DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 158



Pagi hari, Thrisca dan Ron berjalan bersama menuju ruang makan dan berpapasan dengan Katrina yang hendak mengambil minum di dapur.


Gadis muda itu nampak takut saat menerima tatapan dari Ron dan menundukkan kepala dalam-dalam.


"Katrina, ayo kita sarapan bersama." ajak Thrisca.


"Aku tidak lapar," jawab Katrina lirih.


"Ron, jangan melotot padanya seperti itu!" bisik Thrisca seraya mencubit pinggang Ron.


"Ayo, Katrina! Kau harus makan." paksa Thrisca.


"Sudah kubilang, tidak perlu sok baik padaku!" sentak Katrina.


"Hei--"


Ron sudah siap untuk meneriaki gadis muda itu, namun langsung ditahan oleh Thrisca.


"Aku tidak akan meminta maaf!" ujar Katrina.


"Tidak perlu meminta maaf! Aku akan langsung mengirimmu ke liang lahat jika kau berani menyentuh istriku lagi!" sentak Ron.


"Ron, sudahlah.." lerai Thrisca seraya mendekap erat lengan sang suami.


"Aku minta maaf. Maaf, sudah menerobos masuk ke kamarmu." ujar Thrisca.


Katrina tidak menggubris sedikitpun ucapan Thrisca. Gadis muda itu berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun ke arah tuan rumah.


"Aku dan Ron akan berusaha menjadi wali yang baik untukmu." imbuh Thrisca.


Katrina langsung membeku seketika begitu ia mendengar kata wali terucap dari mulut Thrisca.


"Bagaimana dia bisa tahu?" batin Katrina gugup.


"Wali apa, Sayang? Siapa juga yang ingin menjadi wali gadis menyebalkan--"


Belum sempat Ron selesai berbicara, Thrisca sudah memotong perkataan Ron.


"Kau dan Ron tidak benar-benar menikah. Iya, kan? Kakek hanya mengijinkan Ron terdaftar sebagai wali. Kau tetap mengumumkan pernikahan pada paman-pamanmu hanya untuk mengecoh mereka, kan? Jika kau mengumumkan Ron sebagai wali, mereka akan menuntut ke pengadilan karena mereka juga berhak mengajukan diri sebagai walimu. Iya, kan?" ungkap Thrisca.


"A-apa? Apa yang kau katakan, Sayang? Wali? Aku tidak pernah mendaftarkan pernikahan dengan gadis menyebalkan itu?" tanya Ron bingung.


"Katrina, jawab! Kau--"


"Aku istri Ron!" jawab Katrina dengan lantang.


"Apa?"


Thrisca menatap Katrina dengan kening berkerut.


"Aku mendaftarkan pernikahan dengan Ron. Aku adalah istrinya. Tanya saja pada Ron." sergah Katrina.


"Sayang, aku--"


Thrisca langsung menutup mulut Ron sebelum pria itu ikut menyela.


"Kau tidak pernah mendaftarkan pernikahan dengan Ron! Ron hanya terdaftar sebagai wali." sanggah Thrisca.


"Darimana kau mendengar omong kosong seperti itu?! Aku adalah istri sah dari Ron."


Katrina masih saja bersikeras menganggap dirinya sebagai istri dari Ron.


Thrisca berjalan perlahan menghampiri Katrina dan..


Plakk!


Satu tamparan mendarat mulus di wajah nona muda yang mengaku-ngaku sebagai istri Ron itu.


"Ron adalah suamiku!" sentak Thrisca.


"Sayang, tanganmu tidak apa-apa, kan?"


Ron menghampiri Thrisca dan mengusap-usap telapak tangan wanita hamil itu dengan lembut.


"Siapa kau berani menamparku?" sinis Katrina.


"Aku hanya ingin menyadarkanmu! Kau tidak pernah menikah dengan suamiku! Jangan mengarang cerita dan katakan yang sebenarnya pada Ron kalau kau tidak pernah mendaftarkan pernikahan dengannya!" sentak Thrisca.


Katrina tidak menanggapi ucapan Thrisca. Sorot mata gadis muda itu mulai dipenuhi dengan amarah membara.


Nona muda itu berlari keluar rumah, meninggalkan Ron dan Thrisca yang masih mematung di ruang makan.


"Katrina, kau--"


"Sayang, apa maksud ucapanmu?"


Kini giliran Ron yang menuntut penjelasan dari Thrisca.


"Sayang, biarkan saja dia pergi. Aku tidak peduli! Sekarang jelaskan di--"


"Ron! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Katrina? Kita harus mengejarnya, Ron." potong Thrisca.


"Kenapa kau perhatian sekali pada gadis menyebalkan itu?"


Thrisca menghela nafas sejenak dan menatap Ron lurus-lurus sebelum mulai berbicara kembali.


"Ron, Katrina hanya anak manja yang tidak mempunyai keluarga. Sama sepertiku, dia tidak memiliki rumah untuk pulang Ron. Dia hanya memiliki bangunan tidak berpenghuni." ujar Thrisca dengan pilu.


"Katrina sudah menjadi tanggungjawab kita, Ron. Kakek menitipkan Katrina pada kita." imbuhnya.


Ron mengacak rambutnya kasar dan segera meminta penjaga keamanan untuk mengejar Katrina.


Suami Thrisca itu segera kembali menghampiri sang istri untuk menuntut penjelasan dari semua ucapan Thrisca.


***


Ron dan Thrisca duduk di kamar seraya memandangi amplop peninggalan Tuan Hasan.


Setelah selesai menceritakan semuanya pada Ron, kini giliran pria itu membuka hadiah yang ditinggalkan oleh sang kakek.


"Mau apa lagi kakek tua itu? Dia belum puas mengerjaiku?!" omel Ron kesal.


"Aku tunggu di luar, Ron." pamit Thrisca.


"Kau mau kemana, Sayang? Pasti isinya hanya berkas tidak penting. Kau di sini saja." cegah Ron.


"Kau butuh waktu pribadi, Ron. Aku tidak akan mengganggu."


"Mengganggu apanya, Sayang? Kau di sini saja." paksa Ron.


"Ron, kakek mungkin menulis surat khusus untukmu. Bacalah baik-baik suratnya. Aku akan siapkan sarapan,"


Thrisca mengusap lembut wajah sang suami seraya berlalu meninggalkan kamar.


Ron membuka amplop dari sang kakek dengan malas dan menemukan surat perwalian dari pengadilan yang berisikan informasi mengenai dirinya yang sudah terdaftar menjadi wali dari Katrina.


"Sial, kakek tua itu membodohiku?! Aku ternyata hanya terdaftar sebagai wali?" umpat Ron kesal.


Selain menemukan berkas dari pengadilan, pria itu juga menemukan sepucuk surat kecil yang terselip di dalam amplop.


Ron membuka lembaran surat itu dengan wajah datar dan mulai membaca tulisan sang kakek yang memenuhi kertas-kertas itu.


"Hai, Ron. Akhirnya kau membaca surat ini? Coba kakek tebak! Saat kau membaca surat ini, kakek pasti sudah merasakan panasnya neraka." tulis Tuan Hasan pada kertas tipis itu.


Ron masih memasang tampang datar membaca kalimat pembuka surat dari kakek kesayangannya.


"Apa surat terlihat kuno? Kakek ingin sekali membuat video, tapi kau pasti akan menangis kencang jika surat ini berbentuk video. Jadi, kakek memilih untuk memberimu ucapan perpisahan melalui tulisan saja."


"Apa kabar cucuku? Sudah berapa lama kakek pergi saat kau membaca surat ini? Apa kau kesulitan seorang diri di sana? Apa kau bisa mengatur semuanya tanpa kakek? Kau sangat payah dan bodoh. Perusahaan kakek sebentar lagi pasti akan bangkrut di tanganmu."


Ron mulai mengusap pipinya kasar, menyingkirkan bulir bening yang mulai menetes membasahi wajahnya.


"Aku memang payah dan bodoh. Memangnya kenapa?! Salahmu sendiri meninggalkanku begitu cepat!" gumam Ron dengan isak tangis.


"Aku tidak peduli jika perusahaanku bangkrut. Aku tidak peduli jika keluarga besar kita berantakan. Aku hanya peduli pada kebahagiaanmu Ron, cucu kesayanganku."


"Cih, cucu kesayangan apanya?! Kau selalu saja menjahiliku dan membuatku menderita!"


"Sekarang tidak ada lagi yang akan memerintahmu. Tidak akan ada lagi yang berani mengaturmu. Lakukan semaumu, Ron. Hiduplah sesuai keinginanmu. Kakek akan selalu mendukungmu."


"Kau pasti merindukan omelanku? Kau pasti merindukan pukulan tongkatku? Kau pasti.. merindukan kakek kan, Ron? Kakek harap, kakek bisa menjadi orang yang selalu kau rindukan."


"Aku tidak merindukanmu, tua bangka! Jangan harap aku akan merindukan pria tua menyebalkan sepertimu!" gumam Ron dengan air mata bercucuran.


Pria itu mendekap erat surat dari sang kakek dengan tangis pilu.


"Kakek tahu kata maaf saja tidak akan cukup untuk menghapus kesalahan kakek padamu. Kakek sangat bangga padamu, Ron. Terima kasih kau tidak menuruni sifat jelek kakek."


"Masa hidup kakek benar-benar bahagia diisi oleh cucu menggemaskan sepertimu, Ron. Kakek sangat beruntung memilikimu. Kakek akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Kejarlah kebahagiaanmu, Ron. Kakek mencintaimu."


"Kau berbohong! Kakek tidak mencintaiku.. jika kau benar-benar menyayangiku, kau tidak akan pergi secepat ini meninggalkanku." gumam Ron makin banjir dengan air mata.


Thrisca yang mendengar tangisan sang suami dari luar, ikut bercucuran air mata tanpa berani masuk menghampiri Ron.


Wanita hamil itu semakin tak tega melihat Ron yang masih terpuruk dalam kesedihan seorang diri.


Terlebih lagi, sang suami lebih suka memendam semua masalah seorang diri dan berpura-pura baik-baik saja di depan Thrisca.


"Ron, kalau saja aku bisa menghiburmu sedikit saja.." gumam Thrisca dengan wajah sendu.


***


Bersambung...