DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 148



Katrina duduk di ranjang kamar rumah Ron dengan tatapan kosong. Wanita itu mengusap air matanya yang bercucuran membasahi pipi halusnya.


Nona muda itu meraih ponsel dan sekali lagi mencoba menghubungi sang suami.


Berada di tempat asing seorang diri benar-benar membuat Katrina terguncang. Terlebih lagi wanita itu juga harus melewati masa berkabung tanpa seorang pun yang menemani.


"Ayah.. aku tidak tahu sampai kapan lagi aku bisa bertahan.." gumam Katrina kembali menangis sesenggukan.


Beruntung, setelah Ron mengabaikan puluhan panggilan telepon dari wanita malang itu, kini Ron sedikit luluh dan berbaik hati mengangkat panggilan telepon dari Katrina meskipun dengan sembunyi-sembunyi dari sang istri pertama.


"Berhentilah menghubungiku!" ujar Ron dingin dengan suara lirih setengah berbisik.


Katrina tidak langsung menimpali perkataan Ron. Wanita itu masih sibuk mengatur nafas dan mengendalikan diri dari tangisannya.


"Kau.. menangis?" tanya Ron yang mendengar isak tangis Katrina melalui telepon.


"Aku.. aku takut di sini sendirian, Ron. Bisakah kau kemari?" pinta Katrina dengan air mata berlinang.


"Kau bukan anak kecil lagi! Apa Nona Muda sepertimu tidak pernah tinggal sendirian di rumah?!" cibir Ron kesal.


"Ayahku selalu menemaniku jika aku berada di rumah. Aku tidak terbiasa tinggal sendirian di tempat yang gelap dan sepi seperti ini." ujar Katrina lirih.


Ron cukup merasa iba dengan keadaan Katrina yang masih diliputi duka. Pikiran pria itu kembali melayang, mengingat kembali perasaan hancur sang istri saat Thrisca juga kehilangan keluarga.


"Aku tahu saat ini kau pasti masih berduka. Tapi aku memiliki istri dan anak yang harus kujaga. Aku akan mengirim beberapa pelayan tambahan untuk menemanimu." tukas Ron.


"Malam ini saja, Ron.. tolong temani aku," pinta Katrina dengan air mata berurai.


Ron mengusap wajahnya kasar. Pria itu ingin sekali meneriaki Katrina, namun ia tahan mengingat wanita itu masih dalam masa berkabung setelah sepeninggalan sang ayah.


"Tunggu sebentar, aku akan datang. Aku melakukan ini hanya karena aku kasihan padamu!" pungkas Ron menutup panggilan.


Pria itu mengendap-endap di kamarnya sendiri dan terus melirik ke arah sang istri yang sudah tertidur lelap.


"Aku pergi sebentar ya, Sayang.." pamit Ron dengan suara lirih seraya mengecup kening sang istri.


Pria beristri dua itu bergegas meninggalkan kediaman sang istri pertama dan menyambangi rumah istri keduanya.


Thrisca yang hanya berpura-pura tidur, segera mengintip kepergian sang suami dari jendela kamarnya. Tanpa Ron tahu, wanita itu mendengarkan samar-samar percakapan sang suami bersama Katrina melalui telepon.


"Siapa yang menelepon Ron malam-malam?" gumam Thrisca.


"Kau pergi kemana selarut ini, Ron?"


***


Katrina yang sudah berdiri di depan pintu, langsung berlari menghampiri Ron dan memeluk erat pria itu.


Wanita itu menumpahkan seluruh air matanya di dada bidang Ron tanpa menghiraukan wajah masam pria yang tengah dipeluknya itu.


Ingin sekali Ron mendorong tubuh wanita yang menempel di dadanya itu, namun melihat wajah sembab Katrina membuat Ron sedikit tidak tega.


Bagaimanapun juga kehilangan keluarga terdekat pasti membawa kesedihan terdalam bagi setiap orang. Terlebih lagi, kini wanita itu juga hidup sebatang kara sama seperti istrinya.


"Sudah puas? Menangislah di dalam." ujar Ron mencoba menolak pelukan Katrina dengan halus.


Wanita itu segera melepas pelukannya dari Ron dan duduk bersama pria itu di ruang tamu.


"Tidurlah di dalam. Aku akan berada di sini." ujar Ron datar.


"Ayo temani aku sampai aku tertidur, Ron." rengek Katrina.


"Jangan coba uji kesabaranku! Aku sudah memenuhi permintaanmu. Sekarang tidur dan istirahatlah di dalam!"


"Kalau begitu.. aku ingin di sini saja denganmu." timpal Katrina.


"Terserah kau saja!"


Ron duduk berjauhan dengan Katrina seraya sibuk memainkan ponsel. Sementara istri kedua dari Ron itu, sibuk memandangi wajah tampan Ron tanpa berkedip.


Kehadiran Ron benar-benar membuat Katrina merasa jauh lebih baik. Meskipun sudah tak ada lagi ayah dan keluarga yang berada di sisinya, setidaknya ia masih memiliki satu orang yang bisa ia hubungi untuk mengusir rasa gundah di hatinya. Orang itu tidak lain ialah suami barunya yaitu Ron.


Ron sama sekali tak menghiraukan apapun yang ingin dilakukan oleh Katrina. Disaat ia tengah bersama sang istri kedua, pria itu tetap saja tak bisa lepas dari jeratan pesona istri pertamanya.


Tuan Muda itu asyik dengan dunianya sendiri, melihat foto-foto cantik Thrisca yang memenuhi ponselnya.


"Kau sedang melihat apa?" tanya Katrina melihat wajah girang Ron.


Wanita itu mendekat ke arah Ron dan ikut mengintip isi ponsel suaminya itu.


"Ron, aku benar-benar tidak menyangka kau adalah pria mesumm!" tukas Katrina seraya merebut ponselnya dari sang suami.


"Kembalikan ponselku!"


Ron merebut paksa ponsel miliknya dan memeluk erat benda kecil kesayangannya itu.


"Foto apa itu tadi, Ron? Kau mengoleksi foto-foto telanjang wanita? Kau terlihat sangat mencintai istrimu. Kupikir kau bukan pria breng--"


"Aku tidak peduli dengan pendapatmu tentangku! Tapi jangan pernah sentuh barang-barangku!" omel Ron.


"Aku tidak menyangka kau menyimpan gambar menjijikkan seperti itu di ponselmu," ujar Katrina penuh kecewa.


"Cih, apa kau bilang? Berani sekali kau mengataiku foto istriku dengan gambar menjijikkan?!"


Ron mencengkeram erat pundak Katrina hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"J-jadi itu foto istrimu? Kupikir kau maniak se--"


"Maniak apa?! Itu urusanku jika aku ingin menyimpan foto telanjang istriku! Kau seharusnya tahu sopan santun dan tidak mengintip isi ponsel orang!"


"M-maafkan aku.." ucap Katrina lirih.


"Jadi, Ron sampai segila itu menyukai istrinya? Dia bahkan terus menatap foto wanita tak berbusana di dalam ponselnya meskipun di sampingnya ada aku. Apa aku bukan wanita yang menarik bagi Ron?" batin Katrina.


"A-aku juga istrimu, Ron. Kau tidak perlu menatap foto bugill istrimu jika kau ingin.. melakukan itu. Aku tidak akan menolak jika kau meminta hakmu."


"Apa kau bilang?"


Ron menyipitkan matanya mendengar ocehan tak terduga yang keluar dari mulut Katrina.


"Meskipun pernikahan kita hanya pernikahan untuk saling menguntungkan. Tapi kita tetap suami istri yang sah. Aku tidak keberatan jika kau ingin--"


"Ingin apa? Kau pikir kau sebanding dengan istriku? Istriku seribu kali lebih cantik darimu dan tubuhnya seribu kali lebih menggoda darimu. Aku tidak bermaksud menghinamu, tapi hanya istriku yang bisa membangkitkan hasratku. Lebih baik kau tidak berbicara ngawur seperti ini lagi." timpal Ron.


"Benarkah istrimu secantik itu? Bagiku biasa saja." gerutu Katrina.


"Nona Muda manja sepertimu tahu apa?! Istriku sangat mahir memuaskanku di ranjang. Terlebih lagi wajah berkeringat wanita itu juga sangat mempesona. Buah dadanya juga sangat besar dan--"


Ron segera mengerem mulutnya sebelum ia mengoceh semakin banyak.


"Sial! Kenapa aku membicarakan hal seperti ini padamu?!" gerutu Ron seraya menoyor kepala Katrina.


"Hanya buah dada besar, punyaku juga tidak kalah besar!"


Katrina membuka kancing piyamanya memperlihatkan gunung kembarnya yang terbungkus bra pada Ron.


"Apa yang kau lakukan?! Kau melecehkann mataku!"


Ron mendorong Katrina menjauh darinya dan melempar jaketnya untuk menutupi tubuh wanita yang bertelanjang dada itu.


"Kau juga belum merasakan pelayananku, kan?! Aku juga mahir memuaskan pria di ranjang,"


Ron menatap sinis Katrina dan mendekat ke arah wanita itu.


"Sayangnya, aku tidak tertarik pada wanita bekas pria lain.." bisik Ron penuh sindiran.


"Kau tahu apa yang membuat istriku semakin istimewa? Wanita itu hanya menampakkan tubuh polosnya di depan mataku. Kulit wanita itu hanya pernah tersentuh olehku. Seluruh tubuhnya hanya pernah dinikmati olehku. Tapi kau? Kau pikir aku akan tertarik pada wanita murahan sepertimu?" ujar Ron menyeringai sinis.


***


Bersambung...