
"Ron, jangan terlalu kasar pada gadis itu!" tegur Thrisca.
Bagaimanapun juga, meskipun Katrina menyebalkan dan Thrisca juga sangat ingin memukulnya, tapi Katrina hanyalah seorang gadis kecil yang kini hidup sebatang kara.
Terlebih lagi, kakek memang sengaja menitipkan Katrina untuk sementara waktu dijaga oleh Ron hingga gadis itu bisa memulai hidup mandiri.
"Biar saja! Gadis itu sudah cukup besar untuk belajar sopan santun! Berani sekali dia meninggikan suara di depanmu!" omel Ron geram.
"Sudah, Ron. Kita lanjutkan saja makan malamnya. Aku sudah lapar," rengek Thrisca.
Pria itu segera menyambar piring makanan dan kembali menyuapi sang istri dengan telaten.
"Sayang, makan yang banyak, ya? Daddy akan menjaga kalian lebih baik lagi mulai sekarang.." ujar Ron seraya mengecupi perut sang istri.
"Ron, mengenai kecelakaanku waktu itu. Apa benar itu hal yang disengaja?" tanya Thrisca takut-takut.
Ron melirik ke arah Thrisca dengan gugup. Keguguran sang istri pada kehamilan pertama membuat Ron menjadi cemas dan takut jika ia gagal lagi menjaga istri serta calon buah hatinya.
"Aku janji, kali ini aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu!" ujar Ron seraya mendekap erat sang istri.
"Aku akan menjagamu dan anak-anak kita. Aku tidak akan membiarkanmu terluka untuk kedua kalinya."
Ron mengeratkan pelukannya seraya melayangkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala sang istri.
Pikiran Ron mulai kacau, penuh dengan kecemasan berlebihan yang mulai menggerogoti rasa percaya diri pada pria angkuh itu.
"Aku pasti bisa menjagamu, kan? Aku pasti bisa menjaga anak-anak kita, kan? Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang lebih baik untukmu dan anak kita." ujar Ron dengan suara parau.
Bulir bening mulai jatuh menetes, membasahi pipi pria garang itu. Beban yang semakin berat membuat hati dan pikiran Ron makin kalut dan tidak tenang.
Keguguran pada kehamilan pertama sang istri membawa trauma berat dan rasa bersalah yang menumpuk pada diri Ron.
Ditambah lagi dengan tekanan pekerjaan dan meninggalnya sang kakek, membuat suami Thrisca itu makin terguncang dan kelabakan mengatur perusahaan serta keluarga besarnya seorang diri.
Kehamilan sang istri cukup membawa angin segar yang menyejukkan bagi Ron, namun hal itu juga membuat tekanan dan rasa cemas Ron ikut membesar.
***
Tengah malam, Ron duduk termenung seorang diri di taman belakang rumahnya ditemani oleh kepulan asap rokok di tangannya.
Suami Thrisca itu menatap langit-langit menghitam yang tak menampakkan satupun bintang di malam yang dingin itu.
"Kau senang melihatku menderita seperti ini, kakek tua?!" gumam Ron pelan.
"Kenapa kau tega sekali melimpahkan semua beban padaku?" ujar Ron dengan suara bergetar.
Sementara, Thrisca yang masih kesulitan tidur, ikut terbangun di tengah malam dan mencari-cari Ron.
Wanita hamil itu sayup-sayup mendengar suara Ron yang berbicara seorang diri di taman gelap belakang rumahnya.
Thrisca bersembunyi dibalik tembok dan mendengarkan semua keluh kesah sang suami yang meluapkan semua kesedihan seorang diri.
Wanita itu ingin sekali menghampiri Ron dan mendekap erat pria yang tengah menangis sesenggukan itu. Tapi Thrisca menahan diri sebaik mungkin untuk tidak mengganggu waktu sang suami yang ingin melimpahkan segala kegundahannya dengan caranya sendiri.
"Aku cucu yang bodoh! Aku tidak akan bisa mengurus perusahaanmu! Jangan salahkan aku kalau perusahaanmu bangkrut!" pekik Ron dengan air mata berlinang.
"Bagaimana aku bisa menjaga nenek, menjaga istri dan anakku sendiri saja aku tidak becus! Kau kira aku superman?! Aku bukan superhero yang bisa menyelamatkan hidup semua orang! Aku hanya ingin hidup tenang bersama istri dan anakku, kenapa kau justru meninggalkan banyak beban untukku!"
Thrisca bersandar di tembok dengan air mata bercucuran. Wanita itu benar-benar terkejut melihat Ron yang begitu terpuruk setelah meninggalnya Tuan Hasan.
"Lebih baik aku berikan saja titipan kakek sekarang." gumam Thrisca seraya berjalan menuju kamar.
Namun, saat wanita itu melintasi kamar yang ditempati Katrina, lagi-lagi terdengar sayup-sayup suara orang menangis dari dalam kamar gadis muda itu.
Thrisca menghentikan langkahnya sejenak dan menempelkan telinganya di pintu untuk mencuri dengar apa yang tengah dilakukan Katrina di dalam kamar.
Istri Ron itu segera membuka pintu kamar tanpa permisi dan melihat Katrina yang tengah duduk meringkuk di lantai dengan wajah sembab dan mata memerah.
Gadis itu nampak memegangi sebuah foto dengan wajah kusut dan penampilan acak-acakan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Thrisca lirih.
"Apa kau tidak punya sopan santun?! Seharusnya kau mengetuk pintu--"
Belum sempat Katrina menyelesaikan kalimatnya, Thrisca langsung berlari memeluk gadis kecil kesepian itu.
"Maaf, kalau kami membuatmu merasa tidak nyaman. Aku tahu bagaimana sulitnya menghadapi dunia seorang diri. Maaf, kalau aku dan Ron belum bisa menjadi wali yang baik untukmu." ujar Thrisca seraya mengusap lembut rambut Katrina.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu!"
Katrina melepas pelukan Thrisca dengan kasar dan mendorong wanita hamil itu hingga terlempar ke lantai.
Katrina nampak panik saat melihat Thrisca yang meringis kesakitan setelah didorong olehnya.
"M-maaf, aku tidak bermaksud.."
Gadis muda itu semakin gemetar ketakutan saat melihat Thrisca yang masih menahan sakit.
"T-tolong! Siapapun tolong bangun!" pekik Katrina panik.
Ron yang mendengar suara Katrina segera menghampiri gadis muda itu dengan wajah malas.
"Bisakah kau tidak membuat keribu--"
"T-tolong! Kakak itu meringis kesakitan!" ujar Katrina dengan suara bergetar.
"Kakak siapa maksudmu?"
Ron mengernyitkan dahi dan segera masuk ke dalam kamar Katrina.
Pria itu terkejut bukan main saat melihat istrinya tengah tergeletak di lantai dengan wajah menahan sakit.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?!"
Ron mulai gelap mata dan mencekik leher Katrina dengan cengkraman tangannya.
Katrina mulai kesakitan dan kesulitan bernafas karena belitan tangan Ron yang begitu kencang di lehernya.
"T-tolong dulu istrimu!" ujar Katrina terbata-bata seraya berusaha melepaskan tangan Ron darinya.
Pria itu segera mendorong Katrina hingga tersungkur ke lantai dan bergegas menghampiri Thrisca.
"Sayang, kenapa kau ada di sini?"
Ron segera mengangkat tubuh Thrisca dengan panik dan membawa wanita hamil itu menuju mobil.
"Sabar, Sayang. Kita akan ke rumah sakit sekarang," ujar Ron dengan suara bergetar.
Tubuh pria itu mulai gemetar ketakutan melihat ekspresi Thrisca yang menahan sakit seraya memegangi perut.
"Ron, aku tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa apanya?! Wajahmu seperti bebek yang tercekik!" omel Ron kesal.
Ron segera membuka pintu mobil dengan susah payah dan membaringkan tubuh sang istri di kursi penumpang.
Thrisca langsung menggenggam erat tangan Ron, sebelum pria itu berpindah ke kursi pengemudi untuk melajukan kendaraan.
"Ron.." panggil Thrisca lemas sembari menggenggam jemari sang suami.
Ron duduk sejenak seraya mengusap lembut perut sang istri. Rasa sakit Thrisca berangsur-angsur menghilang setelah Ron mengusap perut wanita hamil itu.
"Aku sudah baik-baik saja. Sepertinya hanya kram biasa." ujar Thrisca mulai berbicara normal.
"Kita harus ke rumah sakit!"
"Sudah malam, Ron. Lebih baik kau beristirahat." bujuk Thrisca.
"Tidak bisa! Kau harus--"
"Ron, aku ingin istirahat. Kau mau menemaniku, kan?" pinta Thrisca dengan mata berbinar.
"Jangan menatapku seperti itu!"
Ron segera mengalihkan pandangan sebelum wajah memerahnya terlihat oleh sang istri.
"Kau benar tidak ingin ke rumah sakit?" tanya Ron memastikan.
"Aku ingin tidur bersamamu, Ron. Jangan tinggalkan aku sendirian di kamar," rengek Thrisca manja.
"A-aku tadi hanya mengambil minum sebentar di dapur." ujar Ron membuat-buat alasan.
Thrisca tersenyum kecil melihat sang suami yang terus saja menutupi kesedihan darinya.
Wanita itu bangun perlahan dan mengusap lembut wajah Ron, kemudian melayangkan kecupan hangat di bibir pria tampan itu.
"Ron, aku tidak keberatan jika kau tidak ingin membagi semua masalahmu denganku. Aku memang tidak bisa membantu, untuk apa juga aku tahu semua masalahmu." ujar Thrisca tersenyum kecut.
"Sayang, kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Aku bukan nona muda keluarga kaya yang bisa membantu perusahaanmu. Aku juga bukan wanita karir hebat yang bisa membantu pekerjaanmu. Aku hanya wanita rumahan yang tidak melakukan banyak hal untukmu. Tapi aku akan selalu mendukungmu, Ron. Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu."
Thrisca mengecup kening sang suami sembari melempar senyuman manis pada Ron.
Pria itu mematung sejenak tanpa menanggapi ucapan sang istri. Jantungnya berdegup tak karuan begitu ia menerima ciuman hangat dari wanita tercintanya itu.
"Icha.. kau tidak akan pernah tahu seberapa besar arti kehadiranmu dalam hidupku." batin Ron menatap sang istri dengan wajah merah merona.
***
Bersambung...