
Lilian duduk di teras rumah kecil yang berhasil ia sewa dengan menjual beberapa barangnya.
Penampilan wanita itu nampak berantakan dan tidak terurus.
Wanita yang hanya mempunyai keluarga angkat itu tak lagi memiliki tempat untuk bersandar.
Satu-satunya teman yang membuatnya bertahan hanyalah nyawa bayi tak berdosa yang saat ini tengah tumbuh dalam perutnya.
Wanita itu memainkan ponsel kecilnya dan hendak menghubungi seseorang.
"Halo,"
"Halo, Lian? Untuk apa lagi kau menghubungiku?"
Suara seorang pria bergema di ponsel milik mantan model terkenal itu.
"Aku.. hamil." ujar Lilian.
"Lalu?"
"Lalu apa? Kau meniduriku! Tentu saja kau harus bertanggungjawab pada bayi yang ada di perutku!"
"Apa kau punya bukti kalau bayi itu milikku? Kau hanya wanita liar yang mempunyai puluhan teman ranjang. Mana mungkin aku bisa mempercayai bualanmu?!"
"Bayi ini milikmu! Tolong pertanggungjawabkan perbuatanmu padaku!"
"Kau tidak ingin menggugurkannya lagi?" sindir pria itu.
"Aku tidak memiliki apapun lagi selain bayi ini," jawab Lian lirih.
"Bukankah seharusnya sudah tidak bisa hamil?"
"Aku juga tidak tahu. Bukan tidak bisa, tapi kemungkinannya kecil. Aku tidak menyangka kemungkinan kecil itu benar-benar berhasil,"
"Di mana kau sekarang?"
"Aku menyewa rumah kecil di pinggir kota. Kalau kau mau menjemputku ke sini, aku akan berikan alamatnya."
"Kenapa kau yakin sekali aku akan menjemputmu?"
"Tidak perlu berpura-pura lagi! Kau masih menyukai tubuhku, kan? Aku akan memberikannya padamu secara gratis."
Lilian menutup telepon dan segera mengirimkan alamat pada seorang pria tua yang tidak lain ialah ayah dari mantan kekasihnya, Tuan Derry.
"Pria tua itu tidak akan curiga, kan? Aku sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak ini. Semoga saja benih ini benar milik tua bangka itu. Jadi, aku bisa kembali menikmati hidupku yang nyaman tanpa harus bersembunyi di tempat kecil seperti ini," gumam Lilian.
***
"Sayang, aku lapar.." ujar Thrisca melalui telepon.
Ron yang berada di lantai bawah, segera naik ke kamarnya untuk menghampiri sang istri begitu ia mendapat panggilan dari permaisurinya itu.
"Kau mau apa?"
"Aku.. ingin nasi goreng," pinta Thrisca.
"Jangan nasi goreng! Terlalu berminyak. Tidak sehat. Ganti yang lain saja,"
"Ron, tapi aku ingin nasi goreng.." rengek Thrisca.
"Sayang, makan yang lainnya saja, ya? Bagaimana kalau sup brokoli? Atau oatmeal? Lebih sehat, Sayang."
"Aku ingin melihat sepiring nasi goreng di meja makan, Ron.."
Ron menghela nafas sejenak. Pria itu mengusap rambut sang istri dan menuruti semua rengekan istri cantiknya itu.
"Hanya nasi goreng? Aku akan pesankan--"
"Pesan apa? Aku ingin kau yang memasak,"
"Hm?"
Ron menatap sang istri dengan mata membulat lebar.
"Ayolah, Ron!" paksa Thrisca.
"Kau tidak takut keracunan? Aku tidak bisa membuat makanan layak konsumsi," keluh Ron dengan wajah memelas.
"Coba dulu, Ron. Kau kan pintar, baca saja resep dan ikuti.." ejek Thrisca.
"Kau menyindirku?"
Ron mencubit pipi sang istri gemas.
Thrisca duduk manis di meja makan seraya memperhatikan sang suami yang sibuk kesana-kemari dengan bahan makanan di tangan.
Pria itu mengupas bawang dengan susah payah dan air mata berlinang. Belum selesai Ron menyelesaikan satu siung bawang, pria itu berlari kencang meninggalkan dapur dengan wajah pucat.
"Ron, kau kenapa?"
Thrisca berjalan perlahan menyusul sang suami yang masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Begitu Thrisca mendekat ke kamar mandi, terdengar suara muntah-muntah dari ruangan kecil yang dimasuki oleh suaminya itu.
"Ron, kau muntah? Apa kau sakit?" tanya Thrisca dengan wajah cemas.
Wanita itu memapah sang suami dan mendudukkan pria jangkung itu di sofa.
Thrisca segera mencari minyak angin dan menggosok-gosok perut suaminya dengan lembut.
"Apa kau salah makan?"
"Aku tidak tahu. Saat mencium bau bawang, aku merasa mual." ujar Ron lemas.
"Ron, kau ini sudah seperti ibu hamil saja.." cibir Thrisca.
"Maaf, Sayang. Nasi gorengnya pesan saja ya?"
"Aku sudah tidak ingin nasi goreng. Bagaimana kalau aku buatkan bubur dan sup?" tawar Thrisca.
"Bubur apa? Kau istirahat saja,"
"Kau yang butuh istirahat, Ron. Kau tidak tidur nyenyak beberapa hari ini karena aku, kan?" sesal Thrisca.
"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau istri dan anakku tidak bisa tidur dengan nyaman,"
Ron menarik tangan sang istri dan mendekap tubuh ibu hamil itu erat.
"Bagaimana kalau aku buatkan teh jahe? Bisa membantu mengurangi mual," tawar Thrisca.
"Tidak perlu! Biar aku saja," cegah Ron.
"Ron, hanya membuat teh saja. Aku masih bi--"
Thrisca segera beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut kedatangan sang ibu mertua yang menyambangi kediamannya.
"Ibu.. kenapa tidak memberi kabar dulu sebelum kemari," sapa Thrisca pada Nyonya Daisy.
"Ibu ada urusan di sekitar sini, jadi sekalian mampir."
Ron ikut menghampiri sang ibu yang kini sudah mendaratkan tubuh di sofa ruang tamu rumah sang putra.
"Ron, kau tidak ke kantor?" tanya Nyonya Daisy.
"Tidak," jawab Ron singkat.
"Aku akan buatkan minuman," pamit Thrisca hendak beranjak menuju dapur.
"Tidak perlu! Aku sa--"
Ron tidak melanjutkan kalimatnya dan kembali berlari menuju kamar mandi. Pria itu kembali memuntahkan isi perutnya dengan wajah semakin memucat.
Thrisca menyusul sang suami dengan wajah panik dan memandang penuh khawatir pada pria yang tergolek lemas itu.
"Sayang, istirahat saja di kamar." ujar Thrisca seraya menuntun tangan suaminya.
"Kau sakit, Ron?" tanya Nyonya Daisy seraya memeriksa dahi sang putra.
"Aku tidak apa-apa,"
Setelah Ron yang berlarian ke kamar mandi, kini giliran sang istri yang kembali dilanda mual.
Ron ikut berlarian mengejar sang istri dan mengusap-usap perut rata wanita hamil itu.
"Kalian ini kenapa?!" tanya Nyonya Daisy keheranan melihat putranya dan sang istri bolak-balik ke kamar mandi dan memuntahkan makanan.
Wanita paruh baya itu melirik ke arah tangan anak laki-lakinya yang terus mengusap perut sang istri.
"Ron, kenapa kau terus mengusap perut istrimu?"
Ron menatap sang ibunda dengan wajah berseri sebelum ia memberikan kabar gembira pada wanita yang melahirkannya itu.
"Istriku hamil, Bu.." ujar Ron dengan wajah memerah menahan malu.
"Benarkah?"
Nyonya Daisy mendekati Thrisca dengan mata berbinar.
Thrisca mengangguk pelan dan melempar senyum sumringah pada sang ibu mertua.
"Kenapa kau tidak memberitahu ibu, Ron?! Dasar anak nakal!" omel Nyonya Daisy seraya menarik telinga putranya.
***
Ron, Thrisca dan Nyonya Daisy duduk di ruang tamu seraya berbincang santai.
Thrisca duduk manis dalam dekapan Ron seraya mengunyah makanan ringan yang disuapkan oleh sang suami.
"Kau juga mengalami morning sickness, Ron?"
Nyonya Daisy membuka perbincangan.
"Morning sickness apa?! Aku tidak hamil!" bantah Ron.
"Memang kau tidak hamil, tapi istrimu hamil, anak bodoh! Morning sickness memang jarang dialami oleh para suami, tapi bukan berarti hal itu tidak ada." ungkap Nyonya Daisy.
"Mungkin saja Ron hanya kelelahan, Bu. Ron tidak tidur nyenyak beberapa hari ini karena aku," terang Thrisca penuh rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Thrisca. Awal kehamilan memang masa paling sulit untuk menyesuaikan diri. Tubuhmu perlu beradaptasi dengan calon bayi yang mulai tumbuh di rahimmu." ujar Nyonya Daisy.
"Bagus kalau Ron tahu diri untuk belajar menjagamu," imbuh ibu mertua Thrisca itu.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Nyonya Daisy.
"Baru dua minggu," jawab Ron datar.
"Ron, kau terlalu cemas pada kehamilan istrimu?" selidik Nyonya Daisy.
"Memangnya kenapa? Istriku terus mual dan tidak memiliki selera makan. Icha juga kesulitan beristirahat dan wajahnya mulai memucat. Bagaimana aku tidak cemas?!" tukas Ron.
"Kecemasan yang berlebihan itu membuatmu ikut mengalami mual! Tidak perlu khawatir. Pastikan saja istrimu selalu makan makanan sehat dan bergizi. Jangan biarkan perutnya kosong," nasihat Nyonya Daisy.
"Baik, Bu." jawab Thrisca.
"Tadinya ibu ingin menanyakan keputusanmu mengenai perbincangan kita tempo hari. Kalau kau tengah hamil begini, lebih baik fokus dulu saja mengurus dirimu dan bayimu." ujar ibu kandung Ron itu.
"Keputusan apa?" selidik Ron menyipitkan kedua matanya.
"Kau tidak perlu tahu! Ini urusan wanita!" jawab Nyonya Daisy.
"Sayang, kau menyembunyikan sesuatu dariku?" rengek Ron pada sang istri yang berada dalam dekapannya.
"Menyembunyikan apa, Ron? Aku memiliki hal yang harus kulakukan bersama Ibu. Bukan hal yang besar," bujuk Thrisca.
"Ibu, jangan berbuat macam-macam pada istriku!" tuduh Ron pada sang ibu.
"Ron, kau pikir ibu akan melakukan apa?" omel Nyonya Daisy.
"Thrisca, kalau Ron juga mual-mual, lebih baik kau ikut ibu saja. Ibu akan menjagamu," tawar ibu mertua Thrisca.
"Ikut kemana?! Istriku tidak akan kemanapun! Aku bisa menjaganya sendiri!" tukas Ron dengan suara tinggi hingga memekakkan telinga sang istri.
"Ron, kecilkan suaramu.." bisik Thrisca pelan.
Amarah pria itu kembali meledak hingga ia tidak mengingat tubuh istrinya yang masih menempel erat dalam dekapan dada bidangnya.
"M-maaf, Sayang."
Pria itu mengusap-usap kepala Thrisca dengan panik setelah ia menyadari telah berteriak kencang di dekat telinga sang istri.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku sudah mulai terbiasa. Aku ingin di sini saja menemani Ron." tolak Thrisca halus.
"Thrisca, suamimu adalah pria dewasa yang sehat. Hanya mual saja, dia pasti bisa mengatasinya sendiri," ujar Nyonya Daisy.
"Em, aku tidak akan bisa tidur tenang kalau aku jauh dari Ron.." ucap Thrisca dengan wajah tersipu.
Mata Ron melotot tajam ke arah sang istri begitu ia mendengar perkataan ibu hamil kesayangannya itu.
"Apa yang dikatakan wanita ini? Membuatku merinding saja," batin Ron keheranan.
***
Bersambung...