
Thrisca menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. Beberapa hari yang lalu baru saja ia menandatangani surat cerai yang diberikan oleh suaminya. Namun hari ini suami yang sudah menggugat cerai dirinya itu berkata bahwa ia tidak akan menceraikannya.
"Apa ada alasan khusus kenapa kau membatalkan perceraian kita untuk saat ini?!" tanya Thrisca dengan wajah serius.
"Apa?! Kau ingin bercerai dariku sekarang?! Bukankah kau bilang kau kesepian? Mulai sekarang aku akan menemanimu,"
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ron dengan mudah.
"Apa karena aku membohongimu? Kau ingin mengerjaiku lagi?" tanya Thrisca dengan tatapan curiga.
"Kedokmu sudah terbuka. Untuk apa aku mengerjaimu lagi?!"
"Kau juga membodohiku. Kita sudah impas!"
"Kebohonganmu lebih mengerikan! Kau hampir saja membuatku menjadi seorang pembunuh!"
"Itu masalahmu.." cibir Thrisca.
Gadis itu tak menyangka ia bisa berbincang santai dengan suami yang tak pernah ia temui itu. Suami yang tak pernah pulang. Suami yang hanya ia lihat pada saat hari pernikahan mereka. Suami yang tidak pernah menganggap keberadaan dirinya.
Thrisca mengambil mangkok Ron dan hendak mencuci peralatan makan yang kotor itu.
"Biar aku saja,"
Ron merampas mangkok dari tangan istrinya.
"Naiklah ke atas. Aku akan membawakan air untuk meminum obat,"
Pria itu mendorong pelan istrinya agar kembali ke kamar.
"Aku bukannya sakit parah. Hanya mencuci dua mangkok kotor, tanganku tidak akan patah.."
"Aku bilang naik ya naik saja! Kenapa kau terus saja mempermalukan niat baik dariku?!"
Ron kembali tersulut emosi.
"Baiklah. Terimakasih, Tuan."
"Tuan siapa?" tanya Ron dengan tatapan dingin.
"Apa?!"
Thrisca menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ron dengan wajah bingung.
"Apa kau tidak aneh memanggil suamimu sendiri dengan sebutan tuan?!" tanya Ron dengan nada sebal.
"Biasanya aku juga memanggil begitu. Kau tidak pernah mempermasalahkannya,"
"Tentu saja sekarang menjadi masalah! Aku membiarkannya karena saat itu kita belum saling mengenal. Sekarang apa aku masih menjadi orang asing bagimu?"
"Dari awal kita memang orang asing, kan?!"
"GENDUT!!! Kau benar-benar menyebalkan! Naik sana! Melihatmu hanya membuatku naik darah!"
Ron menciprat-cipratkan air sabun pada Thrisca dengan kesal.
Thrisca hanya bisa tersenyum menanggapi kekesalan suaminya. Gadis itu tahu betul apa yang dimaksud oleh suaminya. Namun saat ini bagi Thrisca, Ron masih menjadi orang asing.
Bagi Thrisca, Ron hanyalah teman berbincang sesaat yang mampir sebentar untuk menemaninya minum teh. Setelah teh itu habis, Thrisca akan kembali pada kenyataan, menghadapi dunianya yang sepi dan sunyi seorang diri.
***
Thrisca membuka mata perlahan dan mencari sosok Ron yang sudah menghilang dari ranjang.
Pria itu tengah duduk di meja kerja yang terletak tak jauh dari ranjang tidurnya. Ron nampak sibuk dengan laptopnya dan tengah serius menyelesaikan pekerjaannya.
Gadis itu bangun tanpa bersuara, namun Ron bisa menangkap dengan jelas sosok istrinya yang sudah bangun itu.
"Kau sudah bangun?" tanya Ron hingga membuat Thrisca yang tengah merapikan kasur tersentak kaget.
"Emm. Maaf aku bangun siang. Tuan butuh sesuatu? Bagaimana dengan sarapanmu?" tanya Thrisca.
Pasangan suami-istri itu benar-benar sudah terlihat seperti pasangan yang sebenarnya.
"Aku sudah memesankan makanan untukmu. Segera minum obatmu. Hari ini istirahat saja."
Ron berkata sambil terus menatap layar laptop.
Thrisca keluar dari kamar Ron dan berjalan menuju meja makan. Ron sudah mempersiapkan segalanya untuknya.
Gadis itu duduk termenung di meja makan. Begitu melihat Han yang berjalan melewatinya, gadis itu mencoba mengajak pria itu berbincang sejenak.
"Mas Han.." panggil Thrisca.
"Ada yang bisa kubantu, Nona?"
Han mendekat ke arah Thrisca dan berbicara dengan sopan.
"Itu.. aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membodohi siapapun. Maafkan aku." ujar Thrisca dengan suara lemah lembut.
"Aku yang seharusnya meminta maaf! Aku sudah mengambil keuntungan dari gadis ini," batin Han tak rela melihat wanita cantik di hadapannya itu meminta maaf kepadanya.
"Nona, tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya tidak berhak menuntut kata maaf maupun penjelasan dari Nona," tutur Han dengan sopan.
"Terimakasih. Kalian semua sangat pengertian. Apa Mas Han sibuk? Bagaimana dengan sarapan? Aku tidak ingin makan sendiri.." pinta Thrisca dengan wajah takut-takut
"Padahal aku hanya pegawai suaminya, kenapa dia terlihat sungkan sekali padaku? Wajah malunya itu, benar-benar manis.." pikiran Han mulai melayang memikirkan istri orang lain.
"Tentu, Nona. Kalau Nona tidak keberatan,"
Han menyambut tawaran Thrisca dengan senang hati.
"Terimakasih. Silahkan duduk,"
Thrisca sibuk mengambil peralatan makan dan menyiapkan sarapan untuk Han.
Sementara itu, Ron nampak berjalan keluar kamar dan hendak mengambil air di dapur. Pria itu tidak tahan ingin memecahkan gelas saat melihat istrinya tengah menikmati sarapan sambil tertawa ceria bersama dengan pria lain yang tidak lain ialah asistennya sendiri.
"Han! Apa jammu rusak?! Jam makan siang masih lama! Ini masih jam kerja, apa yang kau lakukan disini?!" teriak Ron dari dapur.
Thrisca menoleh ke arah Ron yang tengah mengomel pada pria yang masih duduk tenang di hadapan gadis itu.
"Tuan, Mas Han sedang makan. Aku yang memintanya menemaniku. Biarkan dia menghabiskan makanannya dulu," bela Thrisca.
"Gendut! Makan di atas saja!"
Ron mengambil piring makanan Thrisca dan menarik tangan gadis itu menuju kamar.
"Mas Han habiskan saja. Maaf sudah membuatmu kena marah," sesal Thrisca.
"Untuk apa repot-repot meminta maaf pada pemalas itu?! Habiskan makananmu cepat!" bentak pria berambut coklat gelap itu.
"Apa rencanamu hari ini?" tanya Ron dengan tangan sibuk memeriksa berkas, sementara Thrisca melanjutkan acara sarapannya.
"Tidak ada. Aku selalu di rumah."
"Kakek ingin bertemu denganmu. Bagaimana kalau besok?"
Ron meminta pendapat istrinya.
"Kapan saja aku bisa."
"Beritahu aku kalau besok badanmu masih tidak enak. Kita tidak perlu terburu-buru menemui tua bangka itu." ujar Ron seraya mengambilkan obat untuk Thrisca.
"Em.." Thrisca mengangguk pelan.
"Istirahat saja. Aku harus kembali ke rumahku yang lain."
Pria itu menaikkan selimut istrinya.
Mendengar ucapan Ron, wajah Thrisca mendadak menjadi murung seketika. Acara kunjungan suaminya telah usai. Ia benar-benar tidak rela jika rumah besar yang ia tempati kembali menjadi bangunan sepi.
"Kenapa dengan wajah cemberut itu?!"
"Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan," ucap Thrisca cuek dan segera memejamkan matanya.
"Aku hanya mau pulang mengambil pakaian dan berkas kerjaku. Kau begitu tidak rela berpisah denganku?" goda Ron pada istrinya.
"Aku tidak dengar! Pulang saja sana!"
"Baik! Tentu aku harus pulang ke rumahku yang sebenarnya!"
Ron berjalan keluar dari kamar. Thrisca langsung membuka mata begitu tidak ada lagi suara yang terdengar di dalam bangunan tempat tinggalnya itu.
Tak berselang lama, terdengar bunyi mesin mobil yang dinyalakan. Thrisca segera berlari keluar kamar dan melihat melalui jendela.
Saat ia sampai di pintu keluar, dari jendela ia dapat melihat dengan jelas mobil suaminya sudah pergi dari halaman rumahnya.
Tangis Thrisca langsung pecah saat ia mendapati lahan kosong di depan rumahnya. Gadis itu menangis bak anak kecil yang baru saja ditinggalkan orang tuanya.
Sementara itu, pria yang ditangisi gadis itu ternyata bersembunyi di ruang tamu dan melihat istrinya menangis kencang seperti bayi.
"Kenapa dengan si gendut? Hanya mobilku yang pergi, tapi sudah menangis seheboh itu."
Thrisca berjalan lemas kembali ke kamar. Kali ini bukan ke kamar besar milik suaminya, tapi ke kamar tamu kecil yang biasa menjadi tempat tidurnya.
"Gendut! Kenapa kau masuk ke sini? Kamar kita bukan disini!"
Ron menarik tangan istrinya yang hendak masuk ke kamar tamu.
Thrisca sangat terkejut hingga kembali menangis saat melihat Ron yang masih berada di rumahnya.
"Tuan!"
Gadis itu memeluk Ron dengan erat dengan air mata bercucuran di pipinya.
"Gendut, kenapa kau terus menangis? Aku tidak akan pergi kemanapun. Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian saat sakit begini?!"
Ron mengusap kepala istrinya penuh kasih.
Begitu tersadar dirinya sudah lancang melompat ke pelukan Ron, Thrisca segera menjauhkan diri dari suami galaknya itu.
"M-maaf! Aku tidak bermaksud begitu! Aku hanya senang kau tidak pergi. Maaf!"
Thrisca berlari meninggalkan Ron yang masih mematung di depan pintu kamar tamu.
"Kau mau kemana?"
Sebelum Thrisca benar-benar melarikan diri, Ron sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan wajah malunya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Ron dengan lembut.
"Tidak ada. Aku.. aku hanya--"
"Kalau kau benar-benar kesepian duduk diam di rumah ini, keluar saja. Jalan-jalan atau apapun itu. Carilah teman atau kegiatan yang menghibur. Kenapa kau malah menghabiskan waktumu untuk mengurus rumah sebesar ini sendirian?"
"Kau tahu?"
"Apa yang tidak kuketahui tentangmu?"
"Jadi tentang, penampilan palsuku itu..?"
"Kau benar-benar tidak berbakat. Kita hanya bertemu dua kali, tapi aku bisa dengan mudah menangkap basah penipu yang tidak pandai menipu sepertimu!"
"Ini.. bukan termasuk penipuan bukan? Aku tidak membuatmu rugi!"
"Siapa bilang! Kau merugikanku! Seharusnya disini aku yang mempermainkanmu, tapi kenyataannya justru kau yang membodohiku dan sengaja membuatku muak dengan penampilan anehmu itu!"
"Lalu apa? Kau akan menuntutku?!" tanya Thrisca dengan wajah cemberut.
"Untuk apa aku menuntut istriku sendiri hanya karena hal tidak penting seperti ini?! Cepat kembali ke kamar untuk istirahat! Aku tidak mau terus-terusan menjadi pelayanmu jika kau tidak juga sembuh!"
Ron menarik tangan Thrisca kembali ke kamar mereka.
Gadis itu dapat tidur dengan nyenyak setelah mengetahui Ron masih berada di rumah itu untuk menemaninya.
"Matanya jadi bengkak,"
Ron duduk di samping Thrisca yang terbaring tidur dan mengusap-usap lembut mata istrinya itu.
"Gendut.. ternyata cukup menyenangkan mengobrol denganmu. Seharusnya aku mencoba mengenalmu sejak awal."
***
Bersambung