
Thrisca berdiri termenung seraya mengaduk-aduk adonan di tangannya secara perlahan.
Wanita itu terus memikirkan permintaan istri dari ayahnya yang berniat meminjam uang dari sang suami.
"Apa aku coba saja berbicara pada Ron? Entah Ron akan setuju membantu atau tidak, yang penting aku sudah mencoba berbicara padanya." gumam Thrisca.
"GENDUT!!"
Genta mendekati Thrisca dan berteriak kencang di telinga wanita itu hingga membuat istri Ron itu tersentak kaget.
Thrisca tidak sengaja menumpahkan adonannya ke lantai karena terlalu terkejut dengan suara nyaring Genta yang masih berdengung di telinganya.
"Mas Gen!!"
Thrisca mengambil centong nasi dan berlari mengejar Genta yang sudah kabur setelah membuat lantai dapur rata dengan adonan tepung.
"Bersihkan sekarang! Buatkan aku adonan yang baru!" protes Thrisca seraya melempari Genta dengan centong nasi dan buah jeruk yang tersaji di meja makan.
"Kau sendiri yang menumpahkannya, kenapa menyalahkanku?!" ujar Genta menghindar dari lemparan Thrisca diselingi gelak tawa.
"Mas Gen, jangan keterlaluan! Aku sudah lama mengaduk-aduk adonan itu!" omel Thrisca.
Genta hanya bisa tertawa menanggapi ocehan Thrisca yang terus mengomel padanya.
"Baiklah, akan kubuatkan yang baru."
Genta akhirnya menyerah dan mendekat ke arah Thrisca untuk membantu gadis itu.
"Bi Inah, boleh tolong bersihkan dapur?" panggil Genta pada pengurus rumah.
"Mas Gen, ini salahmu! Kau yang harus membersihkannya sendiri!" perintah Thrisca.
"Lalu apa gunanya Ron membayar banyak pelayan di rumah ini?!" rengek Genta.
"Ron yang membayarnya, bukan kau! Bersihkan sendiri kekacauan yang kau buat!" omel Thrisca seraya mencubiti lengan Genta.
"Gendut, kau sama saja menyebalkannya seperti Ron!" ujar Genta gemas mencubiti pipi istri dari sepupunya itu.
"Cepat bersihkan!"
Thrisca menepis tangan Genta dari pipinya dan segera mengambil sapu serta kain pel untuk Genta.
Genta menyambut alat kebersihan yang dibawakan oleh Thrisca dengan wajah cemberut. Pria itu mengelap lantai menggunakan kain pel dengan asal tanpa menghiraukan ocehan Thrisca yang terus menegurnya.
"Mas Gen, kau ini benar-benar payah dalam pekerjaan rumah! Ron saja mau memegang sapu untuk membersihkan lantai, kenapa kau hanya menyapu lantai asal-asalan begini?" ejek Thrisca.
"Baiklah! Ron memang suami idaman, sedangkan aku hanyalah benalu yang menyebalkan! Puas?"
"Mas Gen, jangan tersinggung.. aku hanya bercanda," ujar Thrisca seraya menampakkan cengiran kuda pada Genta.
"Sini bantu aku membuat adonan lagi,"
Thrisca menarik tangan Genta menuju rak perkakas dapur untuk kembali mengambil peralatan masak.
"Kau sedang membuat adonan apa?" tanya Genta seraya meraih beberapa mangkok dan bungkusan tepung.
"Adonan untuk kue kering,"
"Kau bisa membuat kue?" tanya Genta meremehkan.
"Aku baru pertama kali membuatnya. Aku mengikuti resep di internet," ujar Thrisca malu-malu.
"Resep di internet itu hanyalah tipuan. Amatir sepertimu mana bisa mengikuti resep tukang masak pro?!" ejek Genta.
"Aku tidak meminta pujian darimu! Aku juga tidak berniat membagi kue ini denganmu!" tukas Thrisca dengan wajah cemberut.
"Baiklah Nyonya Muda, apa yang harus kulakukan sekarang?"
Thrisca mengambil ponsel di kantongnya dan segera memperlihatkan resep yang tengah ia ikuti dari internet.
"Aku ingin membuat ini," ujar Thrisca seraya mendekatkan ponselnya pada Genta.
Genta dan Thrisca berdiri sangat dekat dan menatap ponsel burik itu dengan seksama.
"Bagaimana? Tidak terlalu sulit, kan?" tanya Thrisca seraya mendekatkan wajahnya pada Genta.
Sepupu Ron dan juga istri dari Ron itu saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Thrisca melihat Genta dengan mata bulat yang berkilauan, menunggu jawaban dari pria yang berdiri dihadapannya itu.
"Mas Gen?" panggil Thrisca seraya menyenggol bahu Genta.
Pria itu asyik menatap wanita cantik yang ada di depannya tanpa berkedip hingga ia tidak menyadari sang wanita yang terus memanggil-manggil namanya.
"Mas Gen! Kau dengar aku?" panggil Thrisca lagi.
"MAS GEN!!"
Thrisca mendekat ke telinga Genta dan berteriak kencang tepat di depan daun telinga pria itu.
"Gendut! Aku bisa tuli!"
Genta yang tersentak kaget, segera menutup telinganya dan menjauh dari Thrisca.
"Jiwamu sedang berkeliling ke alam lain, ya?! Aku memanggilmu dari tadi, kenapa malah melamun?!" omel Thrisca.
"Mataku pasti sudah buta hingga menganggap wanita ini secantik Dewi! Dia hanyalah si gendut udik gadis rumahan!" rutuk Genta dalam hati.
"Cepat bantu aku!"
Dua penghuni rumah itu membuat keributan di dapur rumah Ron hanya demi sepotong kue kering. Genta terus menerus membuat Thrisca kesal karena selalu menumpahkan bahan dan merusak adonan kue.
"Mas Gen, kau dan Ron benar-benar mirip. Sama-sama payah dalam urusan dapur," ejek Thrisca.
"Aku memang tidak bercita-cita menjadi chef. Satu-satunya cita-citaku hanyalah mendapatkan istri yang ahli di dapur." ujar Genta cuek.
"Sepertinya sudah matang,"
Thrisca membuka oven dengan antusias, namun wajah girangnya berubah masam seketika saat melihat kue hasil karyanya bersama Genta dengan mengikuti resep dari internet tidak nampak cantik seperti yang ia lihat di resep.
Genta ikut mendekati Thrisca yang hanya berdiri mematung menatap kue gagal buatannya. Pria itu menepuk pundak Thrisca pelan seraya tertawa puas menatap kue gosong tak berbentuk yang ada di tangan Thrisca.
"Heh udik, sudah kubilang resep internet itu hanya mitos!" ejek Genta kembali tertawa keras melihat wajah cemberut wanita di hadapannya.
"Terima saja kenyataan! Kau memang tidak pandai memasak. Untuk apa membuang waktu mengikuti resep di internet?!" ejek Genta seraya mengacak-acak rambut Thrisca.
"Mas Gen! Pergi saja sana!" usir Thrisca kesal.
"Hahaha.."
Pria itu masih menunjukkan gelak tawanya meskipun Thrisca sudah memasang tampang galak.
"Daripada kau mengomel disini, bagaimana kalau kita keluar membeli es krim?" ajak Genta.
"Es krim apanya? Sudah kubilang, Ron tidak memperbolehkanku keluar rumah." keluh Thrisca seraya membersihkan peralatan masak yang telah ia gunakan.
"Hanya sebentar saja. Ron tidak akan tahu,"
"Aku tidak bisa begitu, Mas Gen. Ron akan marah jika aku tidak menurut,"
"Kalau begitu kau bisa minta ijin padanya. Hanya keluar membeli es krim, tidak akan lama! Ayolah, gendut!" rengek Genta seraya menarik-narik tangan Thrisca.
"Baiklah. Aku akan mencoba meminta ijin pada Ron. Kepalaku juga mulai pusing terus berada di rumah,"
Thrisca mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan singkat pada sang suami.
"Sayang, boleh aku keluar sebentar? Hanya membeli es krim bersama Mas Gen. Aku jenuh terus berada di rumah." tulis Thrisca.
Beberapa detik setelah pesan terkirim, Ron langsung menelepon sang istri yang tengah meminta ijin untuk keluar rumah.
"Halo, Ron?"
"Pesan saja es krimnya. Kenapa harus keluar?" tanya Ron dengan suara berat nan menyeramkan.
"Ron, aku jenuh berada di rumah. Aku hanya ingin menghirup udara segar sebentar," pinta Thrisca.
"Pasti Genta yang membujukmu, kan? Sudah kubilang jangan dekat-dekat dengan Genta!" bentak Ron pada sang istri.
"Baiklah," jawab Thrisca lirih.
"Aku akan membawamu keluar membeli es krim saat akhir pekan nanti." ujar Ron dengan suara lembut.
"Hem," jawab Thrisca singkat.
"Sayang, kau tidak marah, kan?"
"Tidak. Selesaikan saja pekerjaanmu. Maaf sudah mengganggu,"
"Gendut, kau selalu saja bertingkah curang! Baiklah, kau boleh membeli es krim! Hanya membeli es krim lalu pulang! Pakai baju tebalmu saat keluar bersama Gen!"
Ron akhirnya menyerah dan memberi ijin pada sang istri.
"Kau yakin membiarkanku pergi? Kau tidak akan mengomeliku saat pulang nanti?" selidik Thrisca.
"Tidak, Gendut! Pergi saja membeli es krim,"
"Terimakasih, Ron. Aku akan beli untukmu juga," ujar Thrisca mulai bersemangat.
Thrisca segera menutup panggilan dari Ron dan bergegas berganti pakaian. Sesuai permintaan sang suami, Thrisca kembali memakai kain tebalnya lengkap dengan rambut palsu keriting.
"Mas Gen, ayo berangkat!" panggil Thrisca.
Genta berjalan ke arah Thrisca dengan penampilan tidak biasa. Pria berambut hitam itu menghiasi kepalanya dengan rambut kribo keriting norak dan menempeli wajahnya dengan kumis tebal di bawah hidung.
"Mas Gen, apa yang kau lakukan?!"
Thrisca terkejut bukan main saat melihat penampilan aneh dari Genta.
"Bagaimana? Kita terlihat serasi, kan? Gendut, bukan hanya kau yang akan diejek. Mereka juga akan melempar ejekan padaku," ujar Genta dengan tampang sok keren.
"Mas Gen, kau tidak merasa kesal wajah tampanmu tertutup kumis aneh itu?"
"Kenapa harus kesal? Aku sedang pergi bersama gentong besar sepertimu, mana mungkin aku membiarkanmu menerima ejekan sendirian?!" ujar Genta seraya menarik tangan Thrisca keluar dari rumah.
"Mas Gen, kau benar-benar membuatku terharu.." gumam Thrisca pelan.
"Bagaimana kalau kita naik vespa?" tawar Genta dengan antusias.
"Vespa apa? Sejak kapan kau punya vespa?" tanya Thrisca malas.
"Bukan milikku, tapi milik satpam."
Genta memamerkan kunci motor *v*espa milik satpam rumah Ron dengan bangga.
"Ayo, naik!" ujar Genta seraya bersiap di atas vespa tua yang ia pinjam dari penjaga keamanan rumah.
"Mas, Gen! Kau ini benar-benar punya banyak cara untuk merayu wanita," ujar Thrisca seraya menaiki motor tua yang akan dikendarai oleh Genta.
Thrisca hanya menarik sedikit pakaian Genta sebagai pegangan agar ia tidak terguling ke aspal bersama baju tebalnya. Genta pun tidak berani menarik tangan Thrisca untuk memeluk pinggangnya.
Pria itu sangat menyadari bahwa wanita yang tengah ia ajak berkencan saat ini adalah istri dari pria lain.
Genta sudah cukup bersyukur Thrisca mau menerima ajakannya untuk berkeliling bersama mencari udara segar dan menikmati es krim di sore yang cerah itu.
Genta dan Thrisca duduk di taman yang tidak jauh dari rumah Ron untuk menikmati es krim yang mereka beli.
Penampilan mereka yang mencolok membuat orang-orang terus menatap Thrisca dan Genta seraya berbisik-bisik mengomentari tampilan udik Thrisca dan juga iparnya itu.
"Mas Gen, kau tidak malu ditatap orang-orang seperti itu?" tanya Thrisca.
"Kenapa harus malu? Mereka tidak hanya meledekku, mereka juga mengejekmu, kan?"
"Mas Gen, mantan pacarmu pasti senang sekali tiap pergi berkencan denganmu. Kau selalu tahu cara untuk menyenangkan wanita," puji Thrisca.
"Senang apanya? Wanita-wanita di sekelilingku hanyalah wanita yang menyukai tempat mewah dan benda berkilau. Mana mungkin mereka mau naik vespa bersamaku dan membeli es krim murah di pinggir jalan," ungkap Genta.
"Sepertinya kau dan Ron memiliki selera wanita yang sama. Mantan pacar Ron juga kebanyakan model cantik, kan?"
"Kau benar. Aku dan Ron memang memiliki selera wanita yang sama," ujar Genta seraya menatap Thrisca lekat-lekat.
***
Bersambung...