DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 86



Seorang pria tengah berdiri dengan gelisah seraya menatap ponselnya tanpa berkedip di dalam gedung perusahaan keluarga Diez.


Pria malang itu terus menatap nomor kontak sang bos dengan pikiran kalut dipenuhi banyak kekhawatiran.


"Bagaimana kalau Bos mengomel padaku? Aku tidak ingin merusak pagi cerahku dengan mendengarkan bentakan bos pemalas itu.." gumam Han dengan frustasi.


"Tapi jika aku tidak meminta pendapat Bos, aku mungkin tidak hanya akan menerima lemparan sandal. Bos mungkin akan melempariku dengan balok kayu jika aku seenaknya mengambil keputusan," gumam pria itu lagi.


Setelah beberapa menit mengalami konflik batin, akhirnya Han memantapkan diri untuk menerima semua omelan sang Bos dengan ikhlas.


"Ada sedikit masalah di kantor, Bos."


Han memberanikan diri menghubungi bosnya yang tengah sibuk mengeringkan rambut panjang sang istri yang masih basah di kediamannya.


Cucu dari Tuan Hasan itu semakin menghayati perannya sebagai bapak rumah tangga, hingga merawat sang istri dengan telaten selama bekerja dari rumah.


"Kenapa? Memangnya masalah apa yang tidak bisa kau tangani?!" cibir Ron melalui telepon.


"Ron, kau urus saja urusanmu. Aku bisa mengeringkan rambutku sendiri," ujar Thrisca.


"Duduk saja, Sayang. Hanya telepon tidak penting dari Han.." tukas Ron.


"Bos, ada wanita yang datang ke kantor dan memaksa untuk bertemu dengan Bos." ungkap Han.


"Siapa?" tanya Ron mengerutkan keningnya.


"Wanita bernama Susan, Bos." ujar Han.


"Mau apa wanita itu datang ke kantor?! Usir saja! Jangan biarkan dia kembali!"


"Baik, Bos."


Han mematikan telepon dan segera mengurus Susan yang berani mencari Ron hingga ke perusahaan.


"Wanita apa, Ron?!" tanya Thrisca mendelik curiga.


"Wanita apa, Sayang? Hanya hal tidak penting. Tidak perlu dipikirkan," jawab Ron datar.


Thrisca bangkit dari bangkunya dan melotot ke arah sang suami.


"Ada wanita yang menghampirimu? Siapa? Selingkuhan barumu? Kau tidak datang mengunjunginya beberapa hari ini jadi wanita itu datang ke kantor untuk mencarimu?" tuduh Thrisca yang sudah termakan rasa cemburu.


"Sayang, selingkuhan apa--"


"Selingkuhan apa?! Kau yang seharusnya lebih tahu, kan?! Untuk apa repot-repot mengusirnya? Agar tidak ada yang tahu kalau wanita itu selingkuhanmu?!" sindir Thrisca.


"Astaga, sejak kapan istriku menjadi segalak ini?" batin Ron agak terkejut mendengar omelan Thrisca.


"Sayang, wanita itu salah alamat--"


"Alasan basi!"


Thrisca keluar dari kamar dan membanting pintu dengan kencang.


Brakk!!


"Sayang, dengarkan aku dulu.."


Ron yang hendak mengejar sang istri, mendadak menghentikan langkahnya saat mendengar ponsel kuno istrinya berdering.


"Sudah kubilang untuk membuang benda jadul ini! Kenapa masih saja disimpan?!" gerutu Ron.


"Untuk apa wanita itu menghubungi istriku?!"


Ron melirik ke arah layar burik itu dan mendapati nama "Susan" tertera di layar ponsel sang istri.


Pria itu mengangkat telepon untuk sekedar mendengarkan hal apa yang akan dikatakan oleh istri dari ayah mertuanya itu.


"Icha, kau yang menyuruh orang untuk mengusirku dari kantor suamimu?! Apa saja yang sudah kau katakan pada suamimu? Kau sengaja menjelek-jelekkanku di depan Ron dan membuatku terusir dari kantor Ron?!"


Susan langsung mengomel begitu Ron mengangkat panggilan telepon dari ibu satu anak itu.


"Kau sudah merasa hebat hanya karena suamimu pria kaya?! Kau sudah merasa menjadi nyonya, jadi kau bisa menginjak-injak orang lain seenaknya?!"


Susan terus mengomel pada orang yang salah melalui telepon.


Wanita itu berdiri di luar gedung perusahaan setelah mendapat pengusiran yang memalukan dari pihak keamanan.


Susan meluapkan rasa kesalnya pada Thrisca yang sudah menolak permintaannya mengenai pinjaman uang tempo hari.


"Aku akan memberitahukan pada suamimu kalau kau hanyalah wanita egois yang menelantarkan keluarga! Hanya pinjaman kecil saja kau tidak mau membantuku?! Kau sudah tidak peduli lagi pada perusahaan ayahmu--"


Ron segera memutuskan sambungan telepon sebelum Susan menyelesaikan kalimatnya. Pria itu mematikan ponsel istrinya dan menyembunyikan benda itu rapat-rapat agar sang istri tidak lagi mendapat telepon makian dari Susan.


"Benalu ini benar-benar mengganggu!" gerutu Ron geram seraya menatap ponsel tua sang istri.


Suami yang masih dilanda morning sickness itu semakin cemas dengan istrinya yang mungkin akan mendapat gangguan dari sang ibu tiri.


***


Thrisca mengaduk-aduk teh di dapur dengan wajah suram. Pikiran wanita itu sudah dipenuhi dengan prasangka-prasangka buruk pada sang suami yang sempat mendapat "kunjungan" dari seorang wanita di kantor perusahaan.


Ron berjalan perlahan mendekat ke arah sang istri dengan wajah tak kalah suram.


Belum sempat wanita itu menyelesaikan teh buatannya, wanita itu mendadak berlari kalang kabut menuju kamar mandi untuk mengurus rasa mual di perutnya.


"Sayang, kau mual lagi?"


Ron ikut berlari dengan panik menyusul sang istri yang kembali muntah di kamar kecil.


Pria itu meraih tangan sang istri seraya mengusap lembut perut wanita hamil itu.


Thrisca yang masih kesal pada suaminya, segera menepis tangan Ron dari perutnya dan berjalan keluar dari kamar mandi tanpa menoleh sedikitpun ke arah sang suami.


"Sayang,"


Ron mengejar sang istri dengan wajah memelas, namun Thrisca masih saja mengabaikan pria jangkung itu.


Tak lama setelah Thrisca muntah, kini giliran Ron yang berlarian ke kamar mandi karena mual yang masih melanda.


Meskipun masih kesal dan marah pada Ron, namun rasa cemas dan sayang Thrisca pada sang suami jauh lebih besar dari kekesalannya.


Wanita itu menyusul sang suami dan membantu calon daddy yang masih dilanda morning sickness itu beristirahat ke kamar.


"Sayang, istirahat saja di kamar. Aku ambilkan minuman hangat, ya? Kau mau makan sekarang?" tawar Thrisca seraya memapah tubuh lemas sang suami.


"Kau juga masih mual, kan? Sini aku gendong,"


Meski agak lemas setelah memuntahkan isi perutnya, Ron masih berusaha mengangkat tubuh mungil sang istri.


"Ron, tubuhmu masih lemas. Turunkan aku--"


"Sayang, jangan marah padaku.." rengek Ron seraya mendekap manja sang istri yang ada dalam gendongannya.


Thrisca tersenyum kecil menanggapi rengekan sang suami. Wanita itu masih belum bisa menyingkirkan kegelisahannya, namun ia juga tidak ingin berlama-lama mengabaikan suaminya.


"Maaf, Ron. Kau sendiri yang membuatku kesal," ujar Thrisca lirih.


"Tidak ada wanita yang menghampiriku di kantor, Sayang. Itu hanya wanita tak tahu malu yang tidak kukenal, hanya orang tidak penting." jelas Ron.


"Benarkah?"


"Tentu saja, Sayang. Mana mungkin aku mencari wanita lain saat aku sudah memiliki bidadari secantik dirimu,"


Ron mendudukkan sang istri dan melayangkan kecupan hangat di bibir lembut wanita cantik itu.


"Ron, dari mana kau belajar membual seperti ini?!" cibir Thrisca.


"Membual apanya? Aku hanya memuji istri cantikku,"


Suami Thrisca itu kembali menyambar bibir merah istrinya dengan ganas dan menuntut.


"Ron, kau masih ingat perkataanku, kan? Aku tidak mau ada wanita lain di antara kita. Jika kau ingin mengikuti jejak ayah dan kakek, aku tidak akan melarang. Tapi aku tidak mau ikut terlibat. Aku ingin kau lepaskan aku jika kau memang--"


Belum sempat Thrisca menyelesaikan kalimatnya, Ron sudah terlebih dulu membungkam mulut sang istri dengan ciuman maut darinya.


"Jangan mengatakan hal-hal buruk di depan anak kita! Siapa yang akan melepaskanmu?!" omel Ron dengan suara lirih nan menyeramkan.


Thrisca menunduk dan melirik ke arah perutnya yang masih rata. Wanita itu hampir saja kembali membahas mengenai perpisahan dengan pria tercintanya itu.


"Apa yang sudah kukatakan?! Mommy tidak bermaksud berkata buruk, Sayang. Tolong dengarkan perkataan yang baik-baik saja ya,"


Thrisca mengusap-usap perutnya, mengajak sang calon buah hati berbicara.


"Istirahatlah, Sayang. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.."


"Kau masih lemas, Ron. Tidak bisakah kau mengambil libur untuk hari ini? Kau pasti kelelahan sudah mengurusku dan mengurus pekerjaan. Belum lagi kau masih mengalami morning sickness yang parah,"


"Baiklah. Aku akan menemani ratuku beristirahat,"


Ron mendekap erat sang istri yang sudah terbaring di ranjang.


***


Malam hari, Thrisca masih dilanda kegelisahan mengenai "wanita" yang dibicarakan oleh Han pada Ron.


Wanita hamil itu semakin menaruh kecurigaan tak berdasar pada sang suami malang yang tidak bersalah itu.


Thrisca diam-diam mengambil ponsel Ron yang tergeletak di atas nakas begitu ia melihat sang suami yang sudah memejamkan mata.


Istri Ron itu memberanikan diri memeriksa ponsel suaminya yang selama ini tak pernah ia pegang.


"Ponsel Ron terlihat mewah sekali," gumam Thrisca seraya mengamati benda kotak canggih itu secara seksama.


Ron yang hanya memejamkan mata tanpa tertidur, mulai mengintip sang istri yang tengah sibuk mengotak-atik ponsel miliknya.


"Bagaimana cara menghidupkan benda ini?" gumam Thrisca kebingungan.


Ron tidak bisa menahan tawanya melihat sang istri yang kesulitan menggunakan ponselnya.


Thrisca terus membolak-balikkan benda kotak itu dan memencet semua tombol untuk mengoperasikan benda elektronik mahal itu.


"Begini caranya, Sayang.."


Ron tiba-tiba memeluk tubuh Thrisca dari belakang dan menuntun jari jemari sang istri mengotak-atik ponsel itu.


Thrisca yang terkejut, segera meletakkan ponsel sang suami di ranjang dan berpura-pura seperti tidak melakukan apapun pada benda milik suaminya itu.


"P-ponselmu berbunyi tadi! Aku hanya ingin mematikannya agar tidak menggangu istirahatmu!" ujar Thrisca berbohong.


"Sayang, aku tidak suka kau berbohong hanya untuk hal sepele seperti ini." tegur Ron tegas.


Thrisca menunduk malu, mencoba menyembunyikan wajahnya dari sang suami.


"Aku.. em, maaf." ujar Thrisca lirih.


"Maaf untuk?"


"Maaf, sudah mengotak-atik ponselmu tanpa ijin. Maaf, aku berniat memeriksa isi ponselmu."


"Kenapa harus minta maaf? Kau boleh melihat isi ponselku kapan pun kau mau, Sayang.."


Ron memeluk erat sang istri yang sudah berwajah muram.


"Benarkah?"


"Semuanya sudah menjadi milikmu. Tidak perlu meminta ijin dariku kalau hanya ingin menggunakan benda-benda di rumah ini,"


"Kau tidak mempunyai ponsel lain, kan? Biasanya pria kaya mempunyai banyak ponsel khusus untuk simpanannya," sindir Thrisca.


"Kau masih memikirkan perihal tadi pagi?"


Ron membuka ponselnya dan memperlihatkan seluruh isi pesan, kontak serta galeri foto yang tersimpan di benda itu.


Terdapat banyak nomor kontak di ponsel sang suami, namun mayoritas hanyalah nomor rekan kerja.


Ron juga tidak menyimpan pesan apapun dalam ponselnya itu. Hanya ada beberapa pesan dari Thrisca yang ia simpan meskipun sang istri hanya menulis balasan singkat seperti "Iya", "Oke", "Baik".


Thrisca tersenyum kecil saat mengetahui suaminya menyimpan nomornya dengan nama "bidadari nomor satu".


"Apa ini, Ron? Kau menyimpan kontakku dengan nama senorak ini?" ejek Thrisca.


"Biar saja! Terserah aku ingin menyimpanmu dengan nama apa!" sanggah Ron.


Wanita cantik itu kemudian beralih ke galeri foto sang suami. Terdapat banyak foto yang tersimpan di ponsel milik suaminya itu, dan mayoritas berisi foto yang menampilkan wajah cantik istrinya.


Ron mengambil banyak foto sang istri secara diam-diam mulai dari foto sang istri yang tertidur lelap hingga foto istrinya saat berada di luar rumah bersamanya.


"Kapan kau memotret ini semua, Ron?" tanya Thrisca agak terharu.


"Aku.. hanya iseng saja," cibir Ron malu mengakui kelakuannya yang suka mengambil foto sang istri tanpa ijin.


"Ron, fotoku jelek sekali! Aku hapus saja!" omel Thrisca saat melihat foto dirinya yang nampak mengerikan dengan muka bantal hingga foto dirinya yang nampak buram.


"Jangan dihapus! Enak saja!" omel Ron berusaha merebut ponselnya dari tangan sang istri.


"Tapi fotoku jelek, Ron!"


Wanita itu tak membiarkan sang suami merebut ponsel itu begitu saja.


Thrisca semakin jengkel melihat banyak foto jelek dirinya, bahkan ia juga menemukan foto tak senonoh dirinya yang tersimpan di ponsel Ron.


"Foto apa ini, Ron?! Menjijikkan!"


Thrisca melihat fotonya yang tengah mengenakan pakaian dalam, juga tersimpan di ponsel sang suami.


Tidak hanya foto mengenakan pakaian dalam, bahkan Ron juga memotret sang istri yang tengah bertelanjang bulat dengan pose seksi di atas ranjang.


"Ron, kau benar-benar mesumm!!"


Thrisca memukul-mukul suaminya dengan bantal.


"I-itu hanya untuk konsumsi pribadi!"


Ron mengambil alih ponselnya sebelum istrinya menemukan lebih banyak hal memalukan tersimpan dalam benda keramat itu.


"Hapus foto itu sekarang juga!"


"Mana boleh! Aku melihat foto ini hanya saat aku jauh darimu! Foto-foto ini bisa mengobati rasa rinduku padamu!" protes Ron.


"Jadi, kau suka menyimpan foto-foto tidak senonoh seperti itu dalam ponselmu?!"


"Hanya fotomu, Sayang. Aku tidak menyimpan foto telanjang wanita lain."


"Ron, kau ini!!"


Thrisca memukul-mukul bahu suaminya dengan kencang.


"Kalau begitu maukah kau membantuku memotret foto yang bagus?"


Ron tersenyum nakal seraya menarik pakaian sang istri.


"Ron!!"


Thrisca semakin gemas mencubiti dan menjewer sang suami yang mencoba melucuti pakaiannya untuk mendapatkan lebih banyak foto seksi sang istri.


***


Bersambung...