DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 82



Kediaman Tuan Hasan.


Pagi-pagi sekali Ron menggedor-gedor gerbang kediaman sang kakek yang berjarak cukup jauh dari rumahnya.


Ron keluar dari rumah sepagi mungkin sebelum sang istri terbangun. Pria itu harus cepat menyelesaikan urusannya di luar dan segera kembali ke rumah untuk mengurus sang istri.


Cucu Tuan Hasan itu segera menerobos masuk ke rumah kakeknya, begitu pintu gerbang terbuka.


Cucu kurang ajar itu bahkan membuat keributan di luar kamar sang kakek agar sang tuan rumah segera bangun.


"Ron, apa kau pikir rumah kakek ini hutan?!" omel Tuan Hasan begitu keluar dari kamar.


"Kakek, biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku dari rumah! Suruh Han dan Genta yang mengurus pekerjaan di luar! Aku tidak akan datang ke kantor untuk beberapa minggu ke depan." ujar Ron langsung pada intinya.


"Memangnya kenapa?"


"Aku harus menjaga istriku."


"Memangnya Icha kenapa?"


"Icha.. hamil." ujar Ron malu-malu.


"Apa?"


Bola mata kakek tua itu langsung membulat lebar saat Ron mengabarkan kehamilan sang istri.


"Baru dua minggu. Icha terus muntah dan rewel tidak mau makan. Aku tidak bisa tenang meninggalkannya sendirian di rumah," rengek Ron pada sang kakek.


"Ron, semua pria beristri akan mengalaminya. Kau mau aku memberikan cuti pada setiap karyawan yang memiliki istri hamil?!" omel Tuan Hasan seraya memukul-mukul punggung cucunya.


"Tapi aku bukan karyawan! Aku bosnya! Memangnya aku tidak boleh mendapatkan sedikit keistimewaan?!"


"Bos apanya?!"


Tuan Hasan memukul belakang kepala Ron dengan kencang.


"Kakek, anakku memang bukan cicit pertama kakek. Tapi anakku tetap akan mendapat hak istimewa, kan? Anakku akan menjadi penerus keluarga kita,"


"Kau ingin menyalahgunakan kekuasaanmu untuk mendapat liburan lagi?!"


"Aku tetap akan mengurus pekerjaan dari rumah. Aku hanya ingin menemani istriku, Kek. Kakek tidak kasihan pada Icha? Keluarga Icha hanya kita, Kek. Tidak ada lagi yang tersisa dari orangtuanya."


"Kau ini terlalu banyak drama!"


"Aku hanya ingin mengatakan hal itu. Aku tidak sedang meminta ijin dari kakek. Ada atau tidaknya ijin kakek, aku akan tetap menyelesaikan pekerjaanku dari rumah." ujar Ron cuek.


"Aku harus segera pulang. Istriku sebentar lagi bangun," imbuh Ron seraya berlari keluar dari rumah sang kakek.


"Dasar bocah itu! Seenaknya saja," gumam Tuan Hasan.


***


Thrisca yang sudah terbangun, sibuk mengaduk-aduk teh panas di pagi yang dingin.


Wanita itu berkeliling ke seluruh sudut rumah, namun ia tidak dapat menjumpai batang hidung sang suami.


Wanita hamil itu memeriksa ke halaman rumah dan mendapati salah satu ruang garasi yang kosong.


"Kemana Ron pergi sepagi ini?" gumam Thrisca.


Tak berselang lama kemudian, pintu gerbang kediaman sang suami terbuka lebar menyambut kepulangan tuan rumah.


"Ron.."


Thrisca berlari girang menghampiri mobil suaminya dan menyambut kedatangan pria tercintanya itu.


"Sayang, kau sudah bangun? Kenapa di luar?"


Ron melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri dan menggandeng wanita itu masuk kembali ke dalam rumah.


"Kau pergi kemana, Ron?"


"Aku pergi ke rumah kakek sebentar."


"Hm? Rumah kakek?"


"Bukan hal yang penting. Kau mau susu?" tawar Ron seraya berjalan menuju dapur.


"Aku membuatkan teh untukmu, Ron." ujar Thrisca seraya menyodorkan secangkir teh panas untuk sang suami.


"Apa yang kau lakukan?! Sudah kubilang jangan lakukan hal yang tidak perlu. Aku bisa membuat teh sendiri!"


"Ron, tanganku baik-baik saja. Terus berbaring di ranjang juga tidak bagus untuk kesehatan," bela Thrisca.


"Tidak ada lagi membuat teh! Tidak ada lagi berjalan-jalan sendiri ke halaman depan! Tidak ada lagi memasak di dapur! Kau harus banyak istirahat."


"Ron, sepertinya kau terlalu berlebihan." cibir Thrisca.


"Aku tidak peduli! Aku berhak mengatur anak dan istriku!"


Pria itu mengangkat tubuh sang istri untuk kembali ke kamar.


"Kau ingin makan apa?"


Begitu Ron membahas makanan, lagi-lagi morning sickness menyerang wanita yang tengah hamil muda itu.


Thrisca kembali berlarian menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


"Sayang, tolong jangan buat mommy susah.." ujar Ron seraya mengusap-usap perut istrinya yang tengah terbaring lemah di ranjang.


"Ron, ini hal yang biasa. Semua wanita hamil mengalaminya."


"Kalau saja morning sickness diberikan kepada para daddy, kau tidak akan menderita seperti ini."


"Kau mau terus-terusan berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makananmu? Kau mau perutmu terus terasa mual dan kehilangan selera makan?" cibir Thrisca.


"Aku tidak tega melihatmu seperti ini," ujar Ron seraya mengecupi pucuk kepala istrinya bertubi-tubi.


"Aku tidak apa-apa, Ron. Tidak perlu cemas berlebihan seperti itu."


Thrisca mengusap punggung tangan suaminya dengan lembut.


"Acara pernikahan kita akan diundur sedikit lebih lama. Tidak apa-apa, kan? Aku ingin memastikan kandunganmu kuat sebelum kita mengadakan acara. Mengurus acara seperti itu pasti akan menguras tenaga dan membuatmu kelelahan. Aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk padamu,"


"Tidak masalah. Tanpa mengadakan acara itu pun, kita sudah resmi menjadi suami-istri, Ron."


"Mana bisa begitu?! Acara lamaranku kemarin saja adalah lamaran pertama yang pernah kau terima, kan? Bagaimana kalau aku tidak berinisiatif melamarmu? Kau akan menikah tanpa pernah merasakan kebahagiaan dilamar oleh kekasih impianmu,"


Thrisca tersenyum kecil menanggapi ucapan sang suami.


"Urutan kita memang salah dari awal," ujar Thrisca diiringi tawa kecil.


"Aku akan memulainya dari awal dengan benar. Mulai dari melamarmu dan mengadakan acara pernikahan impianmu." ujar Ron seraya menciumi punggung tangan istrinya.


Ron beralih mencium bibir lembut sang istri.


"Kau harus makan. Setelah itu kita pergi ke dokter,"


Ron beranjak dari ranjang dan segera menyiapkan sarapan untuk sang istri.


Calon daddy itu menyuapi istrinya dengan sabar meskipun wanita kesayangannya terus merengek dan sulit membuka mulut.


Kesabaran Ron benar-benar diuji dalam menjaga dan merawat ibu hamil manja yang selalu membuatnya kesal.


"Sayang, pakai baju yang hangat.." ujar Ron seraya memakaikan jaket tebal pada sang istri.


"Terima kasih, Sayang." ujar Thrisca seraya mengecup pipi sang suami.


Rasa penat dan kesal Ron hilang seketika begitu ia mendapat senyuman serta kecupan dari sang istri.


"Kau tidak marah padaku, kan? Jangan kesal padaku, Ron.."


Thrisca memeluk manja sang suami.


Wanita itu bisa merasakan sikap suaminya yang terus menahan diri dan berusaha tidak mengeluarkan omelan serta teriakan padanya.


Thrisca benar-benar terharu melihat suaminya yang berjuang keras menahan amarah untuknya dan selalu berusaha bersikap lembut padanya.


***


Ron membukakan pintu mobil dan menggandeng istri tercintanya masuk ke dalam rumah.


Selesai melakukan pemeriksaan, pasangan suami-istri itu langsung pulang ke rumah agar Thrisca bisa segera beristirahat.


Tak lupa, Ron juga membelikan banyak vitamin dan susu ibu hamil serta banyak camilan untuk istri kesayangannya.


"Kau tidak ke kantor, Ron?" tanya Thrisca.


"Kenapa? Kau tidak suka aku di rumah?"


"Mana mungkin aku begitu?! Aku akan sangat senang kalau kau bisa menemaniku setiap hari di rumah," ujar Thrisca bermanja-manja pada sang suami.


"Istirahatlah. Aku ada di ruang kerja jika kau butuh sesuatu. Telepon saja ke ponselku, tidak perlu keluar kamar menghampiriku."


Ron mengusap wajah istrinya kemudian berlalu meninggalkan sang istri beristirahat di dalam kamar.


Wanita itu berguling-guling di atas kasur dengan wajah masam. Wanita yang sudah terlalu banyak tidur itu tak lagi merasakan kantuk karena ia sudah mendapatkan jam tidur yang lebih dari cukup.


Thrisca berjalan-jalan keluar kamar dan mengintip suaminya yang tengah disibukkan dengan banyak kertas.


"Ron, serius sekali.." gumam Thrisca memandangi sang suami dari jauh.


Ron melirik ke arah pintu begitu ia merasakan ada sepasang mata yang terus menatapnya.


Pria itu segera menyingkirkan kertas-kertas di tangannya dan menghampiri sang istri yang mematung di dekat pintu ruang kerjanya.


"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?! Sudah kubilang istirahat saja di kamar,"


Ron ingin sekali meneriaki istri bandelnya itu, namun pria itu benar-benar tidak tega meninggikan suara kepada wanita manja yang tengah mengandung itu.


"Aku bosan, Ron. Aku ingin melihatmu di sini. Boleh, kan?" ijin Thrisca.


"Melihatku hanya akan membuatmu semakin bosan, Sayang.."


"Kalau begitu lakukan sesuatu untuk menghiburku. Aku janji setelah itu aku akan kembali ke kamar dan beristirahat."


"Kau ingin apa? Bagaimana kalau makan camilan? Atau menonton film?" tawar Ron.


"Ron, di sini ada gitar, kan? Mas Gen pernah bernyanyi untukku. Suaranya sangat bagus. Apa kau juga bisa bernyanyi?" tanya Thrisca.


Ron mulai meradang saat mendengar ucapan sang istri mengenai Genta. Pria itu segera mengambil gitar untuk menunjukkan suaranya yang lebih bagus dari sang sepupu.


"Cih, Genta hanya seorang amatir yang bernyanyi untuk merayu para wanita!" cibir Ron.


"Kau akan menyesal sudah memuji nyanyian Genta! Suara pria penggoda itu tidak ada bagus-bagusnya!" tukas Ron penuh iri dengki.


"Baiklah," komentar Thrisca sekenanya.


Ron mengambil kursi kecil dan duduk berhadapan dengan sang istri yang terbaring santai di sofa empuk dalam ruang kerjanya.


Wajah pria itu mulai fokus pada senar gitar yang ada di pangkuannya dan siap melantunkan nada-nada merdu untuk sang istri.


...*You, You are My universe...


...And I just want to put you first*...


...And you, you are My universe...


...And I...


...*In the night I lie and look up at you...


When the morning comes, I watch your eyes*


...There's a paradise that couldn't capture...


...That bright infinity inside your eyes...


...*My universe...


...My universe...


...My universe*...


...You make the world light up inside...


...Make my world light up inside...


...*You,...


...You are My universe*...


...( COLDPLAY X BTS )...


Ron meletakkan gitarnya dan mengecup lama kening sang istri.


"You are my universe,"


Ron mengecup dalam bibir mungil wanita yang sangat dicintainya itu.


***


Bersambung...