DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 38



Thrisca keluar dari kamar Ron dengan koper besar yang terisi penuh dengan pakaiannya. Gadis itu mendapat pesan dari sang ayah jika orang tua Thrisca satu-satunya itu akan pulang dalam beberapa hari ke depan.


Setelah mendapat pesan dari sang ayah, gadis yang sudah berbulan-bulan berpisah dari keluarganya itu memutuskan untuk kembali ke kota asalnya lebih cepat dan menyambut kepulangan ayahanda tercinta.


"Kau mau kemana?"


Suara berat Genta yang menggelegar berhasil membuat Thrisca tersentak kaget hingga ia menjatuhkan koper yang tengah diangkatnya.


"Mas Gen, kau membuatku takut!" omel Thrisca seraya memungut kembali kopernya yang tergeletak di lantai.


"Kau ingin kabur? Ini sudah terlalu siang untuk acara kabur! Kalau kau berniat untuk kabur, seharusnya kau melarikan diri saat dini hari tadi, bodoh!" ujar Genta kembali mengungkapkan imajinasi liarnya.


"Kabur apanya? Kenapa orang ini sok tahu sekali!" batin Thrisca mulai dongkol dengan Genta.


"Aku mau pulang ke rumah ayahku." jawab Thrisca malas.


"Mana Ron? Dia tidak mengantarmu?" tanya Genta seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah mencari sosok Ron.


Pria yang dicari-cari Genta akhirnya muncul keluar dari salah satu kamar tamu. Ron yang sayup-sayup mendengar suara percakapan Genta dan Thrisca, segera menghampiri kedua orang yang masih asyik berbincang itu.


Ron segera berlari menghampiri sang istri saat pria itu melihat koper besar bersandar di dekat Thrisca.


"Sayang, kau mau kemana? Aku sudah mengijinkanmu pergi ke reuni itu. Aku juga sudah tidur di luar semalam! Kau masih juga tidak puas? Kau akan meninggalkanku hanya karena acara reuni tidak penting itu?!"


Ron bersikap dramatis hingga membuat Thrisca merasa semakin sebal pada suami galaknya itu.


"Ron, kau bisa bertanya baik-baik dulu padaku. Kenapa kau langsung menuduh macam-macam seperti itu?" ujar Thrisca dengan wajah lelah menanggapi sikap Ron yang menyebalkan.


Suami Thrisca itu langsung menutup mulut dan menghentikan ocehan dramanya setelah mendengar suara lirih sang istri yang nampak muak dengannya.


"Aku akan pulang hari ini, Tuan. Ayah mengirimiku pesan akan pulang dalam beberapa hari. Aku sudah lama tidak bertemu ayahku. Ayah bahkan tidak datang ke acara pernikahanku. Aku benar-benar merindukan ayahku. Aku boleh pulang hari ini kan? Aku harus membersihkan rumah dan menyambut ayahku," pinta Thrisca memohon ijin dari sang suami.


Meskipun gadis itu tengah kesal dengan sang suami, tapi Thrisca tetap harus meminta ijin baik-baik pada suaminya terutama untuk hal bepergian jauh seperti ini.


Ron memandangi wajah suram sang istri dengan iba. Pria itu memijat-mijat kepalanya yang pening dan mencoba mempertimbangkan permintaan dari istri cantiknya itu.


"Hari ini aku ada banyak pekerjaan di kantor. Kalau aku membatalkan semua rapat sekarang, kakek pasti akan menggorok leherku." batin Ron kebingungan.


Pria itu tidak tega membiarkan sang istri pulang seorang diri, terlebih lagi istrinya itu adalah gadis rumahan yang tidak pernah bepergian sendirian.


"Gendut, bagaimana kalau pulangnya nanti sore saja? Aku janji aku akan pulang cepat. Kita bisa naik pesawat." bujuk suami Thrisca itu.


"Tidak perlu naik pesawat. Aku bisa naik kereta. Kau urus saja pekerjaanmu." tolak Thrisca halus.


Ron masih berat mengijinkan sang istri yang bersikeras ingin pulang seorang diri.


"Kalau begitu, nanti siang saja bagaimana? Aku akan selesaikan semua pekerjaanku pagi ini dan aku akan menjemputmu siang nanti. Jangan pulang sendiri, Gendut.." pinta Ron dengan wajah cemas.


"Makin hari perhatian Ron padaku semakin membuatku terbawa perasaan. Siapa yang tidak akan jatuh cinta dengannya jika dia menatapku dengan wajah cemas sampai seperti ini?" batin Thrisca penuh haru.


"Tuan, aku sudah dewasa. Aku wanita yang sudah bersuami. Kenapa kau memperlakukanku seperti anak kecil begini?" ujar Thrisca diselingi tawa kecil.


Melihat senyuman sang istri membuat kebingungan Ron menghilang seketika. Pria itu sudah memutuskan untuk mengutamakan sang istri tanpa mempertimbangkan urusan pekerjaannya.


"Tunggu aku, gendut. Aku akan bersiap,"


Ron mengusap rambut sang istri dan berlalu menuju kamarnya.


"Ron, kau akan bersiap kemana? Kau masih banyak pekerjaan kan hari ini?"


"Bagaimana mungkin pekerjaanku lebih penting dari pada istriku? Thrisca, kau seribu kali lebih penting dari pekerjaanku." ujar Ron seraya melempar senyuman tipis ke arah istrinya.


Thrisca berdiri mematung tanpa bisa berkata-kata. Gadis itu semakin terharu dengan sikap sang suami yang lebih memilih untuk menemaninya pulang daripada mengurus pekerjaannya.


Thrisca berlari kecil menghampiri suaminya dan menarik tangan pria berkulit putih itu.


"Aku bisa menunggu. Selesaikan saja dulu pekerjaanmu." ujar Thrisca pada sang suami.


***


"Gendut! Thrisca!"


Ron langsung berlari membuka pintu rumahnya dan memanggil-manggil sang istri.


Pria itu berlari menuju kamar, namun ia tidak mendapati sosok sang istri melainkan sepucuk surat yang tergantung di daun pintu.


"Gendut! Jangan bilang kau sudah pergi?!" pekik Ron dengan geram.


Pria itu membuka amplop kertas dengan kasar dan membaca pesan yang tertulis di dalamnya.


"Tuan, maaf aku pergi dulu tanpa menunggumu. Aku melakukan ini juga untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin kau menunda pekerjaan pentingmu hanya untukku. Aku juga tidak ingin kau kelelahan karena harus menemaniku melakukan perjalanan jauh setelah kau bekerja seharian. Beristirahatlah. Aku akan kembali dalam beberapa hari." tulis Thrisca dalam sepucuk surat yang ia tulis untuk suaminya.


Ron menendang pintu kamarnya dengan kesal setelah membaca pesan dari sang istri. Pria itu segera mengambil ponsel dan menghubungi Thrisca yang kini sudah sampai di kampung halamannya.


"Halo?"


Mendengar suara sang istri, Ron benar-benar ingin langsung menyusul gadis itu ke rumah ayah mertuanya dengan jet super yang dapat mengantarkannya sampai ke tempat tujuan dalam waktu sekejap.


"Sayang, kau dimana? Apa kau sudah sampai?" tanya Ron selembut mungkin.


"Aku sudah sampai. Lihat, Tuan! Aku bukan anak kecil. Aku baik-baik saja sampai di rumah." ujar gadis itu seraya mengusap-usap luka di lututnya.


"Benarkah? Kau sudah sampai? Kalau begitu ganti panggilan video saja,"


Ron segera mematikan telepon dan beralih ke panggilan video agar ia bisa melihat wajah sang istri.


Thrisca segera berganti pakaian mengenakan baju lengan panjang untuk menutup tangannya yang penuh dengan luka.


Gadis malang yang baru pertama kali bepergian itu berbohong pada sang suami mengenai keadaannya. Badan Thrisca penuh dengan luka karena gadis itu sempat jatuh terguling ke aspal karena terserempet kendaraan roda dua sebelum istri Ron itu tiba di rumah sang ayah.


Gadis rumahan itu berjalan pincang seraya menarik koper besarnya menuju ke rumah ayahanda. Meskipun jarak rumahnya tinggal beberapa ratus meter lagi, namun gadis itu harus merayap selama satu jam lamanya diiringi dengan rintihan kesakitan.


Gang kompleks yang sepi dan perumahan yang masih belum berpenghuni membuat Thrisca tidak bisa meminta bantuan siapapun untuk menolongnya cepat sampai ke rumah. Sang pelaku penabrak pun langsung kabur begitu saja setelah melihat Thrisca terguling di aspal.


"Tuan, kau masih berkemeja rapi. Kau baru saja pulang?" tanya Thrisca begitu ia mengangkat panggilan video dari suaminya.


Gadis itu berusaha bersikap biasa saja meskipun banyak luka yang belum terobati di tubuhnya.


"Gendut, apa bandaranya jauh dari rumahmu?" tanya Ron tiba-tiba.


"Beristirahatlah malam ini. Kalau kau ingin menyusul, kau bisa kesini setelah pekerjaanmu selesai. Kau juga belum pernah berkunjung ke rumah ayahku, kan? Jika kau ada waktu, apa kau mau bertemu dengan ayahku?" tanya Thrisca dengan takut-takut.


"Bertemu dengan ayah Thrisca? Maksudnya bertemu dengan ayah mertua? Aku bahkan tidak datang melamar Thrisca dengan benar. Aku juga belum pernah sekalipun bertemu dengan orang tua si gendut." batin Ron cemas.


"Tuan, kau tidak mau? Kalau kau memang tidak mau, tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja siapa tahu kau ingin berkenalan dengan ayahku," ujar Thrisca dengan senyum kecut.


"Bukan begitu, Gendut. Aku hanya belum siap. Ini terlalu mendadak," ujar Ron tergagap.


"Mempersiapkan apa? Aku hanya ingin mengajakmu menyapa ayahku. Jadi kau mau, kan?" tanya Thrisca.


"I-itu tentu. Aku juga ingin mengenal keluargamu," jawab Ron malu-malu.


"Wajahmu merah sekali," goda Thrisca disertai tawa kecil.


"M-merah apanya?! Ini karena cahaya lampunya!" bantah Ron dengan heboh.


"Kau pandai membuat alasan," cibir Thrisca.


Pasangan suami-istri itu menghabiskan malam bersama dengan berbincang melalui panggilan video hingga sang gadis tertidur terlebih dulu.


Ron berbaring memeluk gulingnya seraya menatap wajah lelap sang istri yang sudah berkelana ke alam mimpi. Pria itu mengusap-usap wajah sang istri yang berada di layar ponselnya dan mencium benda kotak itu bertubi-tubi.


"Gendut, sepertinya aku sudah mulai gila karenamu." gumam Ron yang masih memandangi wajah sang istri di dalam layar ponsel.


***


Bersambung..