DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 154



"Duduklah. Silahkan kalau ada hal yang ingin kau bicarakan dengan Ron." sambut Thrisca.


"Sayang, tidak ada hal yang ingin kubicarakan dengannya. Aku tidak ada urusan dengannya.."


Ron mengejar Thrisca yang sudah berlalu menuju kamar.


"Temanilah istri keduamu mengobrol," sindir Thrisca.


"Istri kedua apanya? Aku tidak--"


"Temuilah istrimu. Kau merasa tidak leluasa karena ada aku di sini? Kau lebih suka menemui istrimu di luar sana?" sindir Thrisca mengingat kembali Ron yang pergi larut malam hingga berbohong padanya demi menemui Katrina.


"Kalau benar Ron tidak pernah mendaftarkan pernikahan dengan Katrina, kenapa dia nampak menjiwai sekali seolah dia benar-benar menjadi suami gadis itu?" batin Thrisca kesal mengingat pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu.


"Sana urus saja istrimu!"


Thrisca mengeluarkan Ron dari kamar dan membanting pintu dengan kencang.


"Wanita sial itu untuk apa datang kemari?!" gumam Ron pelan seraya beranjak menghampiri Katrina yang masih duduk di ruang tamu.


Thrisca yang menempelkan telinga di pintu, segera membuka pintu kamar setelah ia yakin Ron sudah tidak ada lagi di luar kamar.


Wanita itu berjalan mengendap-endap menuju ruang tamu dan bersembunyi di balik tembok untuk mendengarkan percakapan Ron dan Katrina.


"Apa besok sebaiknya aku membeli peralatan detektif?" gumam Thrisca seraya mengamati Ron dan Katrina dari tempat persembunyiannya.


"Ron.. tolong jangan kecewakan aku. Di depanku dan semua orang, kau bersikap seolah menolak gadis itu. Namun, di belakangku.. bagaimana sikapmu yang sebenarnya pada gadis itu? Kau juga akan melakukan hal yang sama, kan?" gumam Thrisca agak gugup melihat Ron dan Katrina yang berbincang bersama.


***


"Berhentilah berulah sebelum aku melenyapkanmu!" ancam Ron pada Katrina.


"Aku hanya mengunjungi rumahmu, rumah suamiku! Kenapa kau bertingkah berlebihan seperti ini?"


"Aku sudah memberikan rumah untukmu! Apa itu belum cukup?" sergah Ron.


"Ron benar-benar belum tahu mengenai kebohonganku dan Tuan Hasan? Ini kesempatan bagus untuk menempel pada Ron lebih lama. Kalau perlu, selamanya tidak akan kuberi tahu. Lebih baik aku mendaftarkan pernikahan betulan saja." batin Katrina antusias.


"Boleh aku di sini untuk sementara waktu? Aku baru saja keluar dari rumah sakit." pinta Katrina dengan wajah memelas.


"Ck, menyebalkan!"


Ron berdiri dan menendang pot bunga di ruang tamunya hingga hancur berantakan.


Thrisca hampir saja berteriak karena terkejut melihat Ron yang mengamuk dan hampir menghancurkan ruang tamu.


Meskipun dari luar, Ron nampak dingin. Namun pria itu tetap pria yang penuh dengan belas kasih mengingat wanita yang ada di hadapannya itu tengah dilanda musibah.


"Minta ijin pada istriku sana! Ini bukan rumahku. Ini rumah istriku! Kau hanya boleh tinggal di sini selama satu malam jika istriku mengijinkan!" pungkas Ron.


"Apa? Ron bilang ini rumahku?" gumam Thrisca penuh haru.


Wanita itu langsung kocar-kacir berlari dari balik tembok sebelum Ron menyadari keberadaannya.


"Ron masih saja bersikap kasar pada orang luar. Tapi ini masih di area rumah. Siapa yang tahu kalau Ron masih berakting? Bisa saja Ron sengaja memperlihatkan hubungan buruknya dengan Katrina hanya untuk mengelabuhiku.." batin Thrisca semakin mengada-ada.


"Sekarang sudah tidak ada kakek. Tidak ada lagi orang yang bisa mengatur dan memerintah Ron. Ron tidak akan bertingkah, kan?" batin Thrisca kacau.


"Sayang.." panggil Ron begitu pria itu melihat sang istri yang tengah melamun di meja makan.


"Sayang.." panggil Ron lagi.


"Apa telinga ini hanya panjangan?!" omel Ron seraya menjewer telinga sang istri.


"K-kenapa, Ron?"


"Apa yang kau lamunkan?"


"Aku.. aku tidak melamun."


"Untuk beberapa hari ke depan aku akan ada banyak pekerjaan. Kalau aku kembali bekerja di kantor, tidak apa-apa, kan?" ijin Ron.


"Tentu saja, Sayang. Kembalilah ke kantor."


"Aku janji, aku akan lembur di rumah sambil menjagamu. Aku akan pulang tepat waktu setiap hari."


"Tidak apa-apa, Ron. Sekarang kau harus menyelesaikan pekerjaan tanpa kakek. Kau urus saja pekerjaanmu dengan baik. Tidak perlu mencemaskan aku," ujar Thrisca.


Ron mendudukkan sang istri dalam pangkuannya seraya mendekap erat wanita hamil itu.


"Maaf, Sayang. Untuk beberapa hari ke depan, sepertinya daddy akan sangat sibuk. Tapi, daddy akan selalu berusaha meluangkan waktu untuk kalian." ujar Ron seraya mengusap lembut perut sang istri.


Katrina yang tidak sengaja melihat kemesraan Ron dan Thrisca dari jauh, tidak bisa menyembunyikan wajah irinya pada kebahagiaan Thrisca.


"Padahal aku nona muda.. aku lebih cantik dan aku memiliki uang. Tapi kenapa dia bisa hidup lebih bahagia dariku?" gumam Katrina penuh iri dengki menatap Thrisca.


***


"Kenapa kau mengijinkan Katrina tinggal?" gerutu Ron seraya bersiap mengenakan jas dan kemejanya.


"Ayah wanita itu baru saja meninggal, kan? Dan dia dikejar-kejar keluarganya sendiri demi harta. Dia bahkan juga dirawat di rumah sakit seorang diri, kan? Apa kau tidak kasihan padanya, Ron? Aku juga sebatang kara, jadi aku cukup tahu bagaimana perasaannya sekarang." terang Thrisca.


"Kenapa dia tidak boleh tinggal di sini? Kau lebih suka dia tinggal di luar sana, jadi kau bisa leluasa menghampirinya di tengah malam?" sindir Thrisca.


"Maaf, Sayang. Aku hanya kasihan padanya. Dia hanya minta ditemani sebentar saja. Aku tidak melakukan apapun dengan--"


"Sudahlah! Nanti kau terlambat," potong Thrisca menghentikan pembicaraan mereka.


"Aku akan pulang secepatnya setelah rapat selesai." ujar Ron seraya mengecup kening sang istri.


Katrina yang juga berdiri tak jauh dari pintu, hanya bisa mendengus kesal melihat pasangan suami-istri di hadapannya saling bermesraan.


"Hei, jangan macam-macam pada istriku selama aku tidak ada!" tutur Ron pada Katrina.


"Cih, aku punya banyak kegiatan lain yang lebih penting daripada mengganggu istrimu!" tukas Katrina.


"Kau pasti bisa, Ron. Semangat, Sayang."


Thrisca mengecup bibir Ron sekilas, kemudian melirik ke arah Katrina.


"Sial, wanita itu mengejekku?!" batin Katrina geram.


"Kenapa hanya sebentar sekali?" protes Ron seraya meraih tengkuk Thrisca dan memagut lama bibir merah istrinya itu sebagai balasan.


Katrina berdecak kesal sembari berlalu meninggalkan pasangan suami-istri yang masih sibuk melakukan ciuman perpisahan.


"Sudah, Ron. Kau harus berangkat sekarang,"


Thrisca melambaikan tangan dengan antusias begitu mobil Ron melaju meninggalkan pekarangan rumah.


Wanita hamil itu masuk ke dalam rumah dan melihat Katrina tengah duduk bersantai membaca majalah tanpa menghiraukan Thrisca.


"Kau mau teh?" tawar Thrisca ramah.


"Tidak, terima kasih." jawab Katrina angkuh.


"Kudengar kau baru saja keluar dari rumah sakit? Apa sakitmu parah?"


"Cukup parah dan tidak ada satupun orang yang datang menjenguk, termasuk suamiku." ujar Katrina sarkas.


"Suami? Kakek bilang Katrina tahu mengenai pernikahan bohongan ini. Kenapa dia menganggap seolah Ron benar-benar suaminya?" batin Thrisca bingung.


"S-suami?"


"Apa aku perlu memperkenalkan diri secara formal padamu? Namaku Katrina dan suamiku bernama Ron. Apa itu cukup sebagai perkenalan?"


"Dasar Nona Muda! Dia sama menyebalkannya seperti Ron!" gerutu Thrisca dalam hati.


"Icha.."


Perbincangan kedua wanita itu pun terhenti saat Nyonya Daisy datang mengunjungi sang menantu.


"Ibu.." sapa Thrisca seraya memeluk ibu mertuanya.


"Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah keluar dari rumah sakit? Ibu sudah bilang, ibu akan menjemputmu." omel Nyonya Daisy.


"Ron tidak mengijinkanku pergi, Bu."


"Biarkan saja pria beristri dua itu! Kau harus membuatnya jera, ibu--"


"Ehem.."


Katrina menyela pembicaraan Nyonya Daisy dan ikut menyapa ibu dari Ron itu.


"Jadi ini ibunya Ron?" batin Katrina.


Nyonya Daisy melirik ke arah Katrina dengan tatapan bingung.


"Siapa ini, Sayang?" tanya Nyonya Daisy.


"Ini--"


Belum sempat Thrisca berbicara, Katrina sudah menyela terlebih dahulu.


"Aku istrinya Ron, Bu." ujar Katrina ramah.


Thrisca menyipitkan kedua matanya dan menatap Katrina dengan pandangan tidak suka.


"Berani sekali dia memperkenalkan diri sebagai istri Ron?!" batin Thrisca kesal.


"Oh, jadi ini nona muda itu?" ujar Nyonya Daisy datar.


"Ayo, Sayang. Kita ke kamar saja. Teman ibu menghubungi ibu dan memberitahu kalau sedang ada banyak model gaun untuk ibu hamil yang terbaru.." ujar Nyonya Daisy antusias tanpa mempedulikan Katrina.


"Cih, wanita biasa itu juga berhasil mendapat perhatian dari ibu Ron?!" gumam Katrina semakin iri pada Thrisca.


***


Bersambung...