DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 104



"Ayo, Ron!"


Thrisca menggandeng tangan Ron dengan semangat mengelilingi jalanan yang ramai dengan pedagang street food.


"Dari mana kau tahu tempat ini?" tanya Ron pada Thrisca.


"Aku melihatnya di internet." ujar Thrisca disertai cengiran kuda.


"Kau ingin memakan makanan berminyak tidak sehat seperti ini?!" tanya Ron seraya menatap kumpulan gerobak jajanan yang berjajar rapi di sepanjang jalan.


"Ayo, beli sosis itu, Ron!" ajak Thrisca tanpa menghiraukan wajah sinis sang suami.


"Sayang.. sosis apa itu? Aku bisa membelikan sosis yang lebih sehat untukmu,"


Wanita itu sama sekali tidak menghiraukan ucapan sang suami. Thrisca membawa dua tusuk sosis bakar dengan girang. Istri Ron itu juga membawa jajanan lain dan menghampiri sang suami yang terduduk manis di bangku taman dengan wajah cemberut.


"Buka mulutmu, Ron!"


Thrisca menyumpalkan banyak makanan ke mulut sang suami agar pria itu berhenti mengomel.


"Enak, kan?" tanya Thrisca.


Ron hanya diam seraya mengunyah pelan makanan yang terisi penuh dalam mulutnya.


"Sayang, jangan terlalu sering makan makanan sembarangan seperti ini.."


"Ron, kau lihat sendiri tempatnya cukup bersih, kan? Alat masaknya juga bersih. Di sini juga murah dan enak." bela Thrisca.


"Kau ini benar-benar pintar membuat alasan!" ujar Ron seraya mengacak-acak lembut rambut sang istri.


"Ron, aku juga ingin es krim.." pinta Thrisca dengan manja.


"Sayang, jangan makan sembarangan di sini. Kita tidak tahu es krim di sini terbuat dari apa. Kau ini sedang hamil,"


"Hanya sedikit, Ron! Boleh, kan?" pinta Thrisca.


"Makananmu di sini masih banyak. Habiskan ini dulu,"


Thrisca segera membuka semua bungkusan makanannya dan menyuapkannya dengan semangat ke mulut Ron.


"Sayang, kenapa kau menyuapkan semua makanan padaku?!" protes Ron.


"Kau saja yang habiskan, Ron." ujar Thrisca dengan wajah tanpa dosa.


"Sayang, kau yang membelinya. Kenapa kau tidak mau memakannya?"


"Ron, jangan banyak tanya! Cepat habiskan makanannya! Aku ingin segera membeli es krim,"


"Wanita ini benar-benar!" batin Ron dengan wajah frustasi.


"Enak, kan? Ayo kita ke sini tiap akhir pekan.." ajak Thrisca.


"Untuk apa ke sini? Kau bahkan tidak memakan makanannya. Hanya aku yang menghabiskannya sendiri," omel Ron mulai kesal.


Wajah sumringah Thrisca berubah menjadi suram seketika saat mendengar omelan Ron.


"Apa aku meminta hal yang sulit? Aku tidak meminta barang mewah atau perhiasan langka. Aku hanya memintamu untuk menemaniku ke tempat ini. Kenapa kau malah memarahiku?" ujar Thrisca dengan wajah memelas.


"Sayang, tapi kau tidak suka makanan ini, kan? Untuk apa ke sini tiap akhir pekan. Lebih baik cari--"


"Ron, apa aku pernah meminta sesuatu padamu? Aku tidak meminta hal yang besar, kenapa sulit sekali bagimu untuk memenuhi permintaanku?" ujar Thrisca mendramatisir.


"Astaga! Sosis sialan ini benar-benar menghancurkan kencanku!" gerutu Ron dalam hati.


"Baiklah, baiklah. Aku akan menemanimu ke sini kapanpun kau mau."


"Kau terpaksa mengiyakan keinginanku, kan? Kau hanya membodohiku, kan? Kau tidak akan mengantarku ke sini saat aku mengajakmu nanti, kan?"


Ron menatap Thrisca dengan wajah memelas. Pria itu tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan pada istri hamilnya agar wanita yang tengah berbadan dua itu berhenti merengek dan bertingkah menyebalkan.


Ingin sekali Ron menyambar bubuk cabai dan mengunyah es batu untuk melampiaskan kekesalannya.


Pria itu mengambil semua bungkusan makanan di depannya dan melahap dengan rakus seluruh jajanan yang dibeli oleh sang istri.


"Ron, sekarang kau mendiamkanku?!" rengek Thrisca seraya mengguncang-guncangkan tubuh sang suami hingga Ron tersedak siomay.


"Apa semua wanita hamil bertingkah menyebalkan seperti ini?!" jerit Ron dalam hati.


Kencan istimewa di hari ulang tahunnya bersama sang istri kini berubah menjadi acara makan menyebalkan yang dipenuhi rengekan ibu hamil.


***


"Halo?"


Genta yang masih sibuk dengan kertas-kertas di mejanya, mengangkat panggilan telepon dari sang ibu dengan malas.


"Gen, kau ada dimana?" tanya Berlin, ibu dari Genta.


"Kenapa?" tanya Genta malas.


"Ibu sekarang ada di kantor. Kau ada di rumah Ron atau di kantor?" tanya Berlin lagi.


"Kantor apa?"


"Kantor apalagi? Tentu saja kantor pusat Diez."


Genta membulatkan mata lebar-lebar dan segera berdiri gelagapan dari bangkunya.


"Ibu.. ada di kota ini?" tanya Genta penuh hati-hati.


"Hari ini Nyonya Aswinda pulang, kan? Jadi, semua keluarga berkumpul. Ibu juga akan mengundang calon istri yang sudah ibu siapkan untukmu," ujar Berlin.


"Ca-calon istri apa, Bu?! Sudah kubilang, aku tidak mau!" tolak Genta mentah-mentah.


"Kau bahkan belum melihat orangnya, Gen! Lihat dulu baru beri komentar!" bentak Berlin.


"Jangan coba-coba membohongi ibu, Gen! Selama ini kau hanya bermain-main, kan?! Ron bahkan sebentar lagi memiliki anak. Tapi lihat dirimu! Sudah setua ini tapi masih melajang!" omel Berlin.


"Tua apanya, Bu?! Tiga puluh tahun masih sangat muda!"


"Tiga puluh satu!" koreksi Berlin.


"Ibu, itu hanyalah angka! Tidak ada artinya!"


"Gen, kau mau membuat ibumu malu di pertemuan keluarga nanti?! Paman dan bibimu bisa memamerkan menantu dan cucu-cucu mereka, sedangkan ibu?! Ibu bahkan tidak bisa memamerkan pekerjaanmu! Kau bahkan tidak mendapat posisi apapun di perusahaan!"


"Bu, jangan bahas itu lagi!"


"Bawa calon istrimu sekarang jika kau benar-benar sudah memiliki gadis pilihan!"


Berlin menutup telepon dengan kasar dan segera menaiki lift untuk mencari sang putra di ruangan bos perusahaan.


Genta bergegas keluar ruangan dengan panik untuk menyusul sang ibu, sebelum wanita paruh baya itu membuat keributan di gedung perusahaan.


Sepupu Ron yang tengah celingukan mencari sang ibu itu, akhirnya menemukan sosok wanita yang melahirkannya sedang berjalan menyusuri ruangan demi ruangan untuk mencari keberadaan Genta.


"Ibu," panggil Genta seraya berlari kecil menghampiri sang ibu.


"Gen, apa yang kau lakukan di sini? Lagi-lagi kau mengurus pekerjaan Ron?" omel Berlin seraya menjewer telinga sang putra.


"Bu, Ron menggajiku dengan baik. Dia bos yang baik, Bu." bela Genta.


"Cih, selamanya kau hanya ingin menjadi kacung?! Kau tidak ingin mendapatkan bagian dari hakmu?!" omel Berlin.


"Bu, jangan bahas hal ini lagi! Nenek Ron akan membunuh kita jika kita masih membahas posisi,"


"Ibu tidak akan membahas hal ini lagi jika kau tidak terus-terusan membantu Ron! Berhentilah membantu anak Daisy itu!" ujar Berlin.


"Setelah acara pertemuan keluarga, kau harus pulang bersama ibu! Ibu akan menyelenggarakan pesta pernikahan besar-besaran untukmu!" imbuhnya.


"Bu, aku bukan perawan tua yang tidak laku! Untuk apa mencarikan jodoh segala?!" protes Genta.


"Diam! Kau tidak boleh membantah! Ibu akan mengumumkan pernikahanmu saat pertemuan keluarga nanti. Kau akan mendapat hadiah saham dari kakek atas pernikahanmu!"


"Ibu melakukan ini demi saham?!" ujar Genta kecewa.


"Gen, jangan bodoh! Ibu tidak akan diam dan menerima begitu saja semua aturan dari nenek Ron yang pelit itu! Ibu sedang berusaha membangun posisi untukmu!"


"Bu, sudahlah--"


"Dua hari lagi kita pulang. Ada banyak hal yang harus kita siapkan untuk pernikahanmu nanti--"


"Bu!" potong Genta dengan suara mulai meninggi.


"Aku akan menikah suatu hari nanti. Tapi tidak untuk saat ini." ujar Genta tegas.


"Jadi, calon istri yang kau bicarakan itu hanya bohongan, kan?" selidik Berlin.


"Astaga! Sulit sekali membohongi wanita tua ini!" batin Genta frustasi.


"Aku benar-benar memiliki kekasih, Bu. Nanti akan kuperkenalkan padamu."


Berlin melirik ke arloji yang menempel di tangannya. Waktu sudah menunjukkan tengah hari. Waktu yang tepat untuk makan siang.


"Ada coffee shop di seberang jalan. Bawa pacarmu untuk bertemu ibu di sana,"


Berlin berbalik badan dan meninggalkan sang putra.


"Ibu tunggu sekarang!" imbuh wanita itu tanpa menoleh ke arah putranya.


Genta hanya bisa memijat kepalanya yang pening mendengar desakan dari sang ibu yang terus-menerus menyuruhnya untuk cepat melangsungkan pernikahan.


Pria itu berjalan lunglai mengekori sang ibu yang sudah terlebih dulu keluar dari gedung perusahaan.


Genta mengedarkan pandangan ke sekeliling gedung kantor untuk melihat-lihat siapa wanita yang bisa ia bawa untuk sekedar menyenangkan hati sang ibu.


"Itu kan.."


Genta berlari mengejar Cherry yang tengah berjalan santai keluar gedung, hendak menyantap makan siang dengan beberapa pegawai wanita lain.


"Tunggu!"


Genta menarik tangan Cherry hingga membuat teman Thrisca itu terkejut bukan main saat ada seseorang yang menyentuh tangannya secara tiba-tiba.


"Eh, i-iya, Pak?"


Cherry agak tergagap dan bingung saat Genta mendadak menarik tangannya di depan gedung.


Teman-teman Cherry menatap Genta takut-takut tanpa berani bersuara di depan sepupu bos mereka itu.


"Ka-kalian duluan saja.." bisik Cherry pada teman-temannya.


"Permisi, Pak." pamit pegawai wanita lain yang berjalan bersama Cherry.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Cherry sesopan mungkin.


"Kau sibuk?"


"Tidak, Pak."


"Kau akan pergi makan siang, kan? Bagaimana kalau makan siang denganku?" ajak Genta.


"Ada apa ini? Apa aku akan naik jabatan? Kenapa tiba-tiba mengajakku makan siang?" batin Cherry bingung.


***


Bersambung...