
Thrisca berdiri mematung di pintu ruangan kerja Ron seraya memandangi sang suami yang tengah sibuk menelepon bawahannya sambil mengomel.
Ron terus memegangi ponsel seraya berteriak-teriak memarahi bawahannya melalui telepon.
"Dasar bos pemalas!" gumam Thrisca masih menatap sang suami dengan intens.
"Gendut, apa yang kau lakukan disitu?!" tegur Ron saat memergoki sang istri yang berdiri di pintu.
"Tidak. Aku hanya berdiri." jawab Thrisca dengan wajah datar.
"Kemari!"
Ron melambaikan tangan pada sang istri, menyuruh wanita itu mendekat ke meja kerjanya.
Pria itu menarik tubuh langsing sang istri dan mendudukkan badan ramping wanita itu di pangkuannya.
"Kau mau apa? Katakan saja,"
"Aku.. boleh keluar?" tanya Thrisca takut-takut.
"Kemana?"
"Em.. salon?" ujar Thrisca ragu-ragu.
"Salon? Tentu! Bersiaplah, aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu, Ron. Aku juga tidak akan melakukan perawatan yang aneh-aneh. Aku hanya ingin berpenampilan lebih rapi dari biasanya. Aku hanya tidak ingin membuatmu malu. Aku tidak akan pergi ke salon yang jauh. Selesaikan saja pekerjaanmu," cegah Thrisca.
"Hanya menemani ke salon, bukan pekerjaan berat. Kau tidak boleh keluar sendirian!"
"Kau selalu saja memperlakukanku seperti anak kecil!"
"Aku tidak akan memanjakanmu sampai seperti ini jika kau bisa menjaga dirimu dengan baik!"
"Antarkan saja aku sampai ke tempatnya. Kau bisa kembali menyelesaikan pekerjaanmu. Aku akan menghubungimu setelah aku selesai,"
"Mana bisa begitu?! Sudah kubilang aku tidak akan membiarkanmu sendirian di luar rumah!" omel Ron makin garang.
"Ya, Tuhan. Kenapa aku bisa mendapat suami tukang marah-marah seperti ini?!" batin Thrisca frustasi.
Wanita itu hanya bisa menurut dan tidak berani lagi membantah ucapan sang suami.
Thrisca segera bersiap mengenakan sweater dan rok selutut polos. Tak lupa wanita itu juga menyiapkan masker serta topi untuk menutup wajah sang suami.
"Untuk apa aku mengenakan barang-barang ini? Aku tidak lagi berpura-pura. Kau tidak lihat aku sudah bisa bebas berkeliaran tanpa kursi roda?!" protes Ron jengkel.
"Tapi kau pergi bersamaku, Ron. Aku belum muncul di publik dengan wajah ini. Jika ada seseorang yang mengenalimu, kita bisa disalahpahami lagi seperti Mas Gen dulu. Aku akan dikira selingkuhan, Ron!"
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama istriku di luar sana. Kenapa semuanya jadi rumit begini?!" gumam Ron kesal.
"Hanya untuk beberapa waktu lagi sampai pesta pernikahan kita. Aku tidak mungkin muncul seenaknya dan mengaku sebagai istrimu di luar sana. Orang-orang akan menggunjingmu dan aku akan terlihat seperti penipu,"
"Kau memang penipu, kan?" sindir Ron.
"Kau juga penipu, Ron!" balas Thrisca.
"Saat aku muncul nanti, buat saja berita kalau aku melakukan diet ketat. Sudah hampir satu tahun sejak pernikahan kita. Wajar kan jika aku menjadi kurus setelah diet selama satu tahun?" usul Thrisca.
"Kau atur sendiri saja ceritanya. Kau sendiri yang membuat situasi rumit ini,"
"Ron, kau juga sama saja!"
Thrisca mencubit lengan suaminya dengan kesal.
***
"Ron, kita ke salon biasa saja. Tempat ini terlihat mahal.." bisik Thrisca pada sang suami.
Pasangan suami-istri itu masih berdiri di depan bangunan salon besar yang ada di pusat kota. Ron menggandeng sang istri masuk tanpa memperdulikan ocehan wanita itu.
Begitu sampai di pintu, langkah Ron terhenti seketika saat ia berpapasan dengan dua wanita yang hendak melangkah keluar salon.
"Ron?"
Mata tajam Lilian tetap dapat mengenali sang mantan kekasih meskipun pria itu tengah terbungkus masker dan topi.
"Sial! Kenapa ada wanita ini di sini?!" batin Ron.
Thrisca tak kalah terkejut saat ia melihat Lilian dan Jane yang berdiri tepat di hadapannya. Wanita itu segera memalingkan wajah dan berusaha bersembunyi di punggung lebar sang suami.
"Wanita itu lagi?! Bukankah wanita itu kekasih Han? Kenapa dia datang bersama Ron?" batin Jane penasaran.
Lilian melirik ke arah tangan Ron yang menggenggam erat tangan Thrisca.
"Siapa ini?" tanya Lilian pada Ron.
"Bukan urusanmu!"
Ron menerobos masuk seraya menggandeng tangan sang istri.
"Ron, bisa kita bicara sebentar?" cegah Lilian seraya menghalangi jalan Ron.
"Apa lagi yang perlu dibicarakan?" tanya Ron malas.
"Itu bukan Thrisca. Kenapa kau menggandeng tangan wanita lain di sini? Kau sudah bercerai dari Thrisca? Apa ini calon istrimu yang baru? Bibi Daisy bersikap aneh padaku. Apa itu karena ibumu sudah mencarikan calon istri lain untukmu?" selidik Lian penuh dengan pertanyaan beruntun.
"Siapa kau? Apa kau berhak menanyakan hal itu padaku? Apa aku perlu menjawab pertanyaan orang asing sepertimu?!" ujar Ron sinis.
"Mana mungkin wanita ini calon istri Ron? Aku baru saja melihatnya berkencan dengan Han di taman beberapa hari yang lalu." sahut Jane.
Ron mengalihkan pandangan ke Jane dan menatap wanita itu dengan sorot mata tajam.
"Urus saja urusanmu sendiri!"
Ron tidak menghiraukan ocehan kedua wanita itu dan berlalu begitu saja meninggalkan mereka.
"Pantas saja Bibi Daisy bersikap dingin padaku. Sepertinya wanita itu sudah menyiapkan wanita lain untuk Ron.." gumam Lilian kecewa.
"Aku benar-benar melihat wanita itu bersama Han! Bukan hanya sekali, tapi dua kali. Han pernah menemani wanita itu berbelanja. Beberapa hari yang lalu aku juga melihat mereka berkencan di taman! Wanita itu kekasih Han, Lian!" ungkap Jane bersemangat.
"Aku memiliki foto Han dan wanita itu di taman! Wanita ular itu, sudah merebut Han dariku tapi masih berani mengincar Ron!" ujar Jane geram.
Jane menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan foto Han dan Thrisca pada Lilian.
"Wanita di ayunan ini, sama dengan wanita yang digandeng Ron tadi?" tanya Lilian ragu-ragu.
"Benar! Aku tidak mungkin salah!"
"Wanita itu mengencani dua pria bersamaan? Terlebih lagi Ron dan Han?" gumam Lilian tak percaya.
Kedua wanita itu asyik membuat kesimpulan sendiri tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.
Jane dan Lilian semakin tenggelam dalam kesalahpahaman mereka. Kedua wanita itu bahkan berniat mengadukan Thrisca pada Daisy.
***
"Salon mahal memang beda.. wajahku terasa halus," ujar Thrisca seraya mengusap-usap pipinya sendiri.
Ron melirik ke arah sang istri dengan wajah malas. Namun saat melihat wanita kesayangannya tersenyum girang, rasa penat dan lelah Ron hilang seketika.
Pria itu hampir mati kebosanan menunggu sang istri di salon hingga berjam-jam lamanya. Ron bahkan hampir kehilangan kesabaran dan berniat mengobrak-abrik tempat perawatan kecantikan itu jika ia masih harus menunggu lebih lama.
"Tidak ada bedanya," ujar Ron ikut mengusap pipi sang istri.
"Benarkah? Apa aku terlihat sama saja?" tanya Thrisca.
"Sama saja," ujar Ron cuek.
"Sama cantiknya seperti biasa," imbuh Ron dalam hati.
"Ron, sepertinya ini bukan arah pulang.." ujar Thrisca saat mulai menyadari suaminya mengarahkan mobil mereka ke jalan asing.
"Aku tidak bilang kita akan pulang.."
"Lalu kau akan membawaku kemana?"
"Ke tempat sepi yang jauh dari sini," goda Ron pada sang istri.
"Ron, bercandamu tidak lucu!"
"Kau pasti bosan terus berada di rumah, kan? Aku akan mengajakmu menghabiskan waktu di luar sesekali,"
"Ada angin apa kau tiba-tiba bersikap baik seperti ini?" sindir Thrisca.
"Bukankah aku memang selalu bersikap baik padamu? Diantara kita, kau yang terus bersikap menyebalkan! Apa aku pernah bertingkah sepertimu?!" omel suami Thrisca itu.
"Ron, aku akan menjambakmu hingga botak jika kau bukan suamiku!" gerutu Thrisca dalam hati.
"Kenapa menatapku seperti itu?! Kau berani melotot padaku?"
"Aku tidak melotot. Siapa yang melotot?!"
Thrisca segera mengalihkan wajahnya dari sang suami.
Wanita itu beralih menatap keluar jendela untuk melihat lampu-lampu malam yang menerangi jalan.
"Ron, tempat ini indah sekali.." puji Thrisca saat ia dapat melihat pemandangan lampu berkelap-kelip dari ketinggian.
Mobil Ron melaju semakin kencang menuju atas bukit yang menyuguhkan pemandangan kelap-kelip lampu pusat kota yang memanjakan mata.
"Bagaimana? Kau suka?" tanya Ron dengan bangga.
Pria itu membukakan pintu untuk sang istri dan segera menggandeng tangan halus wanita itu memasuki restoran.
Thrisca dan Ron duduk di meja outdoor yang menyuguhkan pemandangan alam dari ketinggian.
Angin malam yang sejuk dan lampu hias remang-remang menambah suasana romantis di acara makan malam pasangan suami-istri itu.
"Dari mana kau tahu tempat seperti ini?" tanya Thrisca.
"Kenapa? Hanya tempat seperti ini tidak sulit untuk menemukannya, aku bisa mencarikan puluhan tempat lebih bagus untuk kencan kita selanjutnya!" ujar Ron berbangga.
"Han memang bisa diandalkan," batin Ron puas.
"Kau ingin makan apa? Aku akan memesankan semuanya untukmu," tawar Ron dengan tingkah sok keren.
"Tidak perlu, Ron. Aku ingin minum saja."
"Lalu acara makannya bagaimana?"
"Ron, kau baru membawaku ke salon mahal. Uangmu pasti sudah terkuras habis di salon tadi. Makanan di tempat seperti ini pasti juga mahal. Lebih baik tabung saja uangmu,"
"Gendut, jangan menghancurkan suasana!" ujar Ron mulai jengkel.
"Kalau begitu terserah kau saja," jawab Thrisca cuek.
Wanita itu berjalan kesana-kemari melihat pemandangan lampu kota yang berwarna-warni.
Namun belum lama pasangan suami-istri itu duduk, tiba-tiba rintik hujan mulai turun membasahi kepala mereka.
"Ron, sepertinya hujan.." ujar Thrisca seraya berjalan menghampiri sang suami.
"Sial! Kenapa harus hujan sekarang?!"
Belum sempat Ron menarik tangan sang istri ke tempat teduh, guyuran hujan turun semakin deras membasahi tubuh suami-istri itu.
"Kemari, Sayang.."
Ron mendekap sang istri dan memayungi kepala sang istri dengan tangannya.
"Han!! Awas saja kau nanti!" batin Ron mengomel pada sang asisten.
Acara makan malam outdoor pasangan suami-istri itu pun gagal karena terganggu guyuran hujan deras.
***
Bersambung..