DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 164



"Sayang, kau belum makan malam."


Ron menguyel-uyel pipi Thrisca dan mengecup gemas wajah wanita itu hingga Thrisca terbangun dari tidurnya.


"Apa aku tertidur?" tanya Thrisca linglung. Wanita itu membuka mata perlahan dan segera meraih kembali pakaiannya yang berceceran di ranjang.


"Apa saja yang kau lakukan di rumah? Kau terlihat kelelahan."


"Aku tidak melakukan apapun. Hanya memasak makanan untukmu,"


"Mulai besok tidak perlu memasak! Kau akan merasa dua kali lebih lelah dari biasanya karena dua bayi di perutmu," omel Ron seraya membantu sang istri berpakaian.


"Kau ingin aku menjadi mummy dan terus berbaring di ranjang seperti orang lumpuh? Itu lebih tidak sehat, Ron." protes Thrisca.


"Beberapa hari ini aku ada banyak pekerjaan di kantor. Aku akan mencarikan perawat untuk menjagamu,"


"Perawat apa, Ron? Sudah ada banyak pelayan di sini."


"Ikuti saja apa kataku! Cepat pakai bajumu! Kau tidak perlu memasak, kita makan di luar saja." ajak Ron sembari bersiap mengenakan pakaian kasual.


Pria itu menggandeng mesra sang istri memasuki salah satu restoran terkenal di pusat kota.


"Icha!" panggil seorang wanita. Suara yang terdengar nampak familiar itu tak lain berasal dari teman dekatnya, Cherry.


"Cherry?" sapa Thrisca pada sang teman yang tengah bersama dengan Gen.


"Kalian baru datang? Aku dan Gen juga baru datang." ujar Cherry.


Mereka berempat pun menikmati makan malam bersama di dalam bangunan mewah itu.


Gen dan Ron menyantap makanan dalam suasana hening, sementara Thrisca dan Cherry sibuk berbincang dengan dunia mereka sendiri.


"Kalian belum berbaikan juga?" sindir Thrisca.


"Tidak." sahut Gen dan Ron bersamaan.


"Tidak apanya? Sampai kapan kalian akan terus diam seperti ini? Kekanakan sekali," cibir Thrisca.


"Biarkan saja mereka. Bagaimana kabar keponakanku? Kau sehat, kan?" ujar Cherry mengajak perut Thrisca berbincang.


"Hm?"


"Di perutku tidak hanya ada satu bayi." ujar Thrisca dengan wajah berseri.


"Maksudmu? Kembar?" pekik Cherry tak percaya.


Thrisca mengangguk kecil dengan girang pada Cherry. Ibu hamil itu mulai membagikan kebahagiaannya satu persatu pada keluarga beserta teman dekat.


"Selamat, gendut." ucap Gen melempar senyum manis pada Thrisca.


"Jangan tersenyum pada istriku!" omel seraya memukul kepala Gen dengan sendok.


"Pelit!"


"Kau dilarang berbicara dengan istriku! Tidak boleh berdekatan dalam jarak satu meter! Tidak boleh saling menatap! Tidak boleh saling bertegur sapa! Tidak boleh saling tersenyum!!" sentak Ron panjang lebar.


"Untuk apa juga suamiku harus memandangi istrimu?" sahut Cherry kesal mendengar ucapan Ron yang memperlakukan Gen seolah pria itu seorang pria penggoda istri orang.


"Suami?" gumam Thrisca dengan dahi berkerut.


"Aku sudah mendaftarkan pernikahan dengan Cherry. Minggu depan aku akan mengadakan acara kecil. Kalian harus datang," ungkap Gen.


"Mendaftarkan pernikahan? Terburu-buru sekali." komentar Thrisca.


"Em, itu--"


"Cherry hamil, jadi aku tidak ingin menunda-nunda pernikahan lagi." terang Genta tanpa sungkan membahas mengenai kehamilan Cherry.


Thrisca melirik ke arah Cherry dengan penuh tanda tanya. Manik mata wanita itu mulai beralih pada perut rata Cherry.


"Apa maksudnya hamil? Kau sudah melakukan hal itu dengan Mas Gen sebelum kalian menikah?" bisik Thrisca.


"Ceritanya panjang, Icha. Yang jelas sekarang aku sedang mengandung anak Gen. Kami akan segera menyusulmu menjadi orang tua. Aku akan segera menjadi ibu," ungkap Cherry penuh haru.


***


Bersambung...