DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 63



Thrisca berlalu lalang di kamar sang suami tanpa tahu apa yang harus dia lakukan di dalam sangkar emas itu.


Wanita itu harus mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke universitas, namun ia masih belum juga mendapatkan ijin dari sang suami. Ditambah lagi Thrisca juga harus mencari kegiatan yang menghasilkan uang untuk membiayai sendiri pendidikannya.


Tingkah posesif dari suaminya kini menjadi penghalang terberat bagi Thrisca yang ingin mengembangkan diri.


📞 Tring..


Ponsel tua Thrisca berdering kencang dan memecah keheningan di ruangan sepi itu.


Thrisca berjalan lemas menghampiri ponsel jadulnya dan menatap layar buram itu dengan seksama.


"Halo?"


"Halo, Icha.."


Suara Susan terdengar dari kejauhan.


"Bibi, soal pinjaman itu.. Ron sudah memberikan uangnya. Aku akan segera mengirimkannya pada Bibi,"


"Bibi menghubungimu bukan untuk itu. Bibi sekarang ada di stasiun. Bisakah kau datang menjemput Bibi dan El?" pinta Susan.


"Stasiun?"


"Bibi sekarang ada di kota tempat tinggalmu, Icha. Bolehkah Bibi berkunjung sebentar? Elma ingin mengunjungimu," ujar Susan.


"Maksud Bibi, Bibi sekarang ada di kota ini?" tanya Thrisca dengan mata membulat tak percaya.


"Tolong jemput Bibi."


Thrisca segera mematikan telepon dan bergegas mengambil jaket. Tak lupa wanita itu menghubungi suaminya terlebih dahulu untuk meminta ijin sebelum ia menapakkan kakinya keluar rumah.


"Kenapa Ron tidak juga membalas pesanku? Apa dia masih sibuk?" gumam Thrisca terus menatap ponsel jadulnya.


"Aku pergi saja. Aku sudah mengirim pesan pada Ron, seharusnya dia tidak marah." gumam Thrisca menenangkan dirinya sendiri.


Wanita itu bergegas keluar rumah dengan tergesa-gesa hanya dengan memakai pakaian rumah dan jaket tebal.


"Thrisca!" panggil Genta saat melihat Thrisca membuka pintu rumah untuk keluar.


"Kenapa, Mas?"


"Kau mau kemana?" tanya Genta.


"Maaf, Mas. Aku sedang terburu-buru. Aku harus menjemput bibiku di stasiun,"


"Bibi apa? Kupikir kau hanya punya ayah dan kakek,"


"Nanti saja kujelaskan. Maaf, aku harus pergi.." pamit Thrisca.


"Biar kuantar!" tawar Genta seraya menarik tangan Thrisca.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Thrisca sungkan.


"Kau ini sedang berbicara dengan siapa? Aku juga keluargamu, kan? Kau sudah menjadi adik sepupuku, tidak perlu sungkan." ujar Genta seraya menggandeng tangan Thrisca menuju mobilnya.


Tak butuh waktu lama, mobil Genta melaju dengan cepat meninggalkan kediaman sang sepupu bersama Thrisca.


"Apa Mas Gen tahu hotel kecil di sekitar stasiun?" tanya Thrisca.


"Hotel untuk Bibimu itu?"


"Aku tidak tahu harus membawa bibiku kemana. Aku tidak punya rumah di kota ini,"


"Kau tidak ingin mengajak bibimu berkunjung ke rumah suamimu?" tanya Genta dengan wajah polos.


"Aku harus meminta ijin dulu pada Ron. Itu rumah Ron, bukan rumahku."


"Rumah Ron apanya? Bukankah kau sudah menjadi istrinya Ron? Berarti rumah itu juga milikmu!"


"Mas Gen, aku tidak ingin membahas harta orang lain denganmu.."


"Ajak saja bertamu sebentar. Setelah itu terserah padamu jika kau ingin mengirim mereka ke hotel," usul Genta.


"Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal orang ini. Bibi yang akan kujemput ini adalah istri baru dari ayahku yang belum lama kukenal. Aku tidak akan meladeninya jika dia tidak melahirkan adik untukku," ungkap Thrisca.


Setelah beberapa menit berkendara, Genta dan Thrisca pun sampai di stasiun kota.


"Icha!" panggil Susan dengan semangat.


Wanita itu berdiri tak jauh dari pintu keluar stasiun seraya menggendong Elma.


"Bibi, kenapa tidak memberi kabar dulu sebelum datang?" sapa Thrisca.


Genta menatap Susan seraya menyipitkan matanya memandangi wanita yang berusia tidak jauh darinya itu.


"Gendut, ini ibu tirimu? Muda sekali?" komentar Genta sambil berbisik pada Thrisca.


"Memang. Bibi Susan mungkin hanya terpaut beberapa tahun darimu," balas Thrisca.


"Icha, kau tidak bersama Ron?" tanya Susan seraya menatap Genta penuh tanda tanya.


"Ron sedang sibuk, Bi. Ini sepupu Ron, Genta." ujar Thrisca mengenalkan Genta pada Susan.


Genta hanya mengangguk sekenanya sebagai bentuk sapaan pada ibu tiri Thrisca.


"Kau tinggal di dekat sini?" tanya Susan.


"Rumah Ron tidak jauh dari sini, Bi." ungkap Thrisca.


"Bagaimana ini Mas Gen? Apa tidak apa-apa jika aku bawa Bibi Susan bertamu sebentar ke rumah Ron?" bisik Thrisca bingung.


"Sudah bawa saja. Kasihan anak kecil itu," ujar Genta seraya menatap gemas ke arah Elma.


Thrisca pun memutuskan untuk membawa Susan berkunjung ke rumah Ron.


***


Sore hari, Ron bergegas pulang ke rumah setelah ia membaca pesan sang istri yang ijin pergi menjemput Susan ke stasiun. Pria itu terlalu sibuk berbincang dengan ibunya sampai ia tidak melihat ponsel untuk sekedar memeriksa pesan dari sang istri.


"Sayang, kupikir kau masih berada di stasiun.." ujar Ron seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri.


Pria itu mendekap erat wanita berambut panjang itu dan mengecup mesra bibir merah Thrisca.


"Ron--"


Thrisca mencoba melepaskan diri dari terkaman Ron, namun pria itu tidak melonggarkan pelukannya sedikitpun.


Ron justru semakin bersemangat mencumbu sang istri di depan pintu kamarnya.


Thrisca terus memberontak dan mencoba menghentikan ciuman suaminya yang semakin ganas dan menuntut.


"Sayang, kau ini kenapa?" protes Ron pada sang istri yang menolak ciumannya.


"Ron, ada orang yang melihat.." bisik Thrisca dengan wajah menahan malu.


"Siapa?" tanya Ron bingung.


"Lihat saja di belakangku,"


Ron melirik ke dalam kamarnya dan mendapati sosok wanita muda bersama balita tengah duduk di ranjangnya seraya menatap intens ke arah pria pemilik kamar itu.


"Ron, lain kali lihat situasi sebelum melakukannya!" bisik Thrisca seraya memukul pelan dada bidang sang suami.


"Kenapa kau mengajak wanita itu masuk ke kamar kita?!" omel Ron.


"Maaf, Ron. Bibi Susan sendiri yang ingin berkeliling rumah,"


"Seharusnya kau bilang dulu padaku jika kau ingin mengajak wanita itu kemari!" ujar Ron semakin kesal.


"Maaf, Sayang. Aku akan segera membawa Bibi Susan pergi mencari hotel,"


Thrisca melayangkan kecupan singkat ke bibir suaminya dan segera melepaskan tangan Ron yang masih melingkar di pinggangnya.


"Kau mau kabur kemana?"


Ron kembali melingkarkan tangannya di tubuh sang istri yang hendak berjalan menjauh darinya.


"Ayolah, Ron! Jangan sekarang!" bisik Thrisca seraya mencubiti lengan besar Ron.


Pria berbadan tinggi itu tidak menghiraukan omelan sang istri. Ron mengangkat tubuh Thrisca dan mencari kamar kosong untuk menghabiskan waktu bersama istrinya.


"Ron, Bibi Susan masih ada disana! Cepat turunkan aku!" omel Thrisca.


"Bibi, aku akan segera kembali!" teriak Thrisca dari luar kamar Ron.


Ibu satu anak itu tidak bisa menahan rasa kesalnya melihat Thrisca yang tengah bermesraan bersama sang suami.


"Siapa sebenarnya Ron? Thrisca bisa hidup nyaman di rumah ini dan bisa meminjamkan uang lima puluh juta dengan mudahnya. Sudah memiliki suami tampan dan kaya seperti itu, kenapa dia masih saja mengejarku untuk uang kuliah?!" gumam Susan semakin kesal pada Thrisca.


Sementara di ruangan lain, Thrisca kembali harus meladeni hasrat besar sang suami yang terus saja menuntut dirinya untuk melayani pria kurang belaian itu.


"Ron, apa kau tidak lelah? Istirahatlah dulu. Kita bisa melakukannya nanti," tolak Thrisca halus.


Pakaian wanita itu sudah berceceran di lantai demikian pula dengan sang suami. Tubuh Thrisca juga sudah penuh dengan tanda merah karya dari suaminya.


Ron tidak bisa berhenti mencumbu istri cantiknya itu. Aroma tubuh Thrisca selalu terngiang di pikiran Ron dan membuat pria itu selalu merasa haus akan belaian sang istri.


"Ron, suaraku akan terdengar oleh pelayan! Mereka akan berpikir macam-macam, Ron!" rengek Thrisca pada suaminya.


"Kita memang sedang melakukan hal yang macam-macam, kan?" ujar Ron santai.


Pria itu kembali menancapkan tongkatnya di lembah sang istri hingga membuat wanita yang sudah berkeringat itu mengerang.


Deru nafas pasangan suami istri itu mulai tak beraturan. Pria berambut gelap itu semakin terpesona melihat wajah penuh peluh sang istri yang sudah tergolek lemas.


Ron kembali menautkan bibirnya ke bibir sang istri dan menikmati benda lembut itu pelan-pelan. Begitu pula dengan Thrisca yang tak lagi sungkan ******* bibir sang suami dan memberikan balasan kecupan tak kalah ganas.


"Sayang, aku sudah memberitahu ibuku.."


Ron menghentikan kecupannya dan beralih dari atas tubuh sang istri.


"Memberitahu apa?"


"Keluargaku sudah tahu aku tidak lumpuh. Mulai besok aku akan bekerja di kantor tanpa kursi roda." terang Ron.


"Itu bagus, Ron. Kau bisa muncul lagi dengan bebas tanpa kursi roda," ujar Thrisca seraya mengusap lembut wajah Ron.


"Bagaimana denganmu?"


"Apanya?"


"Setelah aku memastikan kehamilanmu, muncullah bersamaku tanpa kain tebalmu itu."


"Kau yakin aku juga boleh menunjukkan wajah asliku?" tanya Thrisca ragu-ragu.


"Hanya setelah aku memastikan kau mengandung anak kita, baru aku akan mengijinkanmu untuk menunjukkan wajahmu di depan semua orang. Saat kau hamil nanti, kau akan kesulitan memakai baju tebal itu. Aku tidak ingin kesehatanmu dan anak kita terganggu karena kain tebalmu,"


"Tapi Ron, apa tidak sebaiknya aku muncul setelah aku menyelesaikan pendidikanku saja?" usul Thrisca.


"Kau masih saja bersikeras mengutamakan pendidikanmu daripada anak kita?"


"Bukan begitu, Ron. Baiklah, aku minta maaf. Tentu saja aku akan mengutamakan anak kita,"


Thrisca mendaratkan kecupan lembut di bibir suami tampannya.


"Sayang, kau tidak marah, kan?"


"Aku mengerti. Aku tidak akan memaksa lagi mengenai rencanaku untuk kembali ke universitas," jawab Thrisca lirih.


"Bukannya aku tidak mau mengijinkan, tapi tolong utamakan keluarga kita dulu. Aku tidak butuh gelarmu, aku hanya butuh kau selalu ada di sisiku." pinta Ron seraya mengecup tangan sang istri bertubi-tubi.


"Sepertinya aku harus melupakan rencana kuliahku untuk sementara.." batin Thrisca kecewa.


***


Bersambung...