
Tengah malam, Thrisca terbangun dan melihat Ron yang tertidur pulas di tepi ranjangnya. Posisi tidur pria itu nampak tidak nyaman karena terlelap dengan posisi duduk membungkuk di bibir ranjang.
"Ron.."
Thrisca mengusap-usap lembut kepala sang suami, berusaha membangunkan pria berbaju pasien itu.
"Kenapa, Sayang?"
Ron segera bangun dengan panik dan mendekat ke arah sang istri.
"Berbaringlah di sini, Ron." ujar Thrisca seraya menggeser tubuhnya perlahan.
"Tidak perlu. Tempatnya akan menjadi sempit. Tidurmu tidak akan bisa nyenyak," tolak Ron.
"Tidak sempit, Ron. Kemarilah,"
Thrisca menarik lembut tangan sang suami dan menyuruh pria itu berbaring di sampingnya.
"Aku bisa tidur di kur--"
"Ron, tidur saja di sini. Punggungmu bisa sakit,"
Thrisca memeluk erat tubuh Ron yang sudah terbaring tepat disebelahnya.
"Maaf, Ron." ujar Thrisca lirih dalam dekapan sang suami.
"Maaf untuk apa? Aku yang bodoh karena tidak bisa menjagamu."
Ron menciumi pucuk kepala sang istri bertubi-tubi.
"Kau tidak marah, kan?" tanya Thrisca takut-takut.
"Aku akan marah kalau kau tidak bangun!" omel Ron seraya mencubit pipi sang istri.
"Jangan marah pada Cherry dan Mas Gen," pinta Thrisca.
Ron hanya diam tanpa menjawab perkataan istrinya. Meskipun dalam hal ini ia tidak bisa menyalahkan Genta, namun jauh dalam relung hatinya pria itu ingin sekali menghajar Genta yang sudah berani mengajak istrinya keluar, hingga akhirnya kecelakaan ini terjadi.
"Ron, ini bukan salah Mas Gen. Ini kecelakaan.. jika harus ada yang disalahkan, maka itu adalah salahku."
"Kenapa kau begitu membela Genta?" tanya Ron dengan wajah muram.
"Aku tidak membela Mas Gen. Aku membela hal yang benar. Maafkan aku, Ron." tutur Thrisca memelas.
Ron memeluk istrinya erat hingga ia mampu mendengar detak jantung wanita tercintanya itu.
"Berhentilah membuatku cemas! Kau hampir membuatku gila.." ujar Ron dengan tangis sendu.
"Ron, jangan seperti ini! Maaf, sudah membuatmu khawatir."
Thrisca ikut menangis sesenggukan di pelukan sang suami.
"Apa yang harus kulakukan kalau kau sampai tidak bangun lagi? Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup tanpamu?"
"Aku akan menjaga diri lebih baik lagi ke depannya.."
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Icha.."
Air mata pria itu mengalir makin deras, membasahi rambut panjang sang istri yang tergerai indah di atas bantal.
***
Nyonya Aswinda duduk melamun seorang diri di sofa ruangan Thrisca. Sang cucu menantu dan cucu kesayangannya yang masih terlelap nyenyak di atas ranjang pasien, membuat Nyonya Aswinda tidak tega membangunkan pasangan suami-istri itu.
Wanita tua itu nampak tengah gundah gulana memikirkan sesuatu dengan wajah tegang.
"Apa yang harus kulakukan pada Genta? Kalau sampai Ron tahu ibunya Gen terlibat dalam kecelakaan ini, Ron pasti mengamuk.." batin Nyonya Aswinda cemas.
Istri Tuan Hasan itu dapat dengan mudah menemukan pelaku yang sengaja mencelakai Thrisca. Orang-orang itu tidak lain ialah Berlin, dibantu oleh simpanan Tuan Derry, Lilian.
Nyonya Aswinda nampak bingung bagaimana beliau bisa membawa ini ke jalur hukum jika pelakunya masih anggota keluarga, bahkan orang tua dari cucu yang ia sayangi yaitu Genta.
Meskipun Genta bukan cucu dari Nyonya Aswinda, namun kesetiaan Gen yang selalu membantu Tuan Derry dan Ron, membuat Nyonya Aswinda juga memanjakan cucu dari istri kedua suaminya itu.
"Bagaimana aku harus menghukum Berlin agar dia tidak berulah lagi?!" batin Nyonya Aswinda mulai pusing.
"Nenek?"
Thrisca yang sudah membuka mata, mencoba bangun dari ranjang untuk menyambut sang nenek.
"Tidak perlu bangun, Sayang.."
Nyonya Aswinda yang mendengar suara Thrisca, segera berlari kecil menghampiri sang cucu menantunya yang masih terbaring lemah di ranjang.
"Sayang, bangun.. nenek datang,"
Thrisca berbisik lembut di telinga sang suami yang masih tertidur pulas di sampingnya.
"Tidak apa-apa, Thrisca. Biarkan suamimu istirahat." ujar Nyonya Aswinda.
"Kau mau cuci muka? Atau minum minuman hangat?" tawar Nyonya Aswinda.
"Tidak perlu apanya? Kau seorang pasien, tentu harus dibantu."
Nyonya Aswinda mengambil handuk kecil dan bersiap untuk mengambilkan air hangat.
Ron yang mendengar suara sang nenek, mulai menggeliat di atas ranjang dan bangkit dengan terpaksa.
"Sayang, sudah pagi? Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku akan membantumu mencuci muka." oceh Ron dengan mata tertutup.
"Ron, buka dulu matamu!" cibir Thrisca seraya menguyel-uyel pipi sang suami.
Dengan mata sipit dan rambut sarang burung, Ron berdiri dengan sempoyongan di pinggir ranjang dan berniat menyiapkan air untuk membantu sang istri membasuh wajah.
"Ron, tidur saja sana! Kau bahkan belum bisa membuka mata dengan benar!" omel Nyonya Aswinda seraya menoyor pelan kepala sang cucu.
"Nenek, pergi sana! Jangan coba-coba merebut istriku dariku! Aku bisa mengurus istriku sendiri!" omel Ron balik seraya merebut handuk kecil yang dibawa oleh sang nenek.
"Ron, memangnya kau bisa?! Mengupas bawang saja kau tidak bisa! Aku benar-benar menyesal sudah memanjakanmu bak putra raja!"
Nyonya Aswinda memukul belakang kepala Ron dengan keras.
"Nenek!"
Thrisca tidak bisa menahan tawa melihat suaminya yang terus memasang wajah cemberut serta mengomel pada sang nenek. Wajah pucat pria galak itu berangsur-angsur berubah cerah dan mulai berseri. Sadarnya Thrisca sudah membawa angin segar tersendiri bagi Ron dan menjadi obat termanjur dalam menyembuhkan tiap luka pria itu.
***
"Cherry!"
Genta berkeliling perusahaan, mencari-cari keberadaan Cherry.
Pria itu membawa bungkusan besar dan celingukan kesana-kemari mencari sosok teman dari Thrisca itu.
"Iya, Pak?"
Cherry mendekat ke arah Genta dengan malas.
"Thrisca sudah siuman. Nanti--"
"Benarkah?!" potong Cherry seraya memekik girang.
"Aku belum selesai bicara!"
Genta menoyor kepala Cherry pelan.
"Maaf.."
"Nanti Han akan mengajak Nadine menjenguk Thrisca. Ikutlah bersama mereka. Aku titip ini untuk Thrisca," ujar Genta seraya memberikan bingkisan itu pada Cherry.
"Kenapa tidak diberikan sendiri saja?!" gumam Cherry kesal.
"Aku mendengarmu, bodoh!"
Genta kembali menoyor kepala teman Thrisca itu.
"Jangan bilang kalau ini dariku! Akui saja sebagai pemberianmu." imbuh Genta.
"Kenapa harus begitu?"
"Turuti saja perintahku! Kenapa kau cerewet sekali?!" omel Genta hendak kembali menoyor kepala Cherry, namun wanita itu dengan sigap menghindar.
"Eits, tidak kena!" ujar Cherry girang.
"Tidak kena apanya?!"
Kali ini bukan menoyor, tapi Genta melayangkan pukulan pelan ke kepala wanita berambut panjang itu.
"Berhentilah memegang kepalaku!" omel Cherry geram.
"Kau sudah tahu tugasmu, kan? Aku pergi dulu.." pamit Genta.
"Pak Gen!" panggil Cherry sebelum Genta menghilang dari hadapannya.
"Itu hanya kecelakaan. Itu bukan salah siapapun. Itu juga bukan salah Pak Gen." ujar Cherry menyemangati Genta.
Wanita itu dapat merasakan gelagat Genta yang nampak merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Thrisca. Hal itu semakin terlihat dengan sikap Genta yang tidak berani menghampiri langsung istri dari sepupunya itu.
"Aku tahu!" ujar Genta sok tenang.
"Pak Gen tidak bersalah. Aku yakin Thrisca juga berpikir hal yang sama. Jangan hindari Thrisca hanya karena alasan konyol ini! Tidak ada satupun dari kita yang mengharapkan musibah ini." oceh Cherry makin panjang.
"Berhentilah berkata sok bijak! Aku tahu kau hanya wanita payah yang bahkan tidak bisa berbahasa Inggris!" ejek Genta pada Cherry untuk menutupi wajah murungnya.
Bagaimanapun juga, Genta terus dihantui rasa bersalah semenjak Thrisca dirawat di rumah sakit. Pria itu masih mencoba mengumpulkan keberanian untuk mendatangi kembali istri dari sepupunya yang masih menerima perawatan di rumah penuh obat.
"Maaf, Thrisca.. aku janji, aku akan menemuimu secepatnya dan meminta maaf secara benar." gumam Genta seraya menatap foto yang menampakkan wajah cantik Thrisca bersamanya.
***
Bersambung...