DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 101



"Selamat ulang tahun yang kedua puluh tiga, istriku.."


Ron memberikan kotak kecil pada sang istri yang berisikan hadiah ulang tahun untuk istri tercintanya itu.


"Apa ini, Ron?"


Thrisca membuka kotak itu dan mendapati selembar kertas foto kecil yang menampakkan pemandangan sebuah pulau.


"Ini hadiahmu.."


"Kau hanya memberiku selembar kertas foto ini?!" tanya Thrisca bingung.


"Dasar bodoh! Lihat lagi ke dalam fotonya!" omel Ron seraya menoyor pelan kepala sang istri.


Thrisca mengamati dengan seksama kertas itu. Dari foto tersebut, terlihat gambar pulau yang dipotret dari ketinggian. Nampak pohon-pohon besar berbaris rapi di tengah pulau dan membentuk sebuah tulisan.


Thrisca membelalakkan mata saat membaca tulisan yang tersusun dari pohon tersebut. Terbentuk kata "Ichaku" dari barisan pohon yang memenuhi pulau kecil itu.


"Ron, ini namaku? Bagaimana kau menyusun pohon-pohon ini hingga membentuk namaku?" tanya Thrisca penuh haru.


"Pulau ini sudah menjadi milikmu. Aku menamakan pulau ini dengan namamu.."


"K-kau memberiku hadiah pulau?"


"Memang terlihat biasa. Lain kali aku akan membelikan planet untukmu,"


Ron mengecup kening istrinya lembut.


"Pulau ini terlihat indah.."


"Kau bisa membuat sendiri pulau impianmu.."


"Pulau impian apanya?"


Thrisca memeluk erat sang suami dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang ingin kau lakukan hari ini? Aku akan menemanimu seharian dan memenuhi semua keinginanmu.."


"Ron, berhentilah membuatku terharu,"


Thrisca mengalungkan tangannya ke leher sang suami semakin erat.


"Maaf aku tidak menyiapkan banyak hadiah untukmu," sesal Thrisca.


"Kau sudah memberiku hadiah yang bagus,"


"Aku juga akan menemanimu bersenang-senang seharian. Kau mau apa, Ron? Aku akan menuruti semua keinginanmu hari ini," tawar Thrisca.


"Ingin apa? Memangnya kau bisa memberiku apa?" ujar Ron meremehkan.


"Aku memang tidak memiliki uang sepertimu!" balas Thrisca kesal seraya memukul lengan kekar suaminya.


Wanita itu beranjak dari ranjang dan mengambil kue buatan sendiri yang sudah ia siapkan untuk pria yang tengah berulang tahun hari.


"Make a wish.." ujar Thrisca sembari menghidupkan lilin di atas kue coklat hasil eksperimennya itu.


"Aku harap.. hidupmu akan selalu penuh dengan hadiah setiap hari," ucap Ron seraya melempar senyum manis pada sang istri.


"Ron, buat permintaan untuk dirimu sendiri!"


"Permintaan apa? Aku sudah mendapatkan segalanya. Aku sudah mendapatkanmu," tukas Ron.


"Sekarang giliranmu,"


Kali ini Ron mengambil kue yang sudah ia siapkan disertai lilin-lilin.


"Make a wish, honey.." imbuh Ron.


"Aku ingin setiap hari bisa melihatmu.."


Thrisca memandangi suaminya dengan mata cantiknya tanpa berkedip.


Ron tidak bisa menyembunyikan pipi merahnya saat ia mendengar perkataan sang istri yang ingin selalu bisa melihatnya setiap hari.


Thrisca menyingkirkan kue dari tangan Ron dan mendekat ke arah pria tampan itu. Wanita hamil itu melayangkan kecupan liar ke bibir lembut sang suami dengan penuh gairah.


Mendapat hadiah kecupan dari Thrisca, Ron pun ikut membalas lumatann bibir dari sang istri. Pria itu menyesap dan menyelam makin dalam ke dalam bibir istri tercintanya. Kecupan mereka mulai berubah menjadi pagutan dan cumbuan panjang yang menyesakkan nafas.


"Kau ingin memberiku hadiah tambahan malam ini?" goda Ron pada Thrisca.


"Kau ingin mencoba gaya baru?" balas Thrisca dengan senyum menggoda


"Sayang, aku tidak sedang bercanda!"


Ron memalingkan wajah dan berusaha menahan hasratnya untuk tidak menyentuh sang istri.


"Aku tidak sedang bercanda.."


Jemari Thrisca merayap ke tubuh bagian bawah Ron dan menyambangi tongkat panjang sang suami yang mulai menegang.


"Astaga! Apa yang dilakukan wanita hamil ini?!!" jerit Ron dalam hati.


"Sayang, kalau kau tidak sedang hamil, aku mungkin sudah membuatmu pingsan!" ujar Ron seraya mengeluarkan tangan sang istri dari dalam celananya.


"Kau yakin tidak mau?"


Thrisca masih menggoda sang suami dengan meraih tangan berkulit putih itu dan memasukkannya ke dalam rok tipis yang ia kenakan.


Jemari Ron mulai menyentuh bibir goa surga sang istri dan memainkan jari-jari panjangnya masuk ke dalam lubang candu yang sudah berhari-hari tidak ia sambangi.


Thrisca duduk di pangkuan suaminya dan mulai menggeliat geli saat jari-jari Ron bermain di **** *************.


"Lihat, tubuhmu tidak bisa menolak.." ejek Thrisca.


"Kau ini benar-benar!!"


Ron menyambar bibir sang istri dengan hasrat menggebu. Pria itu menarik gaun tidur tipis sang istri dengan perlahan dan memperlihatkan bahu mulus Thrisca yang tidak tertutup sehelai kain.


Bibir Ron beralih pada leher putih jenjang sang istri yang nampak menggiurkan. Aroma wangi tubuh wanita hamil itu semakin mengacaukan pikiran Ron yang ingin segera menyambangi lembah surga yang sudah ia rindukan.


Suara desahann Thrisca semakin menambah panas malam yang mulai membuat berkeringat itu.


"Sa-sayang.."


Thrisca mulai meringis menerima sentuhan dan remasann kasar tangan sang suami yang sibuk memainkan tubuh moleknya.


Sementara jari tangan Ron berkelana, menjamah dan menerobos masuk ke dalam gua sempit yang pernah dijebol oleh tongkat miliknya.


Tak hanya jemarinya, kini bibirnya ikut menyambangi gua sang istri yang sudah terekspos tanpa tertutup kain.


"Sayang, aku boleh, kan?"


Ron nampak sudah tidak sabar untuk menancapkan bendera di lembah candunya.


Thrisca hanya mengangguk tanpa bersuara. Tubuhnya sudah memanas dan banjir keringat karena sang suami.


Ron melancarkan acara puncak malam panasnya dengan segera memasukkan tongkatnya ke dalam gua nikmat milik istri cantiknya.


Suara desahann dan lenguhan panjang membuat Ron tambah menikmati ritual bercinta dengan istri hamilnya itu. Ron makin terbius dengan wajah cantik sang istri yang sudah berpeluh deras.


"Makin hari kau terlihat semakin cantik," puji Ron seraya mendaratkan ciuman di bibir seksi istrinya.


"Bagaimana hadiah dariku? Apa ini sepadan dengan pulau yang kau berikan padaku?" tanya Thrisca dengan suara parau nan seksi yang semakin mengguncang otak sang suami.


"Ini hadiah ulang tahun terbaik yang pernah kudapatkan.."


Pria itu kembali mencumbu istri hamilnya hingga ia puas.


***


"Han!"


Genta yang sudah berada di kantor pagi-pagi, menyambangi ruangan Han dan berbincang dengan asisten sepupunya itu.


"Kenapa, Gen? Ada pekerjaan baru?" tanya Han agak cemas.


"Bukan. Tidak perlu khawatir. Ron tidak menitipkan tugas tambahan untukmu,"


"Lalu?"


"Hari ini Ron mengambil libur seharian penuh. Nanti malam tolong bantu aku menyiapkan pesta kecil untuk Ron dan Thrisca."


"Pesta ulang tahun bos?"


"Hanya acara kecil untuk keluarga. Ron sebenarnya ingin mengadakan pesta mewah untuk Thrisca, tapi Ron belum mempublikasikan wajah Thrisca yang sebenarnya. Jadi, Ron tidak bisa mengadakan acara besar."


"Jadi, dimana acaranya akan diadakan?"


"Di rumah Ron. Acaranya nanti malam. Cepat persiapkan semuanya sebelum Ron dan Thrisca kembali.." perintah Genta.


"Bos pergi keluar bersama Nona?"


"Tentu saja, bodoh! Tolong jemput Bibi Daisy dan Neneknya Ron di bandara nanti,"


"Nyonya Aswinda akan datang?"


"Aku hanya diberi pesan Bibi Daisy untuk mengatur jemputan neneknya Ron. Sepertinya nenek tua itu benar-benar akan pensiun dalam waktu dekat," ungkap Genta.


"Kau yakin? Pekerjaanku tidak akan bertambah banyak dengan datangnya Nyonya Besar?" tanya Han dengan wajah muram.


"Kau sudah terbiasa menjadi kacung bos bermulut pedas seperti Ron. Apa susahnya tambah mengurus satu nenek-nenek?!"


"Nyonya Besar bukan nenek-nenek biasa.." lirih Han dengan wajah frustasi.


"Beberapa minggu lagi aku mungkin akan pulang. Kau harus mengurus semua pekerjaan sendiri," ujar Genta.


"Pulang?"


"Ibuku menjodohkanku.." terang Genta dengan wajah memelas.


"Menjodohkan?! Apa kau sudah tidak laku?" ledek Han.


Tok..tok..


Suara ketukan pintu menghentikan sejenak obrolan dua pria dewasa yang tengah berbincang santai itu.


Nadine masuk ke ruangan Han seraya membawa setumpuk berkas untuk diserahkan pada asisten bos itu.


"Ada apa?" tanya Han datar.


"Ada Genta di sini?!!" jerit Nadine kegirangan dalam hati.


"Ini, Pak. Update laporan dari semua departemen sudah saya kumpulkan."


"Letakkan saja di situ," ujar Han tanpa melirik sedikitpun ke arah Nadine.


"Hei, kau yang kemarin, kan?" sapa Genta.


"Dia menyapaku?!!" teriak Nadine dalam hati.


"I-iya, Pak. Selamat pagi, Pak Gen." sapa Nadine ramah.


"Apa kau ada banyak pekerjaan hari ini? Tolong bantu Han menyiapkan pesta kecil untuk Ron dan Thrisca." pinta Genta.


"T-tentu, Pak. Saya akan membantu dengan senang hati," jawab Nadine bersemangat.


"Gen, daripada kau mengkhawatirkan pesta kecil bos, lebih baik kau urus saja perjodohanmu itu! Ibumu tidak akan memilihkan perawan tua untukmu, kan?" ledek Han pada Genta.


"Perawan tua apanya? Mantan kekasihku kebanyakan model terkenal! Kalau aku mau, aku juga bisa mendapatkan bintang film untuk kujadikan istri!" sanggah Genta.


"Mereka sedang membicarakan apa? Genta akan dijodohkan? Maksudnya, Genta sudah memiliki calon istri?!" batin Nadine kecewa.


"Kenapa kau masih di sini?!" tanya Han dengan tatapan dingin ke arah Nadine.


"M-maaf, Pak. Saya permisi," pamit Nadine.


"Teman Thrisca, jangan lupa sebelum jam sepuluh kau harus segera pergi ke rumah Ron!" ujar Genta pada Nadine sebelum Nadine keluar ruangan.


"Baik, Pak."


Nadine keluar dari ruangan Han dengan wajah murung. Baru saja hatinya berbunga-bunga karena Genta, namun dengan cepatnya bunga di hatinya layu dan rusak seketika.


"Aku bahkan belum memulai apapun, tapi aku sudah kalah.." gumam Nadine kecewa.


***


Bersambung...