
Thrisca mengamati Ron dengan wajah kesal saat melihat pria yang berkata ingin memasak untuknya itu, ternyata hanya bisa membuat kekacauan di dapur.
Nasi berceceran dimana-mana. Mangkuk dan piring tersebar di atas kompor. Tumpahan minyak dan garam ikut mengotori lantai.
"Ron, kau berencana meledakkan dapurku? Baru menyiapkan bahan saja sudah seperti ini!" omel Thrisca.
"Diamlah! Jangan ganggu konsentrasiku!" omel Ron tak kalah galak.
"Konsentrasi apanya?! Perutmu sudah berbunyi! Makan saja apa yang ada," bujuk Thrisca pada sang suami setelah mendengar suara demo dari perut tukang masak gadungan itu.
"Kau duduk saja disana kalau tidak ingin membantu!"
"Ron, kau mau meracuniku?! Kau tidak bisa memasak. Tidak perlu memaksakan diri,"
"Kau meremehkanku? Hanya membuat satu piring makanan saja, memang apa susahnya?! Aku sudah memberi makan ribuan pegawai di perusahaanku!" omel Ron semakin sewot dengan ucapan sang istri.
"Ron, ayolah! Kau sudah lapar."
Thrisca menarik lengan sang suami dan mencoba menghentikan pembuatan makanan beracun oleh suaminya itu.
"Kalau begitu bantu aku jika kau ingin aku cepat makan! Kau hanya mengganggu sejak tadi, bagaimana makanan ini bisa segera siap?!"
Thrisca menghela nafas sejenak sebelum akhirnya ia mengalah pada suaminya yang keras kepala itu.
Istri Ron itu segera mengambil pisau dan sayur untuk membantu niat baik sang suami yang ingin memasakkan makan malam.
"Bilang saja kalau kau ingin memakan masakanku. Kenapa harus berbelit-belit seperti ini," gumam Thrisca seraya menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi tingkah sang suami.
"Bukan itu intinya, Gendut! Aku hanya tidak ingin melihatmu terus diam dan melamun. Kau harus melakukan sesuatu agar kau bisa melupakan kesedihanmu. Terus duduk termenung hanya akan membuatmu semakin teringat pada ayahmu," ujar Ron seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping Thrisca.
Thrisca terdiam sesaat, mencoba mencerna setiap perkataan dari suaminya.
"Kau benar. Duduk diam hanya akan membuatku semakin sedih," gumam Thrisca seraya mengusap tangan Ron yang bertengger di pinggangnya.
"Terimakasih, Ron." ujar gadis itu menatap sang suami dengan senyuman manis.
Ron segera memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan pipi merahnya yang tersipu malu setelah mendapat senyuman manis dari sang istri.
"Aku saja yang potong sayurnya. Kau siapkan saja bumbunya," tukas Ron seraya merebut pisau dari sang istri.
"Memangnya kau bisa memotong sayur?" ejek Thrisca.
Ron melirik ke arah Thrisca seraya menyipitkan kedua matanya. Pria itu semakin dongkol mendengar perkataan remeh dari sang istri untuknya.
"Gendut! Lihat ini!"
Ron memegang pisau di tangan kiri dan memotong bahan makanan segar itu dengan gerakan cepat.
Pria itu semakin berlagak sok keren setelah berhasil menghancurkan bongkahan kubis di hadapannya dengan pisau meskipun hasil potongan dari pria payah itu tidak beraturan.
Ron menyodorkan cutting board berisi potongan kubis acak-acakan itu pada sang istri dengan senyum sumringah.
Thrisca menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berusaha menahan tawa melihat tingkah sok keren suaminya yang gagal total.
"Kenapa?! Ada yang salah? Kau tidak lihat aku bisa memotong benda hijau ini dengan cepat tadi?!" omel Ron melihat sang istri yang tersenyum-senyum sendiri melihat potongan kubis yang ada dihadapannya.
"Baiklah, kau benar-benar pintar memotong sayur." ujar Thrisca diselingi tawa kecil.
"Kau mau mengejekku lagi?!"
Ron semakin kesal mendengar ledekan sang istri.
Pria itu mendekat ke arah Thrisca dan menggelitiki perut gadis cantik itu untuk memberikan pelajaran. Tawa Thrisca semakin pecah saat menerima gelitikan dari sang suami.
"Sudah, Ron! Perutku sakit," pinta Thrisca seraya mengusap sudut matanya yang sudah berair.
Ron menghentikan aksinya dan kembali sibuk memegang wortel dengan wajah serius.
"Ron, kau bisa memotong sayur menggunakan tangan kiri? Keren sekali," gumam Thrisca saat gadis itu menyadari sang suami menggunakan tangan kiri untuk menyelesaikan tugas dapur.
"Setahuku kau tidak kidal? Kau makan menggunakan tangan kanan seperti biasa," sambung Thrisca.
Ron meletakkan pisau dan kembali menampakkan tampang sok keren di depan sang istri.
"Benarkah?"
"Aku juga bisa menulis dengan tangan kiriku," Ron semakin berlagak di depan sang istri hingga membuat Thrisca muak.
"Wah," ujar Thrisca dengan wajah malas.
"Aku juga bisa bermain bulu tangis dengan tangan kiriku," ucap Ron lagi.
"Woo keren,"
"Aku ini ambidextrous. Aku bisa melakukan apapun menggunakan tangan kanan dan tangan kiriku dengan baik. Tidak banyak orang di dunia ini yang bisa melakukannya. Kau tidak tahu kalau suamimu sehebat ini?"
Ron semakin berbangga bak anak kecil yang tengah memamerkan mainannya yang keren pada anak lain.
"Ah, hebat." komentar Thrisca sekenanya.
"Cepat puji aku! Aku keren, kan?"
Ron semakin menjadi-jadi di depan sang istri hingga membuat Thrisca malas meladeni.
Gadis itu mengabaikan Ron yang masih terus mengoceh membanggakan tangannya.
Setelah melewati banyak halangan dan rintangan, akhirnya dua piring nasi goreng siap tersaji sebagai hidangan makan malam untuk pasangan suami-istri itu.
Ron dan Thrisca kembali masuk ke kamar bersama piring mereka dan menikmati makan malam bersama di kamar kecil pemilik rumah.
***
📞 Tringg..
Bunyi ponsel Ron memenuhi ruangan kecil Thrisca yang bercahayakan lampu remang-remang itu.
Ron segera mengambil ponselnya menjauh dari sang istri saat melihat gadisnya sudah tertidur lelap dengan wajah lelah.
"Halo?"
Ron mengangkat telepon dari sang ibu dengan suara sepelan mungkin agar tidak membangunkan istrinya.
"Kapan kau pulang, Ron? Bukankah pemakamannya sudah selesai?" tanya Nyonya Daisy.
"Ibu, istriku masih berkabung. Aku akan menemani Thrisca disini selama beberapa hari,"
"Beberapa hari apanya? Pekerjaanmu akan semakin menumpuk, Ron!" omel wanita paruh baya yang tidak pergi melayat ke tempat besannya itu dan hanya mengirim karangan bunga sebagai bentuk belasungkawa.
"Bu, aku harus menemani Thrisca. Semua pekerjaan akan diurus Han dan Genta." ujar Ron tegas.
"Ron, ada apa denganmu? Kau benar-benar sudah menaruh hati pada gadis itu?"
"Aku hanya ingin menemani istriku yang masih berduka. Apa ada yang salah dengan itu?"
"Kau harus kembali secepatnya! Ibu sudah menjadwalkan operasi untukmu!" ujar Nyonya Daisy.
Ron hanya bisa memijat kepalanya yang pusing karena paksaan sang ibu.
"Operasi apanya?! Kakiku baik-baik saja." batin Ron dengan wajah depresi.
"Ibu juga akan menyiapkan berkas perceraianmu dan Thrisca secepatnya. Kakek gadis itu sudah tidak ada, kan? Kakekmu tidak punya alasan lagi untuk menahanmu. Berikan saja rumah dan uang sebagai tunjangan untuk gadis itu."
"Bu! Ibu tidak berhak mengatur urusan pernikahanku! Jangan lagi bahas perceraian denganku!"
Ron segera mematikan telepon dan melempar benda mahal itu sembarangan ke lantai.
Pria itu berjalan menghampiri sang istri dan memeluk erat tubuh Thrisca yang sudah tertidur.
"Kenapa semua orang terus saja mendesakku dengan perceraian?!" gumam Ron seraya menenggelamkan kepalanya dalam bahu sang istri yang sudah terlelap.
***
Bersambung..