DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 76



"Ibu.." panggil Ron lirih pada sang ibunda.


"Ron,"


Nyonya Daisy bangkit dari tempat duduknya saat sang putra datang menghampiri.


"Ibu minta maaf,"


"Aku minta maaf,"


Ron dan Nyonya Daisy berbicara bersamaan.


"Hm?"


Nyonya Daisy menatap sang putra dengan mata berkaca-kaca. Ibu satu anak itu berjalan mendekat ke arah anak laki-lakinya dan memeluk erat anak satu-satunya itu.


"Maaf, ibu sudah memukulmu. Sakit tidak? Wajahmu menjadi semakin jelek karena ibu," ujar Nyonya Daisy seraya mengusap pipi sang putra.


"Benar! Ibu membuatku tidak tampan lagi!" omel Ron dengan mata berkaca-kaca.


Thrisca yang melihat Nyonya Daisy dan Ron berpelukan dari jauh, tidak bisa menahan tangis harunya saat mengetahui suaminya sudah berbaikan dengan sang ibunda.


"Kau tidak pernah mengatakan apapun sebelumnya, jadi ibu kira tidak ada masalah apapun dengan sikap ibu. Maaf, ibu terlambat menyadarinya. Ibu sangat menyayangimu, Ron. Mana mungkin ibu lebih mementingkan kesibukan ibu daripada dirimu,"


Ron melepas pelukan ibunya dan menoleh ke belakang mencari sosok sang istri.


Thrisca berdiri jauh dari sang suami dengan air mata berlinang. Wanita itu segera berbalik badan begitu Ron menatap ke arahnya.


"A-aku akan membuatkan teh," ujar Thrisca mencoba kabur sebelum Ron menyadari wajahnya yang sudah basah karena air mata.


"Kemarilah, Sayang.."


Ron menghampiri sang istri dan menarik tangan wanita kesayangannya itu.


Pria itu langsung mendekap tubuh mungil Thrisca begitu ia melihat istrinya tengah berlinang air mata.


"Kenapa menangis, Sayang?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya senang kau sudah berbaikan dengan ibumu,"


Thrisca segera mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


Ron memeluk tubuh istrinya semakin erat dan menghujani kening wanita itu dengan kecupan bertubi-tubi.


Nyonya Daisy memandangi anak laki-lakinya yang tengah memeluk sang istri. Wanita paruh baya itu tak menyangka putranya yang berperangai kasar dan bermulut pedas bisa memberikan pelukan hangat penuh kasih sayang pada seorang wanita.


"Ron, boleh ibu berbicara pada Thrisca?" pinta Nyonya Daisy mengganggu acara pelukan putranya bersama sang istri.


"Bu, kita baru berbaikan! Tolong jangan membuatku mengatakan hal-hal yang lebih buruk lagi pada ibu!"


Ron menyembunyikan Thrisca dibalik punggungnya bak seorang superhero yang hendak menghadang penjahat yang akan menyakiti kekasihnya.


"Ibu hanya ingin berbicara sebentar saja dengan Thrisca! Jangan pelit seperti itu, Ron!"


Nyonya Daisy menghampiri Thrisca dan hendak menarik tangan menantunya itu.


"Ron, kau mulai lagi!" protes Thrisca mulai jengkel dengan tingkah sang suami.


"Ibu, jangan berkata hal-hal buruk pada istriku! Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan!" ujar Ron memeluk erat istrinya bak seorang anak kecil yang menolak untuk melepaskan mainannya.


"Hanya sebentar, Ron!"


Nyonya Daisy meraih tangan Thrisca dan menarik tangan wanita itu.


"Ibu, jangan kasar pada istriku!" omel Ron seraya menyingkirkan tangan sang ibunda dari istrinya.


"Ron, jangan kekanakan seperti ini!"


Thrisca memukul punggung tangan suaminya dengan keras.


"Sakit, Gendut!!"


Ron meringis seraya memegangi tangannya yang terkena pukulan sang istri.


"Masuk ke mobil," perintah Nyonya Daisy pada Thrisca.


"Ibu mau membawa istriku kemana?! Ibu tidak boleh membawa istriku kemanapun!"


Ron melingkarkan tangan di pinggang sang istri dengan panik saat mengetahui ibunya hendak membawa Thrisca pergi dari rumahnya.


"Ya, Tuhan! Sebenarnya anak macam apa yang telah kulahirkan?! Kenapa ada anak yang menyebalkan sepertimu?!" bentak Nyonya Daisy gemas pada tingkah sang putra.


"Ron,"


Thrisca mengusap lembut tangan suami yang masih memeluknya.


"Sudah, ya.." bisik Thrisca dengan suara lembut di telinga sang suami yang masih sibuk mengomel itu.


Mendengar suara bisikan sang istri, Ron mulai merendahkan suaranya dan mengalihkan perhatian pada istrinya.


"Aku tidak pergi bersama orang asing, Sayang. Itu ibumu, Ron. Tolong berhentilah berteriak di depan ibumu," bisik Thrisca halus di telinga Ron hingga membuat pria itu merinding.


Ron melayangkan kecupan singkat di bibir sang istri, kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh langsing wanita kesayangannya itu.


"Ron, ada ibumu disini!" bisik Thrisca seraya mencubit pinggang suaminya.


"Biar saja," ujar Ron cuek.


"Aku pergi dulu, Ron."


Thrisca melambaikan tangan pada Ron yang sudah memasang wajah masam.


Pria itu tidak menoleh sedikitpun saat istri kesayangannya berpamitan padanya.


"Gendut, kau benar-benar menyebalkan!" teriak Ron kesal setelah sang istri pergi menghilang dari rumahnya bersama Nyonya Daisy.


"Apa Ron selalu seperti itu?" tanya Nyonya Daisy membuka perbincangan.


"Seperti itu? Maksudnya?"


"Bersikap manja padamu? Merengek seperti anak kecil? Berteriak seenaknya di rumah? Sulit diatur dan bertingkah menyebalkan? Apa Ron setiap hari bersikap seperti itu padamu?" tanya Nyonya Daisy penasaran.


"Ron tidak seburuk itu. Bukan Ron yang bersikap manja, tapi Ron yang terlalu memanjakanku. Ron tidak suka aku pergi keluar jika bukan bersamanya." ungkap Thrisca.


"Sampai seperti itu? Aku sudah tidak mengenali lagi putraku."


"Bukan Ron yang sering bertingkah menyebalkan, tapi aku. Aku selalu saja membuat Ron kesal."


"Tidak perlu membela anak nakal itu. Aku tahu putraku tidak sesempurna yang terlihat, dia hanyalah bocah menyebalkan yang suka bertindak seenaknya." ujar Nyonya Daisy.


Mobil masih melaju di jalan raya padat pada malam yang dingin. Nyonya Daisy hanya membawa Thrisca berputar-putar di pusat kota seraya berbincang di dalam mobil.


"Apa saja yang kau lakukan di rumah?" tanya Nyonya Daisy.


"Aku tidak melakukan banyak hal. Ron tidak memperbolehkanku mengurus pekerjaan rumah. Tapi Ron tidak melarangku memasak. Jadi, setiap hari aku yang memasakkan makanan untuk Ron." terang Thrisca.


"Kau memasak makanan untuk Ron setiap hari? Apa dia tidak merepotkanmu? Ron terlalu rewel soal makanan,"


"Ron tidak terlalu pemilih dalam hal makanan. Dia memakan semua masakan yang kubuat untuknya dengan lahap." ujar Thrisca bersemangat.


Wanita itu tak henti-hentinya menampakkan wajah penuh senyuman saat membicarakan sang suami.


"Kau terlihat senang sekali membicarakan Ron," goda Nyonya Daisy.


"B-bukan begitu! Aku tidak bermaksud sok tahu mengenai Ron." jelas Thrisca agak panik.


"Apa tidur Ron nyenyak? Beberapa minggu ini pekerjaan sedang menumpuk di kantor. Apa Ron bisa beristirahat dengan baik?"


"Ron mendapat tidur yang cukup setiap hari. Aku juga selalu menyiapkan vitamin setelah Ron menyantap sarapannya. Ron tidak pernah melewatkan makan satu kali pun. Tidur Ron juga terjaga dengan baik,"


Nyonya Daisy cukup terharu mendengar keadaan putranya yang sangat terawat di tangan sang istri.


"Kau cukup perhatian juga pada Ron.." komentar Nyonya Daisy.


"Aku tidak memiliki kegiatan lain selain memperhatikan Ron. Merawat Ron sudah menjadi keseharianku. Rasanya seperti tengah menjaga bayi besar yang manja," ujar Thrisca seraya tersenyum kecil.


"Em, bukan begitu maksudku, Nyonya! Aku hanya senang bisa membantu Ron di rumah." imbuh Thrisca agak panik.


"Ibu.."


"Hm?"


"Panggil aku ibu," ujar Nyonya Daisy.


Thrisca tertegun mendengar ucapan dari ibu suaminya itu. Perasaan Thrisca mendadak teraduk kacau penuh dengan rasa senang bercampur haru.


Wanita yang selama ini tidak bisa memanggil sebutan ibu pada siapapun itu, akhirnya menemukan satu wanita paruh baya yang bisa ia panggil dengan sebutan "ibu".


***


Bersambung...