DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 160



...Mohon maaf untuk Dear, My Ron sudah lama tidak up bab baru dikarenakan author yang sibuk mengais rejeki di dunia nyata....


...Terima kasih banyak untuk pembaca semua yang masih setia menemani Ron dan Icha berlayar hingga akhir kisah....


...Tanpa dukungan dari teman-teman semua, cerita ini cuma bakal jadi pajangan ❤️...


...Mohon maaf yang sebesar-besarnya sebelumnya, dengan berat hati author nyatakan, DEAR, MY RON tidak akan lanjut di platform ini. Author sudah pindah lapak ke platform yang lebih menyejahterakan penulis 🙏🏻...


...Bagi temen-temen yang masih mau baca cerita Ron sama Thrisca sampai tamat dan pengen tahu akhir kisah mereka, author bakal bikin versi PDF dan bakal author bagi-bagiin buat yang mau secara gratis 🥳...


...Untuk ketersediaan PDF, bakal author umumin di sini nanti kalo udah siap....


...Untuk pembaca yang mungkin masih berkenan baca tulisan author Kinosan, boleh melipir ke F*zzo bisa baca di web aja, atau di apk pun ukuran apknya juga kecil. Author nulis disana dengan nama pena yang sama dan disana baca novelnya gratisss sama kaya disini, ngga pake koin-koinan, ada audio booknya juga kalo males baca bisa dengerin mbaknya yg cerita, e-booknya juga sudah tersedia bisa didownload kalo mau baca offline. (maap sekalian promo 🥳)...



...Sampai jumpa lagi teman-teman semua. Terima kasih banyak sudah menemani hari-hari author selama beberapa bulan terakhir ini 🤗...


...***...


Thrisca berdiri di depan pintu untuk mengantarkan Ron yang hendak pergi bekerja di kantor.


Suami Thrisca itu nampak lesu dengan pandangan mata sayu karena istirahat yang tidak nyenyak. Namun pria itu sebisa mungkin menyembunyikan wajah lelahnya di depan sang istri yang sudah tersenyum cerah padanya di pagi hari sebelum melepas kepergiannya mencari nafkah.


"Daddy pergi dulu ya, Sayang? Jangan menyusahkan mommy" pamit Ron seraya mengecupi perut sang istri.


"Hati-hati, daddy Ron.." ujar Thrisca sembari mengusap lembut rambut sang suami.


"Aku berangkat dulu, Sayang. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku! Aku tidak akan lama. Setelah rapat selesai, aku akan segera pulang." pamit Ron kemudian melayangkan kecupan hangat di kening sang istri.


"Aku akan baik-baik saja, Ron. Aku mungkin akan menghubungi ibu. Boleh aku pergi ke rumah ibu?" ijin Thrisca.


"Untuk apa pergi ke rumah ibu? Kau tidak akan menginap di sana, kan? Di rumah saja! Biar ibu saja yang kemari. Kau tidak perlu kemanapun!" omel Ron.


"Baiklah." jawab Thrisca malas menanggapi omelan Ron.


"Hati-hati di jalan, Sayang. Semoga pekerjaanmu lancar hari ini," ujar Thrisca seraya mendaratkan kecupan singkat ke bibir sang suami.


"Aku akan meneleponmu nanti.."


Ron melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil dengan langkah berat.


Begitu pria itu membuka pintu kendaraannya, Ron dikejutkan dengan sebuah bungkusan berisi bekal makan siang yang sudah disiapkan oleh sang istri untuknya.


Ron mengambil bungkusan itu dengan wajah penuh haru dan menoleh ke arah sang istri.


"Aku akan membuatkan bekal yang lebih istimewa lain kali," ujar Thrisca dari pintu.


Ron melempar senyum manis pada sang istri sebelum ia berlalu meninggalkan wanita hamil itu.


Selama dalam perjalanan, pria itu terus saja memandang ke arah bekal yang sudah disiapkan oleh sang istri. Ron tak henti-hentinya tersenyum senang dan memeluk kotak makanan itu dengan girang.


***


Thrisca duduk dengan bosan di dalam rumah tanpa tahu harus melakukan apa. Wanita itu terus membolak-balikkan kertas majalah dengan wajah masam sembari sesekali melirik ke arah ponsel, menunggu pesan balasan dari sang ibu mertua.



Begitu ponsel mahalnya berbunyi, Thrisca segera menyambar benda itu dengan antusias untuk mengangkat panggilan telepon dari sang ibu mertua.


"Halo, Sayang? Bagaimana kabarmu dan Ron beberapa hari ini?" tanya Nyonya Daisy dengan suara parau.


"Apa ibu dan ayah baik-baik saja? Aku dan Ron baik-baik saja, Bu."


"Ibu baik, Sayang. Tapi ayahmu mungkin sudah menjadi zombie. Sudah beberapa hari ini ayahmu terus mengurung diri di dalam kamar." ungkap Nyonya Daisy dengan wajah muram.


"Ayah pasti sangat terpukul dengan kepergian kakek.." ujar Thrisca.


"Begitulah,"


"Bagaimana dengan kabar nenek? Apa nenek baik-baik saja?" tanya Thrisca.


"Nenekmu juga sama saja. Nenek terus mengurung diri dalam kamar dan tidak mau berbicara dengan siapapun." tukas Nyonya Daisy lirih.


"Apa ibu sibuk hari ini? Bagaimana kalau kita mengunjungi nenek?" ajak Thrisca.


"Ibu juga ingin sekali mengunjungi nenek, tapi sepertinya nenek tidak ingin diganggu."


"Ron juga masih nampak murung beberapa hari ini. Tapi dia selalu memaksakan diri untuk tersenyum padaku, Bu. Aku benar-benar tidak tega melihat Ron," ungkap Thrisca dengan wajah muram.


"Anak itu memang selalu berusaha sok keren.."


"Ibu, sebenarnya ada hal yang ingin kusampaikan pada ibu.." ujar Thrisca.


Wanita itu ingin sekali memberitahu sang ibu mertua kalau saat ini ia tengah mengandung bayi kembar untuk menghibur keluarga besarnya yang tengah berduka. Namun, Thrisca ingin Ron sendiri yang menyampaikan kabar bahagia ini pada keluarga sang suami.


"Apa, Sayang? Katakan saja."


"Aku tidak tahu apa ini bisa menjadi kabar bahagia.. tapi mungkin saja ini bisa sedikit mengurangi kesedihan ibu. Aku akan mengatakannya pada ibu saat aku berkunjung dengan Ron nanti. Aku akan mengajak Ron mengunjungi ayah," tukas Thrisca semakin membuat Nyonya Daisy penasaran.


"Kalian tidak menyembunyikan sesuatu yang penting dari ibu, kan?"


"Bukan sesuatu yang termasuk penting. Tapi ini berita yang cukup membahagiakan untukku dan Ron." ucap Thrisca bersemangat.


"Ibu, bagaimana kalau kita mengajak ayah, Ron dan nenek piknik bersama? Mungkin ini bisa menjadi hiburan yang menyenangkan," usul Thrisca.


"Piknik?"


"Atau sekedar jalan-jalan mungkin. Paling tidak ayah, nenek dan Ron bisa rehat sejenak dan kita bisa berkumpul menghabiskan waktu bersama."


"Em, ibu tidak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya. Biasanya hanya ada pertemuan keluarga biasa." tukas Nyonya Daisy.


"Kita bisa mencobanya, Bu. Mungkin ini bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bagaimana kalau kita pergi ke taman hiburan? Atau piknik di taman? Bersepeda?" saran Thrisca.


"Ibu lebih ingin bersantai di salon. Ayahmu pasti lebih ingin menghabiskan waktu di bar. Nenek juga lebih menyukai galeri seni. Dan Ron.. bukankah selera Ron agak sulit? Apa dia mau bersepeda di taman?" tanya Nyonya Daisy cemas.


"Ibu tidak perlu khawatir mengenai Ron. Aku sudah pernah berkencan dengan Ron di taman." ujar Thrisca bersemangat.


"Benarkah? Bocah itu mau keliling taman menaiki sepeda?" tanya Nyonya Daisy tak percaya.


"Ron juga nampak menikmati olahraga, Bu. Ayah dan Ron bisa menghabiskan waktu dengan bermain basket bersama. Bagaimana dengan ibu? Apa ada hal baru yang ingin ibu coba?"


"Em, ibu belum pernah mencoba liburan yang seperti ini, jadi ibu tidak tahu."


"Kau yakin ini akan berhasil? Bagaimana kalau mood ayah, nenek dan Ron justru semakin berantakan?" tanya Nyonya Daisy balik.


"Err, untuk itu.. aku belum berpikir sejauh itu, Bu. Tapi tidak ada salahnya dicoba, kan? Piknik benar-benar menyenangkan, Bu. Kita bisa mencari taman yang sejuk untuk menghirup udara segar."


Nyonya Daisy nampak berpikir keras sebelum menyetujui ajakan sang menantu.


"Baiklah, kita bisa mencobanya. Ibu akan mencari taman yang--"


"Kita ke taman umum saja, Bu. Taman yang dipakai banyak orang. Semakin ramai orang, mungkin juga bisa membantu meningkatkan mood." potong Thrisca sebelum sang ibu mertua berencana mencari taman mewah eksklusif.


"Baiklah, ibu akan mencoba mengajak nenek dan ayah."


"Terima kasih, Bu. Maaf kalau aku sedikit mengatur, tapi liburan dengan suasana baru mungkin bisa menghilangkan sejenak kesedihan ayah, nenek dan Ron."


***


Cherry duduk di sofa seraya memandangi TV dengan malas-malasan. Semenjak pernikahannya dengan Gen ditunda, wanita itu tak memiliki kegiatan lain selain berguling-guling di rumah Genta tanpa kegiatan.


Karena Nyonya Aswinda yang masih berkabung, Cherry terpaksa keluar dari rumah nenek Genta untuk sementara agar sang nenek tidak terganggu.


Genta pun mau tak mau memboyong sang calon istri tinggal bersama di rumahnya, karena Cherry tak lagi memiliki tempat tinggal di kota besar itu.


"Cherry, apa kau tidak mempunyai kegiatan lain selain menatap TV dengan wajah kusutmu itu?" cibir Genta.


"Memangnya kau mau aku melakukan apa? Kau mau aku mengepel lantai? Mencuci baju? Memasak?! Kau sudah menyuruh pelayan, bukan?"


"Maksudku bukan itu. Kau bisa pergi keluar bersama teman-temanmu jika kau mau. Memangnya Nadine tidak berada di sini?"


"Nadine belum kembali ke sini. Dia juga belum menghubungiku," tukas Cherry.


"Kalian tidak bertengkar, kan?" tanya Genta tanpa maksud buruk.


"Cih, bertengkar apanya? Untuk apa aku bertengkar dengan Cherry hanya karena pria sepertimu?! Kau pikir kau pria paling tampan di muka bumi? Kenapa kau harus bertengkar dengan sahabatku hanya untuk memperebutkan--"


"Kalian benar-benar bertengkar karena aku? Benarkah kalian bertengkar memperebutkanku?" tanya Genta dengan mulut menganga.


"Dasar mulut sial!" gumam Cherry seraya memukul-mukul bibirnya dengan geram.


"Aku pasti mabuk! Aku salah bicara!" kilah Cherry.


"Aku tidak tahu aku setampan itu sampai membuat persahabatan kalian retak.." ujar Genta mendramatisir.


"Gen, kau terlalu percaya diri!" sergah Cherry.


"Akui saja, kau--"


Belum sempat Genta menyelesaikan kalimatnya, Cherry tiba-tiba beranjak dari sofa dan berlari menuju kamar mandi.


Wanita itu memuntahkan isi perutnya dan keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.


"Kau sakit? Ayo, kita pergi ke dokter sekarang!" ajak Gen.


"Tidak perlu, paling hanya karena asam lambungku naik." tolak Cherry dengan suara lemas.


"Wajahmu pucat sekali. Lebih baik kita periksa ke rumah sakit," paksa Genta.


"Aku hanya muntah, kan? Muntah bukan berarti hamil. Lagipula aku hanya melakukannya sekali dengan Gen, mana mungkin aku langsung hamil?!" batin Cherry cemas.


"Kenapa melamun?! Cepat ambil jaketmu!" omel Genta.


"Aku tidak apa-apa, aku memang sering mual seperti ini. Ini bukan pertama kalinya. Aku sudah meminum obat dan mualku sudah berkurang," ujar Cherry.


"Hanya berkurang, kan? Wajahmu pucat dan kau masih muntah. Lebih baik periksa ke dokter agar kita tahu apa penyakitnya."


"Gen, aku baik-baik saja!" ujar Cherry seraya menahan tangan Genta yang hendak mengambil kunci mobil.


"Kau bukan dokter! Aku hanya akan percaya perkataan dokter!" sergah Gen seraya menoyor kepala Cherry.


"Gen!"


Akhirnya Cherry melakukan pemeriksaan di rumah sakit sesuai dengan permintaan Genta. Tubuh gadis itu semakin panas dingin saat ia menatap dokter yang akan menyampaikan diagnosis.


"Kenapa kau gugup sekali?" cibir Genta.


"Hem? Gugup apanya. Aku biasa saja." kilah Cherry.


"Nyonya Cherry, berdasarkan hasil pemeriksaan.. Nyonya Cherry saat ini tengah mengandung dengan usia kandungan empat minggu. Selamat Nyonya, Tuan." ungkap sang dokter sesuai dengan perkiraan Cherry.


"H-hamil?" tanya Genta tak percaya.


Cherry langsung keluar dari ruangan dokter dan meninggalkan Genta begitu saja.


Pikiran wanita itu mulai kacau saat bayi yang tak diinginkan sudah muncul ketika ia belum berhasil mendapatkan hati sang calon suami.


"Cherry, kau mau kemana?" panggil Genta mengejar Cherry.


"Jangan katakan apapun padaku! Jangan ikuti aku! Biarkan aku sendiri!" pekik Cherry tanpa menoleh sedikitpun ke arah Genta.


"Dokter bilang kau hamil, kau tidak senang dengan kabar itu?" tanya Genta penuh hati-hati.


Wanita itu menoleh ke arah Genta dengan alis berkerut.


"Senang? Kau pikir aku bisa senang saat ini? Apa kau senang saat mengetahui aku sedang mengandung anakmu?" tanya Cherry dengan mata memerah menahan amarah.


"Tentu saja aku sangat senang!" jawab Genta tanpa ragu.


"Apa?"


"Ada malaikat kecil yang akan hadir di tengah-tengah kita, tentu saja aku senang." ungkap Gen seraya berjalan mendekat ke arah Cherry dan memeluk erat calon istrinya itu.


"Selamat Cherry, kau akan menjadi ibu." ucap Genta seraya mendaratkan kecupan di kening Cherry.


***


Bersambung...


...TERIMA KASIH UNTUK SELURUH PEMBACA YANG SUDAH BERBAIK HATI MENINGGALKAN JEJAK DENGAN TAP FAVORIT, LIKE, KOMENTAR, GIFTS DAN VOTE ❤️...


...BUAT YANG LAGI NYARI BACAAN BARU, MAMPIR YUK KE NOVEL TEMENKU YANG NGGAK KALAH SERU.....