
Thrisca melepas pelukan dari Ron dan menarik tangan suaminya itu kembali ke tengah hujan.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Lihat, pakaianmu sudah basah!" omel pria beralis tebal itu.
"Aku ingin di sini sebentar.."
"Sayang--"
"Ron, ayo kita hujan-hujanan sebentar! Kali ini saja, Ron.." ajak Thrisca.
Wanita berlarian kesana-kemari dan melompat-lompat di atas genangan air hujan dengan semangat.
Ron memandangi sang istri sambil tersenyum kecil melihat tingkah manis istrinya yang bermain dengan air hujan.
"Icha,"
"Iya?"
Thrisca menoleh ke arah sang suami yang tengah memanggil namanya.
Ron berlari menghampiri Thrisca dan melayangkan kecupan hangat di bibir sang istri.
"Ron, jangan mengambil kesempatan!"
"Hujan membuat tempat ini semakin romantis, kan?" ujar Ron kembali menyambar bibir sang istri.
Pasangan suami-istri itu berciuman mesra di bawah guyuran air hujan yang turun semakin deras membasahi tubuh mereka.
Ron dan Thrisca tetap mendapatkan momen romantis mereka meskipun acara makan malam mereka sudah digagalkan oleh air hujan.
***
Ron membuka pintu mobilnya dan menggendong masuk tubuh sang istri yang hanya terbungkus kain tipis.
"Ron, kau benar-benar pandai memanfaatkan kesempatan!" sindir Thrisca pada sang suami.
"Bajumu basah semua, wajar saja jika aku menyuruhmu melepas semua pakaianmu." ujar Ron tanpa rasa bersalah.
"Tapi kau tidak perlu melakukan hal itu di dalam mobil, kan? Tempatnya sempit dan tidak nyaman!" omel Thrisca.
"Ada wanita cantik tak berbusana di dalam mobilku, mana mungkin aku bisa menahan diri." cibir Ron pada sang istri.
"Kau ini selalu saja membuat-buat alasan!"
Ron hanya tersenyum mendengar omelan sang istri. Pria itu benar-benar puas sudah mendapat 'jatah' lebih awal dari istrinya berkat hujan tak terduga yang mengguyur tubuh mereka.
Thrisca berbaring lemas di ranjang dengan tubuh penuh tanda merah di sekujur badan langsing wanita itu.
Ron menarik selimut dan membungkus rapat-rapat tubuh polos sang istri yang hampir terlelap di ranjang.
"Sayang, makan dulu. Kau belum makan malam," ujar Ron seraya mengusap-usap pipi sang istri untuk membangunkan wanita yang sudah setengah mengantuk itu.
"Aku mau tidur, Ron! Jangan ganggu aku!" jawab Thrisca seraya menepis tangan sang suami.
Pria berbadan tinggi itu bergegas menuju dapur untuk mengambilkan makan malam sang istri.
Ron tetap memaksa Thrisca untuk membuka mata dan menyantap makan malam terlebih dulu sebelum wanita itu melanjutkan acara tidurnya.
"Sayang, buka mulutmu.."
Ron tetap menyodokkan sendok ke mulut sang istri dengan paksa.
"Sudah, Ron. Aku tidak terlalu lapar," ujar Thrisca dengan suara lemas dalam dekapan Ron.
Pria itu memeriksa dahi sang istri dan mendapati tubuh sang istri semakin memanas.
"Kau baik-baik saja? Badanmu agak panas," ujar Ron cemas.
Ron membaringkan tubuh lemas sang istri dan segera memanggil dokter dengan panik.
Pria itu bahkan menyiapkan air dan handuk untuk mengompres dahi sang istri.
"Kenapa badannya semakin panas?" gumam Ron semakin khawatir.
Beruntung tak lama kemudian, dokter yang dipanggil Ron akhirnya tiba dan segera memeriksa keadaan Thrisca.
"Bagaimana? Istriku baik-baik saja, kan?" tanya Ron pada sang dokter.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah memesankan obat penurun panas untuk Nyonya. Silahkan diminumkan obatnya sampai demam Nyonya turun." jelas dokter pada Ron.
Wanita berjas putih itu langsung pergi meninggalkan kediaman Ron begitu selesai memeriksa pasien.
Ron terus duduk di samping sang istri dengan gelisah hingga ia tidak dapat tidur semalaman.
Pria itu terus memeriksa dahi sang istri setiap jam dan mengganti kompres dengan telaten.
"A..ayah,"
Ron yang sudah setengah tidur di samping Thrisca, segera membuka mata kembali begitu mendengar suara lirih sang istri.
"Ayah.."
Thrisca nampak tengah mengigau menyebut-nyebut sang ayah.
"A..ayah, kapan ayah pulang?" racau Thrisca.
"Sayang.."
Ron mengusap-usap wajah sang istri mencoba menenangkan wanita yang terbaring lemah disampingnya.
"Ayah, kapan pulang? Aku tidak mau di rumah sendirian.."
Thrisca mengigau semakin parah.
"Sayang, bangun.."
"Aku tidak mau di rumah sendiri,"
Tanpa sadar air mata mulai mengalir melalui sudut mata sang istri.
Wanita itu terus mengoceh dengan mata tertutup dan air mata bercucuran.
"Sayang, bangun!"
Ron mengguncangkan tubuh sang istri pelan untuk menyadarkan wanita itu.
Thrisca tiba-tiba membuka mata dan memijat kepalanya yang pening.
"Apa ini?"
Thrisca mengambil handuk kecil yang masih bertengger di dahinya.
"Sayang, jangan diambil! Biarkan saja disitu,"
"Ada apa denganku?" gumam Thrisca seraya mengusap air mata di wajahnya.
"Kau mengigau,"
"Benarkah? Aku mengigau apa?"
"Kau bermimpi buruk?" tanya Ron sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri yang terbaring disampingnya.
"Minggu depan aku akan mengantarmu mengunjungi ayah,"
"Hm?"
Thrisca menatap sang suami dengan wajah bingung.
"Pekerjaanmu masih banyak, Ron. Nanti saja kalau kau ada waktu senggang,"
"Kau yakin?"
"Kita bisa mengunjungi ayah kapanpun. Kau selesaikan saja dulu pekerjaanmu." ujar Thrisca seraya melempar senyuman tipis pada sang suami.
Ron semakin mengeratkan pelukannya begitu ia mendapatkan senyuman dari sang istri.
"Jangan bermain hujan-hujanan lagi! Jangan bermain air terlalu lama! Jangan minum-minuman dingin terlalu banyak!"
"Ron, kau pikir aku anak kecil?!" protes Thrisca.
"Kau bukan hanya anak kecil! Kau bayiku! Bayi payah yang tidak bisa apa-apa!" ujar Ron seraya memeluk gemas sang istri.
"Ron!"
Thrisca memukul-mukul lengan sang suami yang melingkar erat di tubuhnya.
"Kau sudah merasa baikan? Jangan sakit lagi, gendut! Kau membuatku cemas," ujar Ron dengan wajah murung.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir."
Pasangan suami-istri itu mulai terlelap bersama di ranjang empuk mereka.
Ron akhirnya bisa memejamkan mata dengan tenang setelah melihat keadaan sang istri yang mulai membaik.
***
"Tuan, semua barang ini dibawa naik ke atas?" tanya supir takut-takut.
"Bawa karung ini ke ruanganku sekarang juga!" ujar Ron pada sang supir.
Bos tampan itu masuk ke gedung perusahaan dengan wajah angkuh. Para pegawai yang melihat kedatangan Ron, terus menatap ke arah sang Bos tanpa berkedip.
"Lihat itu! Bos benar-benar sudah sembuh! Bos nampak semakin gagah," komentar pegawai wanita yang melihat Ron memasuki gedung.
Para wanita segera berkerumun untuk melihat kedatangan Ron yang mulai kembali bekerja di perusahaan tanpa menggunakan kursi roda.
"Ternyata benar Bos datang dengan kaki normal! Kupikir orang-orang hanya salah lihat kemarin," sahut pegawai lain.
"Katanya sudah beberapa hari ini Bos datang tanpa kursi roda. Sudah ada artikel berita juga yang menyatakan Bos berhasil menjalankan operasi dan bisa berjalan normal kembali," ungkap pegawai lain.
Para wanita itu semakin asyik berbisik-bisik mengomentari kedatangan sang Bos yang kini bukan lagi seorang pria cacat.
"Cherry, orang itu nampaknya tidak asing.." gumam Nadine seraya memandangi punggung Ron yang sudah menjauh.
"Mungkin kau pernah melihatnya di TV," komentar Cherry cuek.
"Bukan di TV! Sepertinya aku pernah bertemu dengan orang itu,"
"Kau bermimpi? Mana mungkin Bos perusahaan besar bisa ditemui di sembarang tempat?! Kau bahkan harus membuat janji dulu jika ingin melihat wajahnya," cibir Cherry.
Nadine belum menyadari kalau perusahaan yang ia datangi saat ini adalah perusahaan milik suami dari sahabatnya.
"Kau sudah menghubungi Icha?" tanya Cherry membuyarkan lamunan Nadine yang masih menatap Ron dengan intens.
"Hm? Sudah. Icha sudah membalas pesanku. Dia bilang ingin meminta ijin dulu pada suaminya. Sepertinya suami Icha termasuk tipe yang posesif," ujar Nadine.
Sementara sang suami posesif yang tengah dibicarakan Nadine dan Cherry, kini sudah duduk manis di dalam ruangan kerjanya menunggu kedatangan sang asisten.
Tok.. tok.
"Masuk!" ujar Ron dingin.
Han membuka pintu perlahan dan segera berjalan menghampiri sang bos.
"Ada pekerjaan lain, Bos?" tanya Han.
Asisten malang itu melirik ke arah karung yang tersandar di dekat meja kerja sang bos.
"Karung apa ini? Bos gila ini tidak akan memberiku pekerjaan yang aneh-aneh lagi, kan?!" batin Han cemas.
"Berdiri di sana!"
"Hm?"
"Cepat!" bentak Ron seraya menggebrak meja.
Han memundurkan langkahnya dan berdiri di tempat yang Ron minta.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu?" tanya Ron.
"Ada tugas baru?" tanya Han takut-takut.
Ron berdiri dari kursinya dan mengambil benda yang ada di karung besar tak jauh darinya.
"Sandal? Karung itu berisi sandal?" batin Han bingung.
"Kau tahu apa yang kau lakukan kemarin?" tanya Ron sinis.
"Em, itu--"
"Aku memintamu mencari tempat yang bagus untuk istriku!"
Suara Ron mulai meninggi.
"Apa tempatnya bermasalah? Aku sudah mengecek tempatnya setelah pegawai magang itu memberikan alamat restorannya padaku. Tempatnya lumayan bagus," batin Han membela diri.
"Awalnya aku cukup puas dengan tempat yang kau temukan. Istriku nampak senang dan berlarian kesana-kemari dengan girang."
"Lalu?"
"Lalu? Lalu apanya?! Kau memilih tempat outdoor tapi tidak memeriksa ramalan cuaca terlebih dahulu?! Semalam hujan lebat dan istriku demam tinggi gara-gara kau!!"
Ron mulai mengamuk dan melempari Han dengan sekarung sandal yang ia bawa.
"Maaf, Bos!"
Han segera kabur dari lemparan sandal sang bos.
Ron mengejar-ngejar Han dengan geram dan melampiaskan seluruh kekesalannya pada asisten malang itu.
"Aku seharusnya tidak menyuruhmu, dasar asisten bodoh!" amuk Ron makin menjadi.
Seluruh lantai ruangan bos itu kini sudah dipenuhi dengan sandal yang berserakan.
"Ini semua salah pegawai magang itu!" gerutu Han dalam hati menyalahkan Nadine.
***
Bersambung..