
"Untuk Ichaku.." batin Thrisca membaca tulisan kecil di pojokan amplop yang saat ini tengah ia genggam.
Yovan menjauh dari Thrisca untuk memberikan waktu pribadi bagi gadis yang hendak membaca kertas-kertas dalam amplop itu.
"Ichaku, saat kau membaca surat ini mungkin ayah sudah berada di tempat yang jauh darimu." Thrisca membaca penggalan surat itu dengan mata memerah.
"Apa maksudnya ini?" batin Thrisca mulai berkecamuk.
"Ayah ingin sekali meninggalkan salam perpisahan yang keren untukmu. Tapi pria tua ini hanya makhluk purba yang tidak tahu cara menggunakan teknologi." isi penggalan surat itu.
"Apa yang ditulis pria tua ini?!"
Air mata Thrisca mengucur semakin deras setelah mengetahui surat itu berasal dari sang ayah.
"Ichaku, bagaimana kabarmu? Ayah masih ingin sekali mengucapkan kata ini padamu ribuan kali, tapi sepertinya ayah sudah sampai pada kesempatan terakhir."
"Kesempatan terakhir apanya?" gumam Thrisca dengan air mata berlinang.
Badan mungil gadis itu mulai gemetar membaca kata demi kata tulisan sang ayah.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Ayah sangat merindukanmu. Apa kau juga merindukan ayah? Bagaimana kabar keluarga kecilmu? Sayang sekali ayah belum sempat menyapa menantu pertama ayah."
"Maaf, ayah tidak sempat hadir di pernikahanmu. Ayah ingin sekali menuntun tangan putri cantik ayah ke pelaminan. Sayangnya, tubuh tua ayah sudah tidak mengijinkan."
Thrisca mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya dan menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan membaca seluruh tulisan itu.
"Meskipun raga ayah tidak hadir disana, tapi ayah menyaksikan semuanya dari jauh. Walaupun hanya melihatmu dari layar, tubuh ayah tidak bisa berhenti gemetar dan ayah terus berkeringat dingin. Mungkin seperti ini perasaan setiap ayah yang melepas putrinya ke babak kehidupan baru. Ayah tidak menyangka putri kecil yang ayah rawat sudah tumbuh sebesar ini."
"Tapi ayah tidak tahu kau begitu menolak pernikahan ini hingga membuat penampilan konyol seperti itu. Darimana kau mendapat rambut palsu dan dandanan aneh itu? Ayah hampir tidak mengenali putri ayah sendiri dengan tampilan konyolmu,"
Thrisca tertawa kecil saat mengetahui ayahnya ternyata tahu mengenai dirinya yang berdandan gendut demi mendapat penolakan dari Ron.
"Maaf untuk ketidakhadiran ayah di hari terpentingmu. Sebagai gantinya, ayah sudah menyiapkan kado istimewa untukmu. Bukalah amplop kecil berwarna merah yang terselip diantara kertas-kertas ini."
Thrisca segera mengambil amplop kecil yang dimaksud sang ayah dan menemukan satu lembar foto yang tersimpan di dalamnya.
Dalam kertas usang itu nampak terlihat sesosok pria muda tengah berpose bersama seorang wanita muda yang mengenakan pakaian pasien rumah sakit. Pria dalam foto itu tersenyum lebar dengan bayi kecil yang ada di gendongannya.
"Bagaimana? Kau cukup terharu dengan kado dari ayah? Apa ini akan menjadi kado terindah yang pernah kau terima?" isi penggalan surat berikutnya.
"Kado macam apa ini?!" ujar Thrisca masih diiringi air mata yang berurai.
Foto yang diberikan oleh ayah Thrisca adalah foto pertama sekaligus foto terakhir mereka sebagai keluarga. Setelah kelahiran Thrisca, sang ibunda mengalaminya pendarahan hebat hingga nyawanya tidak tertolong.
Sejak saat itu, Thrisca hanya memiliki sang ayah sebagai keluarga satu-satunya. Thrisca tumbuh besar tanpa cinta kasih seorang ibu dan mekar menjadi gadis lugu yang hanya dirawat oleh sang ayah.
"Icha, maaf ayah tidak mengatakan apapun sebelumnya. Maaf telah memaksamu menikah dan mendorongmu menjauh dari ayah di saat-saat terakhir kita."
"Ayah hanya ingin menyaksikan pernikahan putri ayah sebelum tubuh ayah digerogoti oleh waktu. Ayah ingin memastikan ada seseorang yang akan menjaga putri kecil ayah jika ayah sudah tidak bisa berada disampingmu lagi nanti. Ayah ingin memastikan putri kesayangan ayah tidak menderita sendirian setelah kepergian ayah nanti.."
Thrisca berhenti membaca surat itu dan mendekap kertas-kertas berisi tulisan ayahnya itu dengan erat.
Gadis itu sudah bersiap menyambut kepulangan ayah yang sudah ia rindukan, namun tidak disangka hanya kepulangan raga sang ayah saja yang akan ia dapatkan.
Dari surat itu sudah tertulis jelas bahwa itu adalah pesan terakhir dari sang ayah yang sudah berpulang ke sisi sang Pencipta.
"Terimakasih sudah memenuhi permintaan terakhir ayah. Pernikahanmu bersama Ron akan membantu ayah untuk pergi dengan tenang. Berbahagialah, putriku. Bangunlah keluarga yang baru. Ayah akan selalu mengawasimu dari jauh."
Tangis Thrisca pecah seketika setelah gadis itu membaca goresan tinta dari sang ayah. Sebagai seorang anak, banyak penyesalan yang tertumpuk di kepalanya mengingat sang ayah yang menderita sendirian tanpa dukungan darinya.
Gadis itu bahkan tidak mengetahui apapun tentang agenda sang ayah yang pergi keluar negeri. Siapa sangka, ayah dari istri Ron itu ternyata tengah berobat di negeri yang jauh hingga akhirnya tutup usia di tempat asing itu.
Thrisca membuka selipan amplop terakhir dan menemukan satu lembar foto lagi dari dalam amplop kecil itu.
Dalam foto itu nampak wajah sang ayah tengah berpose bersama seorang wanita muda berusia 30-an. Terlihat juga seorang balita perempuan yang tersenyum sumringah dalam gendongan sang ayah.
"Maaf tidak memberitahumu mengenai pernikahan ayah. Sapalah adik kecilmu dan ibu barumu. Mereka yang akan menggantikan ayah untuk menjagamu." tulis sang ayah di belakang lembar foto.
Air mata Thrisca tak bisa berhenti mengalir setelah gadis itu selesai membaca catatan terakhir dari sang ayah.
Yovan hanya bisa menatap Thrisca dari jauh dan membiarkan gadis itu menumpahkan seluruh kesedihannya pada malam yang dingin itu.
***
Thrisca berjalan lemas menuju rumahnya. Gadis itu melangkah dengan tatapan kosong menuju rumah penuh kenangan milik sang ayah.
Thrisca mengangguk kecil seraya melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Dalam ruang tamu rumah mini itu, terdapat seorang wanita serta satu balita perempuan yang tertidur di sofa.
"Icha,"
Wanita itu berdiri dan menyapa Thrisca dengan mata sembab.
Wanita itu nampak terlihat persis dengan wanita yang berpose dengan sang ayah di foto yang tersimpan dalam amplop pemberian ayah Thrisca.
Wanita bernama Susan itu berjalan menghampiri Thrisca dan memeluk erat anak dari suaminya itu.
Tangis Thrisca kembali membanjiri pipi saat menerima pelukan dari istri baru sang ayah. Kedua wanita itu saling berpelukan erat dengan air mata berlinang.
Setelah berpelukan agak lama, Thrisca dan Susan duduk di ruang tamu dengan canggung.
"Kau pasti kaget dengan kedatanganku? Mas Egi belum pernah memperkenalkanku padamu. Kau bisa memanggilku Susan. Itu putriku, Sasha."
Wanita itu memperkenalkan dirinya serta sang putri pada Thrisca.
Thrisca hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada tamu asing itu.
"Besok pihak rumah sakit akan membantu proses pemakaman. Mas Egi anak tunggal jadi kalian tidak memiliki banyak kerabat, kan? Kau bisa menghubungi keluarga dekat lain mengenai kondisi ayahmu. Kau bisa mengurus itu, kan?"
"Baik." ujar Thrisca singkat.
"Kau tidak perlu sungkan padaku. Aku belum terlalu tua. Berapa usiamu?" tanya Susan mencoba mengakrabkan diri dengan anak tirinya.
"Dua puluh dua tahun,"
"Aku baru berumur tiga puluh lima tahun. Belum terlalu tua, kan?"
Thrisca melirik ke arah sang ibu tiri yang memiliki usia tidak terlalu jauh dari suaminya.
"Sudah berapa lama Bibi menikah dengan ayah?"
Thrisca mulai meladeni obrolan sang ibu tiri.
"Belum lama. Baru tiga setengah tahun."
"Lalu anak itu?"
Thrisca menunjuk ke anak kecil yang tertidur di sofa.
"Itu adikmu, Icha. Anakku dan Mas Egi."
"Sejak kapan ayahku sakit? Bibi tahu ayahku sakit? Bibi yang membawa surat itu, berarti Bibi bersama ayah di saat-saat terakhir ayah? Bibi ikut ayah ke luar negeri? Bibi tahu kalau ayah ke sana bukan untuk urusan bisnis?" cecar Thrisca dengan pertanyaan beruntun.
"Tenang, Thrisca. Bibi akan ceritakan semuanya," ujar Susan.
Wanita itu menceritakan kondisi sang ayah yang sudah memprihatinkan. Memiliki penyakit komplikasi mulai dari gangguan organ pencernaan hingga organ pernapasan, membuat Egi kehabisan uang hanya untuk biaya berobat.
Belum lagi stress mengkhawatirkan nasib putri kesayangannya, membuat kondisi Egi semakin drop. Karena itu Egi memutuskan untuk menikahkan Thrisca secepatnya agar pria tua itu bisa meninggalkan anak gadisnya dengan tenang.
Beruntung Tuan Hasan, kakek dari Ron masih berhubungan baik dengan Dani, kakek dari Thrisca. Tuan Hasan menawarkan bantuan saat mengetahui kawannya tengah mencari biaya untuk pengobatan sang putra.
Tuan Hasan juga langsung menerima Thrisca menjadi cucu menantu begitu Kakek Dani membahas mengenai sang cucu yang hendak dicarikan suami.
Meskipun tidak mengenal putra sang kawan dan belum pernah melihat Thrisca, Tuan Hasan dengan senang hati membantu biaya pengobatan Egi serta membangkitkan usaha kecil putra kawannya itu kembali.
Tuan kaya raya itu juga langsung mengadakan acara pernikahan dan memboyong Thrisca menjadi cucu menantu di keluarga Diez.
Namun hal yang diketahui Susan hanya sebatas sang suami yang dibantu oleh keluarga kaya. Wanita itu tidak tahu jika keluarga kaya yang membantu suaminya adalah keluarga dari suami sang anak tiri.
Susan hanya menceritakan perihal penyakit ayah Thrisca dan dirinya yang ikut merawat di luar negeri.
"Bibi, pindahkanlah putri Bibi ke kamar ayah. Bibi pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh,"
Thrisca berjalan menuju kamar dengan lemas.
Gadis itu terjaga sepanjang malam dengan mata bengkak karena tangisan. Thrisca terus menatap foto sang ayah dengan air mata yang tidak berhenti membanjiri wajahnya.
***
Bersambung..