
Genta keluar dari kandang kecilnya dan merayap mencari makanan di dapur sepupunya itu. Pria itu melihat Bi Inah tengah sibuk memasak sarapan untuk sang tuan rumah yang akan segera berangkat ke tempat kerja.
"Bi, tolong masak sesuatu yang berkuah untukku. Badanku agak meriang," pinta Genta pada pelayan rumah itu.
"Baik, Tuan." jawab Bi Inah dengan ramah.
"Bi, apa selama ini Bi Inah juga sudah tahu dengan penampilan asli si gendut?"
Genta mulai mengajak berbincang wanita paruh baya yang masih sibuk dengan panci dan pisau itu.
Pelayan setia yang sudah menjaga Ron sejak kecil itu hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan Genta.
"Bi Inah loyal sekali, pantas saja sandiwara Ron sampai sekarang belum terbongkar." gumam Genta.
"Sudah berapa lama si gendut tinggal disini? Apa si gendut dan Ron sering bertengkar?"
Genta masih terus mengoceh meskipun tidak mendapat tanggapan dari sang asisten rumah tangga.
"Ayolah, Bi! Apa aku sedang berbicara dengan tembok?! Aku bukan orang lain, kan? Aku juga tidak akan membeberkan apapun pada Bibi Daisy maupun Paman."
Genta membujuk wanita paruh baya itu agar mau menanggapi celotehannya.
"Nyonya belum lama tinggal disini. Nyonya dan Tuan terlihat sangat harmonis setiap hari," ujar Bi Inah tersenyum tipis.
"Benarkah? Harmonis apanya? Kalau si gendut hidup bahagia bersama Ron, dia tidak mungkin meminta pisah." gumam Genta.
"Tuan sangat perhatian pada Nyonya. Nyonya Thrisca juga sangat pandai mengurus suami." puji Bi Inah.
"Si gendut memang baik dan menyenangkan. Ron juga sangat posesif padanya. Tidak mungkin pria bodoh itu tidak menyukai istrinya, kan? Kenapa si gendut berkata kalau Ron masih menunggu mantannya?"
Genta semakin seru bergosip dengan pelayan rumah itu.
"Tuan tidak pernah membawa wanita manapun masuk ke rumah ini selain Nyonya Thrisca. Hanya Nyonya Thrisca yang diakui Tuan sebagai nyonya rumah ini." ungkap Bi Inah.
"Ron sudah melakukan sejauh ini untuk Thrisca. Pria itu pasti bersungguh-sungguh ingin membangun rumah tangga dengan si gendut, kan? Mana mungkin Ron masih mengharapkan mantan tidak tahu diri seperti Lilian?!"
Genta terus mengoceh menggosipkan sang sepupu.
"Dari perhatian yang diberikan Tuan pada Nyonya, sepertinya Tuan benar-benar sudah membuka hati untuk Nyonya."
"Bi Inah juga melihatnya, kan? Ron selalu bersikap berlebihan jika aku dekat-dekat dengan si gendut. Dari situ saja sudah terlihat jelas kalau bocah itu sangat menyukai si gendut, bukan? Si gendut itu benar-benar tidak peka. Gadis bodoh itu malah menuduh Ron masih mengharapkan mantannya."
"Tapi kalau Ron memang masih berharap pada Lian, aku tidak keberatan menampung si gendut. Daripada harus memberikannya pada pria kencan buta, lebih baik kusimpan untuk diriku sendiri saja." ucap Genta dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Bagaimanapun penampilan Thrisca, gadis itu tetaplah si gendut yang menyenangkan. Mendapat janda seperti Thrisca juga aku rela," batin Genta dengan pikiran melayang membayangkan jika suatu saat nanti ia bisa menjadikan Thrisca sebagai istrinya.
***
Thrisca berjalan perlahan keluar dari rumah kecil sang ayah dengan jalan pincang. Gadis yang terbalut banyak kain perban di tangan dan kaki itu mencoba merayap ke halaman rumah dan mencari pedagang makanan di sekitar kompleks kecil itu.
"Kenapa tidak ada warung di dekat sini? Baru ditinggal pergi beberapa bulan saja, kompleks ini sudah berubah." gumam Thrisca lemas menahan lapar.
Mata gadis itu mulai berbinar saat ia melihat pedagang sayur keliling muncul di kompleks kecilnya. Gadis itu memanggil-manggil tukang sayur dengan semangat dan berjalan pincang menuju pedagang yang membawa banyak bahan makanan itu.
Saat tengah sibuk berbelanja, tiba-tiba seorang pria mendekat dan menepuk bahu istri Ron itu.
"Icha?"
Thrisca menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan mendapati seorang pria muda tersenyum ramah padanya.
Thrisca mengerutkan keningnya dan menatap pria yang menyapanya itu dengan wajah bingung.
"Siapa orang ini? Sok akrab sekali," batin Thrisca.
"Kau sudah pulang? Aku lihat rumahmu nampak sepi selama beberapa bulan ini. Ayahmu juga jarang terlihat. Kalian baru kembali dari bepergian?" tanya pria itu dengan akrab.
"Siapa sebenarnya orang ini? Kenapa dia tahu rumahku? Apa dia juga kenal ayah? Aku tidak ingat pernah melihat orang ini," batin Thrisca seraya melempar tatapan curiga pada pria yang mengajaknya berbincang itu.
"Icha? Kau kenapa? Kau sudah tidak mengenaliku? Kita sudah bertetangga sejak sekolah menengah dan kita juga berada di kelas yang sama selama tiga tahun. Baru beberapa bulan pergi saja kau sudah lupa padaku?"
"Benarkah? Dia tetanggaku? Dimana rumahnya? Aku tidak ingat pernah melihat orang ini selama di sekolah menengah," ucap Thrisca dalam hati.
"T-tentu aku ingat. Mana mungkin aku melupakanmu. Rumah kita berdekatan, kan? Haha.."
Thrisca tertawa paksa dan mencoba bersikap ramah pada teman sekolahnya itu meskipun ia tidak mengenal orang yang mengajaknya berbincang.
Ditambahi lagi Thrisca yang tidak pernah keluar rumah, membuat gadis itu tidak mengenali orang-orang yang tinggal di dekat rumahnya.
Gadis itu juga tidak pandai bersosialisasi di sekolah. Thrisca selalu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan. Gadis berambut hitam itu juga hanya berbicara akrab pada beberapa teman perempuan di sekolahnya.
"Sudah lama aku tidak melihatmu. Padahal rumah kita berdekatan tapi aku jarang sekali melihatmu."
Pria yang tidak diketahui namanya oleh Thrisca itu masih saja mengoceh meskipun Thrisca sudah menampakkan wajah kebingungan.
"Aku pergi ke luar kota selama beberapa bulan ini." ujar Thrisca berbasa-basi.
"Jadi, kau menyempatkan pulang hanya demi reuni sekolah kita?"
"B-begitulah."
"Terimakasih kau sampai repot seperti ini hanya untuk memenuhi ajakanku. Aku akan menjemputmu nanti malam. Kita bisa berangkat bersama," ajak teman sekolah Thrisca itu.
"Jadi orang ini yang menghubungiku kemarin? Yovan? Ini pria yang bernama Yovan itu?" batin Thrisca.
"M-malam ini? Bukannya masih besok?" tanya Thrisca seraya mengingat-ingat kembali tanggal acara yang diinformasikan oleh Yovan padanya.
"Kau masih sama saja seperti dulu. Sangat ceroboh!"
Pria itu tertawa kecil dan mengacak-acak rambut Thrisca.
Thrisca segera menjauh dan merapikan rambutnya. Gadis itu tersenyum canggung pada teman sekolahnya itu.
"Acaranya malam ini. Kau selalu saja salah melihat tanggal,"
"Benarkah? Terimakasih sudah mengingatkanku. Aku bisa berangkat sendiri nanti. Tidak perlu menjemputku," tolak Thrisca pada tawaran Yovan untuk berangkat bersama.
"Kau yakin ingin berangkat sendiri?"
"Memangnya kenapa? Tempatnya di sekolah bukan?" tanya Thrisca dengan wajah polos.
"Icha, kau ini membaca undangan dariku atau tidak? Acaranya malam ini di cafe baru pusat kota. Namanya Blue Moon. Kau masih ingin berangkat sendiri?" ujar Yovan.
"Jika tahu begini jadinya, aku tidak akan ikut.." batin Thrisca menyesal.
"Baiklah. Kalau kau tidak kerepotan, aku juga tidak ingin pergi sendiri ke sana." terima Thrisca kemudian.
Yovan berlalu terlebih dulu meninggalkan Thrisca dan masuk ke salah satu rumah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Pria itu benar-benar tetanggaku?" gumam Thrisca dengan mata membulat lebar saat melihat Yovan membuka pintu rumah yang letaknya hanya beberapa meter dari kediaman ayahnya.
Thrisca membawa belanjaannya masuk ke dalam rumah. Gadis itu segera membuat makanan ala kadar dan segera menghubungi sang suami untuk meminta ijin keluar menghadiri acara reuni yang akan diadakan pada malam hari nanti.
Satu jam berlalu setelah Thrisca mengirim pesan, namun tak kunjung ada balasan dari Ron. Dua hingga tiga jam berlalu, ponsel gadis itu masih sepi dari pesan maupun panggilan.
"Sepertinya Ron benar-benar sibuk," gumam Thrisca.
Sore hari gadis berambut panjang itu segera bersiap untuk menghadiri acara sekolahnya meskipun sang suami belum membalas pesan darinya.
"Ron sudah tahu aku pulang untuk acara ini. Aku juga sudah mengirim pesan untuk memberitahunya. Pria galak itu tidak mempunyai alasan untuk memarahiku, kan?" gumam Thrisca agak cemas Ron akan mengamuk padanya karena masalah ijin.
Sementara di kota lain, suami yang tengah dipikirkan oleh Thrisca itu masih sibuk dengan tumpukan kertas di atas meja kerjanya. Wajah Ron semakin masam saat melihat sang ibunda yang datang ke kantor dan menghancurkan rencananya untuk segera menyusul Thrisca.
"Ron, kau sudah lama tidak bertemu dengan ayahmu. Sapalah ayahmu sebentar saja," bujuk Nyonya Daisy mengajak sang putra untuk menemuinya ayahanda.
Pria muda yang sudah beristri itu menatap sang ibu dengan wajah suram penuh penolakan.
"Besok kan masih bisa? Aku harus menyusul istriku, Bu! Si gendut sendirian di rumah ayahnya." tolak Ron pada Nyonya Daisy.
"Hanya sebentar saja. Kenapa kau jadi aneh sekali sekarang? Kau tidak perlu berpura-pura lagi, Ron! Ibu tahu kau sudah membuat rencana untuk menceraikan Thrisca, kan? Beri saja kompensasi yang besar pada gadis itu jika kau merasa tidak enak pada kakek," ujar Ibu dari suami Thrisca itu.
"Apa yang ibu katakan? Ibu mau menghancurkan pernikahan anak ibu sendiri?" protes Ron mulai jengkel pada sang ibu.
"Menghancurkan apa? Dari awal memang tidak terjadi apapun antara kau dan juga Thrisca, kan? Lian sudah tahu kau akan menceraikan Thrisca. Dan Thrisca sendiri yang mengatakan pada Lian kalau kalian sudah sepakat untuk berpisah."
"Si gendut itu benar-benar!! Omong kosong apa yang dia ucapkan pada Lian?!" gerutu Ron dalam hati.
***
Bersambung..