
Dini hari, Tuan Hasan berlenggang menuju salah satu rumah sakit yang berada tidak jauh dari kediamannya. Kakek dari suami Thrisca itu memasuki salah satu ruangan pasien yang hanya bercahayakan lampu remang-remang.
Tuan Hasan duduk di samping ranjang pasien dan menatap seorang pria tua yang terbaring lemah di ranjang kecil itu.
Pria tua yang terbaring itu tidak lain ialah Dani Liu, Kakek dari sang cucu menantu sekaligus kawan seperjuangannya.
Sudah beberapa bulan terakhir Kakek Dani mengalami stroke tepat setelah sang putra, Egi, pergi berobat ke luar negeri.
Baik Thrisca maupun ayahnya tidak mengetahui kalau sang kakek terbaring di rumah sakit tanpa bisa bergerak bebas lagi. Hal yang Thrisca tahu selama ini hanyalah sang kakek tengah mengunjungi kerabat jauh.
Gadis malang itu tidak mengetahui sang kakek kini tengah terbaring tak berdaya.
Sebagai pendukung yang mengurus biaya pengobatan, kabar meninggalnya ayah dari Thrisca langsung terdengar oleh Tuan Hasan.
Setelah mengurus pemulangan jenazah, kawan baik dari kakek Thrisca itu segera menghampiri Dani untuk menyampaikan kabar duka berpulangnya sang putra.
"Dani, maaf aku tidak bisa menjaga putramu. Biarkan Egi pergi dengan tenang. Aku akan menjaga Icha untukmu," ujar Tuan Hasan lirih pada sang kawan.
Kakek Thrisca membuka mata perlahan saat mendengar perkataan sang teman.
"Hari ini putramu telah mengakhiri penderitaannya. Ikhlaskan kepergian Egi."
Suara Tuan Hasan semakin bergetar. Pria tua itu mulai meneteskan air mata di hadapan Kakek Thrisca.
"Aku masih ingat betul saat kau memberikan semua uangmu padaku untuk membantu biaya operasi ibuku. Saat itu kau bahkan hampir dikeluarkan dari sekolah karena biaya yang menunggak. Tapi kau dengan mudahnya memberikan semua tabunganmu padaku untuk membantu ibuku."
Kakek dari Ron itu terus mengoceh mengenang masa lalunya bersama Kakek dari Thrisca.
Pria tua itu akan selamanya berhutang budi pada sang kawan yang tak henti-hentinya memberinya bantuan di kala susah. Kini saat tiba gilirannya membayar hutang, pria tua kaya itu justru semakin diliputi penyesalan karena merasa gagal menjaga putra dari kawannya.
"Kali ini aku akan berusaha membayar hutangku dengan baik melalui Icha. Tolong jangan tagih hutangku saat kita bertemu di alam baka nanti," ujar Tuan Hasan disertai tawa kecil.
Dani hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapan sang kawan. Tepat setelah mendengar perkataan Tuan Hasan, kakek dari Thrisca itu menutup mata perlahan.
Beberapa detik kemudian, pria tua yang sudah tidak berdaya itu ikut menghembuskan nafas terakhir menyusul sang putra.
Setelah ditinggal oleh ayah tercinta, kini Thrisca juga ikut kehilangan sang kakek.
Tuan Hasan menangis seorang diri di ruangan gelap itu seraya menatap jenazah kawannya yang baru saja berpulang.
"Dani, hutangku padamu tidak akan pernah lunas." gumam Tuan Hasan.
***
Matahari masih belum muncul, namun Thrisca sudah bersiap dengan pakaian serba hitam. Gadis itu keluar dari kamar dan melihat sang ibu tiri tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Susan memasak makanan sebanyak mungkin untuk menghibur Thrisca.
"Bibi," panggil Thrisca pada Susan.
"Icha, kau sudah bangun? Ini masih jam empat. Istirahat saja dulu. Pemakamannya masih nanti jam sepuluh," ujar Susan.
"Apa yang Bibi lakukan sepagi ini?"
"Ini, maaf Bibi mengambil semua bahan yang Bibi temukan di dapur."
"Tidak apa. Tapi untuk apa masak sebanyak itu? Tidak ada banyak orang di rumah ini." ujar Thrisca dengan wajah suram.
"Bibi hanya ingin mencari kesibukan. Pemakaman ayahmu sedang diurus. Ayahmu akan dibawa pulang ke rumah nanti jam delapan."
Thrisca hanya diam mematung mendengar perkataan ibu tirinya. Pikiran gadis itu benar-benar kosong. Ia bahkan tidak menghubungi sang suami untuk memberitahu mengenai berita duka sang ayah.
Sama halnya seperti Thrisca, Tuan Hasan yang tenggelam dalam kesedihan dan sibuk mengurus dua jenazah sekaligus, juga tidak sempat memberitahu Ron mengenai berita duka ayah mertua dari cucunya itu.
Ron yang tidak tahu apapun mengenai kabar sang istri, terus uring-uringan hingga terjaga sepanjang malam.
Pria itu menghabiskan semalaman bersama puntung rokok dan ponsel.
Setiap menit berlalu tak henti-hentinya Ron memeriksa benda kecilnya itu untuk sekedar melihat apa istrinya mengirimkan pesan padanya.
Hingga pagi menjelang, akhirnya Ron memutuskan untuk menyusul sang istri.
"Han, aku akan menyusul istriku. Tolong urus pekerjaanku," ujar Ron pada sang asisten yang baru saja muncul di rumahnya.
"Baik, Bos. Akhir pekan tidak terlalu banyak pekerjaan menanti." ujar Han dengan wajah suram.
Asisten Ron itu baru saja mendapatkan kabar dari asisten Tuan Besarnya mengenai kabar duka dari keluarga Thrisca.
"Kenapa masih disini? Pergi kerja sana!" usir Ron.
"Bos tidak akan membawa kursi roda?"
"Untuk apa? Aku hanya mengunjungi istriku dan mertuaku. Ayah Thrisca tidak datang ke pernikahanku, mungkin saja ayah si gendut tidak tahu kalau aku pria lumpuh. Lagipula aku juga tidak berniat berpura-pura lumpuh di depan ayah Thrisca,"
Wajah Han semakin muram saat sang Bos membahas mengenai mertuanya yang sebenarnya sudah meninggal itu.
"Bos. Sebaiknya Bos bergegas menyusul Nona." ujar Han mulai mencoba menyampaikan kabar duka yang disimpannya.
"Tidak perlu kau suruh juga aku akan menyusul istriku sekarang."
Ron berjalan perlahan meninggalkan Han untuk bersiap.
"Ayah Nona sudah meninggal, Bos." ujar Han seraya menutup mata sebelum Ron benar-benar pergi dari hadapannya.
Pria itu mencoba mencerna perkataan Han dengan baik dan berbalik menatap sang asisten dengan sorot mata tajam.
"Apa maksudmu? Baru saja istriku bilang ayahnya akan pulang. Baru saja si gendut mengajakku untuk menemui ayahnya! Omong kosong apa yang kau bicarakan?!"
"Tadi malam pukul tujuh, ayah Nona Thrisca telah berpulang. Pemakaman akan dilakukan di kediaman Nona nanti pukul sepuluh." terang Han.
Tanpa pikir panjang, Ron segera berlari menuju kamar dan bersiap dengan pakaian serba hitam. Han segera menyiapkan mobil dan segala kebutuhan sang Bos untuk menyusul Thrisca.
***
Sebuah mobil mewah nampak terparkir di halaman kecil rumah ayah Thrisca. Pria tua keluar dari kendaraan roda empat itu dan berjalan menuju rumah kecil Thrisca.
"Icha, bisa minta tolong bukakan pintu?" pinta Susan pada Thrisca.
Gadis yang hanya duduk melamun di kamar itu, segera keluar dan menyambut tamu yang datang ke gubuk mereka di pagi buta.
Begitu membuka pintu, mata Thrisca membulat lebar saat melihat tamu yang berdiri di pintu rumahnya adalah kakek dari suaminya, Tuan Hasan.
"Icha," sapa kakek dari Ron itu dengan suara lembut.
Thrisca membeku seketika saat tamu yang dilihatnya itu ternyata bukan sekedar halusinasinya.
Gadis itu hanya diam dan menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan Tuan Hasan. Ia tidak menyangka Tuan Hasan mengetahui kelakuannya yang berdandan aneh demi menolak perjodohannya dengan Ron.
Thrisca dan Tuan Hasan duduk di lantai teras rumah kecil peninggalan sang ayah itu. Kakek dari Ron itu tidak peduli dengan setelan mahalnya dan memilih untuk mendaratkan badannya di lantai keramik berdebu itu.
"Kakek mengenaliku?" tanya Thrisca takut-takut pada Tuan Hasan.
Pria tua itu hanya tersenyum kecil melihat wajah takut dari cucu menantunya itu.
"Kakek sudah tahu dari awal. Kau dan Ron berusaha membodohi pria tua ini, kan? Maaf jika kakek mengecewakanmu, tapi kakek belum terlalu pikun untuk dapat dibodohi oleh kurcaci-kurcaci seperti kalian." ujar Tuan Hasan diselingi tawa kecil.
"Maaf, Icha tidak bermaksud seperti itu." sesal Thrisca.
"Kakek tidak marah padamu. Kakek hanya kesal pada bocah bodoh itu karena berani menggunakan alasan cacat untuk bermalas-malasan! Maaf sudah merebut Ron darimu. Bocah nakal itu mungkin akan semakin sibuk berada di kantor untuk beberapa waktu ke depan,"
"Tidak apa-apa, Kek. Itu memang sudah tanggungjawab, Ron." ujar Thrisca mencoba tersenyum ramah.
"Bagaimana kakek bisa tahu mengenai ayahku?" tanya Thrisca kemudian mulai penasaran dengan kedatangan sang kakek.
Gadis itu tidak mengetahui Tuan Hasan yang membiayai seluruh pengobatan sang ayah serta merawat kakeknya hingga mereka tutup usia.
Tuan Hasan menghela nafas sejenak sebelum mulai membuka suara pada Thrisca.
"Icha, kedatangan kakek kesini bukan hanya untuk memberikan penghormatan terakhir pada ayahmu.."
Tuan Hasan menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan kalimatnya.
"Tapi juga untuk kakekmu." sambung pria tua itu dengan wajah murung.
"Apa maksud kakek?"
***
Bersambung...