DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 88



"Thrisca.."


Nyonya Daisy kembali menyambangi rumah sang putra untuk mengunjungi menantunya.


Wanita paruh baya itu sudah membuat list kegiatan menyenangkan yang akan ia lakukan dengan menantunya yang tengah berbadan dua.


"Ibu, pagi sekali ke sini?" sambut Thrisca pada sang ibu mertua.


"Thrisca, kau sudah makan? Cepat ganti bajumu dan ikut dengan ibu.." ajak Nyonya Daisy.


"Ibu mau membawa istriku kemana?!" protes Ron.


"Ke tempat yang menyenangkan untuk para ibu hamil! Jangan ikut campur urusan wanita! Urus saja sana pekerjaanmu!" cibir Nyonya Daisy.


"Icha tidak boleh keluar! Dia harus tetap di rumah!"


"Ron, kau mau membuat istrimu stress terus di rumah dengan pria membosankan yang tidak bisa menyenangkan hati wanita sepertimu?!" ejek Nyonya Daisy.


"Ibu jangan sok tahu! Istriku bahagia bersamaku!" sanggah Ron penuh percaya diri.


"Sayang, di rumah saja, ya?" pinta Ron pada Thrisca dengan mata berkaca-kaca.


"Ini kesempatanku untuk menyusun kejutan! Kalau aku terus di rumah di bawah pengawasan Ron, kejutanku tidak akan segera siap.." batin Thrisca.


"Sayang, hanya hari ini saja. Aku sangat bosan berada di rumah. Ijinkan aku pergi bersama ibu," pinta Thrisca.


Ron langsung memasang wajah cemberut begitu mendengar perkataan sang istri.


"Aku akan segera bersiap," pamit Thrisca pada ibu mertuanya.


Wanita itu menarik tangan sang suami kembali ke dalam kamar.


"Hanya sebentar saja, Ron. Boleh, kan?" tanya Thrisca.


Ron tetap diam tanpa menjawab pertanyaan sang istri.


Wanita hamil yang memakai gaun tipis berkerah rendah itu membungkuk sedikit di depan sang suami yang duduk di ranjang dengan wajah cemberut.


Raut wajah Ron berubah seketika saat ia melihat belahan dada sang istri yang terpampang jelas di depan wajahnya.


"Aku tidak akan lama. Lagi pula aku bersama ibumu, aku--"


Thrisca tidak melanjutkan ucapannya ketika ia menyadari mata sang suami yang terus menatap ke arah buah dadanya. Pria itu menelan ludah berkali-kali tanpa menghiraukan perkataan sang istri.


"Kau mau?" bisik Thrisca menggoda.


Wanita itu duduk tepat di pangkuan sang suami dan menarik tengkuk pria itu, membenamkan kepala calon daddy itu dalam dekapan buah dada besarnya.


Ron menyambut girang dan menikmati susu segar sang istri dengan antusias. Tangan nakalnya ikut memainkan gunung kembar itu tanpa rasa sungkan. Ron tanpa ragu menghujani benda bulat lembut itu dengan remasan, gigitan hingga isapan yang membuat Thrisca semakin menyemarakkan momen panas mereka dengan desahann merdu.


"Aku juga mau ini.."


'Tongkat' Ron yang sudah menegang, menyembul bersenggolan dengan lembah nikmat sang istri yang duduk mengangkang di pangkuannya.


"Ron, jangan kelewatan! Aku harus pergi sekarang,"


Thrisca mendorong kepala suaminya menjauh sebelum pria itu 'kebablasan'.


"Sayang, kau lebih memilih ikut ibuku daripada melayani suamimu?" rengek Ron.


"Ron, jangan terlalu sering melakukannya! Kau tidak ingat sudah ada benihmu di perutku?" omel Thrisca seraya menjewer telinga sang suami.


"Aku pergi sekarang,"


Thrisca bangkit dari pangkuan Ron dan segera bersiap untuk pergi bersama Nyonya Daisy.


Thrisca segera berganti pakaian dan mengambil tas kecil serta jaket tebal dari dalam lemari pakaiannya.


Sementara, sang suami hanya bisa menunduk kesal dan menggerutu layaknya bocah yang tidak ingin ditinggal oleh sang ibu.


"Ron, kau lihat ponselku?" tanya Thrisca begitu ia menyadari sudah dua hari ini tidak melihat benda kecil jadul itu.


"Hm? Ponsel apa? Tidak!" ujar Ron dengan tergagap.


Pria itu nampak panik saat sang istri menanyakan benda yang tengah ia sembunyikan.


"Tidak mungkin hilang, kan? Biasanya aku letakkan di sini,"


Thrisca mengobrak-abrik nakas kamarnya namun ia tetap tidak menjumpai benda tua itu.


"Bawa saja ponselku. Nanti aku telepon pakai telepon rumah. Cepat berangkat sana!"


Ron menyodorkan ponselnya pada sang istri dan segera mengusir wanita itu keluar kamar.


Thrisca mengecup pipi sang suami dan segera menghampiri ibu mertuanya yang masih menunggu di ruang tamu.


"Untung saja Icha tidak sadar.."


Ron segera mengambil ponsel istrinya dan menghidupkan benda kecil yang sudah ia matikan selama beberapa hari itu.


Terdapat beberapa pesan masuk ke ponsel kuno itu, salah satunya pesan dari Susan yang masih menuntut Thrisca untuk memberinya uang.


"Berani sekali wanita ini memeras istriku!"


***


Thrisca dan sang ibu mertua berjalan santai di sebuah kebun bunga yang dirawat sendiri oleh keluarga Tuan Derry.


Wanita paruh baya itu sengaja mengajak menantunya untuk berjalan-jalan menghirup udara segar serta berolahraga kecil di pagi yang cerah itu.


"Ibu, tamannya indah sekali.." puji Thrisca seraya mengedarkan pandangan ke hamparan bunga yang tengah mekar.


"Bunga-bunga di taman sedang bermekaran, karena itu ibu mengajakmu ke sini. Udara segar dan suasana sejuk seperti ini sangat bagus untuk menenangkan pikiran dan menyegarkan diri. Sangat cocok untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil sepertimu," ujar Nyonya Daisy.


"Taman ini benar-benar bagus," gumam Thrisca.


"Lain kali ibu akan menyuruh Ron untuk membawamu pergi berlibur. Ron memang bukan tipe pria romantis yang pandai merayu wanita seperti ayahnya,"


"Tapi selama aku hamil, Ron selalu bersikap lembut padaku, Bu. Dia bahkan sudah jarang berteriak dan mengomel seperti biasanya," ungkap Thrisca.


"Benarkah? Tapi dia bersikap sama saja pada ibu," protes Nyonya Daisy.


"Mungkin Ron hanya tidak ingin membuat suasana hatiku menjadi buruk dengan ucapannya yang menyakitkan,"


"Ron pasti juga sering memarahimu selama kau bersama dengannya? Pria itu benar-benar tidak tahu cara memperlakukan wanita dengan baik,"


"Ron memang bermulut pedas, tapi aku menyukainya.." ujar Thrisca seraya melempar senyuman manis pada ibu yang melahirkan suaminya itu.


"Ibu, boleh aku tahu kapan Ron berulang tahun?" tanya Thrisca ingin memastikan kembali hari ulang tahun suaminya.


"Dua minggu lagi, Thrisca. Bagaimana kalau kita mengadakan pesta kecil untuk Ron?" usul Nyonya Daisy.


"Tentu," sambut Thrisca antusias.


"Kira-kira hadiah seperti apa yang Ron suka?" tanya Thrisca lagi.


"Kalian ternyata belum sedekat itu, ya? Hari ulang tahun suamimu saja kau masih bertanya pada ibu, sekarang kau juga ingin meminta usulan hadiah?"


"Em, soal itu.."


Thrisca nampak malu tidak mengetahui apapun mengenai sang suami.


"Tidak apa. Kalian memang belum lama bersama, kan? Ibu tebak, Ron juga pasti tidak tahu kapan ulang tahunmu. Jadi, bagaimana denganmu? Kapan hari ulang tahunmu?" tanya Nyonya Daisy.


"Em, itu.. tanggal ulang tahunku sama dengan tanggal ulang tahun Ron, Bu.." jawab Thrisca malu-malu.


"Benarkah?"


Nyonya Daisy nampak terkejut sekaligus senang mendengar ucapan sang menantu.


"Tolong jangan beritahu Ron jika Ron belum tahu. Aku ingin menyiapkan kejutan kecil untuk Ron," pinta Thrisca pada ibu mertuanya.


"Kenapa harus repot memberikan kejutan untuk bocah nakal itu? Biarkan dia yang memberimu kejutan. Kau sudah memberinya hadiah besar, Thrisca."


"Bayi kecil ini adalah milik Ron. Ron yang menghadiahkannya padaku. Aku juga ingin memberi sesuatu untuk Ron,"


"Kau ini! Memang susah berbicara dengan orang yang sedang mabuk cinta," gumam Nyonya Daisy seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang menantu yang sudah menjadi budak cinta putranya.


"Beri saja apapun yang ingin kau berikan. Ron akan dengan senang hati menerimanya jika itu barang pemberian orang kesayangannya," ujar Nyonya Daisy.


"Bagaimana dengan mantan pacarnya dulu? Apa Ron pernah mendapat hadiah dari seorang wanita?"


"Soal itu, ibu tidak terlalu tahu. Mungkin saja Gen tahu. Ron tidak pernah membahas wanita dengan ibu. Hanya wanita tidak tahu malu itu yang sempat dibawa oleh Ron pada ibu," ujar Nyonya Daisy menyinggung Lilian.


Sementara di tempat lain, wanita simpanan yang tengah dibicarakan oleh Nyonya Daisy itu sedang duduk santai di mobil mewah bersama dengan seorang pria paruh baya.


Pria paruh baya itu memeluk pinggang Lilian seraya meraba-raba tubuh wanita yang tengah hamil muda itu.


Pria paruh baya itu tidak lain ialah Tuan Derry, yang benar-benar datang menjemput Lilian untuk memboyong wanita tidak tahu malu itu menjadi salah satu selirnya.


***


Bersambung...