
Thrisca berdiri mematung menatap Bi Inah yang sibuk membersihkan rumah. Istri Ron itu tidak mengalihkan pandangan sedikitpun dari pelayan wanita paruh baya yang masih menyibukkan diri dengan sapu dan kain pel.
Wanita berambut panjang itu hanya bisa memandangi sang pengurus rumah mengerjakan pekerjaannya tanpa diperbolehkan mendekat apalagi membantu menyelesaikan tugas rumah tangga yang masih menumpuk.
"Bosan sekali! Ron benar-benar keterlaluan!" gerutu Thrisca dalam hati.
Wanita itu semakin jenuh terus berada di rumah tanpa bisa melakukan apapun.
"Nyonya.." panggil seorang pelayan pada Thrisca yang masih asyik memandangi asisten rumah tangga.
"Hmm?"
Thrisca menoleh ke arah seorang pelayan yang memanggilnya.
"Tuan Besar datang,"
"Benarkah?"
Istri Ron itu segera berdiri dan berjalan menuju ruang tamu.
Sebuah mobil mewah sudah terparkir di dalam pekarangan rumah Ron. Tuan Hasan keluar dari mobil dan segera menghampiri cucu menantunya yang sudah menyambut di depan pintu.
"Kakek, kenapa tidak memberitahu dulu sebelum kemari?" sapa Thrisca pada Tuan Hasan.
"Kalau Ron tahu kakek akan kemari, bocah kurang ajar itu akan mengunci rapat gerbang rumahnya."
"Benarkah? Ron jahat sekali," komentar Thrisca disertai tawa kecil.
Thrisca menggandeng Kakek dari suaminya itu masuk ke dalam rumah dan berbincang santai di ruang tamu.
"Bagaimana kabarmu? Ron tidak bersikap buruk padamu, kan? Maaf, Kakek baru sempat mengunjungimu setelah kau kembali." ujar Tuan Hasan.
"Aku baik-baik saja, Kakek. Ron sangat baik padaku. Ron bahkan mengajakku berkencan untuk menghiburku,"
"Bagus kalau begitu. Kakek benar-benar khawatir padamu."
"Terimakasih, Kek. Seharusnya aku dan Ron yang mengunjungi Kakek. Lain kali aku akan mengajak Ron," ucap Thrisca dengan senyum mengembang.
"Icha, mulai sekarang kamilah keluargamu. Datanglah pada Kakek jika kau butuh sesuatu. Kau juga cucu kakek,"
Perkataan Tuan Hasan membuat Thrisca terdiam sejenak. Setiap kata yang diucapkan kakek dari suaminya itu begitu menyejukkan dan menenangkan hati Thrisca. Kata-kata Tuan Hasan benar-benar membuat wanita itu merasakan dekapan hangat dari keluarga.
Tanpa sadar, mata wanita muda itu mulai memerah dan berkaca-kaca. Thrisca merasa sangat terharu atas perhatian keluarga suaminya terhadap dirinya.
"Aku benar-benar beruntung," gumam wanita berusia dua puluh dua tahun itu seraya mengusap matanya yang sudah tidak sanggup lagi membendung air mata.
"Icha, mulai saat ini kakek akan menjadi keluargamu, kakekmu, ayahmu, ibumu dan temanmu. Kakek akan selalu mendukungmu.." ujar Tuan Hasan seraya mengulurkan sapu tangan pada cucu menantunya itu.
"Kakek, berhentilah membuatku terharu.." rengek Thrisca dengan tangisan makin pecah.
Wanita itu menangis sesenggukan di hadapan Tuan Hasan. Kakek dari Ron itu hanya bisa tersenyum tipis seraya menatap cucu sahabatnya lekat-lekat.
"Icha, bagaimana hubunganmu dengan Ron yang sebenarnya? Maukah kau bercerita pada kakek? Jangan tutupi apapun lagi.."
Tuan Hasan kembali membuka suara, namun kali ini dengan wajah serius.
Thrisca segera mengelap ingusnya dan membenarkan posisi duduknya sebelum ia menjawab pertanyaan dari kakek suaminya.
"Aku baik-baik saja, Kek. Maaf, kalau aku dan Ron sempat berulah dan membohongi semua orang. Tapi kali ini kami akan berusaha membangun rumah tangga yang sebenarnya. Aku dan Ron sudah memutuskan untuk hidup bersama." jawab Thrisca tegas.
"Kau yakin kau tidak akan menyesal dengan pilihanmu? Icha, kakek di sini akan mendukung kebahagiaanmu meskipun kau bukan cucu menantu kakek lagi. Kakek akan selalu menjadi kakekmu meski Ron bukan suamimu,"
"Maksud Kakek?!"
Mata Thrisca membulat lebar begitu mendengar perkataan tak terduga keluar dari mulut pria tua yang membawa Ron padanya.
"Kakek tidak akan memaksamu lagi. Bagaimana kalau mencoba membuka lembaran hidup baru? Kakek akan mendukungmu."
"Maksud Kakek, lembaran hidup baru tanpa Ron?"
"Kakek tahu pernikahan ini tidak membahagiakan kalian. Kakek benar-benar merasa bersalah saat mengetahui kalian melakukan banyak hal hanya untuk menggagalkan pernikahan ini. Kali ini Kakek akan melepaskan kalian," ujar Tuan Hasan.
"Kakek, semua yang kukatakan tadi bukan lagi kebohongan atau hanya rasa sungkanku yang tidak bisa menjelek-jelekkan nama Ron. Aku dan Ron benar-benar ingin bersama, Kek." terang Thrisca mulai panik mendengar rencana Kakek Ron yang mengusulkan perpisahan padanya.
Tuan Hasan terdiam sejenak saat melihat kepanikan Thrisca yang mulai berbicara dengan menggebu-gebu.
"Memang tidak terjadi apapun antara aku dan Ron sebelumnya, tapi semua berubah saat kami mencoba untuk saling mengenal. Kami mulai tinggal bersama meskipun kami tidak pernah saling menghubungi selama berbulan-bulan setelah menikah. Ron benar-benar baik padaku, Kek.."
"Aku bahagia bersama Ron.." imbuh Thrisca.
Tuan Hasan mendengar dengan baik semua perkataan cucu menantunya yang begitu membela sang suami. Kakek tua itu mulai berpikir ulang dan mempertimbangkan kembali keputusannya yang berencana membawa Thrisca pergi menjauh dari Ron.
"Icha, kau pikir bocah bodoh seperti Ron bisa membuatmu bahagia? Apa dia pantas menjadi seorang suami? Ron hanya pria konyol yang tidak tahu cara mengurus keluarga. Kakek hanya tidak ingin kau hidup sengsara bersama pria dingin seperti Ron," ujar Tuan Hasan menjelek-jelekkan cucunya sendiri.
"Ron sudah melakukan banyak hal untukku, Kek. Dia sangat perhatian dan menjagaku dengan baik. Aku ingin mempertahankan keluarga kecilku, Kek. Bolehkan?" pinta Thrisca.
Tuan Hasan menghela nafas dan menatap Thrisca seraya melempar senyuman kecil.
"Kau sendiri yang memilihnya. Aku sudah memberimu pilihan. Pertanggungjawabkan sendiri semua pilihan yang kau ambil," tutur Tuan Hasan tegas.
"Aku akan menanganinya sendiri, Kek. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Ron. Aku akan berusaha membuat pria itu memilihku!" ujar Thrisca penuh semangat.
"Ajak Ron ke rumah kakek nanti malam,"
Tuan Hasan berpamitan setelah puas berbincang dengan Thrisca.
Kepala keluarga besar Diez itu meninggalkan rumah sang cucu dengan perasaan kalut. Beliau ingin sekali mempertahankan Thrisca sebagai cucu menantunya, namun Tuan Hasan tidak bisa menghilangkan rasa cemasnya pada Ron. Pria itu merasa tidak yakin Ron bisa menjaga dan merawat cucu sahabatnya dengan baik.
Pikiran Tuan Hasan penuh dengan prasangka buruk mengenai cucunya sendiri, mengingat perangai sang cucu yang kasar dan bermulut pedas.
***
Thrisca terus berdiam diri di dalam kamar tanpa melakukan apapun. Pikirannya melayang mengingat kembali perkataan kakek dari suaminya yang begitu mengusik hatinya.
"Bagaimana kalau kakek benar-benar akan membuatku bercerai dari Ron? Kakek pasti akan sangat kecewa padaku jika kakek tahu aku mengalami masalah kesehatan pada kesuburan," gumam Thrisca berbicara sendiri di depan cermin.
"Aku bukan wanita berpendidikan tinggi, aku juga bukan wanita karir yang sukses, ditambah lagi aku terancam tidak akan bisa memberi keturunan untuk Ron. Apalagi yang bisa kubanggakan di depan Ron dan keluarganya?" keluh istri Ron itu.
Ron membuka pintu kamar dan melihat sang istri yang tengah duduk termenung di depan cermin.
Thrisca segera beranjak dari bangku kecilnya dan menyambut kepulangan sang suami.
"Seharian ini apa yang kau lakukan? Kau tidak meneleponku dan tidak membalas pesanku. Tidak terjadi sesuatu padamu, kan?"
"Maaf, Ron. Ponselku sudah tua jadi sering error"
"Besok beli yang baru! Kenapa kau masih saja menyimpan rongsokan itu?!" omel Ron seraya mencubiti pipi sang istri.
"Aku akan segera memperbaikinya,"
"Memperbaiki apanya?! Barang burik seperti itu untuk apa dipertahankan lagi?!"
"Ron, apa kau juga akan berlaku seperti itu padaku?" tanya Thrisca dengan sorot mata tajam.
"Apa maksudmu?"
"Saat aku rusak, apa kau juga akan meninggalkanku dengan mudahnya dan mencari yang baru?"
"Apa yang kau katakan?! Itu hanya berlaku untuk benda mati! Memangnya kau mau disamakan dengan barang?"
"Tapi barang dan manusia sama saja, Ron. Sama-sama bisa usang, rusak dan tidak cantik lagi."
"Katakan padaku apa yang terjadi?" selidik Ron.
"Nanti saja. Kau pasti lelah. Istirahatlah, aku akan membuatkan teh untukmu." ujar Thrisca seraya mengusap wajah sang suami.
"Katakan ada apa?!" bentak Ron seraya menarik tangan sang istri yang hendak beranjak meninggalkan kamar.
"Ron, bisakah kau tidak membentakku?" protes Thrisca dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa sadar air mata mengucur deras membasahi pipi wanita berbadan mungil itu.
"Sayang, maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu.."
Ron menarik tangan sang istri dan menenggelamkan tubuh wanita itu ke dalam bahu lebarnya.
"Aku tidak tahu kenapa aku menangis.." ujar Thrisca dengan air mata bercucuran. Wanita itu memeluk suaminya semakin erat.
"Aku tidak akan membentakmu lagi, maaf.."
Ron mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala sang istri.
"Ada apa, Sayang? Coba ceritakan padaku,"
Ron mengusap pipi halus Thrisca dan berbicara selembut mungkin pada istrinya itu.
"Tadi kakek kemari.." ujar Thrisca mulai bercerita.
"K-kakek siapa? Si tua bangka itu kemari? Apa yang kakek tua itu katakan?!"
Ron mulai panik setelah mendengar ucapan Thrisca yang membahas kedatangan sang kakek.
"Untuk apa pria tua itu menemui Icha? Pak tua itu masih berniat mengambil istriku? Pria tua licik itu pasti menjelek-jelekkanku di depan Icha agar Icha meninggalkanku!" gerutu Ron dalam hati.
"Itu, kakek--"
"Jangan dengarkan apapun yang dikatakan tua bangka itu! Kau percaya padaku, kan? Kau sudah mulai mengenalku, kan? Kita sudah bersama beberapa bulan ini dan hubungan kita semakin membaik! Tolong percayalah padaku!"
Ron sudah memotong pembicaraan sang istri sebelum Thrisca melanjutkan kalimatnya.
Pria itu nampak kalang kabut dan dipenuhi prasangka buruk dengan kehadiran sang kakek yang menemui istrinya.
"Ron, aku--"
"Apapun yang dikatakan oleh kakek tua itu tidak benar! Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu. Aku akan menjagamu,"
Ron memeluk sang istri dengan erat hingga tubuh wanita menempel lekat pada dada bidangnya.
"Tolong beri aku kesempatan.." imbuh Ron lirih.
Raut wajah murung mulai nampak dari pria berusia dua puluh delapan tahun itu. Ron benar-benar cemas dirinya akan dicampakkan oleh sang istri karena perkataan kakeknya.
"Meskipun aku mungkin tidak akan bisa memberimu anak yang sangat kau inginkan, kau masih mau mempertahankanku?" tanya Thrisca dengan wajah suram.
"Aku tidak ingin anak, Sayang. Aku hanya menginginkanmu. Aku mengharapkan anak darimu hanya untuk membuatmu terus berada di sisiku. Aku tidak benar-benar membutuhkan bocah kecil yang merepotkan dalam waktu dekat."
"Ron, bagaimana dengan hasil pemeriksaan lanjutan? Bolehkah aku periksa ke tempat lain juga?" tanya Thrisca takut-takut.
"Aku akan mengurus hasil pemeriksaannya. Tidak perlu khawatir. Kau pasti baik-baik saja," hibur Ron seraya mencium kening sang istri.
"Ron, kakek menyuruh kita datang berkunjung malam ini.." ungkap Thrisca.
"Berkunjung apa? Kakek tua itu masih ingin mengatakan apa lagi?! Aku tidak mau! Tidak perlu pergi kesana, Sayang. Aku akan mengunci pintu gerbang agar kakek tua itu tidak bisa kembali ke sini lagi lain kali,"
"Ron, jangan begitu.."
Thrisca mengusap-usap rambut sang suami dengan lembut.
"Datanglah bersamaku. Kita harus menunjukkan hormat kita pada kakek," sambung Thrisca.
"Sayang, Pak Tua itu hanya ingin merebutmu dariku! Aku tidak mau menginjakkan kaki di rumah pria tua itu!" tukas Ron.
"Ron,"
Thrisca masih berusaha membujuk sang suami agar mau mengunjungi Tuan Hasan sesuai permintaan beliau.
Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Ron dan menatap pria kesayangannya itu lekat-lekat.
"Kenapa menatapku? Aku akan memakanmu jika kau terus melihatku seperti itu," ujar Ron seraya mengalihkan wajahnya yang sudah memerah.
"Aku tidak tahu selama ini aku hidup bersama pria tampan. Kulitmu sangat putih dan berkilau. Pipimu juga halus. Matamu bulat dan bersinar--"
Belum sempat Thrisca menyelesaikan kalimatnya, Ron sudah membungkam mulut wanita itu dengan kecupan manis.
"Baiklah! Kau menang,"
***
Bersambung...