
"Nenek," sapa Thrisca pada Nyonya Aswinda, begitu ia tiba di kediaman sang nenek.
Bersama dengan ayah dan ibu mertuanya, Thrisca menjemput Nyonya Aswinda untuk ikut dalam acara piknik kecil yang sudah ia rencanakan.
"Halo, cicit nenek. Apa kabar, Sayang?" sapa Nyonya Aswinda pada Thrisca dan calon cicitnya.
"Nenek terlihat lebih segar." ujar Thrisca melihat senyum berseri sang nenek. Masa berkabung wanita tua itu nampak telah usai setelah berminggu-minggu terpuruk dalam kesedihan karena ditinggal sang suami.
"Terlalu lama bersedih tidak baik untuk kulit nenek. Keriput nenek sudah bertambah banyak," ujar Nyonya Aswinda menampakkan senyum lebar.
Rombongan keluarga besar itu mulai berangkat menuju tempat yang sudah ditentukan. Hari libur yang cerah itu dipenuhi banyak orang bersantai di taman kota.
"Kita akan piknik di sini?" tanya Nyonya Daisy agak risih berkumpul dengan banyak orang.
Bukan hanya Nyonya Daisy, Nyonya Aswinda dan Tuan Derry pun ikut merasa tak nyaman berada di tempat umum gratis itu.
"Kenapa? Tidak suka dengan tempat pilihan istriku? Kalau begitu kalian pulang saja sana! Untuk apa kalian mengganggu kencan--"
Pak!
Ron menerima pukulan di belakang kepalanya dari tiga orang sekaligus yaitu, Nyonya Daisy, Nyonya Aswinda beserta Tuan Derry.
Suami Thrisca yang malang itu mulai berdiri sempoyongan dan hampir tersungkur ke tanah taman.
Aww!
"Hei! Buat saja acara piknik kalian sana sendiri!" pekik Ron sebal seraya memegangi belakang kepalanya.
"Sudahlah, Ron. Bisakah sehari saja kau tidak mengomel?" bisik Thrisca sembari mencubiti pinggang Ron.
"Nenek, bagaimana kalau kita membuat sandwich? Aku dan Ibu sudah menyiapkan isian," ajak Thrisca.
"Ron, kau bisa bermain basket bersama ayah." bisik Thrisca.
"Untuk apa aku meladeni pria tua buaya darat itu?" sinis Ron.
Tuan Derry ikut membalas tatapan Ron dengan ekspresi tidak ramah.
Anak dan ayah itu saling melempar tatapan sinis dan melotot satu sama lain. Thrisca hanya bisa menepuk jidat, melihat rencana pikniknya yang nampak berantakan.
"Bagaimana kalau kita buat game kecil saja?" ajak Thrisca mencoba mencairkan suasana.
"Game?" sahut semua orang dengan kompaknya seraya menoleh ke arah Thrisca.
"Kalian semua kompak sekali," komentar Thrisca seraya tertawa kecil.
Ibu hamil itu mengambil bola basket yang menarik tangan sang suami menuju lapangan basket kecil yang berada di taman.
"Bagaimana kalau kita bertanding? Dua lawan dua? Tim yang kalah harus membuat sandwich, bagaimana?" usul Thrisca bersemangat.
Baik Nyonya Daisy, Nyonya Aswinda maupun Tuan Derry sama sekali tak menyambut baik saran Thrisca. Bahkan Ron sendiri sibuk mengorek telinga daripada mendengar ocehan sang istri.
"Liburan bersama keluarga Sultan memang sulit," batin Thrisca mulai frustasi.
"Anggap saja ini sebagai ucapan selamat untukku," rengek Thrisca.
"Ron ...." Wanita itu memanggil sang suami dengan wajah memelas.
"Ucapan selamat apa?" tanya Nyonya Daisy.
Thrisca melirik ke arah Ron dengan senyum merekah. Wanita itu menyenggol bahu Ron, mencoba memberikan kode agar suaminya itu memberitahukan kepada keluarga mengenai calon bayi kembar yang tengah dikandungnya.
"Ehm, kita ikuti saja kemauan istriku! Hanya game kecil saja, ayah tidak berani? Ibu dan nenek juga tidak mau menyenangkan calon anakku di perut istriku? Mereka berdua mungkin akan senang melihat hiburan dari kakek neneknya," ujar Ron asal.
"Mereka berdua siapa?" tanya Nyonya Aswinda bingung.
"Tentu saja bayiku, aku akan ... menjadi ayah dari dua bayi sekaligus." ujar Ron malu-malu.
"Apa?" sahut Nyonya Daisy, Nyonya Aswinda dan Tuan Derry bersamaan.
***
Bersambung...