DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 152



Pagi hari, Ron tertidur di depan pintu ruangan Thrisca bak gelandangan yang terdampar.


Nyonya Daisy yang melihat anaknya seperti tunawisma terlantar, segera membangunkan Ron sebelum orang-orang melihat putranya yang menyedihkan itu.


Hari masih menunjukkan pukul empat pagi. Nyonya Daisy sudah mengunjungi sang menantu dan hendak mengajak Thrisca ke suatu tempat.


"Sayang, bangun.." panggil Nyonya Daisy seraya menepuk lembut bahu Thrisca.


"I-ibu?"


Thrisca segera bangun dan mengucek matanya, menyambut kedatangan sang ibu mertua.


"Bangun, Sayang. Kita harus ke suatu tempat. Ibu akan siapkan kursi roda." ajak Nyonya Daisy.


"Kemana, Bu?"


"Ada orang yang ingin bertemu denganmu."


"Siapa?"


"Kakek.." jawab Nyonya Daisy dengan suara bergetar.


"Ada apa dengan kakek?"


"Semalam kakek dibawa ke sini. Kondisi kakek sudah.. sudah.."


Nyonya Daisy tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.


"Tidak perlu dilanjutkan, Bu."


"Kakek ingin bertemu dengan semua cucunya saat ini juga."


***


Ron duduk menatap sang kakek yang sudah terbaring lemas di ranjang pasien. Meskipun pria itu masih kesal pada Tuan Hasan, namun Ron benar-benar tidak tega melihat pria tua kesayangannya itu tergolek lemah.


"Ron.." panggil Tuan Hasan.


"Kenapa? Omong kosong apa lagi yang ingin kau ucapkan padaku?!"


"Maafkan kakek, Ron."


"Aku tidak akan memaafkan kakek sampai kapanpun!" ujar Ron berusaha menahan tangis melihat kondisi kesehatan kakeknya yang semakin menurun.


"Kalau kau tidak memaafkan kakek, bagaimana kakek bisa tenang hidup di neraka?"


"Neraka apanya?! Kakek sudah bosan hidup?!"


"Ron, mulai sekarang kaulah kepala keluarga yang akan memimpin di keluarga besar kita."


"Aku tidak mau!" jawab Ron cepat.


"Ron, tolong jaga nenek untuk kakek."


"Nenek bukan istriku! Jaga saja istri kakek sendiri!" omel Ron seraya mengusap air matanya yang sudah mengucur.


"Jangan menangis seperti bayi!" cibir Tuan Hasan.


"Aku tidak menangis! Aku masih mengantuk! Ibu membangunkanku sepagi ini hanya untuk mendengar bualanmu?!"


"Maaf kakek sudah menghancurkan pernikahanmu." ujar Tuan Hasan.


"Maaf saja tidak cukup!"


"Kakek benar-benar tidak tahu kalau kau suami yang setia. Kakek sangat lega tidak menurunkan sifat jelek kakek padamu." ungkap Tuan Hasan.


"Cih, semua sifat jelek kakek sudah menurun padaku! Sekarang aku menjadi tukang poligami sama seperti kakek!"


"Tidak, Ron. Kau hanya memiliki satu istri." sanggah Tuan Hasan.


"Apa maksud kakek--"


"Kakek punya kejutan untukmu.. kakek hanya mengerjaimu, bocah bodoh!" ejek Tuan Hasan.


"M-maksudnya--"


"Kau cari tahu sendiri apa maksud kakek! Mana mungkin kakek memberikan Icha pada tukang poligami?!"


"Apa maksudmu, tua bangka?! Kau hanya mengerjaiku apanya? Katrina--"


"Aku ingin berbicara dengan Icha." potong Tuan Hasan.


"Beritahu aku dulu, apa maksud--"


"Cari tahu sendiri saja sana!"


"Pak tua, aku--"


"Cepat panggilkan Icha. Aku tidak punya banyak waktu lagi." ujar Tuan Hasan lirih.


Suami Thrisca itu berdecak kesal seraya keluar dari ruangan sang kakek. Sementara Thrisca yang sudah menunggu di pintu, kini bergantian masuk untuk berbincang dengan Tuan Hasan.


"Icha.. bagaimana keadaanmu, Sayang?" sapa Tuan Hasan.


"Aku hanya mengalami kram perut ringan, Kek."


"Kau pasti sangat membenci kakek beberapa hari ini? Maafkan pria tua menyebalkan ini, Icha." ujar Tuan Hasan.


"Aku.. tidak berpikir seperti itu tentang kakek."


"Maaf kalau kakek menggunakan cara yang salah dan menyakitimu. Tapi kakek tidak punya pilihan lain. Waktu kakek sudah tidak banyak, jadi kakek ingin memastikan satu hal dari Ron sebelum kakek meninggalkanmu bersama dengan Ron."


"Jangan berkata seperti itu, ke--"


"Icha.. buah tidak selalu jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah itu tidak akan berlaku untuk Ron." ungkap Tuan Hasan.


"Maksud kakek?"


"Meskipun Ron adalah cucuku, dan anak dari Derry. Tapi Ron sangat berbeda dari kami."


"Hanya karena aku dan Derry memiliki banyak istri. Bukan berarti Ron juga akan melakukan hal yang sama."


"Tapi Ron sudah melakukan itu--"


"Tidak, Icha. Ron tidak pernah mengkhianati pernikahan kalian. Kau pikir kakek akan diam saja jika Ron berani menduakanmu?" tukas Tuan Hasan.


"Tapi Ron sudah memiliki istri ba--"


"Ingin kakek beritahu sebuah rahasia?"


"Hem?"


Thrisca mendekatkan telinga pada Tuan Hasan dan mendengar bisikan lirih dari pria tua itu.


Manik mata wanita itu langsung membulat lebar begitu ia mendengar penuturan Tuan Hasan.


"Kakek.. jadi Ron--"


"Ron belum tahu. Biarkan saja dia mengamuk seperti biasanya." ujar Tuan Hasan seraya melempar senyum jahil.


"Kenapa kakek sampai melakukan hal sejauh ini? Kasihan Ron dan wanita itu, Kek."


"Kakek hanya ingin memastikan Ron tidak menuruni sifat kakek dan ayahnya."


"Apa yang lain tahu?"


"Hanya kakek dan Katrina yang tahu." ungkap Tuan Hasan.


"Kakek benar-benar terhibur melihat Ron yang mengamuk karena kakek memintanya untuk menikah lagi. Kakek pikir bocah itu akan tergoda. Tapi ternyata dia justru mengamuk dan memecahkan barang-barang kakek di rumah." ungkap Tuan Hasan seraya tersenyum kecil.


"Lalu bagaimana dengan wanita itu?"


"Sayangnya, semua yang dialami oleh wanita itu benar-benar terjadi. Gadis malang itu benar-benar kehilangan orang tua dan hampir saja dibunuh oleh keluarganya sendiri. Jadi, kakek berencana untuk melindunginya sementara waktu dengan menggunakan Ron. Maaf Icha, tolong pinjamkan Ron sebentar pada kakek." terang Tuan Hasan.


"Kalau badan tua bangka ini masih sehat, kakek tentu tidak akan merepotkan Ron." imbuh beliau.


"Kakek pasti bisa sehat kembali."


"Maaf, sudah membawa bencana untukmu. Kakek mulai menyadari kalau memiliki banyak istri hanya akan menambah beban masalah. Kau tidak akan kehilangan bayimu, jika kakek--"


"Hem? Maksudnya?"


"Kakek benar-benar meminta maaf sudah membuat cicit kakek sendiri celaka."


"Kenapa kakek harus meminta maaf? Itu semua hanya kecelakaan. Sekarang perutku juga sudah terisi lagi. Aku--"


"Tolong maafkan Berlin, Icha. Kakek menyesal tidak mendidik keluarga istri-istri kakek dengan benar."


"B-berlin?"


"Kakek juga tidak menyangka ibunya Gen berani melakukan hal seperti itu. Seharusnya kakek tidak--"


"Kecelakaan yang kualami.. bukan hanya sekedar kecelakaan?" tanya Thrisca dengan suara bergetar.


"Ron tidak memberitahumu?! Bocah itu selalu saja menyimpan masalahnya sendiri. Tidak perlu dipikirkan, Sayang. Sekarang fokus saja pada bayimu. Kakek ingin sekali melihat cicit kakek, sayangnya--"


Perkataan Tuan Hasan terhenti seketika.


Pria tua itu tiba-tiba memejamkan mata dengan ekspresi menahan sakit yang luar biasa.


"K-kakek?"


Thrisca mulai panik melihat Tuan Hasan yang kesakitan.


"Ron! Ron!" teriak Thrisca dengan panik.


"Kenapa, Sayang?"


Ron langsung masuk ke ruangan sang kakek dan mendekap erat sang istri gemetar ketakutan.


Tuan Derry dan Nyonya Aswinda ikut masuk diiringi dokter yang sudah berjaga di luar ruangan.


"Dimohon seluruh keluarga untuk menunggu di luar." ujar sang dokter.


Ron segera menggendong keluar sang istri dan menenangkan wanita hamil yang tengah menangis itu.


"Kakek.. kakek belum selesai bicara. Kakek bahkan masih sempat tertawa. Aku-- aku--"


Thrisca mulai meracau dengan tangis sesenggukan dalam pelukan Ron.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kakek akan baik-baik saja." hibur Ron seraya mengusap lembut rambut sang istri.


"Kau baik-baik saja, Ron? Seharusnya aku yang menghiburmu.." ujar Thrisca seraya mengusap wajah sang suami.


"Hiburan apa lagi yang aku butuhkan? Istriku sudah tidak lagi menolak sentuhanku. Aku benar-benar senang.." ungkap Ron seraya mengecupi pipi sang istri bertubi-tubi.


"Maafkan aku, Sayang. Tolong jangan abaikan aku.. aku hancur tanpamu." tutur Ron lirih seraya membenamkan wajah di bahu sang istri.


Thrisca mengeratkan pelukannya pada Ron seraya menepuk-nepuk pelan punggung sang suami.


"Maaf, aku sudah mengabaikanmu.." bisik Thrisca lirih.


Tak lama kemudian, dokter yang menangani Tuan Hasan keluar dari ruangan pasien dengan wajah muram.


Seluruh keluarga berkumpul mengelilingi dokter dan siap mendengar penuturan sang dokter.


"Semoga seluruh keluarga diberi ketabahan. Tuan Hasan.. sudah berpulang." tutur dokter itu lirih.


Thrisca langsung masuk dalam dekapan Ron dengan air mata bercucuran. Satu-persatu keluarga yang disayanginya mulai pergi disaat ia tengah menantikan anggota keluarga baru.


Ruangan Tuan Hasan mulai riuh dengan isak tangis istri-istri Tuan Hasan yang hadir menemani saat-saat terakhir kepala keluarga besar Diez itu.


***


Bersambung...