
Thrisca membuka lemari pakaian suaminya dan menyeret koper kecil milik Ron untuk mengisi wadah barang itu.
Wanita itu melipat rapi pakaian sang suami dan memasukkan setelan-setelan jas ke dalam koper Ron.
"Sayang, untuk apa kau mengemas bajuku?"
Ron merebut kemeja yang tengah dilipat rapi oleh sang istri.
"Mas Gen bilang kau harus pergi hari ini, kan? Rapatnya besok, kan?" tanya Thrisca.
"Setelah kau menangis di depanku, kau masih berharap aku akan menghadiri rapat sial itu?!"
"Maaf, Ron. Ini hanya karena aku terlalu sensitif saja selama mengandung. Aku tidak benar-benar ingin menangis." ujar Thrisca lirih.
Ron menghela nafas panjang dan duduk di kasur empuk kamarnya. Pria itu menarik tangan sang istri dan mendudukkan wanita hamil muda itu di sampingnya.
"Kau tahu apa yang kurasakan setiap kali aku melihatmu menangis? Kau tahu apa yang kupikirkan tiap aku melihat wajah murungmu?! Kau benar-benar pandai membuatku menderita.." ujar Ron dengan senyum kecut.
"Maaf.."
Thrisca menundukkan kepalanya dan hanya bisa mengucapkan kata maaf pada sang suami.
"Sayang, kau benar-benar pintar menyiksaku."
Ron melayangkan kecupan lembut di kening sang istri.
Wanita itu segera menyingkirkan wajah lesunya dan berusaha tersenyum semanis mungkin pada suaminya.
"Ron, tolong langsung pulang setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu." ujar Thrisca seraya memeluk manja Ron.
"Kau masih ingin aku pergi?"
"Kau pasti bisa menyelesaikan pekerjaanmu dengan cepat, kan?"
"Aku akan pulang secepat mungkin."
Ron mengecupi pucuk kepala sang istri bertubi-tubi.
Bagaimanapun juga pria itu tidak bisa mengabaikan kewajibannya dalam menjalankan perusahaan.
***
"Gen, ibuku sedang berada di luar kota. Tidak ada yang menjaga istriku. Bisakah kau dan Han yang mengurus pekerjaan ini?" pinta Ron dengan wajah memelas pada Genta.
Dua pria dewasa itu duduk di ruang kerja Ron seraya memegangi berkas-berkas tebal di tangan. Ron nampak serius membahas pekerjaan dengan sang sepupu mengenai dinasnya ke luar negeri.
"Tidak bisa, Ron. Aku akan ikut tapi aku hanya bisa menjadi pendukung."
"Kalau kau juga pergi, lalu siapa yang akan menemani istriku di rumah?" tanya Ron cemas.
"Bukankah Thrisca memiliki ibu tiri? Bagaimana kalau--"
"Ibu tiri apanya?! Wanita itu hanya benalu tidak tahu malu!" potong Ron cepat.
"Bagaimana dengan teman? Apa Thrisca tidak memiliki satupun kenalan di sekitar sini?" tanya Genta.
Ron berpikir sejenak dan mulai mengingat sang istri yang sempat bercerita mengenai teman-teman Thrisca yang kini bekerja di perusahaan miliknya.
"Kebetulan teman Icha baru saja pindah ke kota ini." ujar Ron ragu-ragu.
"Bagaimana kalau meminta bantuan pada temannya? Paling tidak hanya untuk menemani di malam hari."
"Tidak hanya malam hari! Aku akan menyuruh mereka menemani istriku seharian."
"Ron, jangan seenaknya! Mereka juga punya kegiatan dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Kau ingin membiayai hidup mereka jika mereka sampai kehilangan pekerjaan hanya untuk menurutimu?"
"Kau pikir aku segila itu?! Aku hanya melakukannya pada karyawanku sendiri! Memangnya tidak boleh?"
"Apa maksudmu?!"
"Teman-teman istriku bekerja di perusahaanku! Aku bisa membuat mereka begadang menjaga istriku dua puluh empat jam jika aku mau!" ujar Ron dengan congkak.
"Benarkah?"
***
"Ron, tidak perlu merepotkan Nadine dan Cherry. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Ada Bi Inah di sini yang menemaniku."
Thrisca menolak mentah-mentah usul Ron yang ingin mendatangkan teman-temannya untuk menjaganya.
"Sayang, turuti saja apa kataku. Aku akan memanggil mereka ke sini." ujar Ron tidak menerima penolakan.
"Ron.."
"Kenapa lagi? Kalau kau tidak mau ditemani oleh teman-temanmu, aku tidak akan pergi!"
Ron membuka koper kecilnya dan mengeluarkan semua barang yang telah dikemas rapi oleh sang istri.
"Aku tidak peduli meskipun mereka teman-temanmu, mereka tetap pegawai yang memakan gaji dariku! Aku punya hak untuk mengatur pekerjaan mereka!"
Thrisca berdiri mematung di samping sang suami tanpa berani menjawab perkataan Ron. Kata-kata Ron yang begitu tegas dan mengintimidasi membuat nyali Thrisca menciut seketika.
"Apapun yang kulakukan untukmu, itu semua adalah bentuk rasa sayangku padamu. Tolong turuti saja perkataanku, Sayang.."
Ron melayangkan kecupan lembut ke bibir merah sang istri yang menampakan wajah cemberut.
"Cepatlah pulang, Ron."
Thrisca membalas kecupan sang suami dengan cumbuan mesra sebelum perpisahan mereka.
"Aku akan merindukanmu.."
Ron menciumi wajah sang istri bertubi-tubi dengan tampang tak rela meninggalkan wanitanya itu.
"Han akan mengurus semuanya. Dia juga akan menjagamu di sini." imbuh Ron.
"Kau terlalu berlebihan, Ron."
"Tidak ada yang berlebihan untuk istriku,"
Ron mengusap perut sang istri dan beralih menciumi perut rata itu.
"Jaga mommy ya, Sayang. Jangan buat mommy kelelahan," ujar Ron berbicara pada calon anaknya yang masih tumbuh di perut istrinya itu.
Kedua sudut mata Thrisca kembali berair mendengar ucapan sang suami pada buah hati mereka. Wanita itu memeluk erat Ron yang tengah berjongkok mengusap perutnya.
"Kau menangis lagi, Sayang? Kenapa belakangan ini kau jadi cengeng sekali?" ujar Ron seraya memeluk gemas sang istri.
"Aku.. aku tidak--"
"Tidak apa?"
"Aku belum selesai bicara!" protes Thrisca.
Ron mencubit gemas pipi istrinya yang tengah berbadan dua itu. Pasangan suami-istri itu tenggelam dalam acara perpisahan mereka hingga Ron tidak menyadari dirinya yang tengah dikejar waktu.
"Ron, kalau kau begitu tidak rela meninggalkan istrimu, bungkus saja dia ke dalam kopermu!" sindir Genta.
"Pria lajang sepertimu tidak akan tahu beratnya jauh dari istri dan anak!" ledek Ron yang masih sibuk memeluk sang istri.
"Sayang, kalau saja tidak ada baby di perutmu, mungkin aku sudah membawamu.." ujar Ron penuh sesal.
"Ron, kau pergi untuk bekerja. Bukan untuk berlibur. Kita bisa pergi bertiga setelah bayi kecil kita lahir nanti," bujuk Thrisca seraya mengusapkan tangan lebar sang suami ke perutnya.
"Ayo, Ron! Kita bisa ketinggalan pesawat!" teriak Genta mengganggu momen romantis pasangan suami-istri yang masih sibuk mengucapkan kata perpisahan.
"Dasar perusak suasana!" gumam Ron kesal.
"Hati-hati, Sayang.."
Thrisca mendaratkan ciuman di kedua pipi sang suami seraya membantu Ron mengemas kembali barang suaminya itu ke dalam koper.
Pria itu berjalan keluar dari rumah dengan langkah berat seraya menarik koper kecil yang sudah ada dalam genggamannya.
Thrisca melambangkan tangan sembari melempar senyuman manis pada sang suami yang sudah masuk ke dalam mobil.
Begitu mobil Ron keluar dari halaman, wanita hamil itu langsung berlari kembali ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
Thrisca menangis sesenggukan seraya memeluk lembar foto yang menampilkan wajah tampan sang suami.
"Tolong pulanglah dengan selamat, Suamiku.." ujar Thrisca seraya menatap lembar foto Ron.
Setelah puas menangisi kepergian sang suami yang tengah berdinas di luar negeri, Thrisca segera mengelap ingus dan menyeka air mata yang membasahi wajah cantiknya.
Wanita itu berjalan menuju toilet dan hendak kembali melanjutkan syal rajutan buatannya untuk sang suami.
"Kenapa tidak ada?!" gumam Thrisca seraya berkeliling kamar mandi mencari gulungan wol yang ia sembunyikan di ruangan kecil itu.
"Apa Ron yang mengambilnya?" gumam Thrisca menerka-nerka.
Wanita hamil itu keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu dan tidak sengaja melirik ke tempat sampah yang berada tidak jauh dari pintu kamar mandi.
"Tidak mungkin Ron mengambilnya dan membuangnya ke sini, kan?" gumam Thrisca seraya membuka tempat sampah kecil itu.
Wanita yang baru saja menangis sesenggukan itu langsung mengomel dan mengamuk sendiri dalam kamar saat mengetahui syal rajutannya yang terbaring di dalam tempat sampah.
"Ron! Kau ini benar-benar!!"
Thrisca mengambil foto Ron yang sempat ia peluk sebelumnya. Lembar kertas yang tadinya mendapat dekapan hangat dari Thrisca, kini tergeletak pasrah di lantai dan diinjak-injak oleh istri dari pria yang ada dalam foto.
***
Bersambung..