DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 70



Batu, kertas, gunting!


"Aku menang!"


Ron melompat girang seraya memamerkan kepalan batu di tangannya pada sang istri.


"Ini baru satu kali! Masih ada dua kesempatan lagi!" cibir Thrisca.


Ron dan Thrisca kembali bersiap untuk melakukan permainan batu, kertas, gunting sebelum mereka beranjak ke kediaman Tuan Hasan.


"Ron, apa kita perlu melakukan ini?" rengek Thrisca.


"Sudah kubilang, jika kau menang aku akan menemanimu ke tempat kakek tua itu. Tapi jika aku yang menang, aku tidak akan kesana! Kau juga tidak boleh kesana! Kau juga harus menggendongku sampai ke dapur dan membuatkan teh untukku!"


"Menggendong apanya? Kau tidak lihat perbedaan ukuran tubuh kita? Kau terlalu besar untukku, Ron!" protes Thrisca.


"Ikuti saja apa kataku! Aku akan membawamu ke rumah kakek kalau kau menang. Tapi hanya sebentar! Kau tidak boleh berbicara banyak pada tua bangka itu! Jika perlu, aku akan membawamu kabur dari sini kalau pria tua itu masih mengusikmu! Kita bisa pergi mencari tempat baru yang jauh dari kakek tua itu," ujar Ron dengan usulan-usulan gila.


"Aku tidak akan membiarkan pria tua itu membawamu pergi jauh dariku,"


Ron memeluk sang istri dengan manja.


"Ron, kakek mungkin hanya ingin berbincang saja dengan kita. Tidak perlu berpikir yang aneh-aneh,"


"Berhenti mengoceh dan menangkan saja permainannya jika kau sangat ingin menyapa kakek tua itu!" cibir Ron.


Thrisca dan Ron kembali memainkan batu, kertas, gunting.


Kali ini kemenangan berpihak pada Thrisca. Wanita itu berteriak girang di depan Ron saat mengetahui dirinya menang dalam bermain batu, kertas, gunting dengan sang suami.


"Masih ada kesempatan terakhir! Ini penentuannya!" protes Ron tidak terima dengan perayaan kemenangan sang istri.


"Baik!"


Pasangan suami-istri itu nampak berkonsentrasi walaupun mereka hanya memainkan permainan kecil.


Ron semakin gelisah memikirkan apa yang akan dilakukan sang kakek padanya jika ia dan istrinya datang berkunjung ke kediaman beliau.


"Batu, kertas, gunting!"


Thrisca menatap tangannya dengan wajah suram. Kali ini kemenangan kembali berpihak pada sang suami dengan mengeluarkan gunting, sementara wanita itu memunculkan kertas.


"Lihat! Aku yang menang!"


Ron memeluk Thrisca dengan girang seraya mencubiti pipi wanitanya itu.


"Ron.." rengek Thrisca seraya menarik baju sang suami.


"Aku sudah memberimu kesempatan, tapi kau sendiri yang membuangnya! Salahkan dirimu sendiri yang tidak pandai bermain batu, kertas, gunting!"


"Aku hanya tidak enak saja jika aku tidak datang memenuhi undangan kakek. Itu sangat tidak sopan, Ron.."


"Tidak perlu dipikirkan! Sekarang gendong aku!"


Ron bergelayutan di punggung sang istri dengan antusias.


"Ron, aku akan terjungkal! Kau tidak kasihan padaku," ujar Thrisca dengan wajah memelas.


"Bukankah kau sedang menyukai olahraga?! Kau bahkan lebih memilih pergi berolahraga dengan Gen daripada mengajakku, kan?! Sekarang aku akan menemanimu berolahraga!" omel Ron dengan wajah cemberut saat mengingat sang istri yang pergi jogging bersama Genta tanpa mengajaknya.


"Ron, kau sangat be..rat!"


Thrisca mengeluarkan seluruh tenaganya untuk merayap menuju dapur dengan sang suami yang sudah bertengger di punggungnya.


"Gendut, kau kuat sekali!" ejek Ron saat melihat wanita itu mulai bergerak seperti keong yang keberatan cangkang.


"Dasar pria jahat! Beraninya mengerjaiku!" omel Thrisca dalam hati.


Baru beberapa langkah berjalan saja, kaki Thrisca sudah mulai kesemutan dan keseimbangannya mulai goyah.


Wanita itu siap terjun bebas mencium lantai saat kakinya tak sanggup lagi menahan beban berat di punggungnya.


Akhh!!


Thrisca menutup mata rapat-rapat tanpa berani menyambut lantai keras yang siap menjadi tempat tubuhnya mendarat.


"Kenapa tidak terjadi apa-apa?" batin Thrisca keheranan seraya membuka mata perlahan.


Saat membuka mata, wajah Ron sudah berada tepat di depan batang hidungnya. Pria itu memeluk sang istri dengan erat dan melindungi kepala Thrisca dengan tangannya.


Genta yang mendengar suara jeritan Thrisca, segera berlari dengan panik menghampiri wanita itu.


Sorot mata Genta berubah suram saat ia mendapati wanita pujaan hatinya sudah terlentang di lantai dengan sang suami yang terbaring menimpa tubuh wanita itu.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Genta.


Thrisca mendongakkan kepala ke arah Genta dan segera mendorong Ron menjauh dari tubuhnya.


"Mas Gen, aku tidak apa-apa.."


Thrisca merapikan rambutnya dan segera bangkit dari lantai.


"Gendut, bantu aku!"


Ron mengulurkan tangan panjangnya dan meminta bantuan sang istri untuk menarik tubuhnya dari lantai.


"Ron, lain kali periksa dulu ukuran badanmu sebelum meminta hal yang aneh-aneh padaku!" omel Thrisca seraya menarik tangan sang suami sekuat tenaga.


"Untuk apa aku memeriksanya lagi, kau sudah tahu jelas bagaimana ukurannya, kan?" goda Ron dengan bahasa ambigu.


"Ron, jangan mengalihkan pembicaraan!"


Thrisca mencubiti lengan sang suami dengan geram.


"Thrisca terlihat bahagia sekali bersama Ron.." gumam Genta dengan wajah murung.


"Dari semua orang, kenapa aku harus menyukai wanita yang sudah bersuami?!" rengek pria malang itu dalam hati.


***


Ron keluar dari mobil dengan wajah masam begitu pasangan suami-istri itu tiba di sebuah bangunan mewah.


Akhirnya, Ron menyetujui permintaan sang istri asalkan wanita itu memberikan pelayanan memuaskan setelah mereka pulang dari kediaman kakek Ron.


Thrisca menggandeng tangan sang suami dengan senyum mengembang saat mulai memasuki pintu istana Tuan Hasan.


"Icha, kau berhasil membawa Ron kemari?" sambut Tuan Hasan dengan girang.


"Kakek sudah mengundangku, tentu saja aku dan Ron harus datang berkunjung."


"Kenapa wajahmu seperti itu? Pulang saja sana jika kau tidak suka berada di sini!" usir pria tua pemilik rumah itu pada sang cucu yang masih menampakkan wajah cemberut.


"Aku juga tidak akan menginjakkan kaki di sini jika bukan istriku yang mengajak!" tukas Ron sinis.


"Kemari, Icha.."


Tuan Hasan melambaikan tangan Thrisca untuk duduk dekat dengannya.


"Apa yang akan kau lakukan pada istriku?! Sudah kubilang, jangan ikut campur urusanku!"


Ron memeluk pinggang Thrisca dengan erat dan menarik badan mungil itu menjauh dari tempat duduk sang kakek.


"Ron, jangan seperti itu! Tidak sopan!" tegur Thrisca seraya menepuk pelan punggung tangan sang suami.


"Biarkan Icha duduk disini, Ron! Jangan membuatku naik darah, atau aku akan membuatmu tidak bisa melihat istrimu lagi sampai kapanpun!"


Tuan Hasan mulai jengkel dengan sikap sang cucu yang terlalu waspada kepadanya.


"Ron, hanya duduk saja. Ayo!"


Thrisca memeluk lengan suaminya dan menyeret pria berbadan tinggi itu untuk mendekati tempat duduk Tuan Hasan.


"Kemarilah, Icha!"


Tuan Hasan menepuk kursi disampingnya yang berada tepat berseberangan dengan tempat duduk pasangan suami-istri itu.


"Biarkan istriku duduk di sini!" cegah Ron seraya menggenggam erat tangan sang istri.


"Sudahlah, Ron. Ikuti saja kemauan kakek," bisik Thrisca pada suaminya.


Wanita itu melepas tangan Ron darinya seraya mengusap wajah sang suami dengan lembut.


Thrisca duduk tepat di sebelah Tuan Hasan, berseberangan dengan suaminya.


"Ada hal yang ingin kakek bahas bersama kalian. Sebelumnya, boleh kakek tahu bagaimana sebenarnya hubungan kalian yang sekarang? Kakek sudah menanyakan hal ini secara terpisah dari kalian. Sekarang kakek ingin mendengar jawaban kalian bersama," ujar Tuan Hasan membuka perbincangan.


"Seperti yang kau lihat, kami sangat harmonis!" ucap Ron penuh percaya diri.


"Kakek, tidak ada lagi kebohongan yang kami sembunyikan. Aku dan Ron bersama karena keinginan kami. Tolong restui kami," pinta Thrisca.


Ron memandangi sang istri lekat-lekat dengan wajah penuh haru pada wanita kesayangannya itu.


"Kau dengar itu, kakek tua?! Icha benar-benar bahagia bersamaku." ujar Ron mulai bersemangat.


"Jadi pernikahan ini bukan sekedar perjodohan karena keegoisanku? Kalian tidak menyesal dengan pernikahan ini?" tanya Tuan Hasan.


"Kami akan memulai lagi dari awal, Kek." kata Thrisca.


"Tapi sebelum itu, bolehkah aku mengatakan sesuatu?"


Thrisca tidak ingin menutupi kekurangannya hanya demi mendapat restu dari keluarga sang suami.


Wanita itu sudah bertekad tidak akan menutupi apapun lagi dari orang-orang yang sudah merawatnya dengan baik.


"Apa?"


"Sebenarnya aku dan Ron baru saja melakukan pemeriksaan kesehatan--"


Thrisca mulai bercerita.


"Hentikan! Tidak perlu mengatakan apapun pada kakek tua itu!" potong Ron cepat.


"Aku memiliki sedikit masalah--"


"Sudah kubilang hentikan!" Ron berdiri dan menggebrak meja hingga membuat Thrisca terkejut.


"Apa yang kau lakukan, bocah gila?!" bentak Tuan Hasan pada sang cucu.


"Ron, aku hanya ingin meminta restu kakek. Bisakah kau diam?!" protes Thrisca.


"Untuk apa kau mengatakan hal tidak berguna?! Suamimu di sini adalah aku! Aku tidak mempermasalahkan apapun, jadi kau tidak perlu meminta pendapat orang luar!" omel Ron mulai kesal.


"Kakek, aku memiliki masalah pada kesuburan. Apa kakek masih akan mendukung pernikahanku dengan Ron?" ujar Thrisca dengan mata tertutup.


"Dasar wanita keras kepala!!" gerutu Ron dalam hati.


"Hm? Masalah?"


Tuan Hasan menoleh ke arah Ron dengan mata membulat lebar.


"Icha adalah istriku! Aku yang berhak memutuskan bagaimana nasib pernikahan kami! Kau tidak berhak mengusir istriku hanya karena masalah kecil seperti ini!" tukas Ron sinis.


"Aku tidak mengatakan apapun. Kenapa reaksimu berlebihan sekali?!" ejek Tuan Hasan pada sang cucu.


"Sudah, kalian kembalilah duduk! Aku hanya ingin mengajak kalian berbincang, kenapa kalian malah membuat kehebohan seperti ini?" ujar Tuan Hasan seraya tertawa kecil.


"Ron, kau ingin mempertahankan istrimu, kan? Kalian bilang ingin memulai dari awal? Kalau begitu mulailah dengan melamar istrimu secara benar." perintah Tuan Hasan.


"Melamar apa? Icha sudah menjadi istriku!"


"Sial! Aku memang sudah merencanakan kejutan lamaran untuk Icha! Kenapa Pak Tua ini selalu saja ikut campur?!" gerutu Ron dalam hati.


"Acara pernikahan kalian dulu tidak mengundang sukacita dalam diri kalian, kan?" tanya Tuan Hasan.


"Maksud kakek, kakek ingin membuat acara pernikahan lagi untuk kami?" tanya Thrisca penuh hati-hati.


"Tentu saja. Pesta pernikahan yang membahagiakan adalah impian semua wanita, kan? Kakek akan membuat acara yang sebenarnya untuk kalian. Ron juga sudah muncul tanpa kursi roda. Jadi, Icha tolong tunjukkan dirimu yang sebenarnya.."


***


Bersambung...