
"Ron, pipimu memerah.." ujar Thrisca seraya mengusap lembut wajah suaminya.
"Aku tidak apa-apa,"
Ron menepis tangan sang istri seraya tersenyum tipis pada wanitanya itu.
"Tidak perlu memaksakan diri untuk tersenyum, Ron. Aku tahu tamparan dari ibumu pasti sangat menyakitimu. Bukan menyakiti fisikmu, tapi menyakiti hatimu, kan?"
Thrisca memeluk suaminya erat seraya menepuk-nepuk punggung sang suami.
"Ini pertama kalinya ibu menamparku. Biasanya semarah apapun ibuku, ibu tidak akan memukul wajahku sampai seperti ini.." ujar Ron dengan wajah murung.
"Sepertinya aku sudah kelewatan," imbuh Ron.
"Lain kali jangan mengikuti tuntutan amarah! Semua kata yang keluar dari mulut kita bahkan bisa membunuh orang lain, Ron."
"Tapi, ibu juga keterlaluan padamu! Mana bisa aku diam saja melihatmu diinjak-injak oleh ibuku!" ujar Ron seraya mendekap erat sang istri.
"Sekarang kau tahu kan kenapa aku bersikeras melanjutkan pendidikanku? Semua perkataan ibumu benar, Ron. Aku tidak pantas untukmu, karena itu aku mencoba memantaskan diri untuk bersanding denganmu."
"Jangan dengarkan ibuku! Itu semua hanya demi gengsi ibuku! Ibu tidak ingin kalah dari wanita-wanita sosialita dalam lingkaran pergaulannya!"
"Demi gengsi ibumu atau tidak, tapi pria mapan sepertimu memang membutuhkan wanita cerdas yang dapat membantumu, Ron. Paling tidak aku ingin membantumu menjaga reputasimu," ungkap Thrisca.
"Reputasi apa?! Aku tidak peduli! Kau juga sudah tahu kan kenapa aku bersikeras ingin menyimpanmu di rumah?! Aku ingin kau selalu ada waktu untukku dan menghabiskan waktu bersamaku di rumah. Aku tidak ingin kau berakhir seperti ibuku!"
"Apa wanita karir seburuk itu di matamu, Ron?"
"Aku hanya tidak ingin kau mengesampingkan hal yang seharusnya kau utamakan! Aku akan mengutamakan keluarga kecil kita, jadi aku juga akan menuntutmu untuk mengutamakanku dan anak kita nanti." ujar Ron tegas.
"Aku sangat senang saat mengetahui kau seorang gadis rumahan yang penurut."
Ron mengecup kening sang istri dengan lembut.
Thrisca tidak lagi berani menjawab perkataan sang suami. Bagaimanapun juga, perkataan suami sudah menjadi aturan dalam hidup seorang istri.
Untuk sementara ini, Thrisca hanya bisa menuruti semua perkataan suaminya dan mencoba mengurangi perdebatan diantara mereka.
"Minta maaflah pada ibumu, Ron. Ibumu pasti juga menyesal sudah memukulmu," ujar Thrisca.
"Aku juga tidak bermaksud mengatakan hal jahat pada ibuku. Tapi wanita itu memang menyebalkan!"
"Ron, bagaimanapun juga kau masih beruntung. Kau masih memiliki ibu sampai sekarang, Ron." ucap Thrisca dengan suara bergetar.
"Kau tidak lihat aku? Aku bahkan tidak memiliki wanita yang bisa kupanggil ibu. Aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk memanggil ibuku dengan sebutan ibu. Ditambah lagi, mungkin aku sendiri juga tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu."
Thrisca berbicara dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca.
"Jangan seperti itu pada ibumu, Ron. Aku tidak ingin kau menyesal nantinya," imbuh Thrisca dengan isak tangis.
"Apa yang kau bicarakan?! Sudah kubilang kau akan baik-baik saja! Aku akan memberimu cinta sebanyak ibumu, Sayang. Aku akan menjadi ayahmu, ibumu, temanmu dan keluargamu. Kau tidak akan kekurangan kasih sayang dariku," ujar Ron seraya mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala sang istri.
"Ron, semua yang ada pada dirimu saat ini adalah impianku. Jangan sia-siakan keberuntunganmu,"
Thrisca melayangkan ciuman hangat di pipi suami tampannya.
***
Nyonya Daisy terus melamun dan tidak menghiraukan ocehan sesumbar nyonya-nyonya yang saat ini tengah berkumpul bersamanya.
Wanita paruh baya itu terus teringat dengan perkataan sang putra yang merengek pada ibunya dan terlihat seperti bocah yang kekurangan kasih sayang.
"Apa aku selama ini sudah mengabaikan anak dan suamiku?" batin Nyonya Daisy gelisah.
Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan membasuh wajahnya dengan air segar di dalam hotel mewah tempatnya berkumpul bersama geng nyonya-nyonya elit.
Mata wanita paruh baya itu membulat lebar saat melihat seorang wanita yang dikenalnya berlalu lalang di tempat mahal itu.
Nyonya Daisy segera membuntuti wanita itu untuk memastikan kamar mana yang akan dimasuki oleh wanita muda yang dikenalnya itu.
"Cepat buka kamar ini!"
Nyonya Daisy bergegas mencari pegawai hotel begitu ia sudah mendapatkan kamar wanita yang dibuntutinya tadi.
"Tapi, Nyonya.."
"Cepat buka sekarang! Aku kenal dengan orang yang memesan kamar ini!" bentak Nyonya Daisy pada pegawai hotel.
Karyawan malang itu hanya bisa menurut begitu ia mendapat bentakan dari Nyonya Daisy.
Wanita itu segera membuka pintu dengan kasar begitu benda kotak itu tidak lagi terkunci.
Nyonya Daisy meradang seketika saat ia melihat wanita itu sudah terbaring di ranjang tanpa mengenakan busana. Ditambah lagi pria tak berbusana yang menindih tubuh wanita itu tidak lain ialah, Tuan Derry, suaminya sendiri.
"Lilian?!" pekik Nyonya Daisy di depan pintu kamar tempat Lilian dan suaminya 'bermain'.
Lilian segera mendorong tubuh Tuan Derry menjauh darinya. Wanita itu mengambil selimut dengan panik untuk menutupi tubuhnya yang sudah bertelanjang bulat.
Ibu satu anak itu menghampiri Lilian dengan sorot mata penuh kemarahan. Wanita paruh baya itu menjambak rambut Lilian sekuat tenaga dan menyeret wanita tak berbusana itu keluar dari kamar hotel.
Orang-orang itu asyik berbisik seraya merekam keributan antara Nyonya Daisy dan Lilian.
"Aku bisa jelaskan," ujar Lilian lirih.
Wanita itu menundukkan kepalanya dan menutupi tubuhnya rapat-rapat dengan selimut yang masih tergenggam di tangannya.
"Kau pikir aku sudi mendengar ocehan wanita licik sepertimu?" ujar Nyonya Daisy dengan sinis.
"Aku benar-benar seperti keledai yang berhasil dibodohi oleh kelinci busuk sepertimu!" imbuh Nyonya Daisy.
Tuan Derry berdiri di balik pintu kamar hotel tanpa berani ikut campur dalam pertengkaran antar wanita itu.
"Tuan Derry yang memaksaku," tukas Lian lirih.
"Cih, pria tua itu memang hidung belang! Tua bangka tidak tahu malu itu tidak akan mengejarmu jika kau tidak menyambut kedatangannya!" balas Nyonya Daisy.
"Apa orang tuamu tahu kelakuanmu?! Aku masih bersikap baik padamu meskipun kau hanya anak pungut dari sahabatku! Tapi ini balasanmu padaku?!" sambung Nyonya Daisy masih memaki-maki Lilian.
"Ternyata sampah yang dipungut, meskipun telah dipoles dengan wadah mewah, tetap saja akan berakhir menjadi sampah!"
Wanita paruh baya itu berjalan perlahan meninggalkan Lilian yang menangis sesenggukan di depan umum.
"Kau sudah menghancurkan hidupku dan rumah tanggaku. Kali ini aku yang akan menghancurkanmu! Jangan harap kau masih bisa menunjukkan wajah tidak tahu malumu itu di wilayahku!" imbuh Nyonya Daisy.
Lilian segera bangkit dan kembali masuk ke dalam kamar yang ia gunakan bersama Tuan Derry.
"Lian,"
Tuan Derry menyentuh pundak wanita yang menangis sesenggukan itu.
"Jangan sentuh aku! Kau sengaja melakukan ini, kan? Kau yang memberitahu istrimu, kan?!" pekik Lian disertai tangisan histeris di dalam kamar hotel itu.
Orang-orang yang merekam keributan antara Lilian dan Nyonya Daisy beramai-ramai mengunggah video perseteruan mereka di dunia maya hingga menjadi topik perbincangan panas dalam waktu sekejap.
Nyonya Daisy masuk ke dalam mobilnya dan menenangkan diri sejenak. Wanita itu menumpahkan seluruh air mata yang sudah ia tahan sejak tadi.
Ibu Ron itu menangis sesenggukan sendirian di dalam mobil mengingat kelakukan suaminya yang semakin hari semakin menyakitinya.
***
"Ron, kau sudah pulang?"
Thrisca melihat sang suami membuka pintu rumah dan muncul dari balik pintu dengan wajah penat.
"Kenapa? Kau tidak suka aku pulang lebih awal?" sindir Ron.
"Tentu saja aku senang bisa melihatmu lebih awal,"
Thrisca memeluk lengan suaminya dengan manja dan menggandeng tangan suami kesayangannya itu menuju meja makan.
"Mau minum teh dulu? Atau mandi?" tawar Thrisca seraya membantu sang suami melepas balutan jas yang melekat di tubuh pria itu.
"Kau mau teh? Aku bisa buatkan," tawar Ron mulai beranjak dari tempat duduknya menuju dapur.
"Ron, kau pasti lelah. Biar aku saja yang membuat teh. Kau duduk saja,"
"Hanya membuat teh, kenapa aku harus menyuruhmu?! Kau bukan pembantu di rumah ini! Kau nyonya di rumah ini! Aku yang akan melayanimu," ujar Ron penuh semangat.
Thrisca yang mulai malas berdebat dengan sang suami, hanya bisa mengangguk mengikuti semua ucapan suami tercintanya itu.
Istri dari Ron itu duduk dengan santai di meja makan seraya menunggu teh buatan suaminya.
"Nyonya.." seorang pelayan menghampiri Thrisca dan memanggil majikannya itu.
"Iya? Ada apa?"
"Ada tamu.."
"Siapa?" tanya Thrisca seraya mengernyitkan dahinya.
Mata Thrisca membulat lebar begitu ia mendengar jawaban dari pelayan itu.
"Sayang, ada tamu untukmu.." ujar Thrisca menghampiri Ron yang masih sibuk di dapur.
"Siapa?"
"Ibumu.." jawab Thrisca seraya melempar senyuman tipis pada sang suami.
"Bicaralah baik-baik dengan ibumu, Ron." ujar Thrisca seraya mendorong pelan tubuh sang suami untuk menyingkir dari dapur.
Ron berjalan perlahan menuju ruang tamu dimana sang ibu sudah duduk manis menunggu.
***
Bersambung...