DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 149



Thrisca terjaga semalaman menunggu kepulangan sang suami.


Wanita berbadan dua itu duduk dengan lesu di lantai yang dingin seraya terus menatap ke arah jendela, berharap mobil yang dikendarai suaminya muncul dari balik gerbang.


"Kenapa Ron tidak juga pulang? Sudah hampir pagi.." gumam Thrisca lesu.


Sementara, Ron yang masih berada di rumah istri keduanya, kini juga tengah terjaga di ruang tamu menemani Katrina yang sudah tertidur pulas di sofa.


"Apa aku pulang sekarang saja? Sudah hampir jam lima." gumam Ron seraya melirik ke arah arloji di tangannya.


"Hei, aku pulang dulu! Aku sudah membuang empat jam berhargaku menemanimu. Jangan harap aku akan berbelas kasihan lagi padamu!" ujar Ron pada wanita yang tengah memejamkan mata itu.


"Jangan pergi, Ron!" tiba-tiba sebuah tangan menarik kemejanya hingga membuat pria itu terduduk di sofa.


"Jangan sentuh bajuku!" sentak Ron seraya menepis tangan Katrina.


"Jangan tinggalkan aku.." gumam Katrina lirih.


"Masa bodoh!" gumam Ron sinis seraya berjalan keluar menuju pintu.


"Ron.. jangan tinggalkan aku," ujar Katrina lirih menatap kepergian Ron.


***


Thrisca langsung berlari ke arah jendela begitu ia mendengar gerbang pintu yang terbuka.


Wanita hamil berwajah pucat itu segera berlari keluar kamar untuk menyambut kepulangan sang suami.


Ron yang juga berlari dari halaman rumah, hampir saja menabrak sang istri yang sudah berdiri di depan pintu.


Pasangan suami-istri itu bertemu di depan pintu dan saling beradu pandang sejenak.


Ron tidak menyangka kepergiannya akan diketahui oleh sang istri.


Wajah pria itu nampak tegang saat mendapati istrinya sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Kau dari mana sepagi ini, Ron?" tanya Thrisca lirih.


"A-aku.. aku hanya keluar sebentar. Kau sudah bangun? Saat aku pergi, kau masih tertidur jadi aku tidak sempat berpamitan padamu." ujar Ron tergagap.


"Kau hanya keluar sebentar?"


"I-iya. Aku hanya pergi sebentar. Kau sudah bangun sejak tadi?" tanya Ron mencoba mengubah topik pembahasan.


"Apa empat jam menurutmu hanya sebentar?" tanya Thrisca dengan suara bergetar.


"Hem? Empat jam apa? Aku pergi belum lama--"


"Kau pergi saat larut malam, Ron!" potong Thrisca cepat.


"Larut malam apa? Aku hanya pergi sebentar menga--"


"Tidak perlu berbohong lagi, Ron! Apa yang kau tutupi dariku?!" sentak Thrisca.


"Menutupi apa? Aku tidak berbohong--"


"Kalau kau memang tidak mau memberitahuku, tidak apa-apa. Aku akan mencari tahu sendiri." ujar Thrisca dengan tatapan dingin.


Thrisca nampak kecewa mendengar kebohongan sang suami. Wanita itu hanya meminta penjelasan sederhana dari Ron, tapi justru suaminya itu mengecewakannya dengan terus mengelak dan berbohong padanya.


"Sial! Jadi, Icha tahu kepergianku semalam?" gerutu Ron dalam hati.


"Sayang, aku tidak menutupi apapun darimu."


Ron masih mencoba membujuk sang istri.


"Hentikan bualanmu itu, Ron! Aku mendengar kau menelepon seseorang tengah malam dan kau mengangkat telepon itu di toilet! Siapa yang meneleponmu? Bisa aku melihat ponselmu sekarang?" cecar Thrisca.


"H-hanya telepon tidak penting! Aku.. aku ada urusan mendadak semalam. Kau tidak perlu mengkhawatirkan urusanku--"


"Kau ingin bilang, ini bukan urusanku jadi aku tidak perlu ikut campur dalam urusanmu! Begitu, kan?" sindir Thrisca sinis.


"Sayang, tolong dengarkan aku--"


"Mendengarkan apa, Ron? Mendengarkan kebohonganmu?"


Mata Thrisca mulai memerah menahan amarah.


"Aku hanya bertanya pertanyaan sederhana. Kau dari mana? Kau hanya perlu menyebutkan nama tempatnya. Kenapa jawabanmu berbelit-belit seperti ini, Ron?" imbuh Thrisca dengan sorot mata penuh kecewa.


Ron berlutut di depan sang istri seraya memeluk perut wanita hamil itu.


"Tahan amarahmu, Sayang. Tekanan darahmu bisa naik. Kau sedang mengandung sekarang--"


"Kau ingat aku sedang mengandung anakmu tapi kau masih saja berkilah dan berbohong padaku?!" pekik Thrisca dengan air mata bercucuran.


"Aku.. aku baru saja pergi dari rumah teman." ujar Ron lirih.


"Teman? Teman apa? Apa kau berurusan dengan mafia? Atau kau berurusan dengan badan intel negara? Kenapa mengangkat telepon saja kau harus sembunyi-sembunyi seperti itu?" cecar Thrisca.


"Em, itu.. aku--"


"Berikan ponselmu sekarang! Aku hanya ingin melihat siapa orang yang menghubungimu semalam." ujar Thrisca.


"Icha biasanya tidak pernah memeriksa ponselku. Aku jadi tidak terpikir untuk menghapus riwayat panggilan." batin Ron makin panik, Thrisca akan menemukan nama Katrina di ponselnya.


Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, ponsel pria itu berdering dengan kencang.


Thrisca mengusap kasar pipinya yang makin basah karena air mata.


"Tidak apa-apa, Ron. Sudah kubilang padamu, aku akan mencari tahu sendiri."


Thrisca melepas tangan Ron yang melingkar di perutnya.


Wanita itu berjalan pelan meninggalkan Ron yang masih berlutut dengan kepala tertunduk.


"Sial! Aku akan membunuh wanita itu!" gumam Ron berang seraya menendang kursi yang berada tak jauh darinya.


***


"Halo, Cherry? Kau dimana?" tanya Thrisca dengan suara parau.


"Hem? Aku? Aku sedang berada di rumah nenek. Kenapa dengan suaramu?" tanya Cherry.


"Di rumah nenek? Boleh aku bergabung?"


"Tentu saja. Tapi suaramu lemas sekali. Kau baik-baik saja, kan?"


"Aku baik-baik saja. Bisa tolong jemput aku?" pinta Thrisca.


"Tentu. Aku akan segera menjemputmu."


Thrisca mengambil koper besar dan mengemasi barang-barang yang bisa ia angkut dengan wadah jumbo itu.


Wanita itu membuka pintu kamar dan mendapati sang suami tengah berdiri mematung di depan pintu.


Pria itu sengaja berdiri di luar kamar selama berjam-jam tanpa berani masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Melihat sang istri yang muncul dengan koper besar, Ron segera merebut wadah jumbo itu dari Thrisca dan segera menarik tangan sang istri kembali ke kamar.


"Kau mau pergi kemana membawa koper seperti ini?!" tanya Ron berusaha menahan amarah.


"Aku tidak akan kabur. Kau tahu aku hanya yatim piatu yang tidak memiliki rumah." ujar Thrisca tanpa melirik sedikitpun ke arah sang suami.


"Sayang, rumah ini adalah rumahmu. Kenapa kau berbicara--"


"Biarkan aku pergi!"


Thrisca merebut kembali kopernya dengan kasar.


"Kemana? Biar kutemani,"


"Tidak perlu. Kau urus saja temanmu itu!" sindir Thrisca.


"Katakan dulu kau mau pergi kemana--"


"Kenapa aku harus menjawabnya?! Aku juga menanyakan pertanyaan yang sama denganmu tapi kau juga tidak menjawabnya, kan?!" sindir Thrisca sinis.


Ron mencoba mengatur nafas sejenak sebelum ia kembali menanggapi ucapan Thrisca. Bagaimanapun juga teriakan tidak bisa dibalas dengan teriakan. Karena Ron menjadi pihak yang bersalah di sini, maka ia harus bisa bersabar menghadapi kemarahan sang istri.


"Kau sedang hamil, Sayang. Tolong jangan bepergian sembarangan.." ujar Ron selembut mungkin seraya menggenggam jemari istrinya.


"Aku tahu," jawab Thrisca sekenanya.


"Aku akan menginap di rumah nenek selama beberapa hari. Tolong jangan susul aku atau aku akan semakin marah padamu!" imbuhnya.


"Mau kuantar?"


Ron tidak memiliki pilihan lain selain mengalah dan memberikan ijin pada sang istri.


"Tidak perlu."


"Hati-hati, Sayang.."


Ron mengusap lembut wajah sang istri seraya melayangkan kecupan di kening wanita hamil itu.


Thrisca hanya pasrah dan tidak menolak kecupan sang suami. Wanita itu juga sangat merindukan belaian sang suami, namun ia tak ingin luluh dengan mudahnya sebelum Ron memberikan penjelasan yang ia mau.


"Aku pergi dulu, Ron. Cherry akan segera menjemputku." pamit Thrisca seraya mengecup singkat pipi sang suami.


Meskipun tengah bersitegang dengan suaminya, namun Thrisca tetap tidak tega melihat wajah murung pria yang dicintainya.


Berhasil mendapat ciuman balasan dari sang istri, Ron tak ingin menyia-nyiakan kesempatan baiknya.


Pria memberanikan diri menyambar bibir merah Thrisca dan memagut mesra wanita hamil itu.


Tak mendapat penolakan dari sang istri, Ron pun semakin menikmati pagutan panjangnya dan menyesap dalam rongga mulut wanita berbadan dua itu.


"Ck, Ron benar-benar menyebalkan!" gerutu Thrisca dalam hati.


"Aku tidak akan berani menghalangimu melakukan sesuatu pada tubuhku, karena tubuhku sudah menjadi milikmu. Tapi kau hanya mendapatkan tubuhku, Ron. Bukan hatiku." bisik Thrisca dingin.


"Urusan di antara kita belum selesai.." imbuh Thrisca seraya berjalan menuju pintu keluar.


***


Bersambung...