
"Suamiku, biarkan saja Lilian menginap. Masih ada banyak kamar kosong disini." dukung Thrisca.
"Disini, akulah orang asing diantara mereka. Ron sudah sangat baik padaku. Aku tidak boleh menjadi penghalang kebahagiaan Ron." ucap Thrisca dalam hati.
"Gendut, apa yang kau lakukan?!"
Ron meremas jari istrinya itu.
"Bagus kalau kau tahu diri! Karena kau sudah menjaga Ron dengan baik, pasti tidak akan sulit untuk menjaga Lilian bukan?" ujar Daisy pada menantunya.
"Thrisca, aku tidak ingin membuatmu repot," ujar Lilian dengan senyum palsu.
"Ini bukan pekerjaan yang sulit. Tinggallah disini. Aku akan menyiapkan kamar tamu." jawab Thrisca.
"Kamar tamu apa? Biarkan Lian memakai kamar utama." kata Daisy.
"Ibu!!"
Ron mulai kehilangan kesabaran menghadapi ibunya.
"T-tentu. Kamar utama sudah bersih. Kau bisa langsung memakainya."
Thrisca mencoba menahan diri.
"Gendut, apa-apaan kau ini?!"
Ron melotot ke arah istrinya.
"Thrisca, apa kau bisa memasak? Kebetulan aku belum makan siang," tanya Daisy.
Thrisca mengabaikan Ron dan segera berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Gadis itu hanya bisa memasak dengan bahan seadanya karena tidak sempat berbelanja untuk menyambut mertuanya.
Thrisca mengambilkan makanan untuk suaminya dan mengurus makanan semua orang seperti seorang pelayan. Gadis itu bahkan tidak sempat duduk ikut menikmati makan siang karena terus diperintah oleh mertuanya.
Daisy dan Lilian menikmati makan siang mereka dengan lahap, sementara Ron hanya memainkan sendoknya seraya memandangi istrinya yang terus berjalan kesana-kemari melayani ibunya.
"Gendut!!! Duduk sini! Temani aku makan!" teriak Ron pada istrinya.
"Thrisca masih sibuk! Cepat habiskan makananmu!" perintah Daisy pada putranya.
"Ini semua gara-gara ibu! Bagaimana kalau gendut mati karena melewatkan makan siang?!!" omel Ron pada ibunya.
"Apa otakmu tersumbat air?! Mana mungkin ada orang mati hanya karena melewatkan satu kali makan?!"
Thrisca melirik ke arah meja makan dan tersenyum tipis. Baru saja ia mendapat perkataan seperti itu dari suaminya, kini berbalik suaminya yang harus menerima kata-kata kasar itu.
Begitu sore menjelang, Daisy berpamitan dan meninggalkan Lilian di rumah Ron. Ron terus uring-uringan karena harus terus memakai kursi roda untuk bergerak. Tak jauh berbeda dari sang suami, Thrisca juga merasa sangat kesal tidak bisa melepas baju tebalnya karena keberadaan Lilian.
"Ron, bisa kita berbicara sebentar?"
Lilian mengetuk pintu kamar utama dan melihat Ron tengah sibuk memainkan ponselnya di kursi roda.
"Katakan saja!" ujar Ron tak peduli.
Lilian masuk ke kamar Ron dan duduk di tepi ranjang Ron.
"Apa yang membuatmu kesal? Aku sudah berusaha keras bertahan hidup demi dirimu, tapi ini yang kudapatkan?" ujar Lilian dengan wajah memelas.
"Apalagi yang ingin kau tuntut dariku? Aku sudah memiliki istri dan aku hanya pria lumpuh sekarang. Carilah pria berkaki sehat yang bisa membahagiakanmu." kata Ron dengan nada cuek.
"Ron, aku akan berusaha menerimamu. Aku akan belajar merawatmu. Apa kau benar-benar ingin melepasku hanya untuk bersama gadis gemuk itu?"
Lian mendekati kursi roda Ron dan menggenggam tangan pria itu.
"Apa salahnya dengan gadis gemuk? Thrisca bisa merawatku dengan baik."
Ron menarik tangannya dengan kasar.
"Ron, kau benar-benar ingin mengusirku dari hidupmu?!" tanya Lian dengan wajah serius.
Ron hanya diam tanpa menjawab pertanyaan wanita yang masih dirindukannya itu.
"Apa kau tidak pernah sekalipun merindukanku?" tanya Lian lagi.
Ron masih diam mencoba memikirkan jawaban yang tepat untuk mengusir wanita itu.
"Baiklah, sepertinya memang tidak ada tempat lagi bagiku. Aku akan menyusul ibuku. Semoga kepergianku bisa membuatmu bahagia."
Lian berdiri dengan air mata berlinang.
Ron segera menarik tangan wanita itu sebelum Lilian benar-benar pergi. Melihat Ron yang masih mencegah kepergiannya, Lilian berbalik dan memeluk erat pria yang masih terduduk di kursi roda itu.
"Aku sangat merindukanmu, Ron. Aku selalu merindukanmu.." ujar Lian dengan tangis sendu.
Wanita itu melepas pelukannya dan berganti mengecup bibir pria beristri itu. Mendapat ciuman dari wanita yang sangat dirindukannya, Ron tidak bisa menahan diri untuk tidak menyambutnya.
Sementara itu, Thrisca tengah berjalan menuju kamar utama untuk mengambil pakaiannya. Namun saat sampai di pintu, gadis itu segera berbalik meninggalkan kamar Ron saat melihat suaminya itu tengah bermesraan dengan wanita lain.
Begitu melihat Thrisca yang muncul di pintu, Ron segera mendorong Lian untuk menyingkir darinya.
"Lian!"
Ron yang panik, tidak sengaja mendorong Lilian terlalu keras hingga membuat gadis itu tersungkur di lantai. Pria itu hampir saja bangkit dari kursi roda untuk membantu kekasihnya. Beruntung wanita itu tidak mendapat luka parah sehingga Ron masih bisa menahan diri untuk terus duduk di kursi roda.
"Kau baik-baik saja, kan?"
Ron merayap mendekati Lilian dengan wajah cemas.
"Kau masih ingat untuk peduli padaku? Sejak tadi kau terus bersikap dingin.." ujar Lilian dengan senyum kecut.
"Istirahatlah di kamar ini. Aku harus menghampiri istriku,"
"Ron! Baru saja kau menciumku, sekarang kau langsung mencampakkanku?" protes Lian.
"Kau yang menciumku! Lian, aku bukan lagi Ron yang dulu. Aku yang sekarang adalah pria beristri. Kau ingin menjadi simpanan pria lumpuh yang sudah mempunyai istri?!" tanya Ron dengan senyuman sinis.
"Kenapa? Kau tidak mau mempunyai suami yang cacat? Kau takut aku membuatmu malu? Kau takut aku akan membuatmu repot merawatku?!"
"Mana mungkin! Ini semua untuk kebaikanmu, Ron. Kau tidak bahagia bersama gadis itu, untuk apa terus bertahan?!"
"Siapa yang bilang aku tidak bahagia bersama Thrisca?!"
Ron kembali menatap Lian dengan tatapan dingin.
"Apa maksudmu?!"
"Aku bahagia bersama istriku. Setidaknya sampai kau datang dan merusak segalanya!"
Ron keluar dari kamar utama dan mencari Thrisca di kamar tamu.
***
Thrisca mengusap air matanya yang terus bercucuran tanpa henti. Gadis itu menangis sesenggukan setelah berlarian dari kamar Ron.
"Sial! Kenapa aku terus menangis tidak jelas seperti ini!"
Thrisca mengusap pipinya dengan kasar.
"Ron bukan milikmu, Icha! Sadarlah! Keluarga Ron sudah banyak membantumu! Sekarang saatnya membayar hutang!" gumam Thrisca pada dirinya sendiri.
"Gendut! Buka pintunya! Kau ada di dalam kan?!"
Ron menggedor-gedor pintu kamar istrinya.
Thrisca segera mengusap air matanya dan membuka pintu kamar selebar celah jari.
"Kenapa?" tanya Thrisca yang hanya memperlihatkan satu matanya.
"Buka pintunya! Aku ingin masuk!"
Ron mencoba mendorong pintu kamar tanpa menyakiti istrinya.
"Katakan saja ada perlu apa?"
"Aku lelah duduk di kursi roda, biarkan aku masuk. Boleh kan, Gendut?" pinta Ron.
Thrisca melihat ke sekeliling kamarnya untuk memastikan tidak ada Lilian. Begitu ia memastikan tidak ada siapapun, Thrisca yang sudah melepas baju tebalnya itu segera mendorong suaminya masuk ke kamar dan segera mengunci pintu dari dalam.
"Untuk apa kau mengunci pintu? Kau ingin mengambil keuntungan dariku?" tuduh Ron dengan wajah tidak tahu malu.
"Bukankah seharusnya aku yang mengatakan hal seperti itu?!" ujar Thrisca tak percaya mendengar ocehan yang terlalu percaya diri dari Ron.
"Jangan salah sangka dulu. Aku hanya tidak ingin kekasihmu tahu kalau aku hanya menyamar."
Thrisca mengambil baju tebalnya lagi dan kembali memakai sumpalan kain itu.
"Kekasih siapa? Kau cemburu?" goda Ron pada Thrisca.
"Sudahlah, aku harus cepat-cepat keluar dari kamar ini."
Thrisca meraih rambut palsunya namun Ron sudah merebut rambut keriting itu terlebih dahulu.
"Tuan, berikan padaku!"
Thrisca nampak tidak berminat meladeni candaan Ron.
"Lepas bajumu sekarang! Aku menghampirimu karena aku ingin kau menemaniku. Kenapa kau malah ingin keluar dari kamar?"
"Ron, aku tidak mau kekasihmu salah paham jika dia melihat kita berada di ruangan yang sama! Cepat berikan rambutku!"
Thrisca mencoba menarik tangan Ron yang tengah mengayunkan rambut palsu itu tinggi-tinggi.
"Lepas bajumu sekarang! Aku mau kau disini!"
Thrisca mulai lelah menanggapi candaan dari suaminya itu. Gadis itu berjalan menuju pintu dan hendak keluar dari kamar tanpa mengenakan rambut palsu.
"Gendut, jangan pergi!"
Ron memeluk sang istri yang penuh dengan sumpalan kain itu.
"Jangan sentuh aku!"
Thrisca memberontak dan mendorong sang suami dengan kasar.
"Itu tidak seperti yang kau kira! Lian yang menciumku! Aku hanya tidak sempat menghindar."
Ron mencoba memberikan penjelasan pada istrinya.
"Aku bukan siapa-siapa, untuk apa kau repot menjelaskan hal ini? Wanita itu kekasihmu. Akulah orang lain disini! Bukan urusanku jika gadis itu menciummu atau melakukan apapun denganmu!"
"Kau orang lain? Kalau kau hanya orang lain, kenapa kau harus marah?!"
"Siapa yang marah?! Aku tidak marah!" bentak Thrisca.
"Sudah berteriak seperti ini masih tidak mau mengaku marah," cibir Ron.
"Baik! Aku marah! Tapi aku bisa apa? Bisakah aku melarangmu untuk tidak dekat-dekat dengan wanita itu?! Apa aku mempunyai hak untuk itu?!"
Thrisca kembali mendorong Ron yang masih mendekapnya.
"Aku tahu kau pasti sudah muak mendengar ini, tapi aku hanya bisa mengatakan maaf padamu. Maafkan aku, Gendut.."
Ron mengecup kening istrinya itu.
Thrisca menarik nafas dalam-dalam dan mencoba meredakan amarahnya.
"Tidak perlu meminta maaf padaku, Tuan. Akulah orang asing yang tidak tahu diri.." ujar Thrisca dengan senyum kecut.
***
Bersambung..