
Larut malam Ron baru bisa melepaskan diri dari keramaian pesta konglomerat yang dihadirinya.
Begitu sampai di rumah, pria itu berjalan dengan semangat menuju kamarnya untuk melihat sang istri.
"Si gendut sudah tidur.." gumam Ron saat melihat tubuh sang istri yang sudah terlelap di atas ranjang.
Pria jangkung itu menunduk dan mengecupi kening istrinya yang sudah tertidur pulas.
Suami Thrisca itu mengambil ponsel dan berjalan menjauh dari tempat tidur sang istri.
"Kirimkan hasil pemeriksaan istriku segera," ujar Ron pada seseorang melalui telepon.
Ron berjalan perlahan menuju kasur dan merebahkan diri disamping istri cantiknya. Pria berusia dua puluh delapan tahun itu tak henti-hentinya memandangi sang istri tanpa berkedip.
"Icha, aku menginginkan anak darimu hanya untuk mengikatmu di sisiku. Aku tidak benar-benar menginginkan seorang anak dalam waktu dekat. Aku hanya ingin memastikan kau tidak akan meninggalkanku.." gumam Ron berbicara pada istrinya yang sudah memejamkan mata.
Pria itu merasa anak bisa menjadi senjata ampuh baginya untuk mempertahankan istri kesayangannya.
Sama seperti Thrisca yang ingin memantaskan diri untuk Ron demi mempertahankan pernikahan mereka, Ron juga memiliki rencana tersendiri untuk mempertahankan sang istri agar terus berada di sisinya.
Tanpa mereka ketahui, pasangan suami-istri itu saling memperjuangkan satu sama lain untuk tetap bertahan bersama membangun biduk rumah tangga impian mereka.
***
Matahari mulai muncul menampakkan sinar remang-remang, namun Ron sudah menggeliat di atas kasur mencoba membuka matanya lebar-lebar.
Tangan pria itu mulai menjalar ke sekitar ranjang, namun ia tidak mendapati tubuh sang istri di kasur besar ranjangnya itu.
Ron memaksakan diri untuk membuka mata dan mencari sosok Thrisca yang sudah menghilang dari kasur.
"Kemana si gendut pagi-pagi begini?!" gerutu Ron kesal.
Pria itu melirik catatan kecil yang terselip diantara teh panas dan sandwich di atas nakas.
"Sayang, aku pergi berolahraga bersama Mas Gen. Nikmati sarapanmu," tulis Thrisca dalam memo kecil itu.
Ron menyobek-nyobek kertas kecil itu dengan kesal. Pria itu segera berganti pakaian dan bersiap dengan sepatu untuk menyusul sang istri yang tengah bersama dengan Genta.
Sementara itu, Thrisca yang baru memulai berlari beberapa putaran sudah merasa tercekik karena kehabisan nafas. Wanita itu terus berhenti setiap menit hingga membuat Genta jengkel.
"Thrisca, cepatlah! Ini hanya jogging dan kau sudah hampir mati kehabisan nafas?!" ejek Genta.
"Aku tidak pernah berolahraga, Mas Gen!" protes Thrisca.
"Kau bilang kau ingin tubuh seksi seperti model, tapi berlari berkeliling kompeks saja kau tidak sanggup!" cibir Genta.
Pria berkulit putih itu menghampiri Thrisca dan mengangkat tubuh istri sepupunya itu.
"Mas Gen, apa yang kau lakukan?!"
"Kita istirahat dulu disana," ajak Genta.
"Aku bisa berjalan sendiri! Turunkan aku!" protes Thrisca.
Ron yang sudah berkeliling di sekitar rumahnya sejak tadi, akhirnya menemukan sosok sang istri bersama Genta. Suami Thrisca itu tidak dapat membendung amarahnya saat melihat Genta yang lancang menggendong istrinya.
Pria beristri itu segera berlari kencang untuk menghajar Genta, namun langkahnya terhenti seketika saat ia mendengat teriakan Thrisca.
"Mas Gen, turunkan aku!" bentak Thrisca pada Genta.
Genta yang terkejut, segera menurunkan istri sepupunya itu dari gendongannya.
"Gendut! Aku bisa tuli!" omel Genta seraya menjewer telinga Thrisca.
"Mas Gen! Lihat saja nanti! Aku pasti bisa mendapatkan tubuh seksi tidak lama lagi! Aku tidak akan kalah dari mantan-mantan kekasih Ron! Aku akan membuat Ron tergila-gila padaku!" ujar Thrisca penuh semangat seraya kembali berlari kecil melanjutkan acara jogging mereka.
"Lari seperti keong begini mana bisa mendapatkan tubuh seksi?!" cibir Genta seraya berlari mengikuti Thrisca.
Ron masih mematung dan mulai tertinggal jauh oleh istrinya yang kembali berlari kecil melanjutkan olahraga paginya.
Pria itu tidak bisa menyembunyikan wajah harunya saat tahu sang istri melakukan banyak hal demi dirinya.
"Icha melakukan ini untukku?" gumam Ron penuh haru.
"Wanita itu benar-benar.."
Suami Thrisca itu menatap sang istri sambil tersenyum-senyum sendiri.
Ron berbalik arah meninggalkan sang istri melanjutkan olahraga pagi. Pria itu bergegas kembali ke rumah dan berniat menyiapkan sarapan untuk istrinya sebelum wanita itu pulang.
"Bi, Thrisca tidak makan makanan sembarangan saat aku tidak di rumah, kan?" tanya Ron seraya membantu pengurus rumahnya menyiapkan sarapan.
"Nyonya selalu memasak sendiri, Tuan."
"Apa yang biasanya dia makan? Jangan biarkan dia memakan banyak makanan instan!"
"Nyonya selalu memasak makanan yang sehat," jawab Bi Inah.
"Benarkah? Mulai sekarang tolong bantu Nyonya menyiapkan diet sehat."
"Baik, Tuan."
"Apa saja yang Nyonya lakukan selama aku tidak ada? Nyonya tidak melakukan hal yang aneh-aneh, kan?"
"Nyonya selalu berada di rumah, Tuan. Nyonya lebih sering menghabiskan waktu di dapur."
"Jika Tuan Muda mengkhawatirkan Nyonya, biarkan Nyonya mencari kegiatan di luar. Terus berada di rumah juga bisa membuat Nyonya stress." usul Bi Inah.
"Membiarkan wanita itu di luar rumah justru lebih mengkhawatirkan.." gumam Ron lirih.
"Aku bukannya ingin melarang Thrisca keluar, tapi wanita itu sudah terbiasa di rumah dan jarang bepergian. Aku hanya khawatir terjadi hal buruk pada Thrisca jika wanita itu keluyuran sendirian.." ungkap Ron.
"Nyonya sudah dewasa, Tuan. Percayalah, Nyonya pasti bisa menjaga diri dengan baik."
"Bagaimana aku bisa percaya pada wanita itu?! Bi Inah tahu tidak, saat Thrisca pulang ke kampung halamannya sendirian minggu kemarin, wanita bodoh itu terserempet motor! Wanita itu bahkan tidak bisa berjalan dengan benar!" ujar Ron dengan amarah membara.
"Jika aku membiarkan Thrisca berkeliaran di luar, lain kali bukan hanya motor, tapi truk bahkan kereta yang akan menyenggol tubuh kurusnya!" sambung Ron kesal.
"Tuan, jangan berbicara seperti itu!" tegur Bi Inah.
"Tuan Muda pasti sangat menyayangi Nyonya. Sampai cemas berlebihan begitu," goda Bi Inah.
"Aku hanya ingin memastikan istriku tetap baik-baik saja di rumah selama aku tidak ada.." ujar Ron lirih.
"Kalau begitu, Tuan Muda bisa mengajak Nyonya pergi bersama jika Tuan cemas membiarkan Nyonya pergi sendiri." saran Bi Inah.
"Aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama Thrisca," ujar Ron malu-malu.
"Ron, kau sudah bangun?"
Suara Thrisca mulai mendekat ke arah Ron yang masih sibuk menyiapkan sarapan.
Wanita itu berjalan beriringan bersama Genta masuk ke rumah sang suami setelah mereka selesai berolahraga pagi.
"Sayang, kenapa kau tidak mengajakku?" protes Ron pada sang istri.
Pria itu menghampiri sang istri dengan penuh semangat.
Ron menatap sinis pada Genta dan segera mendorong sepupunya itu menjauh dari sang istri. Pria itu bahkan dengan sengaja menginjak sepatu Genta dengan kencang untuk memberi pelajaran pada pria penggoda itu.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu,"
Ron melingkarkan tangan di pinggang sang istri dan membawa ratunya itu kembali masuk ke kamar.
"Kau tidak marah aku pergi bersama Mas Gen? Aku hanya lari pagi. Aku tidak pernah berolahraga, jadi aku ingin mulai belajar sedikit untuk menjaga kesehatan." jelas Thrisca dengan panik.
"Aku tidak menuduh yang aneh-aneh padamu. Kenapa harus panik begitu?" sindir Ron.
"Siapa memangnya yang panik?!" gumam Thrisca lirih.
Ron membuka pintu kamar dan segera mengunci pintu rapat-rapat begitu ia dan istrinya masuk ke dalam kamar.
"Ron, jangan macam-macam! Aku lelah dan berkeringat," rengek Thrisca.
"Macam-macam apanya? Semua yang kulakukan padamu sudah legal!" cibir Ron.
"Makan dulu sarapanmu," ujar Ron seraya menyodorkan nampan pada sang istri.
"Kau sudah sarapan?" tanya Thrisca.
"Apa pedulimu aku sudah sarapan atau belum? Kau bahkan tega meninggalkanku dan lebih memilih lari bersama Gen," sindir suami Thrisca itu.
"Kau terlihat lelah, aku hanya tidak ingin mengganggu istirahatmu, Ron.." jelas Thrisca.
"Aku tidak suka kau terlalu akrab dengan Gen.." protes Ron.
Pria itu mendekati sang istri dan bersandar di bahu mulus wanitanya.
"Sayang, sudah kubilang aku tidak akan menuntut apapun darimu. Aku menyukai Thrisca yang sekarang, kau tidak perlu mengubah apapun lagi darimu." ujar Ron seraya menggenggam tangan sang istri erat.
"A-apa yang kau bicarakan Ron? Aku tidak mengerti," ujar Thrisca pura-pura bodoh.
"Aku membicarakan ini,"
Tangan Ron menjamah gundukan bulat lembut yang bertengger di dada sang istri seraya melayangkan kecupan di bibir merah wanita cantik itu.
Ron segera menyingkirkan kaos tipis yang melekat di tubuh istrinya dan melucuti semua kain yang menghalanginya untuk menjelajahi tubuh wanitanya.
Pria itu semakin liar menggerayangi buah besar milik sang istri dan mulai melayangkan gigitan hingga isapan di buah mulus yang tumbuh di dada istrinya itu.
"Ron, aku beli mandi.." ujar Thrisca seraya mendorong kepala suaminya yang masih menautkan bibir di gundukan dada miliknya.
"Sudah memiliki gunung sebesar ini, kau masih ingin bertambah seksi di bagian mana lagi?" ujar Ron kembali mencumbu sang istri.
"Ron sudah tahu rencanaku? Kenapa dia selalu saja tahu hal-hal yang akan kulakukan?! Memalukan sekali," gerutu Thrisca dalam hati.
Wanita itu mendorong pelan sang suami yang masih antusias ******* bibirnya.
"Ron, apa yang kau tahu?" tanya Thrisca lirih.
Wanita itu benar-benar malu dengan rencana konyolnya yang hendak mempercantik diri untuk bisa menyaingi mantan kekasih sang suami yang kebanyakan berasal dari kalangan model.
"Jangan siksa dirimu dengan hal-hal yang tidak perlu! Kau sudah menjadi wanita tercantik di mataku, kau juga sudah menjadi wanita paling seksi di hatiku. Tidak perlu memaksakan diri mengubah penampilan hanya untuk mendapatkan perhatianku," ujar Ron seraya mengusap rambut sang istri.
"Tanpa kau melakukannya pun, sayangku padamu tidak akan berkurang sedikitpun." sambung Ron kembali mendaratkan ciuman di bibir mungil sang istri.
***
Bersambung...