DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 32



Pagi-pagi sekali Thrisca bangun dan menyiapkan sarapan untuk Genta dengan senyum sumringah.


Pikiran gadis itu sudah penuh dengan rencana kencan buta yang menyenangkan hingga ia lupa pada rasa sakit hati yang ia dapatkan dari Ron serta ibu mertuanya.


"Gendut, jangan tersenyum seperti itu! Kau membuatku takut!" ejek Genta yang sudah berdiri di dapur mengamati istri sepupunya itu tengah menyiapkan makanan dengan riang.


"Mas, Gen? Pagi sekali bangunnya? Makanlah dulu sebelum pergi ke kantor," tawar Thrisca.


"Aku tidak pergi ke kantor hari ini," jawab Genta tanpa rasa bersalah.


"Kenapa? Bukannya kau sudah bermalas-malasan selama beberapa hari ini? Sampai kapan kau akan mengambil libur?" tanya Thrisca dengan wajah heran.


"Tidak ada Ron di kantor. Untuk apa aku datang kesana. Lagipula aku datang ke kota ini memang untuk liburan," tukas Genta dengan entengnya.


"Apa kau tidak memiliki posisi penting di perusahaan? Kau bukan orang yang berjabatan tinggi seperti Ron?"


"Mana mungkin aku bisa mendapat posisi tinggi di perusahaan? Perusahaan itu hanya akan diwariskan pada Ron sebagai cucu dari istri pertama kakek. Cucu dari istri kakek yang lain tidak akan bisa menyentuh perusahaan," terang Genta.


"Benarkah? Kukira akan terjadi perebutan harta yang hebat di keluarga besar kalian,"


"Kakek terlalu memiliki banyak istri. Anak kakek juga tidak terhitung lagi. Kalau istri pertama kakek tidak mengambil tindakan pencegahan, pertumpahan darah di keluarga Diez tidak akan terelakkan lagi!"


Jiwa gosip Genta mulai berkibar saat membahas lika-liku kehidupan keluarga besarnya.


"Bagaimana cara nenek Ron mengamankan posisi Ron sebagai pewaris berikutnya?"


Thrisca kembali terpancing dengan cerita Genta.


"Nenek Ron atau istri pertama kakek berhak menyeleksi calon istri baru kakek sebelum kakek menikahi sang gadis. Nenek Ron mengijinkan kakek menikahi siapapun asalkan pewaris keluarga hanya boleh diambil dari keturunan nenek Ron." terang Genta.


"Nenek Ron juga memberikan surat perjanjian yang berisi pernyataan bahwa keturunan istri lain dari kakek tidak akan mendapat harta warisan apapun dari kakek dan tidak boleh mengganggu posisi keturunan nenek dalam keluarga Diez. Seluruh istri lain kakek menandatangani surat perjanjian itu untuk mencegah mereka melakukan hal-hal curang demi mendapatkan harta kakek." sambung Genta.


"Apa itu berhasil? Bagaimana kalau istri-istri kakek itu berencana menyakiti Ron? Mereka bisa saja membayar orang untuk mencelakai Ron, kan?" tanya Thrisca agak cemas.


"Itu tidak mungkin terjadi. Nenek Ron juga membatasi keuangan istri-istri lain kakek. Mereka tidak akan punya uang untuk membayar pembunuh. Istri kakek yang lain tidak hidup semewah nenek Ron."


"Benarkah? Kasihan sekali. Sudah menjadi istri pria tua, tapi hidupnya masih tidak terjamin."


"Memang tidak semewah neneknya Ron, tapi kehidupan mereka tergolong cukup. Nenek Ron tetap memastikan mereka tidak kekurangan uang untuk segala kebutuhan hidup mereka. Hanya saja nenek tidak memberi uang lebih yang cukup digunakan untuk menyewa pembunuh bayaran,"


Genta mengakhiri gosip panjangnya.


Pria itu segera menyambar sarapan buatan Thrisca dan menikmati makanan itu bersama sang ipar.


"Gendut makannya sedikit sekali. Bagaimana tubuhnya bisa berakhir selebar itu jika ia hanya memakan beberapa roti setiap pagi?" batin Genta semakin curiga dengan Thrisca.


Pria itu mengingat kembali badan ringan gadis itu saat ia mengguncangkan tubuh istri sepupunya itu tempo hari.


Saat tengah menikmati makan pagi, tiba-tiba ponsel di kantong pakaian Thrisca berbunyi kencang. Gadis itu membawa-bawa benda kecil itu di dalam rumah agar ia bisa mengangkat panggilan sang suami setiap saat.


Thrisca melakukan hal itu hanya untuk menyenangkan Ron dan tidak membuat pria itu semakin kesal padanya.


"Gendut, kau sudah bangun?"


Ron kembali melakukan panggilan video karena ia ingin melihat wajah istri cantiknya untuk mengobati rasa rindu pada gadisnya itu.


"Aku sedang makan. Ada Mas Gen disini,"


Thrisca mengarahkan ponsel pada Gen yang tengah menikmati makanan.


"Gen! Apa yang kau makan itu?! Muntahkan sekarang! Berani sekali kau memakan masakan istriku?!" omel Ron hingga membuat Genta tersedak.


Thrisca segera mengambil gelas minuman untuk Genta dan menepuk-nepuk punggung lebar pria itu.


"Gendut, singkirkan tanganmu darinya! Sudah kubilang jangan keluar kamar! Jangan temui Gen! Untuk apa kau memasakkan Genta sarapan?! Biarkan saja dia kelaparan!"


Teriakan Ron kembali menghiasi pagi suram mereka.


"Ron aneh sekali! Bukankah dia tidak suka pada istrinya? Untuk apa dia repot-repot menelepon istrinya setiap pagi?! Ron juga selalu mengomeliku seolah aku mencoba merebut istrinya darinya.." batin Genta dengan ekspresi bingung.


Semakin lama kecurigaan pria itu semakin menumpuk pada pasangan suami-istri yang ia kira tidak harmonis itu.


***


"Gendut, kau punya foto yang agak bagus tidak? Aku akan mencarikan partner kencan buta untukmu."


"Bagaimana 'bagus' yang sesuai dengan standarmu? Aku sangat jarang berfoto. Aku tidak punya kamera dan aku juga tidak pernah pergi berlibur." jawab Thrisca datar.


Genta menatap istri sepupunya itu dengan wajah iba. Pria itu menatap Thrisca dengan tatapan seolah ia melihat spesies yang paling menderita di dunia.


"Gendut kasihan sekali! Dia pasti selalu dikurung oleh ibunya karena mereka malu mengakui si gendut sebagai anak! Gendut pasti tidak pernah melihat indahnya dunia luar," batin Genta penuh dengan imajinasi liarnya.


Genta terdiam sejenak mencoba untuk memikirkan sesuatu yang dapat menyenangkan gadis gendut saudari iparnya itu.


"Gendut, kau tidak sibuk kan hari ini?" tanya Genta.


"Memangnya kesibukan apa yang aku punya?"


"Benar juga. Pekerjaanmu setiap hari hanyalah makan dan tidur. Tidak heran jika badanmu bisa mengembang selebar ini," ejek Genta.


"Ganti bajumu! Hari ini aku akan mengajakmu berfoto di tempat yang bagus," ajak Genta dengan semangat.


Pria berbadan tinggi besar itu segera berlari ke kamar untuk bersiap-siap. Sementara Thrisca masuk ke kamarnya dengan malas dan mengganti pakaiannya dengan baju-baju yang sering ia pakai. Gadis itu tidak memiliki banyak baju lebar untuk penyamarannya. Setiap harinya gadis itu hanya memakai kain dengan corak yang sama.


Genta menunggu di mobil dengan antusias saat memikirkan tempat menyenangkan yang akan ia kunjungi bersama Thrisca. Tak berselang lama, gadis berpakaian tebal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang menyambangi mobil yang sudah menantinya.


Genta menatap Thrisca dengan kesal saat melihat gadis itu masuk ke dalam mobilnya, namun memilih kursi belakang untuk menyandarkan tubuh penuh sumpalan kain itu.


"Kau pikir aku supir?!" sindir Genta dengan wajah cemberut.


"Kau ingin aku yang menjadi supirnya? Aku tidak tahu jalan. Aku juga tidak bisa menyetir," jawab Thrisca malas.


"Pindah ke depan, Gendut!"


"Kenapa? Bukannya dituduh sebagai supir lebih baik daripada harus merasa malu duduk disamping gadis tidak menarik sepertiku?" sindir Thrisca.


"Gendut, kau masih dendam padaku?!"


"Baiklah, aku pindah."


Thrisca beralih ke bangku depan untuk mengakhiri perdebatan dengan Genta.


Pria itu mulai melaju perlahan dengan mobilnya dan merayap menuju jalan raya.


"Gendut, apa kau tidak punya pakaian lain?" tanya Genta tanpa maksud buruk.


Tapi bagi Thrisca, semua ucapan Genta terdengar seperti ejekan yang tiada habis.


"Gadis gendut ini bukan nona muda yang bisa membeli apa saja. Maaf kalau kemiskinanku membuatmu terganggu," tutur Thrisca dengan wajah cemberut.


"Gendut, dosa apa yang aku perbuat padamu sampai kau terus berprasangka buruk dengan kebaikanku?" rengek Genta.


Thrisca dan iparnya itu saling diam selama perjalanan. Gadis itu melihat ke arah jendela dan mulai antusias melihat pemandangan jalan yang terlewati.


Mata gadis itu nampak berbinar saat mobil melewati gedung-gedung di kota hingga taman cantik yang penuh dengan bunga. Ia tidak menyadari kalau selama ini ia hidup di kota cantik nan indah.


Mata Thrisca semakin dimanjakan saat Genta sengaja melewati bukit-bukit dan memperlihatkan pemandangan alam yang menyejukkan mata. Gadis itu semakin bersemangat saat melihat pemandangan kota dari ketinggian.


"Padahal hanya lewat saja, tapi gendut sudah seantusias itu. Sepertinya usahaku tidak sia-sia," batin Genta merasa puas.


"Gendut, kau benar-benar tidak pernah berlibur? Ke wisata alam? Maupun taman hiburan?" tanya Genta.


"Aku hanya gadis rumahan," jawab Thrisca seraya melempar senyum tipis ke arah Genta.


"Sayang sekali, Gendut. Padahal ada banyak hal menyenangkan di luar sana." ujar Genta dengan semangat berkobar.


"Tenang saja, Gendut! Selama Ron tidak ada disini, aku akan membawamu melihat dunia!" sambung Genta dengan senyum cerah.


"Sepupu Ron ini, walaupun nampak menyebalkan dari luar tapi dia benar-benar baik dan tulus padaku. Rasanya seperti mendapat perhatian dari seorang kakak.." puji Thrisca dalam hati.


Setelah beberapa jam berkendara, akhirnya Thrisca dan Genta tiba di tempat tujuan mereka. Tempat pertama yang akan dijadikan destinasi wisata kedua orang itu adalah.. pantai.


"Mas Gen, ini.. pantai?" tanya Thrisca dengan wajah berbinar dan mata berkilauan pada Genta.


"Gendut, Welcome to my Hollywood!" ujar Genta dengan berbangga menunjukkan pantai pada Thrisca.


***


Bersambung..