DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 29



Thrisca dan Genta duduk bersama di depan layar televisi seraya menikmati camilan cepat saji yang dapat menghentikan kerja jantung.


Dua manusia itu nampak sibuk dengan makanan masing-masing dan saling mengabaikan satu sama lain.


"Gendut, kau mau apa lagi? Aku bisa pesankan lebih banyak dari ini," tawar Genta memecah keheningan.


Pria itu benar-benar tulus ingin menghibur Thrisca yang kesepian karena ditinggal suami, namun di telinga Thrisca semua perkataan Genta terdengar seperti sindiran dan ejekan yang tak ada habisnya.


"Kau sesenang itu terus memberi ejekan padaku?!" gerutu Thrisca kesal.


"Siapa yang mengejek, gendut? Aku benar-benar tulus ingin menghiburmu. Kenapa kau dipenuhi prasangka buruk begitu,"


"Gadis yang selalu menerima ejekan sepertiku mana bisa terus berpikir positif? Aku bahkan akan mewaspadai kucing yang terus menatapku!"


"Maaf, Gendut. Aku tidak bermaksud memberi ejekan, aku hanya ingin bersikap baik padamu.." ujar Genta dengan wajah murung.


"Kenapa kau harus bersikap baik padaku? Ejek saja aku seperti biasanya. Kebaikanmu membuatku takut,"


"Gendut, bagaimana pernikahanmu dengan Ron? Kau pasti terlukai setiap hari karena pria jahat itu,"


Genta mengingat kembali peristiwa di ruangan kerja Ron saat sepupunya itu mencium gadis cantik.


"Ada apa denganmu? Memangnya kita sedekat itu untuk saling berbagi cerita?"


Thrisca menatap Genta dengan wajah keheranan.


"Jangan sungkan padaku, gendut. Cerita saja padaku jika kau ingin berkeluh-kesah. Begini-begini, aku adalah pendengar yang baik. Semua mantan pacarku mengakuinya, aku pria baik yang pengertian terhadap wanita." ujar Genta berbangga diri.


"Benarkah? Kalau kau sebaik itu, kau tidak akan dijadikan mantan oleh pacar-pacarmu itu!"


Thrisca tersenyum kecil seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar bualan dari sepupu suaminya itu.


"Hei, jangan salah sangka dulu! Bukan mereka yang menjadikanku mantan, aku yang menjadikan mereka mantan! Aku yang menolak mereka!"


Genta nampak tidak terima mendapat tuduhan sebagai pria yang dicampakkan.


"Baiklah, pria pendengar yang baik. Aku tidak tahu apa aku bisa menceritakan hal ini, tapi bagaimana pendapat keluarga Ron mengenai aku? Apa aku pernah menjadi bahan pembicaraan di keluarga besar kalian?" tanya Thrisca ragu-ragu.


"Tentu pernah. Sebagian besar keluarga menolak kehadiranmu. Tentu saja hanya kakek yang mendukungmu. Tapi satu dukungan yang kau dapat adalah dukungan yang terkuat di keluarga besar kami. Kau tidak perlu khawatir akan disingkirkan dengan mudah. Kakek tidak akan membiarkan hal itu terjadi,"


Meskipun awalnya pria itu mengatakan hal yang menyakitkan, namun Genta masih tetap mencoba menenangkan Thrisca dengan kabar baik di akhir.


"Apa mendapat dukungan dari kakek adalah hal yang sehebat itu? Bagaimana dengan ayah Ron? Ibu Ron sangat tidak menyukaiku. Apa ayah Ron sama saja?" tanya Thrisca dengan pesimis.


"Tenang saja. Paman Derry tidak pernah keberatan dengan apapun keputusan kakek. Lagipula kakek dan Paman punya lebih dari satu istri. Mungkin mereka akan menyuruh Ron menikah lagi jika Ibu Ron menginginkan menantu yang cantik,"


"Menikah lagi? Maksudnya Ron tidak akan berakhir hanya dengan satu istri?!" tanya Thrisca agak terkejut.


"Hei, ini hal biasa di kalangan kita. Dimana ada pria mampu, mereka bisa memiliki bunga seribu. Wajar bagi pria mapan memiliki banyak wanita," jelas Genta.


"Benarkah? Apa Ron juga memiliki banyak simpanan di luar sana?" tanya Thrisca dengan wajah memelas.


Genta sedikit tidak tega melihat wajah murung dari istri sepupunya itu. Namun Genta tetap harus memberitahu seluk beluk keluarganya agar Thrisca bisa memulai beradaptasi dengan kehidupan gemerlap pria yang bergelimang harta.


"Gendut, semua pria kaya melakukan hal itu. Mereka punya uang, dan ada wanita yang bersedia dibeli dengan uang. Jadi sulit untuk mencegah hal itu. Tapi kakek melarang setiap pria di keluarga Diez memiliki simpanan. Daripada dijadikan simpanan atau selingkuhan, kakek lebih mendukung untuk memberikan status resmi pada kekasih gelap tiap putranya.." terang Genta.


"Jadi maksudmu, setiap simpanan putra kakek akan dijadikan menantu? Kakek membolehkan putranya memiliki banyak istri?"


"Begitulah. Kakek sendiri memiliki lima istri yang terdaftar secara hukum dan dua belas istri yang tidak terdaftar."


"Banyak sekali?! Ron pasti memiliki banyak sepupu," ujar Thrisca dengan mulut menganga.


"Hanya lima istri sah kakek saja yang diperkenalkan pada keluarga dan diakui sebagai keluarga inti Diez. Untuk keturunan dari dua belas istri lainnya, kakek tidak pernah mempublikasikan mereka."


"Bagaimana dengan ayah Ron? Berapa istrinya?"


Thrisca mulai penasaran dengan keluarga suaminya.


"Paman Derry mempunyai dua istri. Tapi istri mudanya berada di luar kota. Nyonya rumah keluarga Diez tetap Bibi Daisy. Untuk istri yang tidak terdaftar, aku tidak tahu. Sepertinya lebih dari tiga,"


"Jadi ayah Ron sudah mempunyai lima istri? Bagaimana dengan anaknya? Berapa saudara Ron?"


"Aku tidak begitu tahu. Paman Derry pernah membawa istri mudanya ke pertemuan keluarga. Dan saat itu istri mudanya membawa bayi. Mungkin Ron sudah memiliki tiga hingga empat adik dari istri muda ayahnya yang tidak terdaftar."


"Kau tahu banyak sekali tentang istri tidak terdaftarnya kakek dan ayahnya Ron," sindir Thrisca.


"Memangnya aneh jika aku tahu anggota keluargaku sendiri? Kau tahu tidak, istri paman Derry adalah daun-daun muda sepertimu. Kau harus memanggil wanita seumuranmu dengan sebutan ibu mertua saat kau bertemu istri muda ayahnya Ron nanti,"


"Benarkah? Apa Ron tahu ayahnya menikahi gadis yang bahkan lebih muda darinya?!"


"Tentu saja tahu. Tapi Bibi Daisy tidak mengijinkan satupun dari istri Paman Derry untuk menempati kediaman mereka. Bahkan Bibi Daisy juga melarang Paman Derry menggunakan villa mereka."


Genta semakin asyik menggosipkan keluarga sepupunya.


"Mas Gen, kau bersemangat sekali menggunjing keluarga sepupumu sendiri.." ujar Thrisca dengan wajah datar.


"Ini bukan gunjingan! Aku hanya mengatakan fakta! Kau sudah menjadi bagian keluarga Ron, kau harus tahu seperti apa orang-orang yang sudah menjadi keluarga barumu itu." terang Genta bak tetua yang tengah memberi nasihat.


"Baiklah. Kukira informasinya sudah cukup,"


"Tunggu dulu, gendut! Aku belum selesai bicara! Aku akan pesankan lebih banyak makanan,"


Genta bersiap untuk memesan makanan cepat saji lebih banyak.


"Mas Gen, perutku akan meledak! Gigiku sudah lelah mengunyah makanan," keluh Thrisca dengan perut buncit.


Genta tidak menghiraukan ucapan Thrisca. Pria itu mengambil minuman lebih banyak sambil menunggu makanan tambahan tiba.


Thrisca membaringkan tubuh besarnya di sofa bak gajah yang hampir pingsan dan tidak sanggup bergerak. Tak jauh berbeda dari Thrisca, Genta ikut membaringkan badan di lantai yang beralaskan karpet tebal bak paus yang terdampar.


Kedua manusia itu bermalas-malasan bersama setelah menghabiskan banyak makanan berminyak yang tidak sehat di waktu yang sudah larut malam.


"Gendut, kau tidak pernah berpikir untuk mengakhiri semua ini?" tanya Genta kembali membuka percakapan.


"Mengakhiri apa?"


"Pernikahanmu dengan Ron. Pria itu menginjak-injak harga dirimu bukan? Aku mengatakan hal ini karena aku benar-benar bersimpati padamu. Daripada kau terus tersakiti bersama Ron, lebih baik tinggalkan saja dia." nasihat Genta.


"Aku dan Ron sudah pernah menandatangani surat cerai. Bahkan kami semakin yakin untuk berpisah saat kekasih Ron muncul," ujar Thrisca dengan wajah murung.


"Benarkah?! Lalu kenapa kau masih disini?"


"Aku juga tidak tahu. Saat aku menanyakan surat cerai, Ron bilang kertas itu sudah menjadi abu."


"Sudah menjadi abu? Apa maksud Ron? Apa dia mempunyai dendam pribadi padamu? Ron ingin menahanmu untuk menyiksamu?" tanya Genta beruntun.


"Entahlah. Selama menikah aku tidak sering bertemu dengan Ron. Setelah hari pernikahan, Ron tidak pernah menemuiku lagi hingga berbulan-bulan.."


Gadis itu semakin terbuka berkeluh-kesah pada Genta.


Sepupu Ron itu semakin prihatin dengan gadis gendut yang selalu ia ejek itu. Pria itu mendengar dengan baik setiap keluhan yang disampaikan oleh istri sepupunya.


"Gendut, aku bukannya tidak mendukungmu. Tapi Ron tidak akan jauh berbeda dari kakek dan juga paman. Sebentar lagi mungkin Ron akan membawa istri baru ke rumah ini. Kau sebaiknya mencari kekasih lain yang mau menerimamu daripada kau harus terus bertahan bersama pria jahat seperti Ron,"


Thrisca melirik ke arah Genta dan menatap sepupu suaminya itu dengan wajah memelas. Genta bahkan tahu mengenai Ron yang hanya berpura-pura lumpuh. Besar kemungkinan kalau Ron tidak akan menyembunyikan apapun dari sepupunya itu.


"Apa yang kau tahu tentang Ron? Kau tahu wanita simpanan Ron? Sudah ada berapa? Apa dia berniat menikah lagi dalam waktu dekat?!" cecar Thrisca.


"Gendut, tenang dulu! Ron belum bercerita apa-apa padaku. Tapi.."


Genta berniat menceritakan tentang wanita cantik yang masuk ke dalam ruangan Ron siang tadi. Namun siapa sangka, wanita lain yang dikira simpanan oleh Genta itu ternyata adalah Thrisca.


"Tapi apa?" Thrisca memotong dengan cepat.


"Itu.. tadi di kantor. Kau tidak lihat ada wanita yang masuk ke ruangan Ron?" tanya Genta hati-hati.


"Wanita? Aku tidak lihat.."


Thrisca mencoba mengingat-ingat wanita mencurigakan yang mungkin masuk ke ruangan kerja suaminya.


"Aku tidak ingat ada wanita yang masuk. Semuanya pria dan mereka hanya membahas pekerjaan. Apa Ron.. membawa wanita masuk ke ruangannya saat aku sedang makan di kantin?" batin Thrisca mulai gelisah.


"Memangnya siapa wanita itu? Kau mengenalnya? Apa dia karyawan? Atau kau baru pertama kali melihat? Apa yang dia lakukan di ruangan Ron? Ron juga ada di dalam ruangannya?!"


Thrisca tidak bisa menahan amarahnya saat mendengar cerita dari Genta.


"Gendut, aku benar-benar tidak enak menceritakan ini padamu. Tapi yang dilakukan Ron bersama wanita itu.. cukup intim." ujar Genta dengan suara lirih.


"Benarkah?"


Thrisca hanya memberi tanggapan singkat. Matanya sudah memerah menahan tangis.


"Ini bukan pertama kalinya aku mengetahui Ron bersama wanita lain. Pria itu bahkan bermesraan dengan kekasihnya di kamar." ujar Thrisca seraya mengingat kembali kejadian di rumah lama saat Ron berada di kamar yang sama dengan Lilian.


Genta masih tetap menceritakan kesalahpahamannya hingga membuat Thrisca semakin rendah diri dan merasa jauh dari Ron. Sayangnya kedua orang bodoh itu tidak sadar mereka hanya terjebak dalam kesalahpahaman.


"Gendut, jangan marah padaku. Tadi aku melihat Ron bersama wanita itu berbaring di sofa. Pakaian gadis itu juga sudah terbuka. Aku yakin wanita itu salah satu simpanan Ron," ujar Genta penuh sesal.


Thrisca benar-benar tidak sadar kalau wanita yang tengah dibicarakan oleh Genta adalah dirinya. Gadis itu sudah terlanjur kesal dan kecewa pada sikap Ron yang seolah menolak perceraian, namun pria itu tetap mencari wanita lain di belakang istrinya.


"Kenapa aku harus marah padamu? Bukan salahmu jika Ron memiliki banyak simpanan. Bukan salah Ron juga jika pria itu memilih wanita yang lebih cantik dariku. Ini semua adalah salahku," ujar Thrisca dengan air mata berlinang. Gadis itu mulai mengambil satu boks tisu dan menangis dengan kencang di hadapan Genta.


"Sudahlah, Gendut. Kau cari saja pria lain. Bertahanlah bersama Ron beberapa tahun lagi, lalu mintalah kompensasi perceraian yang besar darinya. Setelah itu mulailah hidup baru dengan kekasihmu. Anggap saja kau sedang menabung modal hidup sekarang. Kau harus tetap mengambil keuntungan dari Ron. Kau jangan mau terus dijadikan pihak yang menderita,"


Genta mencoba menghibur Thrisca yang masih menangis sesenggukan.


"Gendut, meskipun Ron berpura-pura lumpuh di luar sana, tapi Ron tetap pria berharta yang berkuasa. Sekalipun Ron benar-benar menjadi pria cacat, masih akan ada ribuan wanita yang mengantri untuk menjadi simpanannya. Apalagi kenyataannya Ron adalah pria yang sehat dan bugar. Sainganmu tidak akan terhitung lagi saat Ron menampakkan diri di luar sana dengan kaki sehatnya,"


Semakin lama ucapan Genta tidak membuat Thrisca makin terhibur, namun makin tersakiti.


"Pria ini sebenarnya mau menghiburku atau menghinaku? Kata-katanya membuatku seolah aku hanyalah kerang pantai murah yang tidak pantas dipungut oleh Tuan Muda terpandang seperti Ron.." batin Thrisca dengan wajah depresi.


***


Bersambung..