
Pagi hari, Ron sudah terbangun dan memegangi ponselnya dengan wajah tegang.
Pria itu terus mengomel pada bawahannya melalui telepon dan berakhir dengan membanting ponsel karena kesal.
Suami Thrisca itu menarik handle pintu dengan kasar dan hampir saja membanting pintu di depan sang istri.
Ron langsung mengubah ekspresi wajahnya begitu ia melihat Thrisca sudah berdiri di depan ruangannya.
"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Ron dengan nada selembut mungkin.
"Aku.. membawakan sarapan untukmu, Ron." ujar Thrisca seraya menyodorkan nampan penuh makanan pada sang suami.
"Kenapa kau repot-repot menyiapkan sarapan? Istirahat saja. Akan kuambilkan sarapan untukmu."
"Ron, pekerjaanmu lancar? Tidak ada masalah besar, kan?" tanya Thrisca.
"Tidak ada masalah apapun. Kau tidak perlu berpikir macam-macam."
"Aku sudah meminta Cherry untuk menemaniku. Kau bisa pergi, Ron." ungkap Thrisca.
Ron terdiam sejenak. Pria itu mengusap lembut wajah sang istri seraya berpikir keras sebelum dirinya mengambil keputusan.
"Boleh aku pergi? Hanya untuk beberapa hari saja, Sayang. Tiga hari paling lama. Aku akan pulang secepatnya.." ujar Ron seraya menenggelamkan sang istri dalam dekapan hangatnya.
"Hem."
Thrisca mengangguk pelan dengan air mata bercucuran.
"Sayang, jangan menangis! Aku janji, aku akan langsung pulang."
"Kapan kau berangkat, Ron?"
"Mungkin.. nanti malam."
"Kalau begitu, aku akan membantumu bersiap."
Thrisca segera mengusap pipinya yang basah dan beranjak menuju kamar untuk membantu membantu sang suami menyiapkan keberangkatan dinas.
"Sebelum itu, ada hal lebih penting yang perlu kita lakukan!" ujar Ron seraya membopong tubuh sang istri menuju ranjang hangat mereka.
Pria itu mendudukkan tubuh molek sang istri di atas pangkuannya dan mulai menyambar liar bibir merah Thrisca.
"Ron, lebih baik kau bersiap sekarang!"
"Ayo main sekali denganku.. aku tidak akan bisa memelukmu selama beberapa malam." rengek Ron.
"Aku sedang hamil, Ron!" tolak Thrisca seraya menjewer telinga sang suami.
"Aku tidak akan kasar. Aku akan melakukannya dengan lembut," bujuk Ron seraya menyesap leher jenjang sang istri.
Tangan panjang pria itu mulai berkeliaran, meremass lembut buah ranum yang bertengger di dada wanita hamil yang berada di pangkuannya.
Thrisca mulai menggeliat dan meliuk-liuk dengan gerakan sensual di pangkuan Ron hingga semakin menaikkan gairah sang suami.
Suara lenguhann wanita itu mulai lolos ikut menyemarakkan pagi panas pasangan suami-istri yang akan berpisah itu.
"Suaramu benar-benar seksi. Aku suka.." bisik Ron seraya menggigit lembut telinga cantik sang istri.
"Sebentar.."
Ron mengambil ponsel di atas nakas dan mengarahkan kamera tepat padanya dan sang istri yang hendak bercinta.
"Ron, kau mau merekam video tidak senonoh seperti ini?!" protes Thrisca.
"Aku.. hanya ingin menambah koleksiku. Aku bisa melihatnya jika aku merindukanmu." bela Ron.
"Ron, aku tidak mau direkam! Untuk apa kau menyimpan video menjijikkan seperti itu?!"
"Ayolah, Sayang! Hanya aku yang melihatnya.." ujar Ron kembali melakukan pemanasan dengan melucuti pakaian sang istri yang masih terduduk pasrah di pangkuannya.
Pria itu kembali menyambangi gunung kembar sang istri dan melayangkan gigitan, isapan hingga remasan lembut ke buah ranum milik wanita yang tengah berbadan dua itu.
Thrisca semakin menggelinjang kegelian di pangkuan Ron dan bibir gawangnya mulai bergesekan dengan tongkat milik Ron yang sudah menegang.
"Sayang, kau tidak sabaran sekali?" goda Ron seraya menggesekkan tongkat miliknya semakin intens ke lembah nikmat sang istri.
"Ron, ingat di perutku sudah ada benihmu. Jangan terlalu berlebihan!" ujar Thrisca lirih.
Pasangan suami-istri itu menghabiskan pagi panas mereka penuh gairah sebagai salam perpisahan sebelum keberangkatan Ron berdinas ke luar negeri.
***
Wanita itu tenggelam dalam pelukan Ron yang duduk bersandar di ranjang masih dalam keadaan tak berbusana.
Ron terus menatap sang istri yang tertidur seperti bayi di pangkuannya. Sesekali pria itu melayangkan kecupan lembut ke pucuk kepala sang istri seraya memainkan bagian vital wanita yang tengah tertidur itu dengan jemari tangannya.
Thrisca yang merasakan sentuhan tak nyaman di tubuhnya, mulai terbangun dari tidur panjangnya dan disambut dengan kecupan hangat dari Ron.
"Kau sudah bangun?"
"Kenapa kau tidak membaringkan ku di ranjang, Ron? Badanmu pasti pegal memangku tubuhku sejak tadi," ujar Thrisca seraya menyingkir dari tubuh sang suami.
"Kau mau kemana? Tidur lagi saja. Aku masih ingin memelukmu.." cegah Ron kembali menarik tangan sang istri dan menenggelamkan kepala wanita cantik itu dalam dekapan dada bidangnya.
"Ron, apa kau tidak risih memelukku dengan telanjang seperti ini? Aku ingin memakai bajuku,"
"Risih apanya? Ada pemandangan bagus di depan mataku. Mana mungkin aku menolaknya," goda Ron kembali meremass gundukan dada sang istri yang menempel di dada bidangnya.
"Ron, boleh aku ikut mengantar ke bandara?" pinta Thrisca.
"Tidak perlu, Sayang. Bandaranya jauh dari sini. Kau hanya akan lelah. Istirahat saja di rumah."
"Hem." jawab Thrisca singkat.
"Aku sudah menyewa beberapa perawat untuk menjagamu. Aku juga akan meminta nenek dan ibu untuk sering mengunjungimu." ujar Ron.
"Tidak perlu berlebihan seperti itu, Ron. Cherry akan datang kemari besok pagi."
"Berlebihan apanya? Aku tidak akan meninggalkanmu di rumah seorang diri sebelum aku memastikan kau dan bayi kita benar-benar aman." ujar Ron kembali menghujani wajah Thrisca dengan kecupan.
"Sayang, jaga mommy baik-baik, ya? Daddy tidak akan pergi lama."
Ron mengusap lembut perut Thrisca dan mencoba berbincang dengan calon buah hatinya yang baru tumbuh di rahim sang istri.
Air mata lagi-lagi meluncur tanpa permisi membasahi wajah Thrisca. Untuk pertama kalinya, Thrisca benar-benar tidak rela ditinggal jauh oleh suami yang selalu menemaninya di kediaman megah mereka.
"Sayang, kalau kau menangis terus seperti ini, bagaimana aku bisa pergi?!"
"A-aku hanya menguap. Aku tidak menangis," elak Thrisca seraya menyembunyikan wajah sembabnya.
"Kau segitu tidak relanya berpisah dariku?" goda Ron seraya mencubit gemas pipi sang istri.
"T-tidak rela apanya? Aku biasa saja!" kilah Thrisca.
Meskipun berkata seperti itu, namun saat tiba waktu keberangkatan Ron, wanita itu justru kembali merengek dan meminta Ron untuk tidak pergi.
"Sayang, pesawatku sebentar lagi berangkat. Aku akan meneleponmu selama di perjalanan menuju bandara. Aku berangkat sekarang, ya?" pamit Ron seraya mengusap lembut rambut sang istri.
"Kau harus cepat pulang, Ron! Kau harus sering menghubungiku." ujar Thrisca dengan tangis sesenggukan.
"Aku mengerti. Setelah ini, tidak akan ada lagi perjalanan dinas. Aku akan selalu menemanimu di rumah sampai bayi kita lahir." balas Ron mencoba menenangkan sang istri.
"Hati-hati di jalan.."
Thrisca mengecup sekilas bibir suaminya dan melambaikan tangan pada Ron dengan senyum paksa.
"Sayang, jangan menangis lagi! Jaga diri baik-baik,"
Ron ikut melambaikan tangan seraya masuk ke dalam mobil.
Pria itu langsung mengambil ponsel dan melakukan panggilan video dengan sang istri meskipun mobil yang ditumpanginya baru saja keluar dari gerbang kediamannya.
"Sudah, Sayang. Jangan menangis lagi," hibur Ron melalui panggilan video bersama sang istri.
"Aku tidak menangis." ujar Thrisca dengan wajah cemberut.
"Perawat-perawat itu akan menjagamu selama dua puluh empat jam. Jangan masuk ke dapur! Jangan lakukan pekerjaan rumah apapun! Perbanyak istirahat saja di rumah. Nenek sebentar lagi akan datang." ujar Ron.
"Hem."
"Aku.. akan merindukanmu." ungkap Ron lirih dengan wajah sendu.
"Aku juga, Ron. Aku akan merindukanmu." balas Thrisca seraya mencium layar ponselnya.
***
Bersambung...