DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 114



Lilian duduk termenung dengan tatapan kosong, melihat keluar jendela kamar. Nampak ruangan yang menjadi tempat istirahatnya itu penuh dengan barang yang berceceran di lantai.


Wanita itu baru saja mengobrak-abrik seisi kamarnya setelah ia melihat pemberitaan mengenai sang mantan kekasih yang menampakkan kehidupan bahagia bersama sang istri.


"Ternyata wanita itu istrimu, Ron? Cih, kalian memang pandai membuat drama.." gumam Lilian dengan senyuman kecut.


"Kau terlihat bahagia sekali.." gumam Lilian lagi seraya menatap foto Ron bersama sang istri.


Lilian menghela nafas berkali-kali dan mencoba menjernihkan pikirannya yang tengah kalut. Wanita itu benar-benar iri dengan sang mantan kekasih yang semakin bahagia, sementara dirinya sendiri semakin hidup dalam keterpurukan seorang diri.


"Ini tidak adil, Ron! Kenapa aku sendiri yang menderita?"


Air mata mulai mengalir deras membasahi pipi wanita hamil itu.


"Kau bisa tertawa bahagia.. kenapa hanya aku yang terlontang-lantung tanpa arah seperti ini?"


Sorot mata kesedihan Lilian, berangsur berubah menjadi sinar mata kemarahan.


Rasa iri dan cemburu melihat kebahagiaan orang-orang di sekitarnya, membuat Lilian mulai gelap mata dan diselimuti kebencian yang semakin membesar.


***


"Cherry.."


Genta berlari kecil menghampiri Cherry yang hendak masuk ke gedung kantor. Pria itu datang pagi-pagi ke kantor hanya dengan mengenakan kaos polos dan sandal jepit.


"Ada apa, Pak?" tanya Cherry.


Nadine yang melihat Genta dan Cherry dari kejauhan, segera berlari mencari tempat bersembunyi dan mengintai kedua orang itu dari jauh.


"Kau ambil cuti saja hari ini. Temani aku dan Thrisca.." ajak Genta.


"Cuti apa, Pak?" tanya Cherry bingung.


"Sudah, ikut saja!"


Genta menarik tangan Cherry menuju mobilnya.


"Cherry, awas saja kau nanti!" gerutu Nadine geram.


Genta dan Cherry segera melesat menuju rumah Ron untuk menjemput Thrisca. Hari ini Genta akan memenuhi janjinya untuk bermain di taman hiburan bersama Thrisca. Genta sengaja mengajak Cherry ikut serta agar Ron tidak lagi menaruh curiga padanya.


"Ron, kau tidak ke kantor?" tanya Thrisca seraya duduk di samping sang suami yang masih berguling-guling di ranjang.


"Kenapa?"


"Aku.. aku ingin bermain ke taman hiburan." ujar Thrisca takut-takut.


"Taman hiburan apa? Kau sedang hamil, Sayang.."


"Aku tidak naik wahana permainan. Mas Gen yang akan naik. Mewakiliku.." ujar Thrisca dengan cengiran kuda.


"Gen? Kau akan pergi bersama Gen?"


"Iya, Mas Gen yang mengajakku. Aku juga sudah lama ingin pergi ke taman hiburan bersama Mas Gen. Kau bisa ke kantor hari ini. Mas Gen akan menjagaku," ujar Thrisca dengan wajah penuh senyum sumringah.


"Pergi bersamaku saja! Aku akan menemanimu ke taman hiburan saat akhir pekan nanti,"


"Ron, tapi aku maunya sekarang. Kau juga tidak perlu menemaniku. Selesaikan saja pekerjaanmu. Aku akan pulang sebelum makan ma--"


"Nanti saja saat akhir pekan! Kau hanya boleh pergi bersamaku!" ujar Ron dengan suara meninggi.


Thrisca langsung menutup mulut begitu mendengar suara menyeramkan sang suami. Wanita itu menundukkan kepala tanpa berani bercicit di depan pria galak yang tengah mengomel itu.


"Thrisca.. ayo cepat!" panggil Genta dari luar kamar.


Thrisca beranjak dari ranjang dan hendak keluar dari kamar, namun Ron dengan sigap menarik pergelangan tangan sang istri.


"Diam di sini! Biar aku yang keluar," cegah Ron.


Suami Thrisca itu membuka pintu dan siap menyemburkan omelan pada Genta. Namun Ron segera mengerem dengan cepat, begitu ia melihat sosok Cherry yang juga berdiri di depan pintu kamarnya.


"Selamat pagi, Pak." sapa Cherry sesopan mungkin.


"Ada apa ini?"


"Aku ingin mengajak Thrisca ke taman hiburan. Bersama calon istriku juga," ujar Genta.


"Calon istri?!" pekik Thrisca yang sudah berdiri di belakang Ron.


"Cherry, ada apa ini? Mas Gen bilang akan menikah. Jadi, kau yang akan menjadi mempelai wanitanya?" cecar Thrisca.


"Aku akan jelaskan nanti.." ujar Cherry setengah berbisik.


"Ron, aku boleh pergi, kan?" pinta Thrisca dengan wajah memelas.


"Apa yang kau rencanakan?!" bisik Ron pada Genta.


"Aku hanya ingin mengajak Thrisca bermain bersama. Ayo, Thrisca.."


Genta memberanikan diri menggandeng tangan Thrisca di depan Ron.


Ron mengepalkan tangan kuat-kuat dan berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan ke wajah Genta.


"Ron, aku pergi dulu.."


Thrisca berbalik dan melayangkan kecupan pada pipi Ron sebelum wanita itu pergi.


Ron membalas kecupan Thrisca dengan meraih tengkuk wanita itu dan mencium bibir merah sang istri di depan Genta dan Cherry. Pria itu melumatt bibir lembut sang istri seraya sesekali melirik ke arah Genta untuk menunjukkan senyum kemenangan.


"Ron, ada Mas Gen dan Cherry di sini.."


Thrisca mendorong pelan tubuh Ron dan menghentikan pagutan mesra mereka.


"Gen, bagaimanapun juga aku sudah menjadi pemenangnya di sini.." gumam Ron seraya menatap sinis Genta yang sudah berlalu keluar dari rumahnya.


***


"Mas Gen, Cherry, sebenarnya apa yang terjadi?"


Thrisca mulai menginterogasi ipar dan temannya selama perjalanan menuju taman hiburan.


"Ini tidak seperti yang kau lihat.." jelas Genta.


Pria itu mulai menjelaskan mengenai dirinya yang dijodohkan hingga ia tidak sengaja meminta bantuan Cherry. Genta juga menjelaskan ia mengajak Cherry ke taman hiburan bersama agar Ron tidak menaruh curiga padanya.


"Kenapa harus berpura-pura? Kalian terlihat serasi. Menikah betulan saja," celetuk Thrisca.


"Jangan bicara yang bukan-bukan!" omel Cherry seraya menjewer telinga Thrisca.


Setelah berkendara selama kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mereka bertiga sampai di taman hiburan.


"Cherry, boleh aku minta tolong?" pinta Genta.


"Apa, Pak?"


"Tolong foto aku dan Thrisca.."


Genta menyodorkan kamera pada Cherry.


"Maksudnya foto apa?"


"Foto apapun, terserah. Tiap aku berada di dekat Thrisca, kau harus memotret kami. Kau mengerti?"


"Baik, Pak."


Cherry mulai merasa aneh dengan sikap Genta yang sangat memperhatikan Thrisca.


"Tidak mungkin Genta dan Thrisca memiliki sesuatu, kan?" batin Cherry curiga.


"Thrisca.."


Genta berlari mengejar Thrisca yang sudah melangkah jauh masuk ke dalam taman hiburan.


Sesuai permintaan Genta, Cherry menangkap setiap momen Genta dan Thrisca selama di taman hiburan.


"Kemari!"


Genta melambaikan tangan pada Thrisca, menyuruh wanita itu mendekat padanya. Begitu istri Ron itu berdiri di hadapannya, Genta langsung membopong tubuh wanita hamil itu dan membawa Thrisca berkeliling taman.


"Aah! Mas Gen, apa yang kau lakukan?!" pekik Thrisca terkejut saat Genta tiba-tiba mengangkat tubuhnya.


"Ini sudah sesuai janjiku! Aku akan menggendongmu keliling taman!"


"Mas Gen, aku hanya bercanda! Badanku berat, kau bisa pingsan!"


"Badanmu memang berat," ledek Genta.


Cherry semakin merasa janggal dengan sikap Genta pada Thrisca. Kedua orang terdekat Ron itu nampak seperti pasangan suami-istri yang tengah berkencan di taman hiburan.


Thrisca nampak sangat menikmati berkeliling dengan Genta, begitu pula dengan Genta yang terlihat bahagia saat menghabiskan waktu bersama Thrisca.


"Mas Gen, kau tidak lelah? Kita istirahat saja dulu.." ajak Thrisca begitu wanita itu melihat peluh yang mulai mengalir deras di dahi Genta.


"Kau haus? Bagaimana kalau makan camilan juga?" tawar Genta.


Pria itu menurunkan Thrisca dari gendongannya dan menarik lembut tangan Thrisca memasuki salah satu tempat makan yang ada di dalam taman hiburan.


Genta dan Thrisca menikmati waktu bersama hingga mereka lupa ada Cherry yang juga turut serta dalam liburan kecil mereka.


Cherry duduk agak jauh dari bangku Genta dan mengamati kedua orang itu dari jauh. Terbersit rasa kesal dan iri pada diri sahabat Thrisca itu karena ia sudah diabaikan dan hanya dijadikan tukang foto oleh Genta.


"Apa aku hanya nyamuk?! Kenapa mereka tidak menghiraukanku sama sekali?!" gerutu Cherry kesal.


Genta datang menghampiri istri Ron dengan tangan penuh minuman dan camilan. Pria itu memberikan seluruh makanan pada Thrisca dan memandangi wanita hamil itu menyantap makanan dengan lahap.


"Mas Gen, kau hanya ingin melihatku makan? Kau juga makanlah.."


Thrisca menyumpalkan suapan besar ke mulut Genta.


Wanita hamil itu tertawa kecil melihat mulut Genta yang penuh makanan hingga membuat pria itu tersedak dan kesulitan menelan makanan yang tersumpal penuh di mulut.


"Thrisca! Aku bisa mati karena tersedak!" omel Genta seraya mengacak-acak gemas rambut Thrisca.


"Mas Gen, kau harus naik semua wahana sesuai janjimu!" tagih Genta.


"Waktunya tidak akan cukup jika aku naik semua. Pilih tiga saja,"


"Sepuluh!"


"Empat saja!"


"Sembilan permainan! Mas Gen, itu hanya wahana permainan. Kau takut?" ledek Thrisca.


"Takut apanya?! Kau meremehkanku?!"


Demi wanita tercinta, akhirnya Genta menaiki banyak wahana ekstrim yang dapat merontokkan jantung dan menyebabkan mual hebat.


Thrisca tak bisa berhenti tertawa melihat Genta yang terus mual dan muntah setelah menaiki beberapa wahana yang menguji adrenalin.


"Mas Gen, kau sudah baikan?"


Thrisca menghampiri Genta seraya membawa air mineral beserta minyak angin yang beraroma menyengat.


Wanita itu menggosokkan minyak ke perut Genta dengan telaten dan mengusap-usap punggung pria itu dengan lembut.


"Kepalaku pusing.." rengek Genta pada Thrisca.


"Ya sudah, tidak perlu naik lagi. Kita pulang saja. Cherry, kau bisa menyetir mobil?" tanya Thrisca mulai beralih pada Cherry.


"Hm? Aku? Aku bisa." jawab Cherry agak terkejut. Akhirnya ia diajak bicara setelah beberapa saat yang lalu terus diabaikan.


"Aku tidak apa-apa. Kita bisa naik wahana yang tidak menakutkan," sahut Genta.


"Mas Gen, wajahmu sudah pucat.." ujar Thrisca cemas.


"Mana mungkin aku pulang sekarang?! Aku masih ingin menikmati kencanku dengan Thrisca. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini!" oceh Genta dalam hati.


"Mas Gen, bagaimana kalau aku belikan minuman hangat?" tawar Thrisca.


"Tidak per--"


"Tidak apa-apa. Tunggu di sini sebentar,"


Thrisca berlari kecil ke seberang jalan untuk membeli minuman. Wanita itu berjalan pelan dengan membawa satu cup gelas minuman manis seraya terus memandang ke arah Genta yang terduduk lemas di seberang jalan sana.


Namun tidak ada yang tahu kapan kemalangan maupun kesengajaan akan datang. Saat Thrisca tengah berjalan menghampiri Genta, tiba-tiba truk boks melintas dengan kecepatan tinggi di tengah-tengah taman dan menubruk segala sesuatu yang menghalangi jalannya, termasuk seorang wanita hamil yang tengah melintas.


Bruaakk!!


Tubuh Thrisca terbang melayang dan terhempas kencang ke aspal keras, mengalirkan darah segar yang mulai mengucur deras dari tubuh wanita itu.


Pandangan wanita itu mulai memburam seketika, menampakkan pemandangan tidak jelas dari kerumunan yang sudah mengelilinginya. Wanita itu samar-samar melihat Genta dan Cherry yang berlari kencang menghampirinya.


Suara riuh orang-orang berangsur menghilang dari pendengaran Thrisca. Semuanya berubah menjadi gelap gulita dan sunyi.


***


Bersambung...