
"Ibu?" gumam Thrisca lirih seraya menatap Nyonya Daisy dengan mata berkaca-kaca.
Wanita muda itu segera memalingkan wajahnya sebelum air matanya terlihat oleh sang ibu mertua.
"Thrisca, ibu akan mendukungmu bersama Ron. Tapi ada syaratnya," ujar Nyonya Daisy.
"Ibu melakukan ini juga demi kebaikanmu. Ibu tidak akan mempersulitmu. Pilih salah satu, melanjutkan pendidikan di universitas ternama. Atau mulai membangun karir." sambung ibu mertua Thrisca itu.
"Tapi aku hampir menyelesaikan--"
"Menyelesaikan apa? Kau berkuliah di universitas kecil pinggir kota, kan? Kau tahu dimana Ron menempuh pendidikan? Ron adalah lulusan dari universitas terbaik di Inggris. Kau yakin kau tidak akan merasa berkecil hati di depan Ron jika kau hanya menempuh pendidikan di kampus kecil?"
"I-itu.."
"Kau juga tidak ingin membuat Ron malu, kan? Kau harus sadar posisimu saat ini. Kau bisa menjadi sumber dukungan atau justru menjadi kelemahan bagi suamimu. Kau tidak ingin mendukung karir suamimu?" ujar Nyonya Daisy.
Thrisca hanya diam tanpa berani bersuara di hadapan ibu mertuanya.
"Thrisca, Ibu tidak akan menuntut karir gemilang darimu. Ibu hanya ingin kau bisa menonjolkan satu keterampilan saja. Tapi jika kau ingin melanjutkan pendidikan, tolong pilih salah satu universitas ternama di negeri ini sebagai tempatmu mengeyam pendidikan." saran Nyonya Daisy.
Kepala Thrisca mulai pening mendengar tuntutan dari sang ibu mertua.
"Kau bisa memilih kegiatan sesuai hobimu. Kau bisa mencoba dunia fashion, make up artist, modeling atau apapun itu. Kau bisa belajar untuk mulai membangun karir. Nyonya keluarga Diez tidak bisa hanya berakhir menjadi ibu rumah tangga. Kau harus menunjukkan kelasmu untuk mendukung reputasi suamimu," nasihat Nyonya Daisy.
"Thrisca, tidak ada jaminan Ron tidak akan berakhir seperti ayah dan kakeknya. Jika suatu hari nanti Ron menambah istri, kau yang hanya seorang ibu rumah tangga akan tergeser dengan mudah oleh istri baru suamimu. Kau mau hal itu terjadi?!"
"Mana mungkin Ron seperti itu," sanggah Thrisca lirih.
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ibu hanya ingin kau membangun citramu di depan publik dan membuat orang-orang tertunduk hormat padamu! Kau akan menjadi Nyonya dari keluarga Diez. Kau tidak boleh menundukkan kepalamu pada siapapun. Kau harus mendapatkan hormat dari orang-orang di luar sana.."
"Dan orang-orang hanya akan menundukkan kepala saat kau memiliki kekuasaan dan keterampilan. Bagaimana kau bisa membuat orang-orang menyanjungmu jika kau bukan termasuk orang terpelajar? Bagaimana orang-orang mau menghormatimu jika kau tidak memiliki pencapaian apapun yang bisa dibanggakan?" sambung Nyonya Daisy.
Thrisca paham benar dengan maksud ucapan sang ibu mertua. Semua yang dikatakan wanita paruh baya itu cukup rasional dan masuk akal.
"Pikirkan hal ini baik-baik. Ibu melakukan semua ini bukan untuk kepentingan ibu, tapi untuk melindungimu. Untuk membangun kepercayaan dirimu di depan Ron dan di hadapan umum."
Perbincangan mertua dan menantu itu pun berakhir begitu mobil Nyonya Daisy berhenti tepat di depan rumah Ron.
Thrisca turun dari mobil Nyonya Daisy dan masuk ke dalam rumah suaminya dengan langkah gontai. Pikiran wanita itu sudah melayang kemana-mana membayangkan bagaimana jika dirinya nanti tidak berhasil masuk ke universitas terkenal, atau tidak memiliki bakat di bidang seni apapun.
"Sayang, kau sudah kembali?"
Ron berlari memeluk sang istri bak anak kecil yang menunggu kepulangan ibunya.
"Ibu tidak berbicara macam-macam padamu, kan?" tanya Ron cemas.
"Ibu mendukungku, Ron.." ungkap Thrisca dengan wajah bahagia.
"Hm?"
"Ibu mendukung kita. Kita sudah mendapat restu dari ibumu,"
Thrisca mengalungkan tangannya di leher sang suami dan mendaratkan kecupan lembut di bibir pria kesayangannya itu.
"Benarkah? Ibuku berkata seperti itu padamu?"
Thrisca mengangguk disertai dengan tangis haru.
"Ron, kau masih ingat dengan janjimu saat kau kalah bermain basket dariku?" tanya Thrisca.
Ron berpikir keras mencoba mengingat-ingat kembali kencannya bersama sang istri saat mereka berada di kota kelahiran Thrisca.
"Kau bilang pihak yang menang akan mendapat hadiah, kan? Saat itu aku bilang padamu, kau harus berkata 'Ya' untuk semua permintaanku. Aku ingin menggunakannya sekarang." ujar Thrisca.
"Kau tidak akan meminta yang aneh-aneh, kan?"
"Ron, sampai kapanpun aku tidak akan terima jika kau menambah istri seperti ayah dan kakekmu. Ceraikan aku jika kau ingin memiliki istri baru." ujar Thrisca dengan wajah serius.
"Apa yang kau katakan? Mana mungkin aku begitu!" bantah Ron.
"Aku hanya ingin mengamankan posisiku. Tidak ada yang bisa menjamin kau tidak akan meniru kakek dan ayahmu." ucap Thrisca tegas.
"Dan kau harus mengijinkan apapun yang akan kulakukan mulai saat ini." imbuh Thrisca.
"Memangnya kau mau melakukan apa?"
"Aku belum tahu, Ron. Tapi apapun itu, tolong berikan ijin untukku. Semua hal yang kulakukan juga demi dirimu. Tolong beri dukungan padaku, Ron.." pinta Thrisca.
"Ron, apa kau pernah percaya padaku?" tanya Thrisca dengan sorot mata tajam.
"Tentu saja aku percaya padamu!"
"Tidak, Ron! Kau tidak pernah mempercayaiku! Aku tidak pernah mendapat kepercayaan sedikitpun darimu. Kau selalu mengekangku dan kau terlalu mengkhawatirkanku!" protes Thrisca.
"Tolong bantu aku membangun kepercayaan diriku, Ron." sambung Thrisca.
***
"Sayang, bangun.."
Thrisca membangunkan sang suami yang masih terbaring dengan selimut tebal di ranjang.
Ron sengaja menutup seluruh tubuhnya rapat-rapat dengan selimut untuk menyembunyikan wajah kesalnya dari sang istri.
Pria itu tidak bisa tidur semalaman memikirkan hal apa yang dikatakan oleh sang ibu hingga membuat istrinya membahas mengenai perceraian hingga kepercayaan dengannya.
Suami Thrisca itu masih kesal pada sang istri yang meminta ijin tidak jelas padanya. Ron benar-benar jengkel melihat Thrisca yang tidak mau bercerita padanya mengenai perbincangan wanita itu dengan sang ibu mertua.
"Ron, aku akan siapkan bajumu. Cepat pergi mandi," ujar Thrisca beranjak dari ranjang suaminya.
Tak berselang lama, tiba-tiba ponsel Ron di atas nakas berdering dengan kencang.
Thrisca segera meraih benda kotak kecil itu dan menarik paksa selimut yang mengerubuti tubuh suaminya.
"Ron, kau sudah bangun dari tadi, kan? Kenapa tidak diangkat teleponnya?" omel Thrisca.
Ron merebut ponselnya dari tangan sang istri dengan wajah cemberut.
"Halo, Bu." jawab Ron malas begitu pria itu mengangkat panggilan telepon dari ibundanya.
"Ron, kosongkan jadwalmu malam ini. Temani ibu ke pesta pertunangan relasi bisnis ayahmu." ajak Nyonya Daisy.
"Hm.." jawab Ron singkat.
"Jam berapa? Aku dan Thrisca akan menjemput ibu nanti," sambung Ron.
"Apa? Thrisca?"
"Kenapa? Istriku tidak boleh ikut? Aku akan merilis artikel hari ini juga! Aku akan memperkenalkan istriku pada semua orang hari ini juga! Bukankah ibu sudah merestui kami?!" tanya Ron.
"Thrisca tidak bisa ikut!" larang Nyonya Daisy.
"Kenapa ibu masih saja bersikap seperti ini?!"
"Ibu tidak bermaksud buruk, Ron. Kau yang tidak bisa memahami istrimu! Kau tahu siapa saja yang datang ke acara itu?!"
"Aku tidak peduli!"
"Jadi, kau tetap tidak akan peduli jika istrimu merasa malu dan rendah diri diantara tamu undangan acara itu nanti? Kau tidak akan peduli jika istrimu hanya bisa diam mematung tanpa bisa melakukan apapun di sekeliling orang-orang yang tidak dikenalnya nanti?"
"Apa maksud ibu?!"
"Ron, istrimu adalah menantu keluarga Diez. Dan istrimu hanya gadis rumahan. Apa yang bisa diperbincangkan oleh gadis rumahan dengan nyonya keluarga terpandang? Kau ingin membuat istrimu diejek karena tidak bisa berbaur dengan nyonya-nyonya keluarga elit di sana?"
"Thrisca bisa ikut denganku!"
"Ikut denganmu? Lalu apa? Ikut mendengarkanmu membicarakan hal yang tidak dimengerti oleh Thrisca dengan pengusaha dan pejabat lain? Kau hanya akan membuat Thrisca semakin terasing dan merasa bodoh saat kau berbicara dengan bahasa-bahasa pengusaha yang tidak dipahami oleh Thrisca." ujar Nyonya Daisy.
"Ibu!!"
"Ron, dengarkan ibu! Mulailah berpikir rasional. Thrisca harus membangun kelasnya untuk bisa mengimbangimu. Ibu melakukan hal ini untuk melindungi Thrisca. Nyonya-nyonya keluarga elit itu hanyalah sekumpulan wanita paruh baya bermulut pedas dan pandai menjilat. Ibu tidak akan membiarkan menantu keluarga kita menjadi bahan ejekan di sana!" ujar Nyonya Daisy tegas.
"Ron, ikuti saja.."
Thrisca mendekat ke arah sang suami dan membujuk pria itu agar menurut pada perkataan sang ibu.
"Bu, jangan coba-coba mempersulit istriku!" ujar Ron seraya mematikan telepon dengan geram.
***
Bersambung...