
Tengah malam, Ron duduk di dalam kamar mandi seraya memegangi ponsel. Pria itu nampak serius menjawab panggilan dari Han dengan sembunyi-sembunyi dari sang istri.
Pasangan suami-istri yang masih berada di kota tempat kelahiran Thrisca itu, memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari dan berlibur sejenak di kota tempat masa kecil Thrisca.
"Bos, pabrik ayah Nona sudah dijual oleh Susan. Susan sekarang ada di.." ujar Han mulai ragu mengatakan informasi mengenai Susan.
"Dimana?!" sentak Ron mulai tak sabar.
"Susan sekarang.. ada bersama dengan.."
"Bicara yang jelas, Han!" bentak Ron kesal.
"Susan sekarang tinggal di rumah yang dibelikan oleh Tuan Derry." jawab Han cepat.
"Siapa kau bilang?!"
"Susan tinggal di salah satu rumah Tuan Derry."
Mata Ron membelalak begitu ia mendengar nama ayahnya terucap dari mulut Han.
"Tua bangka sial! Pria tua itu masih saja mencari peliharaan baru?!" omel Ron.
"Dapatkan kembali pabrik ayah mertuaku! Aku sendiri yang akan mengurus Susan. Jangan lupa berikan hadiah untuk Lilian! Aku tidak hanya ingin wajahnya yang rusak, tapi juga hidupnya." pungkas Ron mengakhiri panggilan.
"Bagaimana bisa Susan berakhir dengan ayahku?!" gumam Ron heran.
Pria itu keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri yang memejamkan mata di ranjang.
Ron mendekati Thrisca dan mengecup sekilas bibir mungil wanita yang tengah tertidur itu.
Thrisca yang ternyata hanya berpura-pura tidur, mengalungkan tangannya di leher sang suami dan membalas kecupan dari Ron.
"Sayang, kau tidak tidur?!" tanya Ron gelagapan.
"Apa yang kau lakukan di kamar mandi?! Siapa yang kau hubungi malam-malam begini?" selidik Thrisca.
"H-hubungi apa?! Aku hanya.. hanya menggosok gigi. Aku lupa belum menggosok gigi." jawab Ron gagap.
"Ron, kau terus menatap ponsel sejak tadi. Dan kau berlari menuju kamar mandi hanya untuk mengangkat telepon. Kau pikir aku bodoh?! Sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti orang bodoh?!" protes Thrisca seraya bangkit dari ranjang.
Ron tidak mungkin memberitahukan sang istri mengenai pabrik ayah mertuanya yang sudah dijual. Pria itu juga enggan bercerita mengenai istrinya yang sengaja dicelakai oleh Berlin dan juga Lilian.
Sampai saat ini, Thrisca sama sekali tidak tahu menahu mengenai kecelakaan yang menimpanya. Thrisca masih menganggap kecelakaan yang terjadi padanya beberapa minggu yang lalu hanyalah sebuah kemalangan dan ketidaksengajaan.
Wanita itu membuang muka pada Ron dan menampakkan wajah cemberut pada suami posesifnya itu.
"Sayang, kenapa kau berbicara seperti itu? Aku tidak pernah--"
"Tidak pernah apa, Ron? Siapa yang kau hubungi? Aku akan mengurus sendiri urusanku. Kau tidak perlu memanjakanku seperti ini." ujar Thrisca tegas.
"Kenapa kau harus mengurusnya sendiri saat kau sudah memiliki aku? Aku akan mengurus segalanya untukmu. Kau pikir aku akan membiarkanmu kesusahan sendirian?!"
Thrisca diam tanpa menjawab perkataan sang suami. Perhatian Ron padanya memang cukup menenangkan dan membuatnya bahagia. Tapi, sikap memanjakan Ron semakin lama membuat ruang geraknya semakin berkurang.
"Baiklah, terserah kau saja." pungkas Thrisca tanpa menjawab lagi.
"Jangan marah, Sayang.."
Ron mendekap sang istri seraya membenamkan kepala di tengkuk Thrisca.
Pria itu memeluk erat tubuh mungil sang istri dan berusaha membujuk wanita yang tengah merajuk itu.
"Bagaimana kalau besok kita pergi berkencan? Apa ada tempat khusus yang sering dikunjungi ayahmu dan ibumu?"
Ron berusaha keras mengalihkan topik pembahasan untuk meredakan amarah sang istri.
"Ck, Ron memang pintar mengubah topik.." gerutu Thrisca dalam hati.
***
Pagi hari, Ron sudah bersiap dengan pakaian rapi dan berdandan wangi. Thrisca bahkan masih berkelana di alam mimpi, namun Ron sudah siap berkelana di dunia luar.
"Sayang, ayo bangun.."
Ron membangunkan Thrisca dengan kecupan bertubi-tubi di pipi istrinya itu.
Thrisca yang mencium bau wangi parfum sang suami, segera membuka mata dan melihat Ron sudah nampak rapi nan tampan dengan pakaian kasual.
"Kemana lagi? Tentu saja berkencan denganmu." ujar Ron bersemangat.
"Kencan apa, Ron? Aku harus ke rumah--"
"Aku sudah mengurus barang-barang ayahmu. Pabrik ayahmu juga baik-baik saja. Aku akan membuat perhitungan dengan Susan. Tolong jangan rusak suasana hatiku dengan wajah murammu lagi.." rengek Ron manja.
"Apa lagi yang direncanakan pria ini?!" batin Thrisca.
"Cepat mandi dan ganti pakaianmu. Aku tunggu di depan." ujar Ron seraya beranjak keluar dari kamar hotel.
Tak sampai setengah jam kemudian, Thrisca sudah selesai dengan persiapan ala kadarnya untuk berkencan bersama sang suami. Pikiran wanita itu masih diliputi kegelisahan mengenai rumah peninggalan sang ayah yang tengah kacau balau.
"Sayang, ayo cepat.."
Ron menarik tangan sang istri dan mengajak wanita cantik itu berkeliling kota dengan sepeda.
"Sepeda lagi?! Ron benar-benar payah." batin Thrisca.
"Kenapa wajahmu seperti itu?! Kau sudah bosan naik sepeda? Atau kau bosan denganku?! Kencan yang kurencanakan terlihat basi di matamu?!" gerutu Ron dengan wajah masam.
"T-tidak, Ron. Aku benar-benar suka naik sepeda.." ujar Thrisca dengan senyum paksa.
"Kenapa jadi aku yang menghibur pria manja ini?!" omel Thrisca dalam hati.
Saat wanita itu tengah berbincang dengan sang suami di luar hotel, nampak beberapa pengunjung hotel berbisik-bisik seraya memperhatikan Thrisca dari jauh.
Wajah wanita yang sempat viral di banyak media massa itu kini mulai menjadi sorotan orang-orang yang ada di sekitar hotel.
"Bukankah itu istri bos yang belum lama ini viral?" bisik beberapa orang seraya melihat Thrisca dan Ron dari jauh.
"Kalau wanita itu istri bos, berarti pria itu bos Diez Group?" sahut beberapa orang lainnya.
"Wah, wajahnya benar-benar cantik." puji beberapa pria yang melihat Thrisca.
"Bagaimana kalau kita meminta foto?" usul salah seorang pria yang ingin mendapat foto bersama Thrisca.
"Tapi di situ ada suaminya. Kau berani meminta foto?!" timpal pria lainnya.
"Hanya meminta foto saja, seharusnya tidak masalah, kan?"
Seorang pria berjalan mendekati Thrisca dan memberanikan diri meminta foto bersama. Melihat ada seorang pria yang mendekat, beberapa orang pun ikut menghampiri Thrisca dengan harapan yang sama.
"Permisi, Nona. Bolehkah aku meminta foto bersama?" tanya seorang pemuda dengan sopan.
Ron yang tengah berbincang dengan sang istri, melirik ke arah pria asing yang tiba-tiba mengajak istrinya berbicara.
"F-foto? Aku bukan artis.." ujar Thrisca seraya tersenyum ramah pada pria asing itu.
"Bukankah ini Nona Thrisca? Nona sempat viral beberapa minggu yang lalu. Bolehkah kami meminta satu foto saja?" sahut beberapa orang yang mulai berkumpul mengerubungi Thrisca.
"Sial! Apa-apaan ini?! Berani sekali mereka mengajak istriku bicara?!" omel Ron dalam hati.
"T-tentu, boleh saja." sambut Thrisca.
Kumpulan orang-orang yang mengelilingi Thrisca segera berebut untuk mendapatkan foto dari istri Ron itu.
Ron ingin sekali menarik tangan Thrisca dari kerubungan pria itu, namun tubuh jangkung suami Thrisca itu terpental dengan sukses karena orang-orang berdesakan di dekat sang istri.
"Hei, kembalikan istriku!" teriak Ron di tengah-tengah kerumunan, namun tak ada satupun orang yang menggubris omelan pria itu.
Berkali-kali Ron mencoba mencari celah untuk mendekati sang istri, namun tubuh pria itu terus terdorong keluar dari kerumunan orang-orang yang makin beringas mendekati Thrisca hanya demi berfoto bersama.
"Hei! Kalian ini siapa?! Itu istriku! Kalian tidak boleh mengambil foto istriku!" omel Ron makin frustasi.
Sementara Thrisca yang menjadi artis dadakan, mau tidak mau harus meladeni kerumunan itu. Thrisca yang terpojok di tengah kerubungan banyak orang, tak bisa melarikan diri dari jepretan kamera orang-orang yang ingin meminta berpose bersamanya.
"Aku akan menuntut hotel ini! Aku akan menuntut kalian yang sudah berani mengambil foto istriku!" racau Ron semakin frustasi.
Thrisca yang mendengar suara sang suami, hanya bisa tertawa kecil mendengar umpatan dan omelan suaminya.
***
Bersambung...