
Nadine dan Han berjalan keliling pusat perbelanjaan seraya menenteng banyak kantong belanjaan. Han melangkah cepat meninggalkan Nadine yang membawa banyak barang di belakang Han.
"Pria menyebalkan ini benar-benar tidak peka!" gerutu Nadine dalam hati.
Wanita itu nampak repot membawa beberapa kantong belanja besar, sementara Han berlenggang santai dengan dua tangan kosong.
"Kau lapar? Mau makan siang dulu?" tawar Han tanpa menoleh pada Nadine.
"Iya, Pak." jawab Nadine datar.
Han berbelok ke salah satu resto yang paling dekat dengan jangkauannya. Pria itu duduk dengan angkuh menatap daftar menu tanpa menghiraukan Nadine yang berpeluh karena mengangkat banyak barang.
"Kau mau apa? Pesan sendiri!" ujar Han dingin.
Nadine hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Han. Kedua pegawai Ron itu menikmati makan siang dalam suasana hening, tanpa bersuara sedikitpun.
Nadine sesekali mencuri pandang ke arah Han yang tengah menyantap makan siang dengan tenang di hadapannya. Ingin sekali teman Thrisca itu mengajak Han berbicara, namun wajah Han terlalu menakutkan untuk Nadine.
"Kenapa terus melirikku sejak tadi?" tegur Han yang merasakan tatapan Nadine padanya.
Wanita yang tengah mengunyah makanan itu langsung tersedak dan terbatuk-batuk parah karena terkejut mendengar ucapan Han.
"Kau tidak apa-apa?"
Han langsung berdiri mendekati Nadine seraya membawa gelas minuman. Pria itu mengusap lembut punggung Nadine untuk menenangkan wanita yang tengah tersedak itu.
"Ma-maaf, Pak.." ujar Nadine terbata-bata.
"Astaga! Jangan lakukan hal memalukan lagi Nadine! Untuk apa kau terus melirik pria dingin ini?!" omel Nadine dalam hati.
"Te-terima kasih, Pak."
Nadine agak menyingkir dari Han karena pria itu terus mengusap punggung Nadine bahkan setelah Nadine berhenti batuk.
"Ma-maaf, aku hanya ingin membantu.."
Kini giliran Han yang berbicara dengan tergagap.
Suasana canggung mulai menyelimuti acara makan siang pria dan wanita itu. Nadine dan Han nampak bingung harus melakukan apa untuk mencairkan suasana yang memang suka membeku sejak awal.
"Canggung sekali.." batin Nadine frustasi.
Nadine berdiri dari bangku dan hendak kabur ke toilet untuk sejenak meredakan suasana canggung mereka.
Namun belum sempat wanita itu berpamitan pada Han, Nadine yang baru berjalan satu langkah, tidak sengaja tersandung kantong belanjaan yang ia letakkan sendiri di sekitar bangkunya.
"Pak, sa--"
Bruakk!!
Nadine jatuh tersungkur ke lantai karena belanjaan yang ia bawa sendiri. Han yang melihat Nadine terjun bebas mencium lantai di hadapannya, membuat pria itu tidak bisa menahan tawa.
Han bahkan tertawa puas menyaksikan Nadine yang berguling di lantai resto yang dingin. Beberapa pengunjung lain yang juga melihat Nadine, ikut menertawakan tingkah konyol wanita bodoh itu.
"Ya, Tuhan! Aku ingin pulang saja!" rengek Nadine dalam hati.
Han yang tidak tega melihat Nadine menjadi pusat perhatian yang ditertawakan, segera bangkit dan membantu wanita yang tersungkur itu untuk berdiri kembali.
"Kemari.."
Han mengulurkan tangan pada Nadine yang tengah mencoba bangkit dari lantai.
Wanita itu mendongakkan kepala pada Han dan menatap pria itu tanpa berkedip.
"Kenapa melamun? Kau tidak mau bangun?!" omel Han.
Nadine segera meraih tangan Han dan membiarkan pria tampan itu membantunya berdiri. Han berjongkok di depan Nadine, mengusap-usap lutut wanita itu dengan lembut. Han bahkan membantu Nadine merapikan rambut dengan menyentuh lembut kepala wanita berambut panjang terurai itu.
Nadine cukup terkejut dengan sikap Han yang begitu perhatian padanya. Meskipun Han tidak terlihat ramah di depan karyawan lain, namun pria itu cukup tahu sopan santun pada para wanita.
"Te-terima kasih, Pak." ujar Nadine seraya menyembunyikan wajah memerahnya dari Han.
"Ada apa denganku?! Kenapa aku jadi terlihat seperti pria penggoda begini?!" gerutu Han dalam hati setelah ia menyadari dirinya yang lancang menyentuh wanita yang berdiri di depannya.
"Su-sudah selesai, kan? Sana jalan dulu. Aku akan membawakan barang belanjaannya," ujar Han tergagap nan gugup.
Nadine hanya mengangguk dan kabur terlebih dulu meninggalkan Han. Wajah wanita itu semakin memerah saat melihat Han yang melayangkan senyuman tipis padanya.
"Nadine, kau payah sekali! Kenapa semua pria kau anggap tampan?!" omel Nadine pada dirinya sendiri.
***
Genta mengajak Cherry menuju coffee shop tempat ibunya menunggu. Selama berjalan bersama Genta, pikiran Cherry dipenuhi macam-macam dugaan hingga tuduhan tak berdasar pada Genta.
"Aku tidak akan dipecat, kan?!" batin Cherry cemas.
"Tidak mungkin aku akan naik jabatan, kan?! Aku bahkan masih karyawan magang. Aku tidak akan diomeli, kan? Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan apapun.." racau Cherry lagi dalam hati.
"Bisakah kau membantuku?" tanya Genta pada Cherry.
"Membantu apa, Pak?"
Cherry mengerutkan kening.
"Kau hanya perlu mengangguk untuk semua hal yang aku ucapkan. Bisa, kan?" pinta Genta.
"Hal apa ini? Pak Genta tidak mungkin menyuruhku untuk berbuat macam-macam, kan?!" batin Cherry makin bingung.
"Ayolah, kau teman si gend-- emm.. maksudku Thrisca, kan? Aku akan mentraktirmu makan. Aku juga akan mengajakmu jalan-jalan sebagai bayaran, bagaimana?" bujuk Genta.
"Aku tetap akan memberimu imbalan. Kau hanya perlu masuk dan mengangguk. Mudah, kan? Aku akan membelikanmu makan siang setelah ini."
Cherry hanya menurut dan ikut memasuki coffee shop yang disambangi oleh Genta. Pria itu berjalan menghampiri salah satu meja yang sudah diduduki oleh ibunda Genta.
"Ibu.." sapa Genta.
Berlin melirik ke arah Genta, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Cherry. Cherry melempar senyum canggung pada ibu dari atasannya itu.
"Duduk, Sayang.."
Genta menggenggam tangan Cherry dan mendudukkan wanita itu di bangku kosong yang ada di seberang meja sang ibu.
"Apa-apaan pria ini?!" gerutu Cherry dalam hati. Wanita itu menatap tajam ke arah Genta yang seenaknya menyentuh tangannya.
Ingin sekali Cherry memukul wajah tampan Genta, namun ia menahan diri sebaik mungkin untuk tidak membuat keributan di depan wanita paruh baya yang dipanggil ibu oleh Genta.
"Ini, Cherry, Bu. Calon istriku." ujar Genta memperkenalkan Cherry.
Wanita itu langsung berdiri dari kursi dan melotot ke arah Genta yang duduk manis di sampingnya.
"Apa-apaan ini?! Sandiwara keluarga kaya?! Kalau aku terlibat, nyawaku bisa terancam.." jerit Cherry dalam hati.
Berlin nampak tersentak kaget melihat Cherry yang berdiri secara tiba-tiba.
"Kenapa? Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanya Berlin pada Cherry.
Menyadari sikapnya yang kurang sopan, Cherry segera merapikan kursinya dan kembali duduk tenang.
"Ma-maaf, Nyonya." ujar Cherry lirih.
"Cherry hanya terkejut saja, Bu. Aku belum resmi melamarnya. Tapi kami sudah memiliki rencana untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius." ungkap Genta.
"Hubungan apa?! Pria ini pintar sekali mengarang cerita." cibir Cherry dalam hati.
"Sayang, ini ibuku. Aku sering menceritakannya padamu, kan? Ibuku tinggal di luar negeri." ujar Genta memperkenalkan sang ibu.
"Selamat siang, Bu." sapa Cherry seraya melempar senyum seramah mungkin meskipun dengan terpaksa.
"Kau sudah bekerja? Atau kuliah? Dimana kau tinggal? Apa pekerjaan orang tuamu?" cecar Berlin pada Cherry.
"Ibu, jangan seperti itu pada Cherry!" protes Genta.
"Seperti itu apanya?! Ibu hanya bertanya."
Cherry melirik ke arah Genta seraya melempar kode meminta bantuan.
"Apa semua wanita kaya seperti ini?! Aku bahkan tidak mempunyai pacar, kenapa aku harus merasakan dicecar calon mertua?!" keluh Cherry dalam hati.
"Aku akan membawa Cherry ke pesta ulang tahun Thrisca dan Ron nanti. Ibu bisa mengobrol banyak dengan Cherry di sana. Sekarang aku harus menemani Cherry makan siang," ujar Genta mencoba melarikan diri dari cecaran sang ibu.
"Baiklah, kalau begitu ibu tunggu nanti malam. Sampai ketemu lagi, Cherry." pamit Berlin.
"Ibu harus menemani nenekmu bersiap untuk pertemuan keluarga. Bawa juga Cherry ke pertemuan keluarga besok. Ibu tidak akan membiarkan Daisy seorang yang bisa sesumbar mengenai putranya. Ibu akan umumkan pernikahan kalian," imbuh Berlin sebelum berlalu.
Begitu Berlin keluar dari coffee shop, wajah cerah Cherry langsung berubah muram seketika. Wanita itu menggebrak meja dan siap membuat perhitungan dengan Genta.
Satu tamparan keras melayang ke wajah tampan Genta hingga membuat pipi pria itu langsung memerah.
Plakk!!
"Aku tidak peduli jika kau ingin memecatku sekarang juga! Jangan lagi sentuh tanganku seenaknya! Aku bukan boneka yang bisa dipermainkan dalam sandiwara!" omel Cherry pada Genta.
"Dengarkan aku dulu! Aku bisa jelaskan!"
"Jelaskan apa?! Kita bahkan tidak saling mengenal, apa untungnya aku membantumu?!"
Cherry berjalan dengan wajah penuh amarah meninggalkan Genta.
"Tunggu sebentar, Cherry! Tolong bantu aku kali ini saja," pinta Genta seraya menarik tangan Cherry.
"Sudah kubilang jangan sentuh aku!"
Cherry sudah bersiap melayangkan satu tamparan lagi pada Genta, namun pria itu dengan sigap menangkap tangan mungil wanita itu.
"Kau hanya perlu duduk dan berbincang dengan ibuku. Aku akan memberimu imbalan. Bagaimana kalau aku langsung mengangkatmu sebagai pegawai tetap? Aku bisa atur itu dengan Ron. Kau masih karyawan magang, kan?" tawar Genta bersemangat.
"Aku.. aku juga akan mengajakmu jalan-jalan. Bagaimana?" tawar Genta lagi.
"Aku akan memberimu tumpangan gratis untuk beberapa hari ke depan!" tambah Genta.
"Aku akan membelikanmu makan siang untuk--"
"Berhenti! Sudah cukup!"
Cherry menutup mulut Genta yang terus asyik mengoceh seperti sales.
"Tolong bantu aku! Aku hanya perlu meloloskan diri dari wanita pilihan ibuku. Kau tahu tidak, selera ibuku agak aneh! Ibuku benar-benar tidak tahu tipeku. Wanita tua itu mungkin akan membawa wanita psiko untukku.." ujar Genta panjang lebar dan mendramatisir.
"Pernikahan ini tidak akan terjadi. Aku akan mengaturnya. Kita hanya perlu menyenangkan ibuku selama wanita itu di sini. Setelah ibuku kembali pulang ke negaraku, aku juga akan kabur ke negara lain. Jadi wanita itu tidak akan memaksaku untuk menikah lagi," ujar Genta dengan ocehan-ocehan gila.
"Apa pria ini waras?! Bagaimana bisa pria gila ini menjadi sepupu Presdir dan terlahir di keluarga kaya?!" batin Cherry frustasi.
***
Bersambung...