
"Gen, untuk apa kita ke sini?" tanya Cherry saat dirinya berdiri bersama Genta di sebuah bangunan butik ternama.
"Untuk mencoba gaun,"
"Gaun apa?"
"Gaun apa? Kenapa otakmu lemot sekali?! Tentu saja gaun pernikahan, bodoh!" omel Genta gemas.
"Bukankah kau bilang hanya acara kecil saja, untuk apa memakai gaun juga?" tanya Cherry dengan polosnya.
"Apa ada yang salah denganmu? Kau ingin menikah tanpa gaun?" tanya Genta mulai frustasi.
"Ayo, cepat masuk!"
Genta menarik tangan Cherry dengan semangat memasuki butik. Pria itu nampak antusias memilih gaun untuk sang calon istri.
Genta terus berlarian kesana-kemari dengan banyak gaun di tangannya.
"Coba ini!" titah Genta seraya menyerahkan gaun pada Cherry.
"Kecil sekali! Sepertinya tidak akan muat," protes Cherry.
"Kalau ini?"
"Aku tidak suka warnanya!" ujar Cherry.
"Bagaimana dengan ini?"
"Terlalu seksi! Gaunnya terlalu terbuka, tidak cocok untukku." tolak Cherry.
"Ini?"
"Tidak cocok!"
"Ini?"
"Warnanya terlalu mencolok!"
"Ini?"
"Aku tidak suka modelnya!"
Genta mulai kehilangan kesabaran menghadapi penolakan-penolakan dari Cherry. Pria itu mencoba mengatur nafas perlahan untuk menghilangkan amarah yang hampir menguasai otaknya.
"Cepat coba satu sebelum aku menguburmu hidup-hidup di bawah pohon mangga!" tukas Genta dengan mata melotot.
"Kenapa melototiku seperti itu?! Ingin kucongkel bola matamu?" sentak Cherry.
"Astaga, apakah aku akan bernasib buruk karena memiliki istri galak seperti ini?" batin Genta cemas.
Setelah beberapa jam sabar menunggu, akhirnya Genta dapat melihat wajah calon pengantinnya yang terbalut gaun putih nan menawan.
Cherry berjalan perlahan menghampiri Genta dengan jantung berdegup kencang. Wanita itu nampak malu sekaligus terharu dapat mengenakan gaun pengantin di depan sang calon suami.
"Cantik," gumam Genta lirih.
"Apa ini tidak terlalu mencolok?" tanya Cherry merasa tak nyaman dengan gaun terbuka yang dikenakannya.
"Kau sangat cocok dengan gaun ini. Sangat cantik," puji Genta seraya mengacungkan dua jempol.
"Aku menyesal sudah memujimu," sergah Genta.
"Kau tidak berganti pakaian?" tanya Cherry.
"Untuk apa aku harus repot memilih? Aku pasti akan terlihat tampan dengan pakaian apapun," ucap Genta penuh percaya diri.
"Apa kau tidak pernah bercermin?" cibir Cherry.
"Kau seharusnya bersyukur bisa mendapatkan suami tampan dan baik hati seperti aku! Awas saja kalau kau mimisan saat aku mengenakan setelan!" ujar Genta seraya berjalan menuju ruang ganti dan mencoba satu setelan.
Tak berselang lama, pria itu keluar dari ruang ganti dan berpose sok tampan di depan Cherry.
"Bagaimana? Apa kau sudah terpesona dengan wajah tampanku?"
Cherry menatap Genta dengan mulut menganga. Wanita itu cukup terpesona melihat penampilan rapi Genta yang mengenakan setelan toxedo dengan tatanan rambut rapi.
"Haruskah kita mengambil foto? Ayo kita berfoto!" ajak Genta bersemangat.
"Hm? Foto?"
"Ayo, kemari!"
Genta berlarian mencari ponsel dan mengajak Cherry mengambil banyak swafoto.
Pria itu berpose dengan senyum sumringah bersama Cherry dan tampak menikmati acara foto prewedding dadakan yang mereka buat.
Genta tak henti-hentinya menampilkan senyum lebar, begitupula dengan Cherry yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat menghabiskan waktu bersama Genta.
"Aku pasti bisa menjadi pengantin yang paling bahagia bersama Genta, kan?" batin Cherry penuh harap.
"Aku punya sesuatu untukmu,"
Genta merogoh kotak perhiasan kecil dari kantongnya dan menyodorkannya pada Cherry.
"Apa ini?"
"Aku membuat cincin baru untuk kita. Ada ukiran namamu di sini," ujar Genta membuka wadah perhiasan kecil itu dan melingkarkan cincin berlian mewah itu ke jari manis Cherry.
"Kapan kau menyiapkan ini?" tanya Cherry penuh haru.
"Aku memang tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan pernikahan kita, tapi setidaknya aku sudah menyiapkan cincin dan gaun pengantin untukmu. Bulan depan kita akan membuat acara bersama dengan Ron." tukas Genta.
"Aku juga tidak membutuhkan acara resepsi besar-besaran. Cincin dan gaun saja sudah cukup. Terima kasih banyak, Gen." ucap Cherry tulus.
"Tidak, Cherry. Aku yang berterimakasih padamu. Jika tidak ada kau, mungkin aku masih akan mengejar-ngejar Thrisca dan berakhir menjadi pria penggoda istri orang." ujar Genta diiringi tawa kecil.
"Kau sudah membawa banyak hadiah untukku. Kau bahkan sudah menghadirkan malaikat kecil untukku," sambung Genta seraya berjongkok dan mengecup perut rata Cherry.
"Jadilah istriku, Cherry. Aku memang tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang tidak terlalu buruk untukmu dan anak kita nanti." ujar Genta diselingi cengiran kuda.
Cherry hanya bisa tertawa kecil menanggapi ocehan calon suaminya. Dalam balutan gaun pengantin yang dipakainya, terselip banyak harapan yang digumamkan Cherry untuk lembaran hidup baru yang akan ditempuhnya bersama dengan Genta.
Wanita itu cukup yakin pilihannya ini tidaklah salah. Cherry cukup yakin bisa mendapatkan akhir bahagia bersama dengan Genta.
***
Bersambung...