DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 33



Thrisca berlarian kesana kemari di atas pasir pantai yang terpanggang panas matahari. Gadis itu berlari kecil masuk ke air dan membasahi telapak kakinya dengan air asin yang baru pertama kali ia lihat itu.


Beberapa pengunjung pantai menatap ke arah Thrisca dengan pandangan bak melihat manusia goa yang baru pertama kali melihat air.


Sementara Genta, sebagai pemandu wisata justru pria itu berdiri di sudut pantai yang sepi dan menutupi wajahnya seolah ia tidak mengenali gadis kampung yang baru keluar kandang itu.


"Aku menyesal sudah mengajak gadis norak itu kesini.." gumam Genta lirih.


Setelah puas berlarian, Thrisca menghampiri Genta yang masih mematung di pinggir pantai. Pria itu segera memakai topi serta kacamata hitam untuk menutupi wajahnya saat Thrisca mulai berjalan mendekat.


"Ayo kita pulang. Aku sudah puas melihat air," ajak Thrisca.


"Pulang?! Ini baru lima menit sejak kita sampai disini dan kau sudah mengajak pulang? Kau pikir aku berkendara berjam-jam hanya untuk singgah selama lima belas menit disini?!" omel Genta tak habis pikir dengan gadis bertubuh gempal itu.


"Aku tahu aku hanya akan membuatmu malu jika kita berada disini lebih lama. Pantai hanyalah tempat untuk wanita langsing. Badan penuh lemak sepertiku tidak cocok dengan tempat ini," ujar Thrisca dengan senyum kecut.


Genta segera melepas topi dan kacamatanya setelah mendengar perkataan Thrisca yang kembali mengucapkan kata-kata menyedihkan.


"Sudahlah gendut! Berhentilah membuat drama! Biasanya kau tidak tersinggung dengan ejekanku. Sejak kapan kau menjadi tidak asyik seperti ini?!" protes Genta.


"Ejekanmu terlalu menyakitkan, wajar saja kalau aku tersinggung! Gadis mana yang akan terima jika terus diejek mengenai penampilannya?!" omel Thrisca.


"Baiklah! Aku salah! Jangan rusak liburan kita hari ini! Kunjungan pertamamu ke pantai harus kita rayakan dengan bersenang-senang. Ayo, gendut! Aku akan mengambil foto yang banyak untukmu,"


Genta menarik tangan Thrisca kembali menuju ke tengah pantai.


Pria itu nampak terkejut saat menarik tubuh istri dari sepupunya itu. Thrisca nampak tidak seberat yang ia duga dan tangan gadis itu juga sangat lembut.


"Tangan si gendut halus sekali. Tubuhnya juga tidak berat," batin Genta.


"Gendut, berposelah disitu! Aku akan memotretmu,"


Genta mengeluarkan kamera dari tas kecilnya.


Thrisca berdiri dengan kaku tanpa tahu bagaimana ia harus menunjukkan 'pose' yang dimaksud oleh Genta.


"Mas Gen, bagaimana kalau berfotonya di sisi pantai yang agak sepi? Disini terlalu ramai orang," ujar Thrisca seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling pantai. Gadis itu nampak tidak nyaman menjadi pusat perhatian di tengah kerumunan.


"Lihat! Pria itu tampan sekali. Tapi coba lihat wanita yang berdiri disampingnya!"


Beberapa pengunjung pantai berbisik-bisik seraya memperhatikan Genta serta Thrisca.


Tidak hanya Thrisca, Genta juga merasakan dirinya mulai menjadi pusat perhatian. Pria itu kembali menarik tangan Thrisca untuk berpindah tempat ke sisi pantai yang lebih sepi.


"Gendut, jangan terus-terusan berkecil hati seperti itu. Saat mengajukan perceraian dengan Ron nanti, mintalah uang yang banyak sebagai kompensasi! Dan pakai untuk sedot lemak, operasi wajah! Kau pasti bisa terlihat cantik saat kau kurusan nanti! Gadis-gadis itu tidak akan bisa mengejekmu lagi,"


Genta menghibur Thrisca dengan usulan-usulan gila.


"Sepertinya kau mendukung sekali perceraianku dengan Ron," sindir Thrisca.


"Aku tidak mendukung perceraianmu. Aku mendukung kebahagiaanmu, gendut!"


Genta menepuk-nepuk bahu Thrisca bak seorang veteran yang tengah memberi wejangan pada prajurit.


Pertunjukan dua manusia penuh drama itu akhirnya terhenti karena gangguan dari ponsel Thrisca. Gadis itu menatap layar ponsel dengan mata terbelalak kaget.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Genta yang melihat gadis itu tidak segera menggerakkan jarinya saat ponselnya mendapatkan panggilan.


Thrisca tidak menjawab Genta, namun gadis itu menunjukkan nama yang tertera di layar ponsel tua itu.


"Ron?! Kenapa dia menghubungimu di siang bolong seperti ini? Apa dia sesenggang itu?!" gerutu Genta diselingi kepanikan.


"Bagaimana ini? Ron tidak memperbolehkanku keluar rumah! Bisa -bisa Ron mengurungku di dalam kamar lagi saat dia kembali nanti," ujar Thrisca ketakutan.


"Kalau begitu matikan saja ponselnya! Kau bisa membuat alasan ponsel rusak atau apapun itu nanti!"


Genta merebut ponsel Thrisca dan segera menonaktifkan benda keramat itu.


"Ron akan kesal padaku lagi nanti! Semalam Ron memarahiku, aku tidak ingin kena marah lagi karena mematikan ponsel!" rengek Thrisca.


"Ron akan lebih marah kalau tahu kau keluar rumah!"


"Apa aku begitu memalukan hingga semua orang ingin mengurungku?!" tangis Thrisca hampir meledak di tempat terbuka itu.


"Gendut, jangan seperti ini! Orang-orang akan mengira aku merampokmu jika kau menangis disini,"


Genta menutup wajah Thrisca dengan topinya dan berusaha menenangkan gadis itu.


"Lupakan tentang Ron! Kau harus menikmati liburanmu kali ini!" ujar Genta berapi-api.


***


Thrisca berjalan mencari kerang di tepi pantai sementara Genta sibuk dengan kameranya dan memeriksa jepretan foto hasil karyanya dengan Thrisca sebagai model.


"Si gendut itu, mau dipotret dari sisi manapun.. hasilnya tetap saja gendut." keluh Genta dengan wajah kecewa.


"Dari sisi samping, depan maupun belakang, tubuh si gendut tetap saja lebar." gumam pria itu lagi dengan wajah pesimis.


"Bagaimana aku bisa mencarikan pria yang mau datang ke kencan buta dengannya?" gumam Genta seraya menatap gadis yang sibuk mengumpulkan kerang.


"Mas Gen, bagaimana hasil fotonya?" tanya Thrisca dengan semangat saat menghambat Genta.


"Hem? Itu.. kau lihat saja sendiri,"


Genta pasrah dan menyerahkan kamera pada Thrisca.


"Wah, foto dengan kamera mahal memang beda. Pantainya terlihat indah," komentar Thrisca.


"Kenapa kau mengomentari pantai! Lihat foto wajahmu dulu sebelum melihat latarnya!"


"Kenapa dengan wajahku? Fotonya terlihat bagus," puji Thrisca.


"Baiklah, pantainya memang bagus.." gumam Genta mulai menyerah.


"Mas Gen, dengan foto ini memangnya akan ada pria yang mau bertemu denganku?" tanya Thrisca tiba-tiba.


Genta terdiam sejenak dan mencoba menyaring kalimat yang hendak ia ucapkan agar tidak menyakiti Thrisca.


"Gendut, kau tenang saja! Jika ada pria yang setuju bertemu denganmu, berarti pria itu tulus ingin mengenalmu dan pria itu tidak menilai seorang gadis dari penampilan luarnya saja." hibur Genta.


"Benar juga." gumam Thrisca lirih.


"Bagaimana kalau tidak ada yang ingin pergi kencan buta denganku?" ujar Thrisca cemas.


Kepercayaan diri gadis itu sudah lama menghilang semenjak Thrisca sering menerima ejekan saat dirinya gemuk di masa sekolah. Meskipun tampil sebagai Thrisca yang langsing dan cantik sekalipun, Thrisca tetap merasa rendah diri di hadapan orang-orang.


"Percaya diri saja, Gendut! Kau tidak perlu berkecil hati hanya karena penampilan luarmu."


Genta terus memberi semangat pada Thrisca.


Genta segera menarik Thrisca untuk berwisata kuliner di sekitar pantai sebelum wajah murung gadis itu menghancurkan acara liburan mereka.


***


Rumah sakit.


Lilian duduk termenung sendirian di rumah sakit. Wanita itu terus menatap layar ponsel untuk menunggu balasan pesan dari pria pujaannya.


"Apa Bibi tidak salah memberikan nomor? Jika ini benar nomor Ron, kenapa dia tidak juga membalas pesanku?" gumam Lian sendirian.


Pintu ruangan pasien itu terbuka dan muncul sosok wanita paruh baya yang berkunjung ke kamar Lian.


"Bibi? Bibi tidak perlu kesini setiap hari. Sudah ada perawat yang menjagaku."


Lian menyapa Nyonya Daisy dengan senyum ramah.


"Tidak perlu sungkan Lian. Bibi sudah berjanji akan menjagamu." tukas wanita beranak satu itu.


"Bibi, apa Ron sibuk? Aku tidak bisa menghubunginya beberapa hari ini."


"Ron sedang berdinas keluar negeri bersama kakek. Sepertinya kakek Ron tidak ingin membiarkan Ron bersantai untuk beberapa waktu ini," jelas Nyonya Daisy.


"Benarkah? Baguslah kalau Ron tidak menghubungiku karena dia benar-benar sibuk. Kupikir Thrisca sudah berhasil menggantikanku," ujar Lian dengan senyum kecut.


"Lian, jangan berkata seperti itu. Bukankah kau bilang Thrisca dan Ron akan bercerai? Thrisca sendiri yang mengatakan hal itu padamu bukan?"


"Awalnya kupikir Thrisca benar-benar akan bercerai dengan Ron, tapi Ron justru membawa pulang Thrisca ke rumahnya.." ungkap Lian dengan wajah murung.


"Jadi kau sudah tahu?"


"Bibi juga tahu kalau Ron membawa Thrisca pulang ke rumahnya?" tanya Lian pada Nyonya Daisy dengan mata membulat lebar.


"Bibi juga baru tahu saat berkunjung ke rumah Ron. Bibi pikir tidak ada siapapun disana, jadi Bibi datang untuk melihat-lihat keadaan rumah." terang Nyonya Daisy.


"Ron sudah berubah, Bi. Sepertinya aku tidak memiliki kesempatan lagi,"


"Lian, bagaimanapun juga hanya kaulah calon menantu yang kuakui. Sebenarnya apa yang terjadi dengan hubungan kalian? Coba ceritakan pada Bibi. Siapa tahu Bibi bisa membantu," bujuk Nyonya Daisy.


Lilian terdiam sejenak dan mencoba membuat penolakan halus untuk tawaran bantuan dari ibu mantan kekasihnya itu. Lian tidak mungkin memberi tahu ibunya Ron kalau dia putus hubungan dengan putranya karena dia sempat hamil dengan pria lain hingga melakukan beberapa kali aborsi. Terlebih lagi wanita itu sekarang divonis tidak akan bisa memiliki anak karena adanya gangguan pada rahim.


Nyonya Daisy tidak akan lagi mendukung Lian bersama putranya jika wanita paruh baya itu tahu kondisi calon menantu idamannya itu.


***


Bersambung..