
Pagi-pagi buta, Thrisca mencoba berusaha keras membuka mata dan meninggalkan dunia mimpinya.
Saat gadis cantik itu membuka mata, Thrisca mendapati penampakan yang nampak asing.
Langit-langit yang rendah, tempat berbaring yang sempit. Dan tubuh yang terasa terguncang perlahan.
"Aku berada di.."
Thrisca berusaha menjernihkan matanya dan melihat ke sekeliling tempatnya berbaring.
"MOBIL?!!" teriak gadis itu dalam hati.
Thrisca bangun dengan panik dan melihat sesosok pria tengah mengemudi di kursi depan.
"Gosok gigimu!"
Pria itu menepikan mobil dan langsung melempar pasta gigi serta sikat gigi kepada Thrisca.
Pria penculik itu tidak lain ialah suaminya sendiri, Ron.
"Apa yang kau lakukan padaku? Kau menculikku?!" protes Thrisca pada suaminya.
"Apa untungnya menculik gadis merepotkan sepertimu?!" cibir Ron.
"Aku mau pulang!"
Thrisca membuka pintu mobil dan membantingnya benda itu keras-keras.
"Pulang saja sana kalau kau tahu jalan pulang!"
Ron berdiri bersandar pada mobilnya dan melihat sang istri celingukan kesana-kemari mencari jalan pulang.
"Ini dimana? Kemana aku harus berjalan?!!" gumam Thrisca pelan.
"Kenapa tidak ada satupun rumah disini? Hanya ada pohon dan jalan sepi.." batin Thrisca agak cemas.
"Cepat sana pulang! Kenapa masih berdiri disini?!" ejek sang suami.
"Kau mau membuangku ke hutan?!"
Thrisca membalikkan badan dan mengomel pada suami tampannya.
"Kemari, Gendut! Sepertinya kau memang benar-benar tidak pernah keluar rumah. Tempat ini tidak jauh dari rumah kita," ujar Ron seraya mengambil dua cup minuman dari dalam mobil.
"Benarkah? Tempat apa ini? Kenapa tidak ada satupun rumah? Hanya ada jalan dan pohon,"
Thrisca berjalan mendekat ke arah suaminya berdiri.
"Minum ini,"
Ron menyodorkan susu hangat untuk istrinya.
Pasangan suami-istri itu duduk di pinggir jalan sambil menyeruput minuman mereka masing-masing.
"Kau menculikku hanya untuk menemanimu minum susu di pinggir jalan?" tanya Thrisca jengkel.
"Bukan itu intinya, bodoh! Kau tidak lihat aku sedang berusaha menghiburmu?!" Ron tak kalah jengkel mendengar ucapan sang suami.
"Siapa yang butuh dihibur?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang kau kesepian? Kau bosan terus berada di rumah kan? Apalagi sekarang ada Lian," ujar Ron lirih.
Thrisca nampak tak nyaman mendengar Ron memanggil nama wanita lain dengan panggilan akrab.
"Kita pulang saja, nanti pacarmu itu bingung mencarimu.."
Thrisca meminum habis minumannya dan membuka pintu mobil.
"Gendut, aku berikan kau kesempatan terakhir! Kau ingin bersamaku atau tidak?" tanya Ron dengan sorot mata tajam.
Gadis berkulit putih itu hanya diam mematung di samping mobil Ron dan berdiri membelakangi sang suami yang masih terduduk di trotoar jalan.
"Gendut, kau yakin ingin melepasku? Kau tidak akan menyesal? Aku tidak berbicara mengenai perasaan kita. Aku berbicara secara rasional. Status janda pasti akan sedikit membebanimu kan?"
"Kau benar, Tuan. Tidak ada wanita yang ingin menjanda. Setiap wanita mengidamkan pernikahan sebagai impian terbesar mereka. Sama seperti wanita yang lain, aku juga hanya ingin menikah satu kali dan hidup bahagia bersama pria idamanku.."
Thrisca mulai membuka suara tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Tapi untuk apa mempertahankan sesuatu yang tidak membuatmu bahagia. Jika dengan menjanda bisa membuatku bahagia, aku tidak keberatan." sambung Thrisca.
"Kau tidak bahagia bersamaku?"
"Kau yang tidak bahagia bersamaku.."
Thrisca menoleh ke arah Ron dengan sorot mata lembut.
"Kau belum juga menyerah untuk membuatku meninggalkanmu?!"
Ron mulai kesal dengan Thrisca yang selalu membahas perceraian dengannya.
"Bukankah kau sudah setuju untuk berpisah secara baik-baik denganku?" tanya Thrisca bingung.
"Kapan aku bilang aku setuju?! Aku tidak pernah mengatakan apapun! Kau yang sibuk membuat kesimpulanmu sendiri!"
"Ron, kenapa kau keras kepala sekali? Kau tidak kasihan pada kekasihmu itu? Apakah begini caramu menyakiti hati wanita?" sindir Thrisca.
"Baiklah! Baik! Aku kalah! Jangan bahas ini di hari kencan kita!"
Ron menarik tangan sang istri dan berjalan menyusuri pepohonan di jalanan sepi itu.
"Kau mau membawaku kemana? Kau tidak akan melemparku ke dalam hutan kan? Kau tidak akan meninggalkanku disini sendirian kan?"
Thrisca menggenggam erat tangan suaminya dan memeluk lengan besar pria berambut coklat gelap itu.
"Apa untungnya melemparmu ke hutan? Itu hanya akan membuatku kehilangan tukang bersih-bersih gratis,"
Thrisca melirik Ron dengan wajah cemberut.
Pasangan suami-istri itu berjalan cepat menuju ujung jalan. Sedikit demi sedikit pemandangan air mulai terlihat.
"Ini.. danau?"
Mata Thrisca berkilauan dan berbinar menatap kolam besar yang ada di hadapannya.
"Tuan, ini danau?"
Thrisca menatap Ron dengan girang dan bersemangat.
"Apa? Kau belum pernah melihat danau?" ejek Ron.
Thrisca tidak menghiraukan ejekan sang suami dan segera melepaskan genggaman tangannya. Gadis itu berlarian kesana kemari di padang rumput yang berada di tepi danau.
"Tuan, boleh aku meminjam ponsel?" pinta Thrisca dengan antusias.
"Ponsel? Aku tidak bawa." ujar Ron dengan wajah datar. Pria itu sengaja tidak membawa ponsel agar tidak ada yang mengganggu waktunya bersama sang istri.
Wajah cerah Thrisca berubah menjadi kusut seketika.
"Kau saja tidak membawa ponselmu sendiri, kau juga tidak mungkin membawa ponselku," gerutu Thrisca dengan wajah cemberut.
"Aku memang tidak membawa ponsel. Tapi aku membawa ini!"
Ron mengeluarkan kamera digital kecil dari kantongnya.
Thrisca reflek ingin mengambil benda kecil itu dari Ron begitu suaminya itu memamerkan barang yang diinginkannya.
"Siapa yang bilang ini untukmu?!" Ron menggoda istrinya dengan menaikkan benda itu tinggi-tinggi dengan tangan panjangnya.
"Aku hanya ingin pinjam sebentar.. hanya dua foto saja untuk kenang-kenangan," pinta Thrisca.
"Cium aku dulu.."
Ron menyodorkan pipinya pada sang istri.
Bukannya memberikan ciuman, gadis itu mencubit pipi suami dengan kencang untuk menumpahkan rasa kesalnya.
"GENDUT!!"
Ron melepas tangan Thrisca dari pipinya dan berbalik mencubit pipi sang istri.
Gadis itu meringis kesakitan dan mencoba melepas tangan suaminya.
Ron segera melepas cubitannya dan mengusap pipinya istrinya.
"Aku hanya mencubit pelan,"
Pria itu memeluk sang istri dan mengecup pipi merona istrinya.
"Tuan, bisa tidak jangan dekat-dekat denganku seperti ini,"
Thrisca memalingkan wajahnya dan menghindari tatapan Ron dengan wajah malu-malu.
"Sok jual mahal! Padahal ingin sekali mendapatkan perhatianku, kenapa terus berpura-pura ingin meminta pisah?!" gerutu Ron dalam hati.
"Kesini,"
Ron memeluk sang istri dan mengarahkan kamera padanya dan juga Thrisca.
"Kau ingin foto kan? Ini kesempatan bagus untuk mendapatkan model tampan sepertiku," ujar Ron dengan sombong.
"Aku ingin memotret danaunya, bukan dirimu!" protes Thrisca.
"Setidaknya kau harus mengambil foto wajahmu juga,"
Ron memeluk pinggang sang istri dan tersenyum tipis menghadap ke kamera. Begitu pula dengan Thrisca, gadis itu mencoba tersenyum demi mendapatkan foto yang bagus.
Ron melihat hasil jepretannya dengan semangat, namun wajahnya berubah masam seketika saat melihat hasil foto yang mengecewakan.
Ron yang tidak bisa memotret dengan baik, hanya bisa menghasilkan foto yang memampangkan wajah tampannya sementara sang istri hanya terlihat sebagian rambutnya saja.
Sudut pengambilan yang salah membuat Thrisca yang hanya setinggi pundak Ron tidak bisa masuk ke dalam frame kamera.
"Bagaimana? Apa hasilnya bagus? Aku tidak berkedip kan?"
Thrisca nampak antusias menanyakan hasil foto pada suaminya.
Ron segera menyembunyikan kameranya agar Thrisca tidak dapat melihat hasil jepretan yang payah dari suaminya itu.
"Wajahmu sangat jelek! Aku hapus saja," ujar Ron kesal pada dirinya sendiri.
"Benarkah? Sayang sekali aku tidak bisa mendapatkan satu foto sebagai kenang-kenangan," ungkap Thrisca sedikit kecewa.
"Aku, ingin melihat ke sebelah sana. Boleh, kan?" ijin Thrisca pada suaminya.
"Tentu," jawab Ron cuek.
Selama gadis itu berjalan melihat pemandangan, Ron secara diam-diam memotret sosok istrinya itu dari jauh. Pria itu semakin bersemangat memotret sang istri saat mengetahui hasil jepretannya mampu menghasilkan gambar jernih yang memperlihatkan wajah cantik sang istri.
"Si gendut benar-benar cantik," puji Ron seraya melihat-lihat foto sang istri.
"Tuan,"
Tiba-tiba Thrisca muncul mengagetkan pria yang tengah sibuk melihat foto di kamera.
"Kenapa?!"
Ron segera menyembunyikan kameranya begitu Thrisca berjalan mendekat ke arahnya.
"Disana.. ada perahu kecil. Aku.. ingin naik perahu. Boleh kan?" pinta Thrisca.
"Naik saja," jawab Ron cuek.
"Tapi aku tidak tahu cara menjalankannya. Tolong.. temani aku," ajak Thrisca dengan suara sangat pelan.
"Ck, bicara yang keras! Aku tidak dengar," protes Ron.
"Temani aku naik perahu!" ujar Thrisca dengan cepat sambil memejamkan mata.
"Hanya bilang begitu saja, apa susahnya? Kau takut aku akan marah hanya karena kau mau naik perahu?!"
Ron menarik tangan istrinya menuju perahu kecil yang bersandar di tepi danau.
Ron mendayung perahu kecil itu perlahan menuju tengah danau. Thrisca nampak menikmati angin sejuk yang berhembus di pagi hari.
Saat melihat sekeliling danau, Thrisca semakin antusias melihat beberapa ikan di sekitar perahu.
Gadis itu agak mencondongkan badan ke samping untuk melihat ikan-ikan di air lebih dekat.
"Jangan menunduk seperti itu, gendut! Nanti perahunya terbalik!" omel Ron.
Begitu Ron selesai berbicara, Thrisca yang terlalu menunduk ke air kehilangan keseimbangan dan tercebur ke dalam danau.
Byurr!!
Mengingat sang istri yang pernah hampir mati tenggelam, Ron dengan cepat menceburkan diri ke danau dan memeluk sang istri erat.
"Tuan, jangan lepaskan aku! Jangan lepaskan aku!"
Thrisca memeluk leher Ron erat dan terus bergerak di air dengan panik.
"Gendut, tenanglah! Aku sudah memegangimu. Aku tidak akan melepaskanmu. Tenang sedikit, Sayang.."
Ron mencoba menenangkan gadis yang hampir mencekiknya itu. Pelukan sang istri yang terlalu erat membuat Ron kesulitan berenang ke tepi.
"Sayang, aku memegangimu. Jangan memelukku terlalu kencang, ya?"
Ron menenangkan istrinya dengan suara selembut mungkin.
Pasangan itu segera berenang ke tepi sebelum tubuh mereka membeku di air danau yang dingin. Ron menggendong sang istri yang basah kuyup menuju mobil yang terparkir agak jauh dari danau. Badan gadis itu menggigil kedinginan dengan mulut hampir membiru.
Ron dan Thrisca segera masuk ke dalam mobil dengan pakaian yang basah.
"A-aku di luar saja, sebentar lagi matahari tinggi. Aku bisa berjemur di luar sekaligus menghangatkan diri," ujar Thrisca dengan suara bergetar.
"Jangan berulah lagi!"
Ron menarik pakaian istrinya dan hendak melepaskan kain-kain basah itu dari tubuh sang istri.
"K-kau mau apa?!"
"Bajumu basah! Kau akan semakin kedinginan jika memakai baju basah seperti ini," ujar Ron.
"A-aku akan melepasnya sendiri," tolak Thrisca.
Ron ikut melepas atasannya yang basah. Begitu pula dengan Thrisca yang melepas baju atasnya dan menyisakan pakaian dalam.
"Lepas juga rokmu! Kau masih kedinginan, pakaian dalammu juga basah,"
Perkataan Ron membuat wajah Thrisca yang pucat berubah menjadi merah karena malu. Ron yang tengah bertelanjang dada, keluar dari mobil dan mengambil kain selimut yang ada di bagasi mobil.
"Pakai ini,"
Ron memberikan kain selimut itu untuk istrinya.
Thrisca segera melucuti seluruh pakaian basahnya dan memakai selimut Ron untuk menutup tubuh polosnya.
Ron kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Thrisca.
"Kau masih kedinginan? Wajahmu mulai pecat," ujar Ron cemas.
"Aku tidak apa-apa, ayo cepat pulang.." ajak Thrisca dengan suara lemas.
"Sebenarnya aku berbohong.. tempat ini cukup jauh dari rumah. Dan cukup jauh dari perkotaan." ujar Ron dengan ekspresi menyesal.
Thrisca hanya bisa memijat kepalanya yang pening mendengar pengakuan dari suaminya. Wanita itu masih menggigil kedinginan karena hanya berselimutkan kain tipis.
"Kemari.."
Ron menarik tangan sang istri dengan lembut dan mendudukkan gadis itu dalam pangkuannya. Pria itu memeluk sang istri dengan erat untuk menghangatkan gadis itu.
"Kau ingin mencoba cara lain untuk menghangatkan tubuh?" usul Ron dengan wajah memerah.
***
Bersambung..