun, istriku.."


Giliran Ron yang mengucapkan selamat pada istri tercintanya.


Pria tampan itu melayangkan kecupan hangat ke bibir lembut sang istri. Calon daddy itu beralih ke perut Thrisca dan mengecup calon buah hati mereka.


Ron seakan lupa dengan rasa cemburunya pada Genta yang sudah membuat hujan badai di hati dan pikirannya.


"Aku menyiapkan sesuatu untukmu, Ron.."


Thrisca bangkit dari ranjang dan mengambil bungkusan kecil yang sudah ia siapkan.


"Aku tidak bisa memberikan hadiah yang bagus.." sesal Thrisca.


Ron membuka bingkisan pemberian sang istri dan mendapati sebuah syal rajut bertuliskan nama Ron terukir rapi di kain wol itu.


"Ini.. buatanmu sendiri?" tanya Ron penuh hati-hati.


"Memang bukan pakaian mahal yang sering kau pakai! Kalau kau tidak mau, buang saja!"


Thrisca hendak merebut kembali syal buatannya dari tangan sang suami.


"Kau sudah memberikannya padaku! Mana boleh kau mengambilnya kembali?!"


Ron segera memakai syal buatan istrinya sebelum Thrisca berhasil merebut kembali kain itu.


"Ini akan menjadi benda kesayanganku.." ujar Ron kembali mendaratkan ciuman hingga pagutan mesra pada sang istri.


***


Bersambung...